Reza Potter :)

Late post. Beberapa waktu yll (1 Feb) saya dan Reza berdua saja ke Jakarta. Tujuannya, ikut acara Harry Potter Book Night 2018 (HPBN). Jauh-jauh dari Bandung, sampai di Plaza Senayan dan ter-wow dengan harga barang-barang di sana. Akhirnya melipir duduk di cafe, minum jus seharga 40 ribu-an. Mahal amaaat. Tapi Reza tahu bahwa kami perlu berhemat, jadi dia tidak minta macam-macam. Dia saya belikan roti di sebuah toko.

Saat masuk ke Kinokuniya (tempat acara), puluhan Potterhead (sebutan bagi fans Harry Potter) sudah berdatangan. Sebagian dari mereka memakai jubah hitam, lengkap dengan tongkat sihir, tapi banyak juga yang pake kostum-kostum lainnya.

Ini Reza dan kostumnya:

Reza Potter

Sayangnya, Reza ga menang. Yang menang adalah beberapa orang yang serius sekali mempersiapkan kostumnya, hehehe. Reza agak sedih, tapi beberapa hari kemudian jadi terhibur karena ada wartawan yang menulis tentangnya di majalah Just For Kids. Dari sekian banyak anak yang datang, Reza terpilih untuk diwawancarai, kan lumayan, hehehe.

Mungkin ada yang mikir gini, “Ini aktivitas yang ngabis-ngabisin duit aja.” Apalagi kalau mau mikir “Islami”, kok anaknya ngefans sama Harry Potter, dibiarin aja. Kan Harry itu penyihir.. Islam melarang sihir.. bla..bla..”

Hm… iya sih. Tapi saya melihat dari sisi ini. Pertama, Reza sudah ‘kenal’ Harry sejak TK, seluruh novelnya DIBACAKAN oleh papanya. Betapa telatennya si Akang membacakan buat Reza. Tentu saja, sambil membaca, mereka diskusi ke sana-sini. Ada juga bagian yang sengaja tak dibacakan papanya. Setelah SD dan lancar membaca, Reza baca sendiri

Kedua, Reza suka Harry Potter dan betah membaca seluruh bukunya yang tebal-tebal itu. Suka dan mampu membaca buku tebal, menurut saya luar biasa di zaman gadget ini. Apalagi, kami juga sudah khatam baca novelnya, jadi insyaAllah kami selalu siap mendiskusikan banyak hal dengan Reza.

Menurut saya, justru kesukaan Reza pada HP bisa dimanfaatkan. Ada konsep penting dalam parenting, yaitu ‘scaffolding’. Artinya, perancah, yaitu suatu struktur sementara yang digunakan untuk menyangga manusia dan material dalam konstruksi atau perbaikan gedung dan bangunan-bangunan besar lainnya.”

Nah, dalam menanamkan konsep-konsep atau nilai-nilai kepada anak, kita ga bisa melulu main dontrin. Perlu scaffolding. Misalnya, agar anak mau belajar rajin, perlu dicari momen-momen yang pas, untuk kemudian diskusi. Ketika dia suka Harry Potter misalnya, masuklah ke ceritanya, ngobrol panjang lebar, sampai ketemu: AKU JUGA HARUS RAJIN BELAJAR.

Jadi, ga pake ngomel tiap hari, belajar..belajar!

Dalam rangka datang ke acara HPBN ini, banyak upaya yang dilakukan Reza, mulai dari ngapalin Quran, rajin baca buku pelajaran, latihan soal (karena mau UN), membuat kostum sendiri, berhemat supaya biaya ke Jkt tidak terlalu besar, dst.

Dalam proses ini, tujuan utamanya adalah meningkatkan kepercayaan diri anak. Bahwa dia mampu kok, mempelajari pelajaran-pelajaran yang akan diujikan dalam UN (Reza homeschooling, jadi harus giat belajar sendiri), dia mampu kok berkarya yang pantes dan ga malu-maluin (kostum Harry Potter), dia mampu kok menghafal surat-surat Al Quran yang panjang-panjang (Reza selama ini agak lemah di hafalan, tapi sekarang dia yakin bahwa dia bisa kok kayak kakak dan sepupunya, menghafal Quran meski dengan ritme yang lebih pelan).

Ada 3 basis scaffolding:

1. Kasih model. Ortu yang ingin mengajari suatu kemampuan ke anak, kasih model/contoh yang nyambung dengan mereka. Misalnya, Harry Potter yang dengan segala keterbatasan (kan dijahatin oleh keluarga pamannya) tetap bisa bertahan dan berprestasi.

2. Tunggu sampai momennya tepat. Saat anak males-malesan belajar, jangan langsung mengomel atau mengecam; saat mereka kesulitan bikin PR, jangan langsung menawarkan bantuan. Cari waktu yang tepat, lalu obrolkan, kira-kira apa yang bisa dilakukan dalam menyelesaikan problem. Belajar adalah tanggung jawab anak, dia yang akan menerima hasilnya kelak; ini yang perlu ditanamkan. Jadi anak belajar karena ingin belajar, bukan karena takut dimarahi ibu. Momen ke HPBN membuat saya punya alasan untuk berkata, “Ke Jakarta itu jauh, habis waktu, selama ini Reza sudah buang-buang waktu, belajarnya sebentar-sebentar saja…”

3. Sediakan bantuan seperlunya. Untuk belajar dengan rajin, tentu butuh bantuan (misalnya, buku pelajaran kan boring banget biasanya ya.. Nah, kita bantu dengan menyetelkan Youtube yang menjelaskan materi yang sama). Untuk bisa ke HPBN, Reza butuh kostum, saya biarkan dia mengupayakan sendiri dengan biaya sehemat mungkin. Tapi ketika ada yang perlu dibantu, ya dibantu. Di sini terjadi proses peningkatan skill membuat kerajinan tangan/karya terasah, bonusnya, mendapat apresiasi (karena ternyata diliput majalah).

Semoga bermanfaat.

Advertisements

2 thoughts on “Reza Potter :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s