Me Time (Buku 33 Ibu-Ibu)

dina-bunda intanMe Time, ini istilah yang sering dipakai oleh ibuk-ibuk jaman now. Artinya kurang lebih, menyendiri sejenak, ga ngurusin rumah tangga. Tujuannya adalah biar pikiran fresh lagi, biar ga stress, dll.

Eh si Akang kalau saya ngomong soal me time selalu ngomel, “Apa..?? Mama itu udah kebanyakan me time-nya! Papa nih yang butuh me time!”

Hahaha. Lha iya, emang si Akang tipe yang ngurusin keluarga banget. Tak jarang, saat blio ada di rumah dan saya lagi sibuk ngetik-ngetik, blio yang nyediakan makanan (sholawat..semoga demikian selamanya, aamiin..).

Kenapa kok bahas me time? Karena saya baru baca buku berjudul Me Time: Perjalanan Ibu Bahagia.ย  Buku ini kumpulan tulisan dari 33 penulis, ibuk-ibuk semua.

Salah satu yang menulis adalah sahabat saya sejak era Multiply dulu, yang sangat aktif nulis di medsos sampai sekarang, Bunda Intan Rosmadewi. Kebetulan saya ada urusan di kampus, ya sekalian aja mampir ke Ponpes beliau, apalagi Bunda juga barusan ultah. Ngobrol-ngobrol dengan Bunda biasanya selalu memberi saya kesegaran, karena pengalaman Bunda membesarkan 12 anak, dengan tetap meneruskan studi sampai S2 dan jadi pengajar di ponpes, bisa diambil hikmahnya oleh emak-emak yang sering galau kayak diriku. Apalagi ponpesnya juga di bukit, udaranya seger. Bunda selalu menyajikan tahu Ciburial yang enak pisan. Trus dapat hadiah buku pula… Jadi buat saya, inilah me time yang berkualitas ๐Ÿ™‚

Me Time

Membaca tulisan Bunda, saya jadi senyum sendiri. Bunda menceritakan repotnya mama muda dengan dua balita, tanpa khadimah. Oalaa.. itu diri saya yang dulu.. Dulu, saya ngurus 1 balita aja, pusing 7 keliling, sampai ikut pelatihan parenting berkali-kali. (Saat Reza lahir, Rana sudah tidak balita lagi, jadi meski punya 2 anak, saya hanya berhadapan dengan 1 balita di 1 waktu).

Kerepotan dan rutinitas ibu-ibu berpotensi mendatangkan efek negatif, minimalnya, jadi suka ngomel ke anak, dan bahkan bisa bikin ibu depresi. Nah, untuk itu, memang ibu-ibu perlu me time dengan terjadwal, kata Bunda Intan.

Penulis lain, Anittaqwa Elamien, menyebutkan beberapa manfaat me time, seperti meningkatkan hormon kebahagiaan, membantu membuat keputusan yang lebih baik, dan relaksasi.

Meski me time seolah identik ngafe (ke cafe) atau nge-mall, tapi sebenarnya ga harus demikian. Penulis bernama Ummu Arrahma menulis bahwa ia mengatur waktunya setiap hari agar ada 1 jam untuk memanjakan diri sendiri.

“Bagaimanapun seorang ibu mesti bahagia. Bagaimana saya akan membahagiakan anak jika saya sendiri merana?” tulis Ummu. Setuju pisan!

Nah, saran Ummu, me time itu bisa dengan menyendiri di kamar (bilang ke anak, agar menanti 1 jam, habis itu baru main dengan ibu), atau ketika semua anak sudah tidur, ibu bisa menulis, ikut training penulisan online, baca buku, dll.

Me time asyik itu dengan produktif dan bermanfaat. Tidak selalu dengan keluar rumah dan keluar uang..,” tulis Ummu.

Tapi.. secara praktek, tidak selalu mudah. Sekarang sih saya bisa ngomong soal me time. Dulu, pas bocah-bocah masih balita? Huuu… ga kebayang deh. Rasanya dulu saya itu riweuh pisan lah. Padahal segitu sudah alhamdulillah banget si Akang sangat care sama urusan rumah.

Penulis bernama Shanty Dewi Arifin mengungkapkan sikon ini, “..ada juga yang harus berjibaku untuk sekedar makan mi instan telur pake cengek tanpa diganggu anak-anak.”

Hahaha, jenaka isi tulisannya. Saya dulu juga suka sembunyi-sembunyi makan mie instan. Buat anak-anak ga boleh, buat ibu boleh asal diem-diem, wkwkwk.

Me time saat anak-anak tidur? Kalo saya dulu, anak tidur, saya juga terkapar tidur. Eh, Shanty juga nulis demikian, hihihi.

Jadi gimana dong? Tulisan Shanty ini saya sepakat banget, “Masa-masa tanpa me time akan berlalu sangat cepat. Nikmati saja selagi bisa. Karena percayalah, itu akan segera berlalu… ”

Karena anak-anak saya sudah remaja dan pra-remaja, saya juga bisa kasih nasehat. Iya… nyantai aja buk ibuk.. Kalau bisa me time, kongkow sama teman-teman di cafe, atau liburan kemana gitu, alhamdulillah. Kalau tidak, nikmati saja semua kerepotan ngurus anak itu. Nanti ketika mereka besar, malah kangen lho, sama kecerewetan bocah-bocah. Saya dan si Akang suka memutar ulang rekaman anak-anak ketika masih balita, lucu dan gemes deh.

Tentu, refreshing tetap pentiiing… banget. Nah, yang diperlukan kreativitas untuk mencari cara refreshing yang sesuai sikon; juga mencari hikmah dalam kehidupan berumah tangga. Buku Me Time, insya Allah bisa membantu para ibu-ibu muda dalam hal ini.

 

Advertisements

4 thoughts on “Me Time (Buku 33 Ibu-Ibu)

  1. Gara-gara baca tulisan Mamanya dibuku itu, anak-anakku tobat nggak makan mie mamanya lagi. Bahkan sudah bisa disuruh buatin Mie buat Mamanya. Masa-masa itu akan berlalu dengan cepat… Nuhun reviewnya Uni Dina.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s