Perjalanan

travelingSaya suka sekali melakukan perjalanan, terutama ke tempat-tempat baru. Ke tempat yang sudah bisa didatangi pun, saya juga suka. Misalnya, perjalanan ke rumah ibu mertua. Saya selalu menikmati pemandangan di perjalanan dan berkali-kali bilang, “Eh liat itu sawahnya [atau langit, atau gunung], indah banget ya?”

Padahal, saya kan sudah ratusan kali melewati jalan yang sama? Tapi selalu saja terpesona lagi dan lagi.

Penyebabnya adalah perubahan suasana hati dan cara berpikir saya. Sungguh, hati yang bahagia akan berdampak pada mata: bagaimana engkau melihat dunia.

Dulu, perjalanan ke rumah ibu mertua terasa sangat menjemukan. Karena, ada beberapa hal yang mengganjal di hati (ya biasalah, banyak juga para ibu-ibu muda yang mengalami problem serupa). Tapi seiring bertambahnya usia, setelah saya ikut berbagai pelatihan perbaikan diri (misalnya Neurosemantic ++ dengan pak Prasetya M. Brata yang pernah sedikit saya ceritakan di sini) dan self healing dengan bu Yuli Suliswidiawati, hidup menjadi jauh lebih menyenangkan. Apakah orang-orang di sekitar saya berubah? Tidak. Tapi, cara saya memandang dan mempersepsi kata-kata mereka jauh berubah. 

(Tentu, ikut pelatihan tidak memberi efek instan ya dan setelah itu hidupmu happily ever after. Pelatihan hanya memeritahukan jalan; tapi kalau jalan itu tidak dilalui ya tetap saja engkau tak akan sampai pada tujuanmu)

Salah satu perubahan yang sangat terasa buat saya tentu saja: saya menikmati perjalanan mudik, sekedar perjalanan menuju pusat kota (karena melewati tol, dan di beberapa bagian terlihat sawah menghampar luas, langit biru, gunung), apalagi perjalanan yang jauuuuh.. ke tempat yang baru.

Tentu saja, dengan dana yang terbatas, tidak semua keinginan berperjalanan jauh bisa dicapai. Kadang, kami memaksakan diri untuk bepergian, beli tiket promo tanpa berpikir, dananya bagaimana? Dan alhamdulillah, selalu ada jalan (meski kadang, terpaksa nyicil utang beberapa bulan).

Apakah ini kesia-siaan? InsyaAllah, tidak. Karena setiap kali kami memutuskan berperjalanan, selalu dipikir matang-matang apa tujuan dan manfaatnya. Apalagi, saya membaca buku “Muhammad: Telaah Ulang atas Pribadi Nabi” karya Husain Sayidi, di halaman 46-47, dikutip hadis Nabi Muhammad SAW:

“Bepergianlah agar kalian tetap sehat.”

“Bepergianlah, karena kalaupun kalian tidak memperoleh harta, setidaknya kalian mendapat wawasan.”

“Lakukanlah perjalanan, agar kalian mendapat manfaat.”

Bahkan, bila kita ragu-ragu pun, sebaiknya tetap melanjutkan perjalanan.

“Tiap kali kalian berfirasat buruk (untuk bepergian), lakukan saja. Tawakal akan menebus firasat buruk untuk bepergian.”

Keraguan, kekuatiran, sering sekali melanda saya saat membeli tiket promo. Bukan ke tempat jauh saja, untuk mudik pun demikian. Sulit bagi kami untuk mudik ke Padang pada hari Lebaran karena tiketnya sangat mahal. Untungnya, karena anak-anak homeschooling, saya juga freelancer, jadi waktu kami sangat fleksibel. Tapi tetap saja, beberapa kali terjadi, tiket sudah terbeli, eh, ada saja halangan dan tiket terpaksa di-refund atau ganti jadwal.

Keraguan juga muncul terkait dana. Tiket bisa terbeli, tapi uang untuk berperjalanan bagaimana? Lagi-lagi, beberapa kali saya dapati, ketika sudah bertekad pergi, dengan niat sebaik mungkin, ada saja jalannya. Apalagi kalau bepergiannya untuk mengunjungi ortu. Mantranya: mumpung ortu masih hidup, jangan sia-siakan waktu.

Beberapa hari ini, anak saya Reza bepergian ke Tokyo. Ini impiannya sejak lama. Dia menabung bertahun-tahun (dengan berjualan buku, alat sulap, menerjemahkan, menulis cerpen anak, menabung uang lebaran dan hadiah-hadiah). Untuk kami izinkan pergi pun, banyak sekali syaratnya, mulai dari mendisiplinkan diri, belajar bahasa Jepang, hingga menghafal Al Quran. Dalam kata-kata Reza ke sepupunya: “Syaratnya,  aku jadi anak baik.”

Semoga perjalanannya membuka wawasan, menambah pengetahuan, dan serta memicu semangatnya untuk bekerja giat seperti orang-orang Jepang.

Ada sebuah studi yang menemukan bahwa anak-anak (InsyaAllah) akan lebih sukses bila mereka berperjalanan. Bisa dibaca di sini, antara lain: meningkatkan kemampuan bertoleransi, keingintahuan untuk menggali lebih dalam tentang berbagai hal, kemandirian, kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi dan lebih mampu mengekspresikan diri, serta lebih tinggi keinginannya untuk masuk universitas dan melakukan perjalanan lainnya.

Dampak baik ini tidak hanya dicapai (insyaAllah) dengan berperjalanan ke luar negeri saja. Menurut studi tersebut, berperjalanan ke tempat yang dekat pun, dampaknya sama.

Nah, kalau Reza ke Tokyo, bagaimana dengan Rana? Sebelumnya Rana sudah fix mau ikut grup backpacker anak-anak muda ke Paris (dengan tabungannya sendiri, tentu saja). Tapi si peyelenggara tiba-tiba saja membatalkan Rana (dengan alasan tiket promo yang didapat kurang, jadi Rana ga kebagian, kecuali nambah; sungguh alasan boong banget). Rana sempat sedih berhari-hari karena perilaku buruk si EO ini.

Rana sekarang sedang berpikir-pikir mau bepergian ke Rusia. Menurutnya, Paris sudah terlalu mainstream. Tapi saya yang keder karena tak punya kenalan satu pun di sana. Hm, liat nanti sajalah, dipikir-pikir dulu.

 

Ditulis dengan rasa rindu pada si bocah ndut…

reza in tokyo

(Hatagaya, Tokyo, 29/3/2018)

Advertisements

3 thoughts on “Perjalanan

  1. Ya allah bund, terimakasih atas kutipan hadist dan info berdasarkan studinya,langsung saya copas ke suami bund,krn slm ini slalu banyak alasan klo diminta liburan/jalan2,memang si bund faktor biaya yg bikin pusing krn anak sy 4, tapi insyaAllah ad jalan ya bund klo niatnya untuk ortu/ bikin anak2 happy. Makasih banyak bunda:) maap jdi curcol dsni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s