Saya dan Hari Favorit Winnie the Pooh

Beberapa hari yang lalu, saat kami liburan ke Padang, si Akang, Rana, dan Reza pergi ber-3 ke Transmart. Tujuan mereka, menonton Christopher Robin dan main (tepatnya: menemani Reza main). Saya tidak ikut, ada paper yang harus saya selesaikan. Paper yang sudah berminggu-minggu, tak jua selesai. Padahal deadline semakin mendekat, dia seperti monster yang menghantui setiap malam. Dan ketika mereka pulang, tak ada kemajuan pada paper itu. Waktu saya habis untuk hal-hal lain.

Ketika mereka pulang, semua berkomentar mirip: filmnya bagus sekali, Mama harus nonton karena itu ‘mama banget’. What?

Dengan penuh semangat, baik Rana maupun Akang mengulangi dialog-dialog yang -kata mereka- luar biasa. Sementara Reza hanya menyimak.

Akhirnya saya benar-benar menyempatkan waktu untuk itu, di Bandung. Setelah paper itu selesai (dengan tidak memuaskan, karena diselesaikan detik-detik akhir).

Saya menonton sendirian, dan menanti-nanti kalimat-kalimat yang membuat Rana dan Papanya terpesona.

Kisahnya tentang seorang ayah yang sedemikian sibuk bekerja sehingga mengabaikan anak-istrinya. Ia merasa semua yang ia kerjakan adalah demi kebahagiaan anak-istrinya. Lalu, secara ajaib, teman masa lalunya, Winnie the Pooh datang dan dimulailah petualangan yang dipenuhi dialog-dialog filosofis itu.

Yang saya catat di sini, satu aja ya, yang menurut suami dan anak-anak saya: “itu mama banget!”

“Doing nothing often leads to the very best of something.” [tidak melakukan apapun seringkali akan membawamu kepada sesuatu yang terbaik]

Robin

Hm, baiklah, kata saya dalam hati. Masuk akal. Ini prinsip Tao, tentang hening. Saya juga sudah tahu. Saya sudah baca buku Adjie Silarus “Sadar Penuh Hadir Utuh”, antara lain kalimatnya: kadang kita perlu duduk sejenak merangkul diam, tidak terperangkap masa lalu, tidak juga mengembara ke masa depan.

Tapi ini tidak cocok untuk saya.

Ketika di rumah, saya katakan itu pada Rana, “Persoalan Mama itu, terlalu BANYAK diam, akhirnya kerjaan Mama ga selesai-selesai, padahal kerjaan baru sudah datang menghadang. Coba ingat, kita liburan ke Padang, makan di luar, mama ngurusin kalian juga kan, kurang apa?”

Rana menjawab, “Mama tidak DIAM. Pikiran Mama selalu diisi dengan kerjaan Mama.”

“Seharusnya Mama melakukan hal lain dengan meaningful. Seperti Christopher Robin, dia menemukan solusi dari masalah berat di perusahaannya, justru ketika ia menyelamatkan anaknya, bukan ketika dia menghabiskan waktu berjam-jam di ruang kerjanya.”

Saya tersenyum, takjub pada kebijakannya. Teringat pada kalimat Rana di lain waktu, ketika saya mengeluh pusing karena ada pekerjaan yang belum saya selesaikan, “Masalah itu dipikirkan Mama, bukan dirasain!”

Ya, ketika kita ‘merasakan’ masalah, yang muncul adalah ‘perasaan’ [pusing, stress, bahkan depresi]. Tapi kalau dipikirkan, yang muncul adalah solusi.

Hari ini, barusan saja, usai mengajar saya dijemput Akang dan kami diskusi berdua. Dia mengingatkan saya pada salah satu sesi pelatihan neurosemantic (dengan coach Prasetya M. Brata) yang kami ikuti: inilah kesalahan yang sering sebagian kita lakukan ketika ditanya: emang masalahmu itu apa?

“Saya merasa tidak mampu menyelesaikan pekerjaan ini! Ini terlalu berat, saya tidak sepintar itu!” [atau contoh lain: “Saya merasa suami/istri saya tidak mencintai saya…”]

Kata guru neurosemantic  kami itu,  masalah itu adalah sesuatu di luar kita, target ideal yang ingin kita capai. Saya punya target bikin paper yang canggih yang bisa lolos konferensi internasional. Penulisan paper itulah yang jadi masalah. Jadi, solusinya adalah melakukan langkah-langkah agar paper itu bisa selesai. Contoh lain, target seseorang adalah rumah tangga yang samara, tapi ternyata belum terwujud. Artinya, perlu diambil langkah-langkah untuk mencapai target itu.

Ketika kita melibatkan perasaan dalam masalah, dan bahkan menganggap perasaan kita itulah masalahnya, ya pantas kalau hasilnya adalah stress bertumpuk-tumpuk.

Jadi, saat hidup terasa berat, kita perlu jeda sejenak, mengambil jarak dari masalah. Saya baru tersadar, ya, saya banyak diam karena stuck, diam, tapi dengan pikiran yang riuh. Seharusnya, hening, tidak memikirkan apapun dan tidak melakukan apapun. Ini buat sebagian orang (saya) susah sekali. Coba saja, pejamkan mata 30 detik, hitung perlahan, tanpa memikirkan apapun. Biasanya, hitungan ke sekian, muncul bayangan: masakan di dapur, pekerjaan, slide yang belum disiapkan, belanjaan,…  Kata Adjie di bukunya, inilah ‘monkey mind’, pikiran yang meloncat-loncat dengan sangat cepat. Hasilnya, kita tidak bisa fokus: entah apa yang harus dilakukan duluan di tengah semua masalah yang menumpuk.

Hm.. baiklah.

Tiba-tiba saya teringat (dengan haru) pada kalimat lain dalam film itu:

“Hari apa ini?” (tanya Winnie)

“Hari ini adalah hari ini [today is today]”  jawab Christopher.

“Oh ini hari favoritku.  Kemarin, ketika hari ini masih ‘esok’, aku merasa sangat kelelahan,” kata Winnie. [yesterday, when it was tomorrow, it was too much day for me.]

yesterday

“yesterday, when it was tomorrow, it was too much day for me”

Sungguh ini kalimat mengharukan. Betapa hari-hari kemarin terasa melelahkan, penuh tekanan. Padahal hidup adalah hari ini, hari ini adalah hadiah dari-Nya yang harus disyukuri dan dinikmati. Mengerjakan sesuatu di hari ini dengan penuh kesyukuran dan hikmat terasa jauh lebih ringan. Saya merasakannya sekarang, saat menulis ini. Hari ini ada banyak yang harus saya selesaikan dan siapkan untuk esok. Tapi saat ini rasanya berbeda.

Terimakasih Winnie, Akang, Rana, Reza [karena Rezalah yang awalnya ngotot ingin nonton film itu], dan para guru kami. Terimakasih ya Allah, atas hari ini.

 

——

–Kutipan kalimat-kalimat lain yang dahsyat dalam film itu bisa baca di sini

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Saya dan Hari Favorit Winnie the Pooh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s