Belajar dari Monk

meditasi

Monk, atau pendeta Budha, sepertinya akhir-akhir ini populer sekali. Entah, mungkin saya saja yang telat. Saya baru aktif “main” IG sejak pandemi, dan dengan segera terhubung dengan banyak akun motivator. Lalu, bertemulah dengan akun dan video beberapa Monk.

Tentu saja, umumnya yang mereka bicarakan adalah hal-hal yang bisa dirasakan manfaatnya oleh banyak orang apapun agamanya. Ada satu monk bernama Dandapani yang mengajarkan cara untuk fokus/konsentrasi. Menurutnya: kita sangat mudah untuk tidak fokus karena sepanjang hari, kita melatih diri untuk tidak fokus sehingga kita ahli dalam ketidakfokusan.

Di antara “latihan ketidakfokusan” itu adalah mengerjakan banyak hal sekaligus. Ngobrol sambil pegang HP, nulis artikel sambil buka beberapa windows sekaligus, termasuk WA yang selalu pop-up setiap kali ada message baru, sambil mikirin mau masak apa hari ini, sambil buka Tokopedia dan melirik barang-barang yang menggoda hati.

Jadi, supaya bisa fokus, ya latihan fokus. Mulailah dengan fokus saat bicara dengan pasangan atau anak, jangan sambil buka WA.

Lalu, saya juga mengikuti video dan IG dari Monk Gelong Thubten. Hari ini di IG-nya dia menulis ini:

“Ketika kita merasa kewalahan dengan situasi, apa pun itu, satu cara untuk mengatasinya adalah “dengan berada pada saat ini” (being in the moment); karena “pada saat ini” semuanya secara umum bisa kita kendalikan, kita kelola.

Masalah muncul seringkali karena kita khawatir tentang masa depan, lalu kita menjadi kecil hati dan khawatir. Kita cenderung berpikir terlalu banyak, di luar memikirkan kehidupan “saat ini”. Semakin kita “hidup di saat ini”, semakin mudah kita mengelolanya. Menjalani hidup kita momen demi momen, memungkinkan kita melakukan upaya terbaik kita, dan menghargai betapa beruntungnya kita. “

~ Lama Zangmo

Monk Gelong mengajarkan bahwa cara “hidup di saat ini” (being in the moment” adalah dengan meditasi. Meditasi, kata Gelong, bukan mengosongkan pikiran (karena itu akan sulit dilakukan, dan orang jadi frustasi karena merasa gagal). Meditasi dilakukan dengan berkonsentrasi pada nafas kita, tapi biasanya, pikiran melayang kemana-mana. Nah, pada saat kita sadar pikiran sudah melayang (tidak lagi fokus pada nafas), ya tarik kembali pikiran/kesadaran itu, fokus lagi. Terima saja bahwa tadi kita ga fokus (jangan malah menyesali diri sendiri). Kata Monk Gelong: meditasi ini seperti persahabatan, persahabatan dengan pikiran. Kita menerima semua kekurangan dan kelemahan diri; dan itu membuat pikiran dan hati kita damai. Lalu, niatkan diri ini untuk menebar kebaikan/kasih sayang (compassion).  (sumber: video Monk Gelong: mulai menit ke-15)

Sebagai Muslim, saya secara refleks “menerjemahkan” kata-kata Monk ini dengan momen kekhusyukan sholat. Agar khusyuk, di antara yang bisa kita lakukan adalah fokus pada bacaan kita, setiap ayat/bacaan sholat kita pahami dan resapi artinya dan kita ucapkan dengan penuh ketundukan dan kesadaran bahwa kita sedang menghadap-Nya.

Nah, kan kasusnya, saking kita hapal ayat/bacaan sholat, kita sering mengucapkannya begitu saja dan pikiran melayang ke mana-mana,. Kalau itu terjadi, segera tarik lagi pikiran kita, fokus lagi. Perlakukan diri ini dengan kasih sayang, jangan dimarahi. Compassion pada diri sendiri dulu. Mensyukuri pada semua yang sudah diberi Allah untuk kita. Ketika muncul rasa syukur yang tulus itu, sholat otomatis jadi terasa ‘beda’ kan?

Nah, ada lagi motivator di IG (lupa namanya, founder MindValley.com) yang bilang bahwa meditasi adalah upaya menemukan intuisi, tentang apa yang harus dilakukan dalam hidup. Mungkin, bisa saya terjemahkan sebagai “meminta petunjuk dari Allah, harus mengambil langkah yang mana?”

Saat sholat, ketika kita bisa khusyuk, tentu kita semakin “dekat” dengan-Nya dan dialog-dialog kita dengan-Nya menjadi semakin intens. Kita minta dikasih jalan, dibukakan jalan yang terbaik, dst.

Lalu, ada lagi motivator di IG, namanya Rima Olivia, yang mengajarkan bahwa baca sholawat itu sebenarnya sejalan dengan meditasi (beliau menyebutnya mindfulness). Logikanya begini, saat kita melakukan berbagai hal (misal, memasak, menggendong anak, olahraga) sambil membaca sholawat, kita “hadir” sepernuhnya dalam momen itu: menyadari bahwa memasak dan mengiringinya dengan sholawat.

Menurut Rima, aktivitas membaca sholawat ini memunculkan banyak keajaiban. Dalam bukunya (Shalawat untuk Jiwa), antara lain Rima menulis,

“Di sisi lain, kebermaknaan hidup, merasa lebih bahagia, dan jawaban tentang hal mendasar hidupnya, seperti terjawab dengan sendirinya.”

Menurut Monk Gelong, tujuan dari meditasi adalah memunculkan kebahagiaan (bukan mencari kebahagiaan di luar sana, tetapi menggali kebahagiaan dari dalam diri).

Lho jadi nyambung dengan sholawat ya?

Yah itulah sekedar pemaknaan dari berbagai hikmah yang tersebar di media sosial. Semoga bermanfaat untuk diri saya sendiri (=mengikat ilmu) dan pembaca 🙂

Menata Kembali Hidup

bunga

Sudah lama sekali saya tidak mengisi blog ini. Saya lebih sering menulis catatan di Facebook (meskipun juga tidak sering-sering amat). Padahal, di FB itu rentan sekali karena FB suka semena-mena men-suspend akun seseorang. Seharusnya saya lebih sering menulis di blog ini, seperti dulu, dan saya berencana demikian. Mudah-mudahan bisa konsisten.

Beberapa hari yang lalu, ada dialog begini:

Rana: “Ma, aku sudah memutuskan untuk menata kembali kehidupanku.”

Saya: [kaget, memikirkan sesuatu yang heboh] …”Gimana tuh?”

Rana: “Aku mau bangun pagi.”

Gubrak. Kirain apa. Ternyata bangun pagi “doang”. Tapi dipikir-pikir, bangun pagi ini memang menjadi problem selama “lockdown”. Bangun untuk Subuh berjamaah, ngaji bareng sambil terkantuk-kantuk, lalu anak-anak pada tidur lagi deh. Lalu mereka bangun siang, males-malesan. Walhasil belajar juga ga serius, banyak rencana-rencana yang tidak terealisasi. Berarti Rana sudah merasa bahwa hidupnya jadi ‘kacau’, makanya mau “menata kembali”.

Saya berempati padanya. Semakin lama, situasi ini memang terasa semakin tak nyaman. Rasa rindu ketemu teman-teman. Sedih atas bubarnya berbagai rencana kegiatan kampus. Memikirkan bahwa “harus di rumah aja” sampai tahun depan. Oh no…

Saya juga sebenarnya sudah mulai spaneng. Terutama, saya rindu sekali pada ortu dan adik-adik saya di Padang. Pingin sekali terbang ke sana. Tapi mikirin biaya dan keribetan tes ini-itu, terpaksa ditahan saja rindu ini. Saya segera istighfar, bersyukur, segini juga alhamdulillah… banyak sekali orang yang jauh lebih berat bebannya. Tapi ya berdoa juga, semoga ada keajaiban terjadi, yaitu… *kalo diterusin kuatir ada yang protes.

Nah balik ke bangun bagi, saya cari-cari di google, manfaat bangun pagi. Ketemu, share di grup keluarga.

Saya share di sini ya, barangkali aja ada yang ‘relate’ dan termotivasi.

Manfaat bangun pagi:
-Membawa perasaan tenang dan damai.
-Otak berfungsi lebih baik.
-Nilai akademis lebih besar.
(kabarnya ada penelitian yang dilakukan, mahasiswa yang bangun pagi meraih nilai yang lebih baik daripada mereka yang terlambat bangun).
-Punya lebih banyak energi.
-Bangun lebih awal membuat Anda terlihat lebih cantik dan menarik. Asal, malamnya juga ga telat tidur (jadi, cukup tidur).

Selama “dirumahkan” ini, saya punya kebiasaan baru, jalan pagi dan pakai smart watch yang bisa menghitung langkah. Target saya, sehari bisa 5000 langkah (artinya, perlu banyak jalan, ga harus keluar, pokoknya jangan kebanyakan duduk di depan laptop, biar sehat). 5000 langkah itu juga sebenarnya kurang (dan segitu pun jarang tercapai, ihiks).

Saya ikut grup WA yang di dalamnya para member setor jumlah langkah harian, mereka bisa sampai 40-50 ribu langkah per hari. Saya pikir, apa rumahnya gede banget yak, jadi ngider rumah aja bisa ribuan langkah? Lha kalau di rumah mungil kami, muter-muter sampai bosen juga paling-paling dapat ratusan langkah.

Tapi yang jelas ini kemajuan baru buat saya. Dan saya baru nyadar, ini kan juga “menata kembali hidup” ya, biar lebih sehat. Aamiin.

Cara “olahraga” seperti ini disebut Non-exercise Activity Thermogenesis (NEAT). NEAT ini intinya yang menyatakan bahwa cara untuk membakar kalori (=menyehatkan tubuh) meliputi semua kegiatan fisik sehari-hari. 

Banyak orang berpikir, kalau ngepel, nyapu, dll, itu bukan olahraga. Yang dianggap olahraga itu: pergi lari di luar rumah; yoga, senam, dll. Nah, kalau konsep NEAT justru  mendorong kita untuk terus bergerak sepanjang hari, dan pembakaran kalorinya jauh lebih besar dibanding olahraga dengan “sengaja”. Olahraga yang “sengaja” juga sering dihambat oleh malas (karena harus menyegaja pergi ke luar, ganti baju khusus, dll).

Jadi, ibu-ibu bisa meniatkan bekerja di rumah, apapun itu, sebagai olahraga yang menyehatkan tubuh. Sebaiknya pasang target, misalnya, sehari minimal 5.000 langkah. Kita hilir-mudik nyapu, ngepel, mengelilingi dapur (sedang masak, kan mondar-mandir tuh, dari kompor ke arah bak cuci piring, lalu ke arah kulkas), dll.

Cara ngitung langkahnya gimana? Bisa beli smart watch yang dipakai sepanjang hari. Atau, download aplikasi Google fit di hp. Tapi kalau pakai Google fit, hp harus dikantongin terus. Atau pakai tas khusus hp untuk olahraga yang diikatkan ke pinggang.

Nah.. saat jalan ini, kita bisa “nyambi” kerja atau menuntut ilmu. Misalnya, sambil mendengar audio book. Caranya, bisa audio di hp dikeraskan; atau, bisa dengan memakai earphone. Atau, pakai earphone wireless juga bisa, biar ga ribet ada kabel (ada yang harganya 50 rb).

 

Atau.. bisa juga sambil ngetik di atas treadmill, treadmill-nya dikasih meja. Kayak gini nih:

treadmill

ide-nya dari sini:

meja treadmill

 

Treadmill ini ada ceritanya juga. Sekitar 3 tahun yang lalu, saya beli bekas, dengan honor hasil ngisi seminar. Awalnya ya semangat, lama-lama males dan terbengkalai begitu saja. Penyebabnya, bosen: kebayang kan, jalan, diem, gak ngapa-ngapain.

Lalu, muncul ide untuk membuat meja, pakai sisa kayu dan besi yang ada saja, minta tolong ke seorang tukang, tetangga. Nah, sekarang saya bisa ngetik di laptop, sambil jalan di treadmill.

Demikian cerita hari ini, semoga bermanfaat 🙂