[Parenting] Bersikap Adil Pada Anak

lemantun
Sebenarnya awal mulanya ini film bu Tejo yang “dahsyat” itu. Tapi tulisan ini bukan tentang film itu. Saya tidak berani nulis soal film ini karena para seleb+pemikir di fesbuk sudah banyak yang unjuk pemikiran, pro kontra. Saya menikmati sajalah adu argumen mereka. Yang pasti, saya nonton 3x dan selalu terkikik-kikik sendiri sambil merasa bersyukur karena paham bahasa Jawa, jadi bisa lebih dapet “feel” dari dialog-dialog di film itu.
 
Kirana juga nonton, lalu kami sempat diskusi panjang lebar sama Kirana (mendiskusikan isi tulisan para pengamat). Komen Kirana: justru itulah hebatnya film ini, bisa “menempel” kuat di benak publik dan memicu diskusi publik yang cukup luas.
 
Lalu suatu hari, Kirana bilang gini, “Mama, Papa, you guys should watch Lemantun! Kalian berdua kan punya ortu yang sudah tua-tua. Aku aja sampai nangis nontonnya!”
 
Jadi, singkatnya: “gara-gara” nonton Bu Tejo, Kirana jadi nonton film-film pendek lainnya, lalu ketemu film berjudul Lemantun (=lemari, bhs Jawa). Saya pun nonton, dan terharu banget. Lebih terharu lagi, saat baca komen-komennya, banyak yang curhat: merasa senasib dengan tokoh Tri, paling repot mengurusi ortu, tapi malah dianggap “tidak ada” oleh saudara-saudaranya.

Continue reading

Sketsa Gaza (Novel)

Sketsa Gaza

 

Alhamdulillah, setelah melewati proses yang cukup panjang, lebih dari setahun, novel ini terbit juga. Ini karya pertama Kirana setelah melewati masa SD-nya. Dulu waktu masih SD, Kirana sudah menerbitkan 7 buku KKPK (ada yang sendiri, ada yang antologi). Lalu, ada 2 naskah yang terbengkalai (sudah tanda tangan kontrak, tapi belum juga diterbitkan, sampai sekarang; alasan penerbitnya: masalah pasar). Memang beberapa tahun terakhir penjualan buku konon semakin menurun. Apalagi sekarang, ada pandemi. Sungguh bersyukur, Diva Press tetap bersedia menerbitkan di masa sulit seperti ini.

Dengan niat membantu penerbit, saya mendorong Kirana untuk berjualan bukunya sendiri. Dia pun membuat konten-konten iklan di IG-nya, lalu mencoba mengontak temannya untuk menjadi reseller, melayani langsung para pembeli (via IG atau WA), mengepak, lalu membawanya ke kurir. Ini pengalaman baru buat Rana, dia tidak terlalu menyukainya, tapi ya tetap dijalani. Untuk menyemangati, Papa bercerita kepada Kirana soal Dee Lestari, yang dulu juga melakukan hal yang sama; dan pasti lebih berat karena semua dilakukan sendiri (mulai dari layout, desain cover, pengepakan, promosi, dll; karena Dee menerbitkan secara indie).

Continue reading

Keberlimpahan dalam Keprihatinan

Bulan Juli dan Agustus ini ada dua peristiwa penting dalam kehidupan kami sekeluarga. Pertama, ulang tahun saya (bulan Juli) dan kedua, ulang tahun perkawinan ke-21 (bulan Agustus).

Kami memilih merayakannya dengan cara yang seolah “ala orang kaya”, yaitu jalan-jalan ke Lembang, lalu makan di restoran Turki, lalu menginap di hotel bintang 4. 🙂 Padahal… ini sebenarnya paket hemat. Jalan-jalan ke Lembang, saya sengaja mencari area yang benar-benar masih alam (bukan artifisial ala Farm House atau Floating Market). Jadi ke gunung, ya cari pepohonan pinus, jalan-jalan di keheningan. Setelah tanya ke Google dengan kata kunci “jayagiri” (nama hutan), ketemulah Jayagiri Pal 16 Wilhelmina. Biaya masuknya cuma 15 ribu per orang plus parkir 5 ribu.

Continue reading