Keberlimpahan dalam Keprihatinan

Bulan Juli dan Agustus ini ada dua peristiwa penting dalam kehidupan kami sekeluarga. Pertama, ulang tahun saya (bulan Juli) dan kedua, ulang tahun perkawinan ke-21 (bulan Agustus).

Kami memilih merayakannya dengan cara yang seolah “ala orang kaya”, yaitu jalan-jalan ke Lembang, lalu makan di restoran Turki, lalu menginap di hotel bintang 4. πŸ™‚ Padahal… ini sebenarnya paket hemat. Jalan-jalan ke Lembang, saya sengaja mencari area yang benar-benar masih alam (bukan artifisial ala Farm House atau Floating Market). Jadi ke gunung, ya cari pepohonan pinus, jalan-jalan di keheningan. Setelah tanya ke Google dengan kata kunci “jayagiri” (nama hutan), ketemulah Jayagiri Pal 16 Wilhelmina. Biaya masuknya cuma 15 ribu per orang plus parkir 5 ribu.

Jayagiri Pal 16

Suasananya segar dan sepi sekali. Jalan menuju Lembang (yang dulu hampir selalu macet parah), juga sepi. Warung-warung makanan di dalam juga tutup, untungnya kami bawa bekal makanan ringan, kopi, dan air mineral. Saya sempat tidur-tiduran di “hammock” (jaring yang digantung di pohon). Anak-anak dan papanya berfoto-foto dengan berbagai gaya konyol sambil tertawa-tawa. Saya juga sempat “meditasi”, yah..Β  berusaha konsentrasi dan menenangkan pikiran aja.

Lalu, pas jam 12, kami turun lagi ke bawah, menuju ke restoran Turki “Demir” yang terletak di jalan raya Lembang. Makanan di sini relatif murah, sekitar 30ribuan per porsi. Rasanya, tentu saja enak buat lidah kami, ini kali kedua kami ke restoran ini. Ada es aroma bunga mawar dan es yohurt asin (lupa namanya) yang mengingatkan kami pada minuman sejenis di Iran. Salad dan kebabnya juga mirip-mirip restoran Iran lah. Tapi karena ini pake standar harga ekonomis Indonesia, porsi dagingnya sedikit. Total habis uang di sini tidak sampai 250 ribu.

demir restoran turki

Lalu, lanjut check in di hotel bintang 4 yang kami pesan. Harganya muraaah banget, karena diskon (gara-gara pandemi), dua kamar tidak sampai 500 ribu. Tapi.. segala fasilitas ditutup. Ga ada gym, ga ada kolam renang, ga ada restoran. Walhasil, untuk sarapan terpaksa jalan cukup jauh, cari makanan. Padahal, udah ngebayangin bisa nginap di hotel mewah dengan segala fasilitasnya. Yang lebih parah, besoknya, saat mau mandi sebelum check out, air panas udah ga nyala lagi (kemarin siang/sore-nya sih masih). Ampun deh, penonton kuciwa πŸ˜€

[Sengaja nama hotel tak disebut, kasian.]

Tapi sebenarnya kami ga kecewa kok.. biasa aja, memaklumi aja. Toh yang lebih berharga adalah kebersamaan kami. Alhamdulillah di masa ketika banyak orang kesusahan, kami masih bisa refreshing. Kirana sempat bikin konten biola untuk instagramnya.

Jalan-jalan kami ini juga saya niatkan dalam rangka membantu mencegah resesi, Seperti kata beberapa ekonom yang saya dengar/baca, cara untuk mencegah resesi adalah dengan membelanjakan uang. Kalau semua orang menyimpan uangnya rapat-rapat, ekonomi akan ambruk, dan semua yang kena (termasuk mereka yang punya banyak uang). Jadi, bila ada uang, pakailah untuk belanja (lalu sebagian disedekahkan), atau untuk refreshing (jalan-jalan/wisata). Tentu, sesuai kemampuan dan tidak bermewah-mewahan; sedehana saja. Kalau masih ada lebih uang, sedekahkan, supaya yang miskin juga bisa belanja dan ekonomi berputar, dan kita tidak masuk ke jurang resesi.

Tapi kan masalahnya, orang pada ketakutan. Nah ketakutan ini yang seharusnya dihapus, tapi entah dengan cara apa. Para dokter/pengamat menulis yang sedikit berbeda saja dari narasi mainstream, langsung dibully. Bahkan sekedar nulis “jangan takut”, langsung dibully. Seolah semua orang memang wajib takut dan dengan takut, semua masalah covid ini bisa diselesaikan. Saya menyarankan jalan-jalan, kayaknya juga berpotensi dibully, “seharusnya menyarankan agar di rumah saja dong!”

Padahal saya cuma melakukan saran dari beberapa ekonom yang lebih ngerti soal resesi. Selain itu, saya mencari tempat jalan-jalan yang terasa aman, yang lokasinya sepi, tidak terlalu banyak orang.

Di bulan Agustus, untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan, kami restoran Tunisia yang jaraknya cuma 25 menit dari rumah kami. Pemiliknya orang Tunisia asli, tapi sepertinya sudah menikah dengan orang Indonesia (saya pernah lihat ada perempuan muda yang bantuin dia di restoran). Restorannya sederhana banget, di kawasan Jatinangor, jadi ya harganya juga harga mahasiswa. Makanannya enak. Kami memang penyuka makanan Timur Tengah. Yang paling enak tentu restoran Timur Tengah yang di kota.. dan harganya mahal-mahal. Jadi ya sudahlah, dengan yang ada ini pun kami sudah happy.Β  Bercanda dengan anak-anak. Diskusi masalah jodoh. Alhamdulillah. πŸ™‚

Resto Tunisia Jatinangor

Ada satu konsep yang menurut saya, penting dimiliki kita semua, termasuk saya, yang terus berusaha mempraktekkannya, yaitu: merasa berkelimpahan (feeling abundant). Hidup dengan merasa berlimpah tidak mengharusnya punya segalanya. Bahkan dalam keadaan riil berkekurangan atau pas-pasan (di mata orang lain), kita bisa tetap merasa berkelimpahan.

Caranya adalah dengan menghitung sebanyak-banyaknya segala nikmat yang kita punya hari ini. Tidak mengingat-ingat kemarin, juga tidak merisaukan besok. Hari ini: bisa bangun (masih hidup), selamat, ada atap tempat berlindung, ada keluarga, ada anak-anak, bisa tertawa, sehat, ada makanan, ada air.. dst. Tiap orang bisa mencari apa saja keberlimpahan yang dimilikinya. Kata suami, selalu usahakan untuk melihat ke “bawah” supaya terasa keberlimpahan itu. Kalau lihat ke atas, pastilah akan terlihat bahwa kita ini banyak sekali kekurangannya. Makanya jangan lihat ke atas terus.

Cara lain, resapi “small moment” yang terjadi setiap saat dalam hidup kita. Misal, anak yang tersenyum. Anak yang sedang sibuk membuat PR. Suami yang datang membuatkan kopi. Suami yang bilang ke anak yang bertanya sesuatu, “Tanya Mama!” (bukankah itu penghormatan? ketika anak bertanya sesuatu, suami menyerahkan keputusan pada istri). ART yang datang tepat waktu. Bunga yang mekar. Teman yang menyapa di WA. Semua itu kebahagiaan lho.Coba bayangkan kalau yang terjadi sebaliknya: anak ngambek, anak mogok bikin PR, teman yang jutek sama kita, suami yang bossy.. pasti ga bahagia kan?

Demikian. πŸ™‚

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s