Jepang 1996

Tulisan di FB 20 Oktober 2013

Bangun dini hari untuk menyiapkan sebuah tulisan ringan tentang pengalaman toleransi beragama. Eh, malah keasyikan membaca kembali catatan perjalanan saya ke Jepang dulu tahun 1996. Waktu itu belum musim nulis blog (warnet aja jarang banget), jadilah saya nulis di diary. Ternyata waktu itu untuk pertama kali dalam hidup saya, ketemu dengan orang-orang yang dengan cueknya menyatakan diri atheis. Pertama kalinya pula bertemu dengan orang Yahudi-Israel, yang jualan souvenir di sebuah stasiun bis. Pertama kalinya menerima kuliah dari seorang Father/Romo (padahal saya ambil mata kuliah ekonomi). Pertama kalinya masuk ke kampus yang gerbangnya ada tanda Salib besar dan setiap pagi disambut seorang pendeta (sang pendeta selalu berdiri dekat pintu setiap pagi, memberi salam kepada setiap mahasiswa yang datang). Pertama kalinya ketemu orang beragama Shinto. Lalu ada kejadian, angin bertiup kencang, seorang teman prp saya yang atheis secara refleks merangkul pundak saya, menjaga agar jilbab saya nggak terbang.

Dan yang bikin saya senyum-senyum adalah bagian curhat, ketika saya sakit hati sama seorang mahasiswa yang kebetulan muslim. Saya menulis, “Heran, kok yang baik ke aku malah XXX dan YYY, padahal mereka ini Nasrani.”

Well, that was me. Sebelumnya, hidup saya memang cenderung homogen, teman saya muslim semua. Ketika mahasiswa, saya dengan patuhnya ikut pengajian yang mendoktrin saya bahwa non-Muslim adalah musuh besar kaum Muslim. Ayat “tidak akan ridho Yahudi dan Nasrani sebelum kamu mengikuti agama mereka” adalah yang paling sering diulang. Tak heran waktu itu saya jadi takjub mendapati ada Nasrani atau atheis yang baik. Kalau sekarang keheranan saya malah sebaliknya. Saat saya dibully habis-habisan di dunia maya oleh sesama muslim, saya mendapati kenyataan bahwa sesama muslim itu bisa juga jadi musuh yang kejam; ikhwan-akhwat yang tadinya terlihat alim dan baik hati, dengan entengnya di depan umum (atau di inbox, berdasarkan laporan banyak teman lainnya) mengata-ngatai saya, bahkan ada ustadz yang di blognya menyerukan serangan fisik ke saya. Wow.

Lalu ada kejadian ekstrim, saat saya kesulitan menemukan tempat untuk sholat. Teman Jepang saya menyarankan untuk sholat di kapel (ruang ibadah umat Nasrani) di basement kampus. Dia berlogika, “Tuhan yang kamu sembah sama aja kan? Jadi, apa salahnya kamu sholat di sini?” Teman Jepang saya ini atheis. Dan karena kepepet, kuatir waktu dzuhur habis, saya memang nekad sholat di dalam kapel itu, dengan membelakangi patung Yesus (soalnya ga tau arah kiblat kemana). Sholat yang sama sekali ga khusyuk, karena kuatir salah/dosa.

Pengalaman singkat itu membuka wawasan saya, bahwa dunia ini memang warna-warni, dan usaha untuk membuatnya satu warna memang terasa jadi sangat absurd.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s