Kafe yang Hening

Kafe ini biasanya penuh dengan para mahasiswa yang ceria. Tertawa terbahak-bahak sambil bermain berbagai jenis game yang disediakan. Sebagian membawa laptopnya, berpacu dengan waktu, menyelesaikan tugas-tugas.

Tapi sore ini begitu sepi. Dari sekian banyak kursi yang tersedia, hanya ada kami.

Entah di mana para mahasiswa itu sekarang. Mungkin di rumahnya masing-masing. Ada yang terpaksa pulang ke pelosok negeri, berjibaku mencari sinyal saat kuliah online akan dimulai.

Sedih sekali rasanya. Rindu mendengar suara tawa terbahak-bahak mereka.

Lagu yang diperdengarkan pun terasa sendu.

Tak terasa pandemi sudah berlangsung setahun.

Tahun sudah berganti tapi harapan masih suram. “Mereka” masih berkata dengan jumawa. Setahun lagi. Dua tahun lagi. Entah sampai kapan.

Orang- orang bertahan dengan caranya masing-masing. Sebagian mungkin berdoa dalam diam, semoga mereka yang berpesta-pora memanfaatkan pandemi ini, yang kekayaannya menjadi berlipat-lipat tanpa peduli dengan begitu banyak manusia yang terhempas, segera menemukan karmanya.

Duduk di kafe ini dengan perasaan sendu. Sambil menulis tentang bagaimana dunia ini bekerja. Semoga saja ada gunanya untuk peradaban.

Sambil memesan makanan dengan nominal sangat tak seberapa. Semoga saja ada sedikit dampaknya, agar ekonomi bisa tetap berputar. Semoga kafe ini tetap bertahan, menyambut gelak tawa para mahasiswa yang akan datang lagi, segera, semoga…

Selamat tahun baru 2021.

Tetaplah optimis, karena Allah berjanji tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s