Memulai 2021 dengan Menyusun “Buku Kehidupan”

Beberapa hari menjelang pergantian tahun 2020-2021, saya menemukan sebuah video di Mindvalley mengenai Lifebook (buku kehidupan). Saya lalu mengikuti semacam kelas pengantarnya (free), dengan cara mendaftar, lalu dikasih link ke video 1 jam (hanya bisa ditonton pada waktu tertentu yang kita pilih saat mendaftar). Sebenarnya bila ingin ideal, perlu ikut kelasnya, dipandu oleh dua penyusun konsep Lifebook, Jon & Missy Butcher. Tapi, saya merasa cukuplah menangkap esensinya saja lalu mengadaptasinya. Saya obrolkan bersama si Akang, dan kami sepakat untuk mempraktikkannya sekeluarga. Saya share di sini, siapa tahu berguna buat pembaca bog ini. 

Esensi penyusunan “Buku Kehidupan” ini berbeda dengan resolusi tahun baru seperti yang banyak dilakukan orang. “Buku kehidupan” merupakan penyusunan blue print atau desain kehidupan yang kita inginkan. Dimulai dari menemukan visi kehidupan. Apa sih yang ingin dicapai di akhir hidup kita? Mau mati dengan kondisi seperti apa? Setelah itu ketemu, kita mengidentifikasi apa saja langkah yang perlu dilakukan untuk mencapai visi tersebut.

Sebagai Muslim, saya menyadari bahwa manusia datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Artinya, visi Muslim (dan semua manusia, sebenarnya) adalah “berjalan menuju Tuhan”. Dalam ajaran Islam, disebutkan bahwa tugas manusia di dunia adalah menjadi “khalifah” atau “wakil Allah” dalam mengurus bumi ini, sesuai kapasitasnya masing-masing. Apapun profesi kita, bisa diniatkan menjadi “wakil Tuhan”. Misalnya, salah satu sifat Tuhan adalah Mahapenyayang. Jadi, sebagai seorang guru, jadilah guru yang penuh welas asih pada murid-murid, berusaha memberikan yang terbaik. Demikian pula profesi lainnya.

[Warning: jangan disamakan dengan narasi “wakil Tuhan” ala radikalis yang suka menghakimi, bahkan membunuh, orang yang mereka anggap “sesat” karena mereka merasa jadi “wakil Tuhan”]

Dalam Islam juga dikenal konsep “hamba Allah”, yatu bahwa manusia itu diciptakan semata-mata untuk mengabdi kepada-Nya. Artinya, segala aspek kehidupan manusia seharusnya dalam diletakkan dalam kerangka pengabdian ini.

Delapan Kategori dalam Kehidupan

Setelah berhasil menetapkan apa visi kehidupan keluarga, tuliskan apa yang paling diinginkan dalam hidup. Mr&Mrs Butcher mengidentifikasi ada 12 kategori dalam kehidupan yang perlu didesain supaya hasilnya sesuai dengan visi hidup kita. Saya mengambil 8 saja, yaitu:  karir, intelektual, finansial, kesehatan, cinta, karakter, spiritual, dan kehidupan sosial. Nanti saya jelaskan detilnya.

Banyak yang mempercayai mitos bahwa hidup manusia pasti ada “kurangnya”, bahwa tidak ada kehidupan yang 100% sempurna. Kalau banyak uang, pasti diuji dengan masalah (misalnya: anaknya “gak bener” atau diuji dengan penyakit). Nah, dalam teori “Buku Kehidupan” ini, kita mendesain sebuah kehidupan yang seimbang di semua lini, sehingga semuanya bisa dicapai: bisa kaya, sehat, pintar, keluarga rukun, punya karakter baik, dll. Apa mungkin? Ya mungkin saja, kalau kita mengupayakannya.

Dalam Islam, dikenal konsep “insan kamil”, manusia selalu bergerak menuju kesempurnaan, mengupayakan kesempurnaan, dan kemudian mati dalam “kesempurnaan” (mati dalam keadaan ridha dan diridhai oleh Yang Mahasempurna, Allah swt). Namun perlu diingat juga bahwa kadang “sempurna” di mata manusia, tidak sama dengan standar Tuhan. Misalnya, bisa saja seseorang yang sangat baik dan “sempurna” di akhir hidupnya meninggal dalam keadaan mengenaskan (di mata manusia), tapi kan kita tidak tahu bagaimana hakikatnya di mata Allah swt. Allah yang Mahatahu, kita ga usah menghakimi.

Karena itu, harap digarisbawahi kata “mengupayakan”. Kita berupaya mencapai yang terbaik dalam kehidupan ini. Jadi, mindset kita tetap mencari yang terbaik (sempurna); jangan minder duluan, belum apa-apa udah ngomong, “Ih, ga mungkin banget deh!” Tetapi, upaya itu tetap didampingi dengan tawakal (pasrah/berserah diri kepada ketetapan Allah). Supaya tidak terjebak pada “perfeksionisme” (ingin semua serba sempurna lalu gusar dan sedih ketika mendapati ketidaksempurnaan).

***

Mulai Menyusun “Buku Kehidupan”!

Nah, malam tahun baru, kami menginap di sebuah hotel murah banget tapi bagus, dari jendela bisa melihat pegunungan, dan ruangan kamarnya cukup luas. Lokasinya cuma 30 menit dari rumah. Tentu tidak harus ke hotel untuk bikin “Buku Kehidupan” ini. Tapi kalau ada rezeki, bagus juga mencari suasana baru untuk menata hidup baru.

Malam tahun baru kami lewatkan dengan sholat berjamaah di kamar, berdoa, lalu makan malam di kafe hotel, lalu balik lagi ke kamar dan ngobrol (brain storming) soal “buku kehidupan” ini. Lalu tidur deh. Kafe hotel, yang semula rame dengan musik live, sudah senyap jam 10 malam. Kan kata Pak Gubernur, gak boleh merayakan tahun baru rame-rame.

Besok paginya, kami duduk lagi di kafe hotel (yang sepi karena belum buka), melanjutkan obrolan soal “Buku Kehidupan”. 

Langkah pertama adalah memahamkan kepada anak-anak soal visi hidup (seperti tadi sudah saya tuliskan), lalu membahas 8 kategori kehidupan itu, diisi dengan cita-cita yang sejalan dengan visi itu. Cita-cita tidak harus yang “masuk akal”. Justru, dorong anak untuk optimis mencita-citakan hal yang saat ini terasa tak mungkin. Misalnya, Reza kemudian menuliskan di bagian “finansial”: punya penghasilan 400.000 USD sebulan. Jujur, membayangkan duit 400.000 USD, dalam hati terlintas kata-kata, “Mustahil, dengan cara apa? Muluk-muluk amat?!”

Tapi perasaan seperti itu harus dilawan. Justru mental block seperti itu yang perlu dihilangkan dari diri kita (orang tua) dan jangan mewariskannya ke anak-anak. Kata Vishen Lakhiani (founder Mindvalley), tuliskan apa saja, jangan pikirkan “gimana”-nya. Tulis dulu. Baru nanti dipikirkan “gimana caranya.” Tapi ada hal penting yang harus kita tahu setiap menuliskan sesuatu, yaitu: mengapa? Mengapa/untuk apa uang 400.000 USD/bulan itu? Nah jawabannya harus selalu sinkron dengan visi. Misal, kalau visinya jadi hamba Allah yang baik, tentu apapun, tujuannya adalah untuk mengabdi pada Allah (untuk menebar kebaikan bagi sesama).

Artinya, proses pengisian tiap kategori itu butuh waktu untuk kontemplasi. Tapi, di awal, tulis saja dulu, apa yang diinginkan. Nanti secara bertahap, dalam diskusi-diskusi selanjutnya (dirutinkan), gali lebih dalam, mengapa menginginkan itu?

***

Apa yang dituliskan?

  1. Karir: apa pekerjaan yang Anda inginkan? Kalau sekarang sudah punya pekerjaan dan tidak berniat pindah, tuliskan peningkatan karir (misal, saat ini karyawan biasa à jadi manajer). Untuk anak-anak, bebaskan saja menulis apa saja, ga usah didebat. Mereka kan akan terus tumbuh dan berkembang pemikirannya. “Buku Kehidupan” ini boleh saja kok sewaktu-waktu direvisi.
  2. Intelektual: yang dimaksud adalah kualitas intelektual, tidak harus berarti pendidikan formal. Ada banyak upaya meningkatkan intelektualitas, misal dengan membaca buku (tuliskan: baca 3 buku dalam 1  bulan ), atau, untuk anak remaja: “kuliah di Unpad jurusan…” Kategori intelektual ini perlu disinkronkan dengan karir. Misalnya, Reza ingin jadi youtuber terkenal, artinya dia perlu ikut pelatihan public speaking atau English speaking (supaya channelnya bisa diakses penonton seluruh dunia).
  3.  Finansial: diisi segala sesuatu yang terkait uang, seperti gaji/penghasilan, rumah seperti apa, mau jalan-jalan kemana. Dst. Sekali lagi, jangan ragu menuliskan yang muluk-muluk. Bermimpi itu gratis kan? Dan banyak kejadian, saat kita menuliskan mimpi (dan benar-benar mantap menggenggam mimpi itu), seolah “semesta” mendukung dan terbuka jalan menuju mimpi itu. Sekali lagi, ingat, soal finansial ini juga harus sinkron dengan visi. Contoh, karena visi saya “menjadi hamba Allah”, berarti ketika menulis “penghasilan 50 jt sebulan”, niatnya adalah agar dengan uang itu saya bisa mengabdi lebih baik lagi (membantu anak yatim, misalnya).
  4. Kesehatan: contoh, diisi dengan “berat badan maksimal 50 kg” (dengan niat sejalan visi, yaitu kalau badan sehat tentu kita bisa menjalankan peran sebagai hamba Allah dengan lebih baik).
  5. Cinta: untuk anak-anak remaja, bisa diisi dengan “kriteria calon suami/istri”. Cinta ini terkait juga dengan orang tua, jadi anak-anak bisa mengisi apa yang diinginkan dalam hubungan dengan orang tua. Reza, yang sering “berantem” sama Mamanya, menulis: “gak marah-marah lagi sama Mama”. Untuk suami-istri, bisa dituliskan: “bahagia & rukun sampai akhir hayat.”
  6. Karakter: diisi dengan kualitas-kualitas pribadi yang sejalan dengan visi dan karir. Misalnya menjadi seorang Youtuber, tentu perlu jadi orang yang ramah, mampu bicara yang cara menyenangkan, cool, dst.
  7. Spiritual: bisa diisi dengan berbagai ritual agama (misal: tahajud rutin, baca Quran tiap Subuh), ikut majelis taklim, dst.
  8. Kehidupan sosial: diisi dengan aktivitas sosial yang perlu dilakukan agar mendukung tercapainya visi. Misalnya, saya menyuruh anak-anak menabung, lalu sebulan sekali uang tabungan itu dibelikan beras dan dibagikan ke tetangga yang kurang mampu. Menjadi “hamba Allah” sejalan dengan menjadi “pemimpin”, minimalnya jadi pemimpin diri sendiri, tapi idealnya menjadi pemimpin di masyarakat. Seseorang bisa menjadi pemimpin yang baik kalau ia memahami realitas di tengah masyarakat, mampu berdialog dengan baik dan berempati pada kesulitan masyarakat, dst.

Ke-8 kategori ini bisa ditulis tangan di buku, lalu dikasih gambar/foto. Gambar bisa diambil dari google, lalu diprint, gunting, tempel.

Atau: ketik di word (laptop), lalu insert foto. Setelah jadi, print, dan disatukan, jadilah “Buku Kehidupan”-nya. Ini contoh aja ya.. masih ngasal. Nanti pelan-pelan dibagusin desainnya. Kalau diketik di word, akan mudah merevisinya.

Nah, setelah dituliskan, di hari-hari selanjutnya, perlu diadakan diskusi keluarga (misalnya setiap usai sholat subuh berjamaah), menggali lagi: mengapa kamu ingin itu, gimana cara mencapainya? Ini tujuannya untuk “memantapkan” mimpi (bukan cuma sekedar coretan khayalan di atas kertas). Sangat mungkin dalam proses diskusi ini, dilakukan revisi pada Lifebook (ada yang dihapus, atau ditambah).

***

Langkah terakhir: UMUMKAN

Saran dari Jon & Missy Butcher adalah: umumkan kepada orang/komunitas, supaya ada “sistem kontrol”. Kalau ditulis saja, lalu disimpan sendiri, sangat mungkin akan terlupa begitu saja.

Tapi kalau diumumkan blak-blakan ke publik (ditulis di blog misalnya), karena kami rada introvert, rasanya ga nyaman. Langkah ini memang bergantung karakter Anda masing-masing; kalau oke bila diungkap ke publik, ya silakan saja.

Saya mencari jalan lain: saya beli 4 whiteboard dan masing-masing kami menuliskan Resolusi 2021 kami (jadi, dari Lifebook itu, cari yang bisa dilakukan dalam waktu dekat, segera, dan dijadikan target dalam setahun).

Misalnya, Reza menulis di bukunya: Karir: Youtuber – Finansial: 400.000 USD/month.

Nah untuk target selama setahun, dia menulis Resolusi 2021 (di whiteboard):

-bikin konten seminggu 2x

-subscriber mencapai 1000, lalu pasang adsense.

-kursus online speaking English, dll.

Please like and subscribe Youtube Reza yaaa 🙂

Salah satu konten Reza: jalan-jalan ke Jepang.

Empat whiteboard itu digantung di dinding mushola kami sehingga kami ber-4 bisa saling memantau konsistensi masing-masing.

Demikian, semoga ada manfaatnya. Selamat tahun baru 🙂

One thought on “Memulai 2021 dengan Menyusun “Buku Kehidupan”

  1. Sangat bagus sekali, Uni Dina. Saya juga sedang proses menuliskan seperti yang ditulis 8 kategori kehidupan itu. Saya targetkan akhir bulan ini sudah selesai. Memang terlambat. Tapi daripada tidak ada, lebih lambat sedikit.
    Sehat dan sukses selalu untuk uni dan keluarga.

    Saya menulis lagi di blog setelah vakum dua tahun lebih. Kunjungi blog saya, uni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s