Merayakan Hari Ibu 22 Desember 2020

Hari ibu tahun ini kami rayakan dengan cara berbeda: jalan-jalan ke Pangandaran. Sebenarnya tujuan utama memang ingin refreshing. Saya dan si Akang ingin menghibur anak-anak (dan diri kami sendiri) yang sudah nyaris setahun “dirumahkan”. Alhamdulillah anak-anak tetap baik dan mampu bertahan. Masalah tentu saja ada. Omelan, kemarahan, tangisan, ada saja. Sama seperti orang tua lain (umumnya), saya juga tertekan melihat anak-anak yang apatis, main HP, rebahan, tidur melulu. Saat diajak beraktivitas, karena cara komunikasi saya yang salah, jadinya malah berantem. Tapi 9-10 bulan ini (sejak Maret) adalah masa kami untuk reorientasi segala hal. Mempelajari banyak hal baru.

Bulan Desember ini kami juga hectic banget: Rana dengan tugas kuliahnya, saya dengan sejumlah deadline kerjaan, termasuk penerbitan Jurnal ICMES, dan si Akang dengan segala aktivitasnya. Jadi rasanya emang perlu jalan-jalan.

Sementara Reza? Nah inilah yang sering jadi “masalah” di rumah kami, tapi sekaligus menjadi kesempatan untuk belajar dan terus belajar. Yang terpenting, buat saya, adalah belajar menerima bahwa setiap anak punya bakat, kecenderungan, sifat yang berbeda.  Persoalannya begini: Reza belum memenuhi standar “anak ideal” di mata saya, karena saya menetapkan standar sendiri soal anak ideal. Dia seolah “berbeda” dari kami: saya, si Akang, dan Kirana. Kami sangat sibuk dengan aktivitas akademik dan kami bertiga bisa rame ngobrol pada banyak topik (terutama sosial-politik). Sementara Reza sepertinya tidak berminat pada itu semua. Kadang kami pergi ke kafe di sekitar rumah dengan tujuan refreshing, masing-masing bawa laptop. Kami bisa duduk berjam-jam kerja. Tapi Reza tidak bisa “bersama” dengan kami. Buat dia, ke kafe itu ya cuma untuk makan, lalu pulang. Dia menolak segala jenis kursus online yang saya tawarkan dan saya meresponnya dengan omelan. Belajar online (misalnya ruangguru.com), harus diomelin dulu. Baca buku? Baca 10-20 lembar, lalu balik lagi ke HP atau youtube. 

Ada berkali-kali terbersit rasa sedih dan “gagal”. Setelah bicara panjang lebar dengan suami, me-refresh lagi berbagai pelatihan yang pernah saya ikuti, saya coba untuk memandang Reza dengan “mata yang lain”. Saya diam-diam membuat list apa saja keistimewaan Reza. Nilai raportnya sangat bagus, bahkan dipuji oleh gurunya karena disiplin dalam menyerahkan tugas. Dia punya kemampuan di bidang desain grafis dan editing video dan sudah dapat penghasilan dari situ, nominal totalnya sampai jutaan. Saya pun terbantu olehnya dalam urusan edit-mengedit digital ini. Ada banyak rencana saya yang kemungkinan besar bisa di-handle Reza (misalnya, membuat video bahan ajar). Dia bisa memasak, mahir melakukan berbagai pekerjaan rumah, bertanggung jawab untuk beberapa urusan rumah yang memang diserahkan padanya. 

Saya pun belajar untuk mensyukuri kemajuan kecil, fokus pada “apa yang sudah berhasil”, bukannya menoleh terus pada “apa yang belum”. Saya belajar untuk menerima Reza apa adanya, bukan memaksakan standar “anak ideal” saya kepada Reza.

Nah singkat cerita, saya meniatkan jalan-jalan akhir tahun ini untuk menyenangkan hati kedua anak saya itu. Untuk menghibur Kirana yang memang bekerja keras semester ini (kuliah di masa pandemi ini terasa berat baginya). Untuk menghibur dan berterima kasih kepada Reza yang mampu bertahan di tengah tekanan psikologis di masa pandemi ini (tekanan yang sumbernya justru Mamanya, hiks). I love you full, Rana dan Reza ❤

Saya pun mengambil momen hari Ibu (berangkat tgl 21, check out tgl 23), soalnya liburan akhir tahun sudah saya prediksi akan ribet (ternyata benar, berbagai pembatasan dilakukan oleh pemerintah daerah). Awalnya, saya merencanakan ke Bromo. Untung saya batalkan karena perjalanan mobil ke Jawa Tengah/Timur kemudian diperketat gara-gara covid. Saya cari aman saja, cari yang di Jawa Barat aja: pantai Pangandaran.

Setelah cari di aplikasi pegipegi.com, ketemulah sebuah hotel, namanya Sun in Pangandaran (SiP). Sebenarnya ini hotel pilihan Reza (karena ada kolam renangnya). Saya tadinya memilih yang lebih murah. Tapi Reza lebih suka SiP. Harganya 650rb/kamar/malam untuk yang sea view (jendela menghadap ke laut). Rasanya ini terlalu mahal. Kami kalau jalan-jalan selama ini selalu ala backpacker, cari hotel murah, yang penting bisa jalan-jalan. Tapi, kali ini ada rasa ingin menyenangkan hati Reza dengan cara menyetujui pilihannya. Akhirnya, ya sudah bismillah deh, ambil 2 kamar x 2 malam.

Singkat cerita, sama sekali nggak nyesel ambil hotel SiP ini. Karena, meski kamarnya mungil, tapi dari jendela bisa melihat ke laut dan tidur diiringi deburan ombak. Sarapannya juga enak-enak, prasmanan, dan tiap hari menunya beda. Yang paling bikin senang, di rooftop-nya ada kafe yang langsung menghadap ke laut. Ya ampun, ini kemewahan buat saya. Saya seharian dari pagi sampai sore duduk di kafenya, ngetik di laptop, sambil sesekali memandang lautan yang indah banget. Makanannya juga enak-enak banget dan ga mahal. Kirana dan si Akang juga duduk berjam-jam di kafe, ngetik. Reza? Tidur seharian, bangun saat makan siang, lalu berenang di kolam renang hotel.

Kami membicarakan fenomena Reza ini dan menemukan “solusi”-nya, yaitu Reza dibelikan laptop yang kapasitasnya cocok untuk editing video. Kalau laptop biasa-biasa aja kan ga bisa. Selama ini Reza hanya bisa editing video di komputer (PC) di rumah. Kalau ada laptop yang canggih, tentu kami ber-4 bisa beraktivitas bersama-sama di luar rumah. Masalahnya: harga laptop canggih itu mahaaal banget, sampai 20-an juta. Tapi ya ga apa-apa. Mimpi aja dulu, bercita-cita dulu. InsyaAllah nanti ada jalannya.

Saking senangnya saya di hotel itu, muncul ide untuk memperpanjang 1 malam lagi (Reza ga setuju, tentu saja, dia kan sudah bete, tidak bisa mengikuti ritme kami karena dia punya ritme sendiri). Saya tetap iseng cek harga.. ternyata, kamar kami ini sudah tidak ada lagi untuk hari berikutnya. Lalu saya iseng cek harga untuk malam-malam berikutnya (menjelang tahun baru), ada yang mencapai 4 jt/malam. Whaaat?? Berarti saya dapat harga yang udah didiskon besar, padahal saya merasa 650rb itu mahal. Ya sudahlah, ga usah diperpanjang. Alhamdulillah bisa merasakan nginap 2 malam di hotel mahal dengan harga relatif murah.

Sorenya, kami jalan-jalan ke pinggir pantai. Tiba-tiba, ada seorang pemilik perahu mendekati, menawarkan untuk naik perahu ke pulau. Bayarnya 1 perahu pp 200 ribu. Kalau mau sewa alat snorkeling @75rb. Saya pikir ini tawaran menarik, cocok buat Reza. Kasian kalau dia ditinggal ngetik mulu, kan? Akhirnya kami janjian untuk ke pulau esok hari, berangkat jam 7 pagi.

Saya tidak tahu apa harga sewa perahu dan alat snorkeling itu kemahalan atau tidak. Sengaja ga banding-banding harga atau menawar. Biarlah. Naik perahunya cuma sebentar, karena pulaunya deket banget. 5 menit sampai. Sebenarnya kalau ga sewa alat snorkeling ke si pemilik perahu juga bisa. Di pulau banyak yang nawarin. Nah di pulau itu, ada yang menawarkan diri untuk jadi pemandu snorkeling. Memandu dua orang (Rana dan Reza), dia minta 200rb. Lagi-lagi saya ga nawar dan ga cari tahu berapa rate sebenarnya. Biarin ajalah. Pangandaran ini sepi sekali dibanding biasanya, padahal ini musim liburan. Semoga kedatangan kami berkontribusi sedikit dalam membantu perputaran ekonomi rakyat.

Karena ada pemandu, Rana dan Reza berenang sampai cukup jauh dari pantai. Mereka menikmati sekali. Kirana memuji sang pemandu karena banyak sekali bercerita soal laut dan segala seluk-beluknya, juga mengajarinya diving. Sementara saya dan si Akang jalan-jalan saja di pantai, lalu duduk di tempat teduh. Pulangnya, si tukang perahu datang menjemput (tadi cuma didrop di pantai, lalu dia pergi; menjelang pulang, saya telpon dan dia jemput). Nah si tukang perahu menawarkan Rana dan Reza duduk di tiang penyangga  [saya tidak tahu namanya].

Mereka senang sekali, saya juga bahagia melihat keriangan mereka.

Alhamdulillah alaa kulli haal (segala puji bagi Allah atas segala hal).

Note: apa hadiah hari Ibu dari anak dan suami tahun ini? Daripada mereka salah beli (atau beli ngasal), saya pilih sendiri di tokopedia, mangkuk besar tahan panas yang bisa dimasukkan ke oven (sebelumnya saya pernah punya, lalu beberapa hari sebelum hari Ibu, dipecahkan oleh Kirana) dan alat penyeduh kopi V60. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s