Catatan Menyambut Tahun Baru 2022

Malam tahun baru, menjelang 1 Januari 2022, kami melewatinya di rumah saja. Bakar jagung dan memanggang sosis di atas kompor gas, bukan di atas arang. Minumannya ramuan 131, biar tubuh lebih segar dan setrong melawan virus. Rana menulis resolusi tahun baru di bukunya, berdiskusi dengan Papa. Reza menolak membincangkan resolusinya, ya sudah ga apa-apa. Saya juga ga punya resolusi apa-apa, tapi bertekad memanfaatkan waktu sebaik mungkin di masa-masa mendatang.

Alhamdulillah, kami bisa menyaksikan keramaian kembang api dari lantai dua rumah kami. Alhamdulillah, karena ‘perjuangan’ membangun 2 ruangan tambahan di lantai dua itu buat kami “sesuatu” banget. Dan kini kami untuk pertama kalinya, duduk di sana, menikmati pesta kembang api. Meski kucing kesayangan kami, Grey, jadi meringkuk ketakutan.

Malam ini, sambil menanti jam 12 malam, saya mengulang-ulang beberapa bagian dari buku “Berani Tidak Disukai” (Ichiro Kishimi & Fumitake Koga). Saya kutip di sini salah satu bagian yang menarik (meski semuanya sangat menarik, buat saya).

Continue reading

Catatan Akhir Tahun 2021

Awal tahun 2021 (dulu) kami mulai dengan optimis. Kami menyengaja pergi ke hotel, menyusun bersama resolusi dan life book. Tapi banyak sekali rencana yang tidak tercapai, bahkan banyak cerita sedih yang kami alami. Hanya saja, saya memang memilih tidak menceritakan hal yang sedih-sedih di medsos. Biar saja disimpan dan didoakan dalam hati. Di saat yang sama, sebenarnya banyaaak… sekali kebahagiaan yang kami terima. Tapi, ya cuma sesekali saja saya ceritakan di facebook. Seharusnya disimpan juga di sini, karena facebook sangat rentan diblokir, tapi sayang belum sempat juga.

Kali ini, saya memaksakan diri menulis, agak panjang, sekedar sebagai kenang-kenangan. Mungkin suatu hari akan dibaca oleh anak-anak saya kalau saya sudah ‘pergi’. Tahun 2021 saya semakin memahami, di mana akar kesalahan dalam penanganan pandemi ini, tapi sedihnya, apa yang diketahui tidak bisa semaunya diceritakan, ada banyak yang harus disimpan saja. Kalaupun ada yang bisa disampaikan, yang diterima justru tanggapan tidak enak, dari mereka yang merasa tahu – padahal tidak tahu – bahkan sekedar level dasarnya pun tak tahu. Merasa tahu, padahal tidak tahu. Illusion of knowledge.

Continue reading