Catatan Akhir Tahun 2021

Awal tahun 2021 (dulu) kami mulai dengan optimis. Kami menyengaja pergi ke hotel, menyusun bersama resolusi dan life book. Tapi banyak sekali rencana yang tidak tercapai, bahkan banyak cerita sedih yang kami alami. Hanya saja, saya memang memilih tidak menceritakan hal yang sedih-sedih di medsos. Biar saja disimpan dan didoakan dalam hati. Di saat yang sama, sebenarnya banyaaak… sekali kebahagiaan yang kami terima. Tapi, ya cuma sesekali saja saya ceritakan di facebook. Seharusnya disimpan juga di sini, karena facebook sangat rentan diblokir, tapi sayang belum sempat juga.

Kali ini, saya memaksakan diri menulis, agak panjang, sekedar sebagai kenang-kenangan. Mungkin suatu hari akan dibaca oleh anak-anak saya kalau saya sudah ‘pergi’. Tahun 2021 saya semakin memahami, di mana akar kesalahan dalam penanganan pandemi ini, tapi sedihnya, apa yang diketahui tidak bisa semaunya diceritakan, ada banyak yang harus disimpan saja. Kalaupun ada yang bisa disampaikan, yang diterima justru tanggapan tidak enak, dari mereka yang merasa tahu – padahal tidak tahu – bahkan sekedar level dasarnya pun tak tahu. Merasa tahu, padahal tidak tahu. Illusion of knowledge.

Walhasil, saya hanya bisa menyampaikan sebatas yang bisa disampaikan; didengar atau tidak, sudah bukan tanggung jawab saya lagi. Yang penting sudah berusaha jadi burung kecil yang mengangkut air dengan paruhnya untuk memadamkan api yang membakar Ibrahim. Bila yang jadi ukuran adalah padamnya api, jelas air yang dibawa si burung sama sekali tidak ada artinya. Tapi Allah tidak menjadikan padamnya api sebagai ukuran. Dia melihat: di sisi manakah kita berada dalam catatan sejarah hidup kita?

Dalam situasi chaos ini, alhamdulillah Allah masih melindungi kami. Benar-benar alhamdulillah. Apakah ini sikap egois? Tidak, karena hidup adalah pilihan. Selamat atau tidak selamat, adalah pilihan. Dua tahun berlalu, bukti-bukti semakin jelas terlihat buat saya, bahwa semua adalah pilihan. Di awal-awal tentu sangat wajar bila semua masih kabur dan samar. Namun seiring berlalunya waktu, rasanya tidak ada alasan lagi untuk menolak membuka mata, untuk berkeras tetap memegang info/pengetahuan awal, tanpa mau mempelajari lebih dalam. Menuruti ayat-Nya “mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya” ternyata memang tidak semudah itu. Illusion of knowlodge dan egoisme bisa menjadi tabir. Lanjutan firman-Nya, “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” Akal sehat bermula dari kemauan mendengar, dan kemampuan memilih yang terbaik.

Namun pertanyaannya: bagaimana kita bisa memilih yang terbaik? Ketika kita benar-benar buta soal pandemi ini, bagaimana kita bisa memilih mana pernyataan yang benar, mana yang tidak? Bukankah yang menyampaikan sama-sama orang hebat? Mengapa saling kontradiktif satu sama lain?

Jawabannya ada pada asumsi dasarnya. Kata ‘asumsi’ terkadang direndahkan sebagai ‘sesuatu yang masih kira-kira, belum pasti’. Tapi, nyatanya manusia membangun ilmu dari asumsi. Asumsi dalam keilmuan adalah sesuatu yang niscaya. Dalam sains (ilmu pengetahuan alam), berikut ini penjelasan mengenai asumsi:

Ketika kita berbicara tentang keteraturan alam, kita berbicara tentang keteraturan, pola, dan struktur. Misalnya, ketika kita melihat kawanan rusa kutub yang bermigrasi, kita berasumsi bahwa itu bukan hanya perilaku acak. Kita membenarkan asumsi ini melalui pengamatan dengan mencatat pola perilaku, struktur kawanan, dll, dan dengan demikian sampai pada kesimpulan yang menjelaskan perilaku mereka. Hal yang sama berlaku untuk fenomena alam lainnya. Sebelum hukum Newton dirumuskan, pergerakan planet-planet tidak dapat dijelaskan. Kita tahu mereka bergerak dalam pola tertentu, tetapi kami tidak tahu mengapa. Newton mengungkap misteri itu dengan membuat asumsi: dia berasumsi bahwa gravitasi akan berlaku tidak hanya di sini, tetapi juga di tempat lain. Hukum universal yang berlaku di mana-mana. Tentu saja, kita belum melihat setiap bintang di alam semesta, atau setiap planet, tetapi hukum Newton berlaku di setiap bintang yang telah kita amati, dan dalam setiap pengujian yang telah kita lakukan, sehingga kita dapat dengan aman mengasumsikan bahwa hukum Newton bersifat universal.

https://www.news24.com/News24/Understanding-science-scientific-assumptions-20140627

Di ilmu sosial, Hubungan Internasional, misalnya, seorang akademisi juga membangun argumennya dengan dilandasi asumsi dasar yang memang diakui dalam studi HI. Misalnya, seorang pemikir realis memiliki asumsi dasar bahwa ‘manusia pada dasarnya egois dan mementingkan dirinya sendiri’ dan asumsi dasar ini digunakan untuk menganalisis negara: “negara pada dasarnya akan mengejar kepentingan nasionalnya”. Pemikir realis cenderung memberi alasan/justifikasi bagi perilaku konfrontatif (menyerang, mengembargo, dll) dari sebuah negara (“ya negara memang begitu sifatnya; ketika dia kuat, dia akan mengejar kepentingannya dengan cara yang sesuai dengan powernya”). Ada asumsi lain, misalnya, liberalisme, yang percaya bahwa manusia (dan “negara”) punya kehendak bebas dan mau bekerja sama. Asumsi lain, konstruktivisme, meyakini bahwa sikap manusia/negara dibentuk (dikonstruk) oleh interaksi yang terjadi. Israel membuat bom nuklir, bahkan menolak NPT, dianggap bukan ancaman oleh AS. Sebaliknya, Iran yang sekedar memanfaatkan nuklir untuk kepentingan damai dan telah menandatangani NPT sehingga semua aktivitas nuklirnya diawasi oleh IAEA, tetap dianggap ancaman, sehingga diembargo habis-habisan oleh AS. Interaksi AS-Israel dan interaksi AS-Iran yang menjadi penyebab perbedaan perilaku ini (bila kita pakai asumsi konstruktivisme)

Nah, dalam pandemi ini, apa asumsi dasar yang dipakai? Salah satu asumsi dasar yang seharusnya dipakai adalah “keberadaan sel memori” (baca buku Ivan M. Roitt, “Pokok-Pokok Ilmu Kekebalan”). Dengan menggunakan asumsi dasar ini (dan asumsi ini dibuat setelah melakukan berbagai penelitian, bukan berkhayal saja), kebijakan yang diambil akan seperti ini: vaksin cukup sekali saja (dengan vaksis berbasis virus utuh inactivated) dan kalau sudah pernah terinfeksi alami, maka tidak perlu vaksin (karena: tubuh sudah mengenali virus yang masuk, sudah ‘mencatat’-nya, sehingga setiap kali terinfeksi virus yang sama, tubuh tetap mampu membuat antibodi).

perhatikan dimana bedanya jika tubuh kemasukan virus utuh (baik alami, maupun melalui vaksinasi berbasis virus utuh), dengan kemasukan vaksin berbasis protein S; sumber gambar: PDF presentasi drh MIC.

Tapi, ketika asumsi dasar yang dipakai berbeda, tentu kebijakan yang diambil akan berbeda pula. Misalnya, jika keberadaan sel memori diabaikan, akan muncul kebijakan seperti ini: vaksin harus berkali-kali dan meski sudah pernah kena virus yang sama, ya tetap harus vaksin. Vaksin pun berbeda-beda platformnya, ada yang dibuat dari virus utuh yang dimatikan (inactivated), ada yang dibuat dari protein S-nya saja. Penggunaan vaksin yang berbeda platform akan membawa dampak yang berbeda pula, yang terkait dengan asumsi dasar soal sel memori. Bagaimana dengan varian? Varian itu masih virus yang sama, hanya berubah 2% dari virus varian awal. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan saat muncul varian? Apakah kebijakan pengetatan, tracing, menambah hari karantina, sesuai dengan pemahaman dasar soal varian? Lalu bagaimana dengan alat tesnya? Bila virusnya berubah, mengapa bisa terbaca oleh alat tes yang sama, atau sebaliknya, mengapa tidak terbaca? Cara membaca alat tes sebenarnya bagaimana? Dst. Ini semua harus dipelajari, mulai dari asumsi-asumsi sains dasar dan logika dasarnya. Sehingga semua simpang-siur informasi bisa kita telaah sendiri, minimalnya buat menyelamatkan diri dan keluarga.

Tapi berapa banyak yang mau belajar, dan siapa yang mau mengajari dengan bahasa sederhana, supaya orang awam – non-saintis bisa paham?

Saya beruntung mengenal satu orang yang mau, dan mampu, dan credible, tapi beliau dibully sedemikian rupa, bahkan kita yang menshare ilmu yang beliau ajarkan, juga ikut dibully. Tapi pada akhirnya, akan kembali pada pilihan hidup kita (yang saya ceritakan di paragraf ke-3 & 4). Selama lebih 13 pekan terakhir (sempat ada pekan yang terjeda), beliau menjadi narasumber webinar yang sambung-menyambung, sehingga lebih pas disebut KULIAH umum, 1 semester, 2 SKS. Satu semester full, setiap pekan, satu sesi minimal 1,5 jam, belajar detil soal virologi, imunologi, vaksinologi, secara KEILMUAN, bukan kutip sepotong-sepotong dari sana-sini. Rekamannya bisa disimak di sini (sesi 13).

Pertanyaan selanjutnya, dalam sebuah negara, atau di level internasional, siapa yang memutuskan asumsi sains/sosial yang dipakai, yang kemudian berimbas pada kebijakan yang diambil? Ketika asumsi ‘ada sel memori’ yang dipakai, tentu vaksin cukup sekali (dengan platform virus utuh inactivated); ketika asumsi ‘tidak ada sel memori’ yang dipakai, vaksin harus berkali-kali seumur hidup. Untuk hewan ternak pun demikian, harus divaksin sekali, atau berkali-kali? Lihatlah betapa asumsi dasar keilmuan itu sangat penting dan berdampak luas.

Jawaban dari ‘siapa yang memutuskan’ pernah saya teliti dalam tesis S2 saya dulu, yaitu epistemic community, sekelompok ilmuwan yang mendominasi/menghegemoni para pengambil kebijakan. Pada akhirnya, pejabat negara seringkali bukan saintis, mereka mengambil keputusan/kebijakan berdasarkan masukan dan saran dari ilmuwan di sekeliling mereka. Tapi ini terlalu panjang dituliskan di sini. Silakan saja melanjutkan mencari sendiri.

Yang ingin saya catat adalah, sekali lagi, rasa syukur karena perlindungan Allah buat kami sekeluarga selama masa sulit ini. Tidak terbayangkan bila tidak diberi perlindungan (antara lain, dipertemukan dengan orang-orang yang tepat), mungkin kami hidup dalam ketakutan dalam dua tahun terakhir ini. Harapan saya, tentu saja semakin banyak yang memahami, karena saya sedih setiap kali mendengar berita sedih, baik dari orang tak dikenal, apalagi dari yang dikenal dan dekat di hati. Tapi apa daya saya? Kata guru saya, drh MIC:

Kebenaran adalah kebenaran; kebenaran sejati tidak perlu pembelaan. Bukan dan kuasa manusia untuk mencerahkan orang lain - semua terserah takdir Gusti Alloh. Karena kita bukan siapa-siapa, hanya mengikuti takdir saja. Jika kita faham konsep ini, nanti semua hal akan terbuka dan bisa dilihat dengan jelas - bahkan yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Selamat pergi tahun 2021. Tahun ini saya belajar banyak, belajar bahwa apapun kesulitan yang dihadapi, pada akhirnya ada jalan keluar, selama kita tetap sabar dan terus berupaya (mencari-cari pintu keluar, meski belum tahu ada dimana pintunya, tapi nanti pintu itu akan terbuka sendiri, seolah menanti kita datang mendekat).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s