REVIEW

Pindahan isi rubrik ‘review’ di multiply.

Multiply, A Place Where Hearts Meet Dec 10, ’08 1:34 AM
for everyone

Category: Other
Ini tulisan saya ttg MP yang dimuat di Media Indonesia 7 Desember 2008.
Multiply, A Place Where Hearts Meet

Desember 2005. Sebuah paket berisi buku terbang melintasi benua, dari sudut barat kota Teheran hingga mencapai sebuah sudut kota Nashville, USA. Tiga bulan kemudian, sebuah paket berisi buku cerita anak, lontong instant, dan agar-agar bubuk telah datang ke Teheran, dikirim jauh dari Nashville.

Juni 2006. Tengah malam di Teheran, seorang ibu mencurahkan berbagai keresahan hatinya pada temannya di Dusseldorf via Yahoo Messenger. Dia tidak bisa tidur dan mengalami sedikit keresahan pasca melahirkan anak keduanya.

September 2006. Larut malam di Teheran, seorang ibu sambil memangku bayinya mengedit sebuah buku sambil berkomunikasi via internet dengan temannya di Arkansas , yang juga tengah mengedit buku yang sama. Buku itu ditulis oleh para ibu yang tinggal di berbagai kota: Massachussets, Nashville, Jakarta, Yogyakarta, Canberra, Aachen, Frankfurt, Mandalay, dan Kairo; menceritakan pengalaman sendu yang sama-sama pernah mereka alami sesaat setelah melahirkan anak (dan sebelumnya, pengalaman baby blues itu mereka diskusikan via internet). Buku itu diterbitkan Februari 2007 oleh sebuah penerbit di Bandung.

Februari 2008. Puluhan orang berkumpul di Kafe Buku Depok, banyak di antaranya sebelumnya tak saling kenal, apalagi saling sua. Namun mereka bersatu dalam membuat buku One Gigabyte of Love yang berisi 53 tulisan seputar cinta. Royalti buku akan diserahkan untuk membantu pengembangan perpustakaan bagi anak-anak tak mampu di Rumah Cahaya Penjaringan, Jakarta.

Ibu yang tinggal di Teheran itu adalah saya (dulu, kini sudah pindah ke Bandung). Melalui internet, secara ajaib, saya menjalin sebuah pertemanan yang unik dengan banyak orang. Semua perempuan yang saya ceritakan di atas tak pernah saling kenal sebelumnya, apalagi saling bertemu muka. Namun, hati-hati mereka telah dipertemukan oleh sebuah situs blog bernama Multiply. Mereka umumnya hanya saling bercerita tentang kehidupan sehari-hari, tentang kerepotan mengurus anak, laporan tentang celoteh lucu anak, masakan apa yang dimasaknya hari ini (lengkap dengan foto dan resepnya) atau hanya sekedar memposting foto tanaman apa yang ditanamnya di taman rumah. Bahkan kalau perlu, hanya sekedar menulis satu kata: Sediiiiih….! Dan komentar-komentar menenangkan akan segera berhamburan. Ada apa Mbak sayang? Peluk jauh ya…! Semoga Mbak baik-baik aja… Komunikasi intens di Multiply membawa mereka untuk berkomunikasi langsung via telepon, chatting, saling berkirim hadiah, atau bahkan akhirnya saling berkunjung dan bersua, entah itu di luar negeri atau di Indonesia.

Pertautan hati itu ternyata bukan hanya saya yang mengalaminya. Hampir setiap mp-ers (julukan untuk blogger di Multiply) yang intens, punya cerita indah tersendiri dari pertautan hatinya dengan mp-ers lain. Kehangatan dialog antar mp-ers bisa terlihat di kolom ‘reply’ pada jurnal-jurnal mereka. Mulai sekedar bertukar canda hingga sumbang saran dan curhat. Bahkan ada seorang ibu blogger yang demikian disayangi para blogger muda, sehingga si ibu dipanggil Bunda dan ‘anak-anak Bunda” pun membentuk Club Anak Bunda. Berita kesedihan, sakit, ulang tahun, pernikahan, kelahiran, seolah menjadi berita untuk semua dan menjadi perhatian bagi semua. Tak hanya sekali dua kali undangan pernikahan diposting terbuka lengkap dengan peta lokasi, mempersilahkan rekan2 sesama mp-ers utk hadir. Kelahiran anak langsung diposting hari itu juga, seolah memberitahukan pada para “om-tante” si bayi di Multiply.

Oya, tentu saja, sebagaimana interaksi antar manusia di dunia nyata, interaksi di dunia virtual pun tak luput dari friksi dan ketegangan. Tak sekali dua-kali terjadi perdebatan panas di Multiply, yang terkadang hanya disebabkan soal suka-atau-tak suka pada sebuah film tertentu atau penjiplakan blog entry tanpa izin yang dilakukan sesama mp-ers. Saya pun pernah panas-dingin karena di blog saya pernah terjadi perdebatan yang cenderung kasar dan berbau SARA. Di saat-saat seperti ini, sangat terasa adanya persahabatan yang intens, karena, ada diskusi di balik layar (melalui fitur personal message) yang memberi dukungan moral.

Pertautan hati antar mp-ers yang semula sifatnya personal, semakin meluas setelah difasilitasi oleh para mp-ers muda yang enerjik dan siap bekerja keras. Mereka mencetuskan komunitas bernama Multiply Indonesia (MPID). Atas nama MPID, para mp-ers Indonesia menggalang dana untuk menggelar berbagai bakti sosial. Dan baksos pun menjadi salah satu ciri khas MPID dalam setiap kopi darat (kopdar)-nya. Sudah lebih dari 30 kali kegiatan bakti sosial yang dilakukan oleh sejak dicanangkannya MPID tanggal 9 April 2005. Ajaibnya, di tengah zaman yang penuh kecurigaan satu-sama lain ini—bahkan menitipkan zakat ke lembaga zakat pun sebagian orang merasa ragu— penggalangan dana spontan hingga mencapai puluhan juta rupiah bisa dilakukan oleh anggota komunitas ini, dikirim oleh orang-orang yang sebagian besarnya belum pernah saling bertemu, namun jelas, hati mereka telah saling terpaut.

——-bagian ini diedit di koran———-
Meski komunitas ini cair tanpa struktur organisasi yang standar, kegiatan-kegiatan sosial MPID tetap bisa berjalan lancar. Tentu saja, hal ini bisa terwujud karena ada mp-ers yang mau secara sukarela menerima tanggung jawab pengelolaan kegiatan-kegiatan itu. Dan secara sukarela pula, mp-ers dari berbagai kalangan, tua dan muda, berkumpul dalam acara-acara Baksos itu. Dan tentu saja, mengelola acara seperti sangat berat, bila tak diiringi ketulusan hati. Pinkq, seorang mp-ers menulis dalam blognya usai acara Baksos di Rumah Cahaya Penjaringan (2007) dalam rangka ultah MPID ke-3, “Walau berawal dari dunia maya, niat mewujudkan untuk pertemuan di dunia nyata memang tak semudah yang dibayangkan, penuh dengan kerelaan memberikan waktu, tenaga, pikiran, uang dan perasaan pastinya. Persiapan disana-sini namun tetap menyatukan berbagai macam kepala adalah menjadi hal yang tak gampang. Semua itu akhirnya terbayar dengan melihat senyuman adik-adik yang riang, melihat senyuman MPID-ers yang asik kenalan sana-sini, melihat satu sama lain saling menyemangati ketika yang satu lelah, membantu ketika yang lain kesulitan..dan semua itu takkan ternilai oleh nominal yang bernama uang…”
———–edited—————-

Apa yang menggerakkan mereka? Lagi-lagi, jawabnya adalah keterpautan hati. Dan Multiply, adalah tempat di mana hati-hati itu bersua dan menjalin persahabatan. A place where hearts meet.

[ditulis oleh Dina Y. Sulaeman]

Di Jamuan Cinta-Mu di Arafah Nov 2, ’08 6:40 AM
for everyone

Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Ratna Januarita
Buku ini kaya hikmah. Buku ini membawa kita menyadari bahwa proses berhaji sesungguhnya sangat panjang. Mulai dari ketetapan niat berhaji, berusaha melaksanakan niat itu (misalnya, menabung sedikit demi sedikit), memaknai hari-hari (atau bahkan bulan2, tahun2) yang kita lalui sampai akhirnya tibalah saatnya Allah memperkenankan kita mendatangi rumah-Nya di Baitullah, dan memaknai semua ritual haji. Mbak Ratna memaknai semua itu dengan cara yang indah dan memberi banyak pelajaran pada saya.Buku ini jadi enak dibaca karena bergaya feature, sehingga kita seolah-olah menyaksikan film bagaimana suka duka dan haru biru Mbak Ratna sebelum dan saat berhaji. Misalnya, tiba-tiba saja, menjelang keberangkatan haji, pembantunya minta keluar dan ternyata ‘diambil’ sama tetangganya sendiri yang juga mau naik haji! Bagaimana Mbak Ratna menyikapi kejadian itu? Marah? Kesal? Ya pastilah… wajar.. Keberadaan pembantu sangat krusial bagi keluarga Mbak Ratna, karena dia akan naik haji meninggalkan dua anaknya yang masih kecil.Tapi… kejadian itu justru dianggapnya sebagai ‘madrasah kesabaran’. Dia pun mengalihkan rasa marahnya dengan sikap positif (memberi hadiah pada tetangganya yg mau naik haji itu dan tetap berbaik-baik dengannya). Alhamdulillah… kesabaran itu berbuah manis. Allah memberikan cara penyelesaian yang manis sekali (apa ya? ya baca aja..:D)

Yah, pokoknya, banyak lagi deh cerita dari Mbak Ratna seputar perjalanan hajinya. Semuanya berporos pada satu hal: berhaji adalah menghadiri perjamuan cinta-Nya. Karena itu, proses berhaji pun harus penuh cinta, jauh dari amarah, selalu berprasangka baik pada Allah, sepanjang haji pun harus penuh cinta pada siapa saja .. dll.

Buku ini mengajarkan kepada kita bagaimana berhaji dengan cinta…

Endorsments:

“Buku ini indah dan enak dibaca.Penuh sentuhan-sentuhan yang mengsah kalbu. Sama indahnya dengan Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih”
(Achmad Daniri, ketua Komnas KEbijakan Governance)

“Pengalaman dipaparkan dengan sangat natural. Mengoptimalkan istilah-istilah trendi, ada kisah lucu, menggugah dan mengharukan.”
(KH Drs Muchtar Adam, Pimpinan Ponpes AlQuran Babussalam)

“Buku ini bercerita dengan lancar tentang pengalaman berhaji. Menikmati fokus penulis pada “perjamuan cinta di Arafah” sangatlah menarik.”
(Hernowo)

“Banyak yang sudah menulis memoar hajinya dalam sebuah buku, tapi karya salah satu dosen UNISBA ini inspiratif. Ada renungan kontemplatif yang mengajak pembacanya menelusuri inti dan pesan haji.”
(Prof.Dr. H.E. Saefullah, SH LLM, Rektor UNISBA)

“Buku yang benar-benar kaya hikmah.Mbak Ratna berhasil menjumput begitu banyak mutiara hikmah dalam perjalanan hajinya dan menguntainya menjadi sebuah buku yang mengharu biru.”
(Dina Y. Sulaeman, penulis buku best seller Doktor Cilik Hafal dan Paham Al Quran)

*buku yang pas dibaca untuk yang mau naik haji, atau untuk dijadikan hadiah buat saudara/teman yang mau naik haji* 🙂

ps: mbak Ratna mp-er juga loh… saya kenal mba Ratna juga via MP:D
http://ratnajanuarita.multiply.com

Film Laskar Pelangi Lebih Bagus daripada Novelnya (?) Oct 25, ’08 2:08 AM
for everyone
Category: Movies
Genre: Education
Sebenarnya, saya sudah lama ingin menulis review film Laskar Pelangi, tapi bingung cari topic yang menarik untuk dieksplorasi. Nah, sekarang udah nemu nih..Jadi gini… saya penggemar novel LP dan menganggapnya novel yg bagus. Saya tak punya kritikan apapun untuk novel ini. Sayangnya, si Akang (suami saya) dulu tak tertarik baca, dia merasa sedang banyak buku lain yang harus dibaca. Padahal, biasanya, si Akang paling pinter mengkritik sesuatu (untung aja dia bukan tipe pengkritik istri, hihihi …). Jadi saya sangat ingin tau apa pendapatnya tentang LP. Dia sebenarnya bukan penggemar novel dan mau membaca novel kalau udah saya promosikan berkali-kali. Misalnya, membaca Ayat-Ayat Cinta, mengalirlah kritikannya di sana-sini. Saya sodori Snow-nya Orhan Parmuk, tak dilirik sedikitpun (sejujurnya, saya pun menyesal beli novel itu). Saya sodori Alchemist-nya Paolo Coelho, sama, kritikan langsung mengalir. The Kite Runner dan A A Thousand Splendid Sun, sama aja, “Bagus sih.. tapi..” Ada sih, novel yang lolos kritikannya, yaitu karya2 John Grisham dan JK Rowling :)))))Naaah… setelah kami nonton film Laskar Pelangi (oiya, kami berdua sepakat bahwa film ini bagus, jadi awalnya tak banyak diskusi di antara kami), barulah dia tertarik membaca novelnya. Beberapa halaman lewat dengan selamat, dan..tralala… datanglah saat yang saya tunggu-tunggu: kritikan, hehehe.. Bukannya mencari-cari kelemahan karya orang lain ya.. tapi, bagi saya menyenangkan mendengarkan pendapat yang berbeda dari pendapat saya sendiri. Kalo kami sama-sama sepakat “iya bagus”, kan ga rame, ga ada diskusi:))

Dalam tulisan ini, saya hanya memfokuskan pada satu hal saja, yaitu kemampuan anak LP dalam bermusik. Di halaman 147:

“Juga karena inisiatif Mahar, kami akhirnya membentuk sebuah grup band. Alat-alat musik kami adalah electone yang dimainkan Sahara, standing bass yang dibetot tanpa ampun oleh Samson, sebuah drum, tiga buah tabla, serta dua buah rebana yang dipinjam dari badan amil Masjid Al Hikmah. Pemain rebana adalah aku dan A Kiong. Mahar menambahkan kendang dan seruling yang dimainkan secara sekaligus oleh Trapani melalui bantuan sebuah kawat agar seruling tersebut dapat dijangkau mulutnya tanpa meninggalkan kendang itu.” (lalu digambarkan betapa para penonton sangat terkagum-kagum pada band itu)

Padahal di halaman 132, disebutkan:
– “Tapi dia (Samson) juga sama sekali tidak tahu konsep harmonisasi sehingga ia menjadikan lagu itu seperti sebuah lagu lain yang belum pernah kami kenal.”
– Bahkan Lintang hanya bias menampilkan dua lagu, yaitu Pdamu Negeri dan Topi Saya Bundar.
-Adapun Trapani sejak kelas 1 SD tk pernah menyanyikan lagu lain selain lagu Kasih Ibu Sepanjang jalan.
-Sahara menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa dengan gaya seriosa yang menurut dia sangat bagus padahal sumbangnya minta ampun.

“Masih ada lima menit sebelum azan Zuhur. Ah masih bias satu lagu lagi,” Kata Bu Mus dengan senyum simpul.Kami memandang beliau dengan benci.

…Maka seni suara adalah mata pelajaran yang paling tidak prospektif di kelas kami.

Gimana, terasa tidak, ada kontradiksi di sini?

Kenapa sih, kok masalah musik yang kami soroti? Soalnya, kisahnya rada ‘kena’ ke masa kecil si Akang. Dia dulu anak PNS biasa, dengan 7 saudara, dengan gaji murni dari PNS itupun dipotong dalam jumlah besar untuk membayar hutang ke bank. Jadi, hidupnya dulu pas-pasan banget, tapi jauh lebih lumayan daripada anak-anak LP. Dia sangat berbakat di bidang musik, namun fasilitas yang ada hanya seruling dan harmonika. Pada kelas 4 SD barulah pamannya menghadiahi gitar dan sejak itu dia bisa mengasah kemampuan musiknya secara otodidak. Tapi itupun sangat terbatas, hanya gitar plus rebana. Dia menciptakan lagu2 untuk dinyanyikan anak-anak musholla. Tapi, membentuk band? Dengan peralatan lengkap? It’s far beyond his dreams! Butuh uang besar!

Kalaupun anak2 LP punya uang untuk menyewa alat-alat band, mempelajari drum, standing bass, dan electone pun butuh guru. Atau, minimalnya Mahar harus punya akses pada alat-alat itu sehingga belajar secara otodidak. Cerita ini sangat kontradiktif dengan penggambaran kemiskinan SD Muhammadiyah dan para muridnya.

(Saat si Akang SMA, dengan murid2 yg tingkat ekonominya sudah sangat beragam, barulah dia berhasil membentuk grup band SMA. Saat itu dia Ketua OSIS, jadi dia mengalokasikan sbgn anggaran OSIS untuk menyewa alat-alat band)

Selain itu, bila anak-anak LP menyanyi lagu-lagu sederhana saja kesulitan, sulit dibayangkan mereka mampu menguasai nada-nada lagu-lagu hebat yang diceritakan di novel dan memainkan band dengan sedemikian hebat. Apalagi Trapani. Main kendang sekaligus seruling? Sulit dibayangkan. Main gitar sekaligus harmonica masih mungkin. Tapi itu tetap butuh keterampilan yang sangat tinggi. Anak yang sejak kelas 1 SD hanya bisa menyanyikan Kasih Ibu, bisakah? It’s very unreal.

Sementara, melihat filmnya, situasinya justru lebih real. Tak ada band (included electone, standing bass, dan drum) dalam film. Kemampuan Mahar dalam bermusik sangat alami. Artinya, di tengah kemiskinan, ya sebatas itulah yang bisa dieksplorasi seorang Mahar. Di film hanya diperlihatkan Mahar menyanyi dan menabuh rebana, sementara teman-teman lain hanya bergoyang ala suku Afrika. Sangat real, sangat bisa diterima.

Lalu, di novel halaman 136, Mahar memainkan ukulele sambil menyanyikan Tannesse Waltz. Diceritakan, semua di kelas tertegun dan terpana oleh keindahan lagu itu. Agak sulit diterima, anak2 yang tak paham seni dan nada, bisa langsung terpana saat mendengar lagu asing. Belum lagi lirik lagu yang isinya cinta-cintaan. Seharusnya, Bu Mus akan mengkritik Mahar karena menyanyikan lgu itu (ingat, ini SD Muhammadiyah tahun 70-an, yang keIslamannya sangat kental), bukannya malah terpana dan antuasias. Atau mungkin Bu Mus tak paham bahasa Inggris? Untung saja di film, lagu Tannesse Waltz diganti lagu “Seroja” 😀

Oya tambahan sedikit, tergelitik oleh kritikan Adjeng di sini, kami memiliki pendapat seperti ini:

1. Adegan cerdas cermat ala tahun 70-an (menurut Adjeng tak rame), menurut kami… ya memang begitu seharusnya… jadul gitu loh. Apalagi, di novel, cerdas cermat terjadi saat SMP (sehingga rame karena ada debat teori-teori fisika, meski kayaknya rada2 unreal). Sementara, di film kan cerdas cermat SD, ya memang pas begitu adegannya.

Dan bahkan, dibanding novel-nya, kecerdasan Lintang di film jauh lebih bisa diterima. Sementara di novel, penggambaran kecerdasan Lintang agak berlebihan. Bagaimana dia bisa menguasai rumus-rumus dan teori-teori fisika/matematika canggih bila belum ada yang mengajarinya? Ataukah dia menemukan sendiri begitu saja semua teori dan rumus canggih itu? Atau mungkin dia meminjam buku-buku kelas SMP-SMA dari Bu Muslimah atau Pak Harfan (penjelasan masuk akal soal ini tak tampak di novel)? Yang saya tangkap, sekolah itu sedemikian miskinnya, sehingga sulit dibayangkan ada perpustakaan yang menyediakan buku-buku yang bisa memproduksi seorang Lintang.

Tapi di film, Lintang digambarkan bisa menghitung dengan cepat dan tanpa perlu mencorat-coret di kertas, hal ini sangat bisa diterima. Artinya, dia sudah mempelajari rumusnya, lalu karena sangat cerdas, dia bisa mengeksplorasi sendiri di dalam otaknya, sehingga dalam sekejap dia bisa menyelesaikan hitungan matematika. Sangat natural.

2. Kehadiran Tora Sudiro yang (kata Adjeng) tak ada gunanya di film itu. Kalau kami malah melihatnya lain: justru kehadiran Tora sangat diperlukan sebagai penghubung antara SD Muhammadiyah dan SD PN Timah. Film ini ingin menampilkan kekontrasan kedua sekolah itu, tapi kalau ujug2 scene berpindah dari SD Muh ke SD PN Timah, tentu tak masuk akal. Makanya muncul tokoh Tora yang naksir bu Mus itu. Jadilah adegan berpindah-pindah dari SD miskin ke SD kaya secara natural. Dari adegan Tora membagikan kalkulator kepada anak2, langsung pindah adegan, Bu Mus mengajari anak berhitung dengan lidi.

Ah, sangat banyak sebenarnya yang ingin saya tulis. Sementara segini aja deh. Oiya, sebelum baca LP, suamiku udah duluan baca Sang Pemimpi. Hehehe.. kritikannya lebih tajam lagi, tapi lebih bersifat filosofi dan terkait dengan paradigma hidup (misalnya, saat Andrea menyebut Sorbonne sebagai ‘altar suci’, seolah-olah pencapaian tertinggi anak manusia adalah belajar di Sorbonne..ah, banyak lagi deh, bisa jadi satu buku kayaknya kalo dibahas). Ketika kubilang “Sastra itu ya sastra, jangan kait-kaitan dengan filsafat, politik, agama, dll”, dia menjawab, “Justru sastra yang baik adalah sastra yang mengandung berbagai muatan, tak sekedar menyusun kata-kata dan cerita-cerita tanpa makna.” Oh.. harusnya dia kubujuk buka accout MP ya, biar dia nulis sendiri, tapi dia nggak mau dan selalu mengaku tak ada waktu buat nge-blog dan katanya, kalau kami berdua sama-sama nge-blog, rumah tangga kami bisa kacau balau:D.

Intinya, ini adalah review film plus novel dari kami berdua. Saya baca novelnya duluan, baru nonton filmnya, sebaliknya si Akang nonton filmnya dulu, baru novel. Ternyata, kesimpulan kami, filmnya lebih real daripada novelnya. Saya berusaha mengambil kesimpulan yang adil: novel itu bagus (dan saya tetap menjadi penggemarnya), tapi kini saya (dan suami) berprasangka bahwa ada banyak kejadian yang sepertinya direkayasa oleh Andrea (antara lain, soal musik dan sejauh mana kejeniusan Lintang). Sementara, filmnya, berhasil menampilkan LP sebagaimana “seharusnya” dan lebih natural. Memang sih, ada beberapa adegan film yang agak mengganggu, misalnya kehadiran pawang buaya yang ‘tak jelas’ atau kisah hilangnya Flo (sepakat dengan Adjeng). Tapi, menurut kami sangat bisa diabaikan. Yang kami salutkan adalah, film ini membuktikan bahwa tema yang ‘tak rame’ pun bisa laku kok (kalau Ayat2 Cinta sangat wajar laku karena mengusung budaya pop, pemain yg cantik2/ganteng, cerita cinta2an yg disukai banyak org..bayangkan, bahkan ibu2 pengajian di kompleksku saya sangat antuasias nonton bareng rame2 dan saling merekomendasikan film ini satu-sama lain.)

Film LP yang membawa tema kemiskinan, dengan pemain-pemain cilik amatir, ternyata bisa juga menyedot banyak penonton. Artinya, terbukti juga bahwa penonton Indonesia masih banyak kok, yang menyukai tema-tema membumi dan mengedepankan hati nurani.

Balik ke novel, saya tetap berpendapat trilogy LP bagus dan berharga untuk dibaca untuk mendapatkan inspirasi hidup (meski tidak demikian dalam pandangan suamiku). Cuma, sekarang daku sadar, tetap saja ketiganya adalah novel, bukan memoir. Karenanya, Andrea sah-sah saja menyelipkan khayalan atau adegan-adegan rekayasa di dalamnya; dia juga berhak menyelipkan paradigma hidupnya yang rada-rada westernized itu di novelnya. Namanya juga novel, ya toh?

Resensi Buku: Ahmadinejad on Palestine Jul 20, ’08 9:06 AM
for everyone

Category: Books
Genre: Nonfiction
Author: Dina Y. Sulaeman
Maaf, ngasih bintang 4 untuk buku sendiri… hihihi…:pKoran Singgalang (terbitan Padang) edisi 20 Juli memuat resensi ini…Konflik Palestina dalam Perspektif Baru

Judul Buku : Ahmadinejad on Palestine
Penulis : Dina Y. Sulaeman
Penerbit : Pustaka IIMaN
Tahun terbit : 2008
Jumlah Hlm : 236

Sering, bila kita membaca tulisan atau buku mengenai Palestina yang ditulis penulis muslim, sudut pandangnya adalah perang atau jihad. Namun buku ini, memberikan perspektif baru. Penulisnya, Dina Y. Sulaeman, urang awak asli yang kini tinggal di Bandung, memulai proses penulisan buku ini dengan berbagai kegelisahan dan tanya. Seperti apakah sesungguhnya situasi di luar sana? Apa yang benar-benar dirasakan orang Palestina? Bagaimana sebenarnya isi hati orang-orang Israel sendiri? Di manakah jalan keluar? Berbagai kegelisahan dan pertanyaannya terjawab setelah ia menelaah pidato-pidato Presiden Iran Dr. Mahmoud Ahmadinejad.

Di antara solusi yang ditawarkan Ahmadinejad adalah one state solution, sebuah solusi yang sebenarnya juga banyak diungkapkan sebagian peneliti masalah Palestina, namun gaungnya tak terdengar keras dalam kancah politik Timur Tengah. Penyebabnya apalagi kalau bukan karena Amerika Serikat dan Rezim Zionis Israel sama sekali tak sepakat pada “solusi satu negara” ini. Di tangan Dina, one-state solution ini dibahas dengan gamblang dan sederhana, sehingga mudah dimengerti dan diterima logika. Namun, tentu saja, penerapannya tak semudah itu. Rezim Zionis tidak akan membiarkan solusi ini teraplikasikan karena konsekuensinya, rezim ini harus dibubarkan dan dibentuk satu pemerintahan baru bersama Arab-Palestina dan Yahudi-Palestina. Solusi ini mirip dengan apa yang telah berhasil diterapkan di Afrika Selatan, dimana rezim Apartheid dibubarkan dan dibentuk negara yang mengakui kesamaan hak kaum kulit putih dan kulit hitam.

Buku ini diberi endorsement oleh enam pakar politik dari Universitas Padjadjaran, antara lain Prof. (em) Judistira K.Garna, Ph.D, Dr. Dede Mariana, Wawan Budi Darmawan, M.Si, R. Widya Setiabudi, M.T., Budi Utomo M.Si, dan Arry Bainus, M.A. Menarik mengamati komentar Budi Utomo M.Si, dosen Ilmu Politik Unpad, “Delapan tahun menetap di Iran membuat tulisan Dina mengenai Timur-Tengah, terutama mengenai konflik Palestina-Israel memiliki sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan tulisan terkait. Pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa kita harus repot-repot memikirkan konflik Palestina-Israel? Apa orang-orang Arab memang ingin membuang orang-orang Yahudi, atau orang Yahudi ingin menghabisi orang Arab, dibahas secara menarik. Dengan bahasa yang tidak banyak bermetafora, penulis menyajikan rangkaian peristiwa seperti Holocaust dan detail konflik Palestina-Israel secara lugas dan enak dibaca bagi siapapun.”

Beriman Tanpa Rasa Takut (Irshad Manji) Jun 23, ’08 7:18 PM
for everyone
Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Irshad Manji
Dear friends, melanjutkan posting saya di: http://bundakirana.multiply.com/journal/item/198,atas izin redaktur majalah Azzikra, berikut ini saya copy-paste tulisan saya tersebut.——Tanggapan atas buku “Beriman Tanpa Rasa Takut”, Irshad Manji
Oleh: Dina Y. Sulaeman

Buku ini ditulis dengan sangat personal, dengan kasus-kasus yang dialami sendiri oleh penulisnya. Karena itu, saya pun akan membahasnya secara personal pula. Saya terus-terang membaca buku ini dengan perasaan kasihan. Irshad adalah perempuan malang yang mengalami banyak masalah di sekitarnya—termasuk kekerasan dari ayahnya. Irshad juga –katanya—berinteraksi dengan orang-orang yang terzalimi atas nama Islam.

Alhamdulillah, saya dilahirkan oleh orang tua saya yang penyayang, “padahal” mereka muslim yang taat dan sangat rajin ke masjid. Mereka menyekolahkan saya ke tempat yang jauh dari rumah; saya pun diizinkan ke luar negeri sendirian, tidak seperti keluhan Irshad tentang kekangan bepergian ke luar negeri sendirian bagi perempuan muslim. Mereka tak pernah menyuruh saya –apalagi memaksa—berjibab, namun saya sendiri dengan penuh kesadaran memakai jilbab. Kalau saja Irshad adalah saya, tentu dia tak akan pernah menyebut jilbab sebagai kondom (!) yang membungkus kepalanya.

Ajaibnya, saya menemukan banyak sekali perempuan muslim yang seperti saya! Mereka maju, tercerahkan, berkarir, berjilbab, sebagian pergi ke luar negeri sendirian, punya keluarga bahagia, punya anak-anak yang lucu. Irshad mengambil contoh-contoh komunitas muslim di berbagai negara yang menurutnya sangat menindas perempuan. Sayang sekali Irshad (mungkin) belum pernah ke Iran. Saya delapan tahun tinggal di Iran, dan ajaibnya, lagi-lagi saya bertemu dengan banyak perempuan yang sangat educated, menyetir mobil sendiri, menjadi profesor atau dokter bedah dengan makalah-makalah yang dimuat di jurnal internasional, dan… luar biasa… mereka berjilbab! Pasti ini kondisi yang tak terbayangkan oleh Irshad. Dalam bayangan di kepalanya, keluarga muslim taat—apalagi perempuannya berjilbab—adalah keluarga-keluarga penuh kekerasan dan penindasan kepada perempuan.

Saya tidak mengabaikan ada banyak kaum muslim yang melakukan kejahatan, sebagaimana pada saat yang sama, banyak juga kaum non muslim yang kejam. Misalnya, Islam memberikan penghargaan tinggi kepada perempuan, namun masih banyak laki-laki muslim yang memperlakukan perempuan tanpa harga, sebagaimana laki-laki non-muslim pun banyak yang merendahkan perempuan. Saya juga membaca tentang kekotoran politik di negara-negara Arab, namun jangan lupa, kekotoran politik di Barat pun sangat banyak terjadi. Hanya, kemasan pemberitaannya berbeda sehingga terasa lebih elegan dibanding kekotoran politik di negara-negara mayoritas muslim. Padahal, maaf, seperti kentut, keluar darimanapun, sama-sama bau.

Terkait Palestina, Irshad mengeluarkan argumen-argumen kuno yang sudah sangat sering disampaikan oleh para pembela Israel, saya tidak bisa membahasnya di sini karena akan sangat panjang. Tapi ada satu argumen yang baru saya dengar, yaitu berdasarkan tes DNA, orang Yahudi ternyata satu nenek moyang dengan orang Arab. Karena itu, mereka berhak menganggap Palestina sebagai tanah air mereka. Saya ingin mengajukan pertanyaan kepada Irshad, apa justifikasi DNA juga bisa diberikan kepada orang-orang Kanada (yang disanjung-sanjung Irshad) saat mereka datang ke kawasan itu dan membunuhi orang-orang Indian yang lebih dulu bermukim di sana? Tak akan ada yang percaya laki-laki seganteng aktor Kanada, Bruce Greenwood, ternyata bersaudara dengan orang Indian.

Namun, Irshad juga cukup bijaksana dengan menulis kalimat ini, ”Memicu perubahan artinya berhenti untuk memahami Al-Quran secara harfiah dan juga tidak memahami multikulturalisme secara harfiah.” Saya setuju (dengan sederet catatan) atas kalimat itu. Tapi, lanjutan kalimatnya, “Mengapa khitan terhadap klitoris perempuan yang dipaksakan harus dituruti?” Oh..oh… di Al Quran tidak ada keharusan khitan bagi perempuan. Tolong cek lagi Quran-mu, Irshad. Sayang sekali, kalimat bijaksana Irshad tadi dilanjutkan dengan contoh-contoh dangkal yang sangat kasuistis.

Ah, terlalu banyak waktu yang saya buang untuk membaca keluh-kesah Irshad. Tapi sekali lagi, bila Irshad ada dalam posisi saya, saya yakin, dia akan melihat Islam yang indah dan tak perlu ada ketakutan apapun. Kasihan sekali.

Bos Pengemis Tinggal Nikmati Hidup Jun 12, ’08 8:31 PM
for everyone
Category: Other
Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ”karir”-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.

Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.

Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.

***

Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik.

Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ”orang mampu”. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.

Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ”Yang penting halal,” ujarnya mantap.

Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurtu dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI.

Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ”Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,’ ‘ ungkapnya.

Karena mengemis di Bangkalan kurang ”menjanjikan’ ‘, awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.

Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ”bakat” Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat.

Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ”Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,” ungkapnya bangga.

Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ”Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),” tegasnya.

Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ”Kami berpencar kalau mengemis,” jelasnya.

Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.

***

Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ”ilmu” dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.

Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ”Pokoknya sudah enak,” katanya.

Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ”Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,” kenangnya.

Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah.

Cerita tentang ”keberhasilan’ ‘ Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ”Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,” ujarnya enteng.

Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ”Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,” tegasnya.

Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur.

Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ”pos khusus”, Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan.

Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.

Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan. ..

***

Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari.

Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.

Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ”Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,” ucapnya.

Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ”Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,” katanya.

Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ”Saya ingin naik haji,” ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti… (ded/aza)

sumber: copy-paste dari milis, sumber asli: koran Jawa Pos (http://www.jawapos. co.id/metropolis /index.php? act=detail& amp; nid= 5373)

Catatan:
Apa benar mengemis itu halal (seperti kata Cak To)?
Jawaban: (ini pendapat Achmad Supardi, dari Surabaya Pos):
Persoalannya ada dua:
1. Benarkah menjadi pengemis dengan cara-cara yang sudah diceritakan itu, memang halal adanya? Bukankah dalam aksinya orang-orang ini selalu melakukan penipuan? Memakai pakaian compang camping untuk menarik rasa iba orang lain, sementara ia bisa dan biasanya memang memakai pakaian yang normal, apa bukan penipuan namanya? Apalagi yang jelas-jelas melipat lututnya hingga betis jadi satu dengan paha, lalu diperban, dikasih obat merah dan air tape hingga lalat merubung, apa bukan penipuan namanya? Bukankah tiap pekerjaan yang dilakukan dengan penipuan adalah haram?

2. Kalau pun misalnya memang halal (maklum, saya dangkal soal hukum fikih kayak gini), bukankah kita didorong untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, yang lebih kontributif bagi orang lain? Kalau pun mislanya mengemis halal, tentu lebih utama mereka yang berusaha agar mendapat pekerjaan lainnya yang sama-sama halal namun lebih bermartabat dan kontributif, kan? Terpaksa menjadi pengemis, lalu setelah dapat sedikit modal mulai berjualan atau bikin usaha lain, menurut saya lebih terhormat daripada yang terus keenakan jadi pengemis. Atau bosnya sekali pun.

Komentar dari Mbak Sirikit Syah (jurnalis):
Jawa Pos sengaja mengemukakan fakta-fakta sosial ini supaya publik tahu. Di permukaan tampak JP seperti meng-GLORIFY profesi pengerah demo dan pengemis ini, namun lebih dalam dari itu, JP melakukan KONTROL SOSIAL. Selama ini orang (terutama kalangan pers) mengira yang dimaksud kontrol sosial itu “masyarakat/ pers mengawasi para pejabat dan wakil rakyat”. Itu pemahaman keliru. Yang benar adalah termasuk “Pers juga mengawasi perilaku masyarakat (seks bebas, narkoba, aliran sesat, ngemis menipu, makelar demo, dll)”.

Apa pendapat Anda?

note: bintang 4 saya berikan untuk Jawa Pos yg mengangkat masalah ini, bukan untuk si bos pengemis

Laissez-Faire Pak SBY, Laissez-Faire May 26, ’08 4:18 AM
for everyone
Category: Other
Saya heran melihat perdebatan antara pro-anti subsidi. Kwik Kian Gie menyodorkan fakta, data, dan hitung-hitungan meyakinkan tentang tak perlunya penaikan BBM, tapi pemerintah ngotot menyatakan BBM wajib dinaikkan demi kemaslahatan bangsa. Kata pemerintah, subsidi BBM malah dinikmati orang mampu, untuk itu dicabut. Tapi Kwik bilang, sejak lama pemerintah tak lagi mensubsidi, jadi sekarang ini bukannya mencabut subsidi, tapi benar-benar menaikkan harga [tulisan Kwik soal ini, silahkan browsing, sudah diupload di mana-mana].Yang saya bingung, jadi ada apa ini sebenarnya? Kenapa pemerintah ngotot menaikkan BBM? Siapa yang untung dengan kenaikan BBM? Kalau benar AS ada di balik semua ini, kok katanya rakyat AS juga dirugikan dengan naiknya harga minyak dunia? Akhirnya, tulisan Bang Amran Nasution menjawab kebingungan saya ini… Enjoy (and cry)!————
Laissez-Faire Pak SBY, Laissez-Faire
Oleh: Amran Nasution *

Hidayatullah.com–Harga bahan bakar minyak (BBM) naik akhir Mei 2008. Itu sudah keputusan Pemerintah SBY–JK. Mahasiswa bisa saja menolak dan melakukan demonstrasi merata hampir di seluruh Indonesia, dari Padang sampai Kendari, dari Jakarta sampai Ternate. Tapi harga bensin tetap harus naik.

Para ekonom atau pengamat bisa saja protes. Kwik Kian Gie siap dengan hitung-hitungan bahwa tak betul rakyat disubsidi lewat harga BBM. Pemerintah ternyata sudah memperoleh keuntungan berlipat-lipat selama ini, dengan menjual bensin Rp 4500/liter. ‘’Mau debat dengan siapa saja, di mana saja, dari dulu saya siap. Tapi mereka diam saja,’’ kata mantan Kepala Bappenas itu.

Ekonom dan anggota DPR Drajat Wibowo bisa saja bersikukuh tak ada maslahat dengan APBN sekali pun harga BBM tak naik. Ia ajari cara menyusun APBN, antara lain, dengan menunda pembayaran cicilan utang.

Dengan itu Drajat ingin menunjukkan adalah bohong pernyataan yang menyebutkan APBN akan jebol kalau harga minyak tak dinaikkan. Ia prihatin, begitu harga BBM naik harga semua kebutuhan pokok turut naik pula. Maka rakyat yang selama ini daya belinya sudah merosot, menjadi korban. Pengalaman kenaikan harga BBM tahun 2005, menunjukkan begitu.

Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diberikan pemerintah tak ada artinya, rakyat tetap saja bertambah miskin. BLT tampaknya memang sekadar proyek politik pencitraan – bahwa Presiden kita pemurah – guna menghadapi pemilihan umum.

Padahal rakyat sudah amat menderita. Percuma saja Biro Pusat Statistik (BPS) memilih-milih dan memilah-milah data untuk mendukung citra pemerintah. Semua orang tahu di mana-mana sekarang rakyat makan nasi aking. Berita radio, koran dan TV menunjukkan berapa banyak anak-anak kurang gizi dan kelaparan. Di Makasar, seorang ibu hamil meninggal dunia karena berhari-hari tak tersentuh makanan. Mereka tak mungkin diselamatkan hanya dengan data BPS.

Lagi pula, apa pun data BPS, faktanya Indonesia masuk indeks 60 negara gagal 2007 (failed state index 2007) yang disusun Majalah Foreign Policy bekerja sama dengan lembaga think-tank, The Fund for Peace. Majalah itu amat berwibawa, milik The Carnegie Endowment, think-tank dengan jaringan internasional paling luas di Amerika Serikat. Salah satu pendiri majalah itu adalah Profesor Samuel Huntington, ahli ilmu politik senior dari Harvard University.

Yang hendak dikatakan, Foreign Policy bukan majalah yang diterbitkan dari pinggir got. Indonesia memang betul-betul negara gagal, satu kelompok dengan Sudan, Somalia, Iraq, Afghanistan, Zimbabwe, Ethiopia, atau Haiti. Salah satu ukurannya: pemerintah pusat sangat lemah dan tak efektif, pelayanan umum jelek, korupsi dan kriminalitas menyebar, dan ekonomi merosot. Nah, kalau mau jujur, memang begitulah persis potret negeri kita sekarang.

Data indeks pembangunan manusia (human development index) dari badan PBB, UNDP, memberikan indikator serupa. Indonesia menduduki peringkat 107 dari 177 negara, jauh di bawah Singapore, Arab Saudi, Malaysia, atau Thailand. Malah kita di bawah Filipina, Vietnam, Palestina, atau Srilangka. Padahal Srilangka itu negeri rusuh karena pemberontakan Macan Tamil dan Palestina lebih rusuh lagi akibat penjajahan Israel.

Begitu pun kenyataannya tetap saja harga minyak harus naik. Apakah rakyat tambah menderita seperti dikhawatirkan Kwik Kian Gie atau Drajat Wibowo dan kawan-kawan, tak ada maslahat bagi pemerintah. Soalnya, ini sudah tak bisa ditawar. Ini sebetulnya untuk kepentingan ideologi.

Ideologi? Barang siapa membaca buku terlaris dari Naomi Klein, The Shock Doctrine, The Rise of Disaster Capitalism (The Penguin Group, September 2007), akan terang-benderanglah motif sebenarnya di balik langkah pemerintah menaikkan harga BBM atau mengobral 37 perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) kepada asing. Itu semata-mata untuk menegakkan ideologi kapitalisme-laissez-faire, atau di sini dikenal sebagai sistem ekonomi liberal, yang dianut pemerintah kita.

Inilah sistem ekonomi pasar yang menyerahkan urusan ekonomi kepada perusahaan swasta dengan campur tangan pemerintah sebisa mungkin dihilangkan. Sistem ini menginginkan pemerintah tidur saja. Pemerintah tetap tak boleh mencampuri urusan ekonomi, sekali pun hanya untuk meningkatkan taraf hidup orang miskin.

Dalam pandangan ideologi ini, jika pemerintah mengurusi perekonomian orang miskin, itu sama artinya melakukan redistribusi kekayaan, menyebabkan orang menjadi malas dan kehilangan kreativitas. Kalau orang jadi miskin, biarkan saja miskin. Karenanya dia disebut sistem laissez-faire, dari bahasa Perancis: biarkan terjadi.

Ciri khasnya: deregulasi, pajak rendah (terutama untuk pengusaha kaya, agar mereka lebih cepat melakukan akumulasi modal untuk meningkatkan kemampuan bersaing), swastaisasi/privatisasi, anti-subsidi, anti-pengaturan upah buruh minimal, dan semacamnya.

Tentang upah buruh, misalnya, serahkan saja kepada mekanisme pasar, jangan diatur-atur pemerintah atau serikat buruh. Mekanisme pasar akan bekerja menentukan upah yang pantas untuk buruh. Artinya, semua terserah pengusaha. Karena itu belum bisa terlaksana, dunia perburuhan kita memakai sistem buruh terputus (off-sourcing), sehingga posisi tawar pengusaha kuat ketika berhadapan dengan serikat buruh.

Ideologi ini pertama kali dirumuskan ekonom Skotlandia, Adam Smith, di akhir abad ke-18. Tapi setelah ekonomi dunia dilanda krisiss dahsyat (great depression) di akhir 1920-an, mulai banyak negara meninggalkannya. Ideologi ini dituduh sebagai biang keladi kehancuran ekonomi, meski para pendukungnya selalu membela diri.

Ia kembali berkibar di awal 1980-an, ketika Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan dan Perdana Menteri Inggris Margaret Teatcher mengkampanyekannya, terutama untuk menghadapi sistem ekonomi komunisme Uni Soviet, dalam perang dingin. Maka ambruknya Uni Soviet, dengan simbol rubuhnya Tembok Berlin, 1989, diklaim sebagai kehebatan sistem ini.

Dalam prakteknya sistem ini menyebabkan orang kaya bertambah kaya, orang miskin bertambah miskin. Dunia pun terus-menerus dilanda krisis ekonomi, mulai great depression sampai krisis yang melanda Asia 1997, atau Amerika Serikat sekarang.

Banyak para ahli berpendapat, multi-krisis yang melanda Amerika saat ini karena laissez-faire. George Soros, investor sukses pasar modal, termasuk berpendapat begitu. Padahal Soros justru dianggap simbol sukses kapitalisme global di tahun 1990-an.

Naomi Klein, 38 tahun, aktivis, penulis dan wartawati terkemuka Kanada, lulusan London School of Economics, berhasil mengungkap sebuah metode dari sistem kapitalisme laissez-faire. Itu dikembangkan pemenang nobel ekonomi 1976, Profesor Milton Friedman, dan pengikutnya di Chicago School of Economics, University of Chicago.

Klein menyebutnya Doktrin Kejut (The Shock Doctrine) dan itu yang ia jadikan judul buku setebal 558 halaman, dan banyak mendapat pujian. Sebuah artikel di Dow Jones Business News, Oktober 2007, menyebut The Shock Doctrine, The Rise of Disaster Capitalism (Doktrin Kejut, Bangkitnya Kapitalisme Bencana) sebagai buku terpenting tentang ekonomi di abad 21.

The Chicago Boys

Begini. Pada 2005, badai Katrina diikuti gelombang pasang meluluh-lantakkan New Orleans, kota berpenduduk 500.000 jiwa di tepi Sungai Mississippi, di tenggara Negara Bagian Louisiana. Hampir 2000 penduduk meninggal, rumah, jembatan, dan berbagai infrastruktur hancur. Inilah bencana alam dengan korban material terbesar di Amerika.

Paman Miltie – begitu Milton Friedman dipanggil hormat pengikutnya – ternyata punya pendapat tersendiri atas bencana itu. Melalui kolom di koran The Wall Street Journal, 3 bulan setelah bencana, Paman Miltie menulis, ‘’Banyak sekolah di New Orleans rusak. Begitu juga rumah tempat anak-anak berteduh. Anak-anak terpencar di seluruh negeri. Ini adalah sebuah tragedi. Ini juga sebuah peluang.’’

Bagaimana bencana begitu dahsyat disebut Profesor Friedman sebagai peluang? Ternyata itu beralasan. Hanya dalam tempo 19 bulan, ketika banyak penduduk masih tinggal di pengungsian, sebuah kompleks sekolah telah berdiri di bekas sekolah negeri (public school) yang dihanyutkan badai. Sekolah itu dilengkapi berbagai fasilitas dan guru. Tapi ia bukan lagi sekolah negeri melainkan sekolah swasta yang didirikan pemodal. Reformasi pendidikan telah terjadi dengan gampang. Tanpa badai Katrina tak mudah memprivatisasi sekolah publik itu.

Para bekas guru menyebut apa yang terjadi pada sekolah mereka sebagai perampasan lahan pendidikan. Naomi Klein menyebutnya aksi kapitalisme bencana (disaster capitalism). Ternyata sudah lebih tiga dekade Profesor Friedman dan pendukungnya yang biasa dijuluki The Chicago Boys, mentrapkan strategi itu: Menunggu datang krisis atau bencana lalu dengan cepat bergerak mereformasi status-quo.

Semua yang berbau pemerintah dijadikan swasta (swastaisasi/privatisasi), ketika orang-orang masih dirundung kaget. Krisis bisa saja terjadi karena perang, bencana alam, teror, ambruknya pasar modal, atau krisis ekonomi lainnya.

Dalam sebuah esei menarik, Friedman menulis bahwa hanya krisis – aktual atau hanya persepsi – yang bisa menghasilkan reformasi sesungguhnya untuk mengubah status-quo. Maka di New Orleans, orang bersiap-siap dengan stok makanan dan air minum, sementara para pendukung Friedman datang dengan ide-ide pasar bebas (free-market). Friedman meninggal dunia setahun kemudian, November 2006, dalam usia 94 tahun.

Dari riset Naomi Klein, diketahui bahwa pengalaman pertama Friedman mengeksploitasi krisis atau kejut (shock) terjadi pertengahan 1970-an, ketika Chili mengalami kudeta oleh Jenderal Augusto Pinochet. Negeri di Amerika Latin itu juga terkena trauma inflasi yang amat tinggi (hyperinflation). Friedman datang menasehati Diktator Pinochet untuk melakukan reformasi ekonomi dengan cepat: deregulasi, pemotongan pajak, perdagangan bebas, privatisasi BUMN, pemotongan anggaran sosial, antara lain, pemangkasan subsidi untuk rakyat miskin.

Semua dijalankan Diktator Pinochet dengan tangan besi. Maka Chili mengalami reformasi sistem ekonomi menjadi kapitalisme laissez-faire paling ekstrim yang pernah terjadi, dan dijuluki sebagai revolusi The Chicago School. Kebetulan sejumlah penasehat ekonomi diktator itu adalah bekas mahasiswa Friedman di Chicago University.

Naomi Klein mulai melakukan riset tentang ketergantungan kapitalisme pasar pada situasi krisis atau shock ketika Amerika Serikat menduduki Iraq, 2003. Penyerbuan itu betul-betul menimbulkan shock yang luar biasa bagi rakyat Iraq mau pun dunia. Lalu apa yang kemudian terjadi di negeri sosialis itu?

Luar biasa: Privatisasi massif berbagai perusahaan pemerintah, penurunan pajak sampai tinggal 15%, deregulasi dan perampingan fungsi pemerintah secara dramatis, terutama menyangkut urusan ekonomi dan praktek perdagangan bebas, sebebas-bebasnya. Friedman dan The Chicago Boys berperan dari belakang. Ia diketahui berteman akrab dengan Donald Rumsfeld, Menteri Pertahanan Amerika waktu itu, dan sejumlah pemikir neo-konservatif yang mengelilingi Presiden George Bush.

Coba bayangkan, militer saja diprivatisasi di Iraq. Pemerintah mengontrak perusahaan Amerika, Blackwater Worldwide – yang sebelumnya sudah terancam bangkrut – untuk proyek jasa pengamanan para kontraktor minyak dan proyek bisnis lainnya. Termasuk untuk mengamankan Kedutaan Besar Amerika Serikat dan personalnya di kawasan zona hijau (Green-zone), Baghdad. Sekitar 30.000 pasukan Blackwater betul-betul mirip tentara dengan persenjataan lengkap berkeliaran di Baghdad dan sekitarnya.

Pasukan bayaran itu berhak menembak dan membunuh orang tanpa bisa diadili. Dia tak tunduk pada hukum Iraq, tidak pula pada hukum Amerika Serikat. Oktober lalu, DPR Amerika membuat undang-undang, bahwa kontraktor yang bekerja pada Pemerintah Amerika di daerah konflik di luar negeri, bertanggung-jawab pada hukum Amerika. Tapi Gedung Putih menolaknya, dan sampai kini undang-undang itu terkatung-katung di Senat.

Padahal September lalu, sejumlah pasukan Blackwater, pengawal konvoi pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang berkunjung ke Baghdad, entah mengapa tiba-tiba menembaki kendaaran yang ada di jalan umum sekitarnya. Akibatnya, 17 orang meninggal, sejumlah lainnya luka-luka. Para pelaku penembakan sampai sekarang bebas tanpa diadili, dengan dalih belum ada undang-undangnya.

Serangan dahsyat tsunami akhir 2004 di Sri Langka, tak luput dari inceran kaum kapitalis. Penanam modal asing bekerjasama dengan bank internasional memanfaatkan situasi panik akibat bencana, untuk menguasai garis-garis pantai yang indah. Di sepanjang pantai dengan cepat berdiri resor wisata yang megah, hotel, villa, motel, dan sebagainya, menyebabkan ratusan ribu nelayan yang semula mendiami kawasan itu, kini tergusur.

Jelaslah sekarang bagaimana sistem kapitalisme global bekerja untuk mencapai tujuan: memanfaatkan momentum trauma kolektif dari suatu krisis, musibah atau bencana, untuk melaksanakan rekayasa sosial dan ekonomi di berbagai belahan bumi.

Raksasa Carrefour dan Kios Eceran

Krisis ekonomi yang menimpa Asia pada 1997, jelas momentum yang ditunggu-tunggu oleh operator utama sistem kapitalisme global – IMF, Bank Dunia, dan WTO – dan itu dengan lengkap dilaporkan Klein di dalam The Shock Doktrine. Operasi IMF di Indonesia, misalnya, ditulis detil. Bagaimana IMF yang katanya datang untuk mengobati krisis, ternyata bekerja lebih untuk kepentingan ideologi kapitalisme.

Bagaimana deregulasi, privatisasi, dan berbagai perangkat ideologi laissez-faire dipaksakan. Dan untuk itu, menurut The Shock Doktrine, IMF bisa sukses karena bekerja sama dengan kelompok Mafia-Berkeley di Indonesia yang dipimpin Profesor Widjojo Nitisastro (halaman 271). Biarlah sejarah kelak membuktikan, apakah tindakan kelompok Mafia-Berkeley itu penghianatan kepada bangsa Indonesia, atau tidak.

Sejak itu, bukan rahasia lagi kalau banyak undang-undang kita yang amat liberal disahkan DPR atas pesanan IMF. Dikabarkan sejumlah draf undang-undang disiapkan NDI (National Democratic Institute for International Affairs), organisasi yang dibentuk dan dibiayai pemerintah Amerika Serikat – dekat dengan Partai Demokrat – dengan dalih untuk menyebarkan demokrasi di negeri berkembang. Dulu NDI sempat punya ruang khusus di Gedung DPR-RI. Jadi DPR kita tinggal mengetuk palu.

Operasi IMF dalam krisis ekonomi Asia amat menakjubkan. Dalam tempo 20 bulan, terjadi 186 merger dan aquisisi (pengambil-alihan) atas perusahaan-perusahaan negeri yang dilanda krisis — Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Korea Selatan — oleh perusahaan multi-nasional, terutama dari Amerika Serikat. Itu tercatat sebagai aquisisi terbesar yang pernah terjadi di dunia. Merrill Lynch dan Morgan Stanley, perusahaan Amerika yang banyak berperan sebagai agen merger dan aquisisi itu, panen keuntungan komisi yang cukup besar.

Carlyle Group yang suka merekrut ‘’pensiunan’’ pejabat tinggi Amerika – mulai bekas Menlu James Baker sampai bekas Presiden George H.W.Bush – sebagai konsultan, memborong perusahaan telkom Daewoo dan perusahaan informasi Ssangyong. Yang disebut terakhir merupakan salah satu perusahaan teknologi tinggi terbesar di Korea Selatan. Dengan menguasai perusahaan itu, Carlyle menjadi pemegang saham mayoritas di salah satu bank terbesar di negeri ginseng itu.

Semua transaksi itu tak normal, atau dengan kata lain dijual obral. Sekadar contoh, perusahaan mobil Korea Daewoo yang sebelum krisis bernilai 6 milyar dollar, waktu itu diambil-alih perusahaan mobil Amerika, General Motor, hanya dengan 400 juta dollar.

Di Indonesia, sistem penyediaan air minum dikavling oleh Thames Water dari Inggris dan Lyonnaise des Eaux dari Perancis. Westcoast Eergy dari Kanada menguasai proyek pembangkit listrik yang besar.

Sejak IMF menguasai Indonesia, perusahaan raksasa pengecer Carrefour dari Perancis masuk ke sini, menyapu perusahaan lokal yang sudah lama ada, seperti Golden Truly atau Hero, atau perusahaan kecil-kecil di pasar tradisional Tanah Abang dan Cipulir, yang jumlahnya begitu banyak. Nasib mereka tambah parah karena kemudian super-market raksasa dari Malaysia, Giant, hadir kemari. Dia telan Hero yang memang sudah ngos-ngosan. Itulah hasil konkret reformasi 1998.

Ternyata itu belum cukup. Belum lama, perusahaan Perancis itu membeli Alfa-Mart, super-market yang aktif masuk ke pedesaan. Dengan demikian, kini Carrefour dengan bebasnya akan menghancurkan kios eceran di desa-desa. Itulah laissez-faire yang sesungguhnya.

Karena laissez-faire, Presiden SBY lebih memilih menyerahkan proyek minyak dan gas di Cepu yang amat menguntungkan kepada Exxon-Mobil, perusahaan minyak terbesar dan tertua Amerika Serikat, daripada kepada Pertamina, perusahaan BUMN milik sendiri.

Ternyata setelah resep-resep IMF ditrapkan, artinya prinsip kapitalisme laissez-faire dilaksanakan, menurut The Shock Doktrine, justru penduduk miskin bertambah 20 juta orang di Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Indonesia. Pengangguran meledak.

Organisasi buruh internasional ILO, mencatat terjadi 24 juta penganggur baru. Itu justru terjadi pada masa puncak pelaksanaan reformasi IMF. Di Indonesia, angka pengangguran meloncat dari 4% menjadi 12%, dan dua tahun kemudian melambung tiga kali lipat. Setiap bulan ada 60.000 buruh di Thailand dan 300.000 buruh di Korea Selatan yang harus diberhentikan.

Di balik angka-angka statistik itu banyak kisah mengharukan, terutama menimpa anak-anak dan perempuan. Di pedesaan Korea Selatan dan Filipina banyak orang tua harus menjual anak gadisnya kepada pedagang manusia, untuk kemudian dijadikan pelacur di Australia, Eropa, dan Amerika Utara. Di Thailand, pejabat kesehatan melaporkan hanya dalam setahun terjadi peningkatan pelacuran anak-anak sebesar 20%. Data yang mirip terjadi di Filipina.

Tapi sudahlah, ini semua cerita masa lalu. Sekarang, krisis baru terjadi lagi karena harga minyak meningkat di atas 120 dollar/barel. Dunia kian terguncang setelah harga pangan ikut menggila. Artinya, berdasarkan tesis The Shock Doktrine, kapitalisme global dan para operatornya sekarang sedang bekerja.

Tapi di sini apalagi yang mau direformasi? Sejak 1998, Indonesia sudah menjadi salah satu negara kapitalisme laissez-faire paling liberal di dunia. Lihatlah berbagai undang-undang yang dilahirkan DPR, semua liberal. Mulai UU Migas, UU privatisasi air, Pendidikan, Pertanahan, dan terakhir Undang-Undang Pelabuhan.

Karena liberalisme, siapa yang ingin masuk perguruan tinggi negeri harus menyediakan uang Rp 100 juta. Habis bagaimana lagi, kampus sedapat mungkin harus membiayai diri sendiri. Dengan demikian, anak petani, nelayan, buruh, pedagang kecil, jangan harap bisa mendaftar ke sana. Padahal kalau tak universitas negeri kemana lagi mereka belajar untuk meningkatkan taraf hidupnya?

Artinya, dengan sistem ini orang miskin sampai kapan pun akan terus miskin. Hampir tertutup kemungkinan bagi mereka melakukan mobilitas vertikal lewat pendidikan. Inilah kemiskinan yang diciptakan oleh sebuah struktur.

Era Universitas Gajah Mada (UGM) dijuluki Ndeso karena banyak anak desa kuliah di sana, sudah berakhir. Institut Pertanian Bogor (IPB) serupa. Zaman ketika anak-anak desa dari seluruh Indonesia berlomba-lomba belajar ke sana, kini agaknya sudah menjadi nostalgia.

Perusahaan minyak Pertamina yang dulu perkasa kini sudah dirontokkan. Bulog yang dulu efektif sebagai penjamin stabilitas pangan sudah tamat riwayatnya. Bahwa akibatnya rakyat bertambah melarat dan segelintir konglomerat berlipat-ganda kekayaannya, itu soal lain.

Majalah bisnis Forbes, 13 Desember 2007, menulis sepanjang tahun lalu kekayaan para konglomerat Indonesia meloncat dua kali lipat. Sungguh fantastis. Jadi kalau BPS menyodorkan angka pertumbuhan ekonomi kita tahun ini sekian persen, percayalah, itu berasal dari pertumbuhan kekayaan konglomerat kita. Bukan pertumbuhan kekayaan rakyat banyak.

Yang paling menakjubkan adalah Menko Kesra Aburizal Bakrie. Pemilik perusahaan kelompok Bakrie itu, kekayaan bersihnya tahun lalu meroket empat kali lipat. Itu menjadikannya sebagai orang terkaya Indonesia, dengan kekayaan 5,4 milyar dollar.

Apakah Aburizal punya lampu Aladin? Sebuah artikel di Asia Times Online, 22 Juli 2006, sebenarnya sudah pernah membongkar rahasia lampu Aladin itu. Antara lain, karena politik dan bisnis di Indonesia di zaman Presiden SBY, tak terpisah melainkan menyatu.

Memang begitulah yang selalu terjadi di negeri dengan sistem laissez-faire. Begitulah Rusia di zaman Boris Yeltsin dulu. Para konglomerat dalam tempo singkat mendadak jadi kaya-raya, sampai Vladimir Putin datang menertibkannya. Para konglomerat itu kini lari ke luar negeri atau masuk penjara di Siberia. Tapi nantilah dalam kesempatan lain soal ini dibahas.

Di mata kaum kapitalisme laissez-faire, masih ada status-quo yang tersisa di Indonesia. BBM belum sepenuhnya mengikuti harga pasar dan perusahaan BUMN masih eksis. Mumpung suasana shock akibat kenaikan harga minyak dan krisis pangan masih berlangsung, sektor hilir pertambangan harus direformasi. Artinya, pemerintah harus menaikkan harga BBM, dan BUMN harus diobral. Semuanya harus dilakukan sekarang, mumpung krisis masih terjadi.

Masih kurang jelas? Silahkan berkeliling Jakarta dan sekitarnya. Lihatlah bagaimana perusahaan minyak internasional Shell, dan Petronas dari Malaysia, telah dan sedang membangun sejumlah pompa bensin raksasa. Kabarnya izin yang dikeluarkan pemerintah sudah lebih 100.

Semua pompa bensin Shell atau Petronas itu buka sampai malam dengan lampu yang terang-benderang, tapi betul-betul sepi pembeli. Seharian puluhan petugasnya yang berseragam hanya duduk-berdiri sampai capek sendiri, tak pernah melayani konsumen. Coba dicek, penghasilannya setiap bulan, mungkin tak cukup walau untuk sekadar membayar rekening listrik.

Ini terjadi karena mereka hanya menjual BBM non-subsidi yang konsumennya hanya segelintir mobil mewah milik orang kaya. Bahwa mereka terus membangun pompa bensin baru, pasti karena ada jaminan subsidi minyak akan dicabut.

Dengan demikian mereka bisa bersaing bebas dengan pompa bensin Pertamina milik pengusaha lokal yang selama ini menguasai pasar karena menjual BBM bersubsidi. Bila itu terjadi, pompa bensin multi-nasional yang raksasa itu pasti dengan mudah menelan pompa bensin lokal yang kecil-kecil. Kasus Carrefour merontokkan Hero atau pedagang Tanah Abang, akan berulang. Itu sebabnya Shell dan Petronas dengan sabar menunggu laissez-faire. Cukup jelas?

Penulis adalah Direktur Institute for Policy Studies. Tulisan diambil dari situs http://www.hidayatullah.co.id

Penuturan Kwik Kian Gie soal ExxonMobil dan Blok Cepu May 19, ’08 12:21 AM
for everyone

Category: Other
Terjajah ExxonMobil di CepuOleh: Kwik Kian Gie*Kali ini saya tidak akan membahas tentang pengertian subsidi -apakah
itu sama dengan uang tunai yang harus keluar atau tidak- dan hal-hal
teknis lain seperti itu. Saya akan membahas tentang negara kaya yang menjadi
miskin kembali karena terjerumus ke dalam mental kuli yang oleh penjajah Belanda disebut mental inlander. Mental para pengelola ekonomi sejak 1966 yang tidak mengandung keberanian sedikit pun, yang menghamba, yang ngapurancang ketika berhadapan dengan orang-orang bule.

Ibu pertiwi yang perut buminya mempunyai kandungan minyak sangat besar dibanding kebutuhan nasionalnya, setelah 60 tahun merdeka hanya mampu
menggarap minyaknya sendiri sekitar 8 persen. Sisanya diserahkan kepada eksplorasi dan eksploitasi perusahaan-perusahaan asing.

Apa pekerjaan dan sampai seberapa jauh daya pikir para pengelola ekonomi kita sejak merdeka sampai sekarang? Istana Bung Karno dibanjiri para kontraktor minyak asing yang sangat berkeinginan mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak bumi di Indonesia. Bung Karno menugaskan Chairul Saleh supaya mengizinkannya hanya sangat terbatas. Putrinya, Megawati, bertanya kepada
ayahnya, mengapa begitu? Jawaban Bung Karno kepada putrinya yang baru berumur 16 tahun, “Nanti kita kerjakan sendiri semuanya kalau kita sudah cukup mempunyai insinyur-insinyur sendiri.”

Artinya, Bung Karno sangat berketetapan hati mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak oleh putra-putri bangsa Indonesia sendiri. Mengapa
sekarang hanya sekitar 8 persen? Lebih menyedihkan ialah keputusan pemerintah memperpanjang kerja sama dengan Exxon Mobil (Exxon) untuk blok Cepu selama 20 tahun sampai 2030.

Begini ceritanya. Exxon membeli lisensi dari Tommy Soeharto untuk mengambil minyak dari sebuah sumur di Cepu yang kecil. Exxon lalu melakukan eksplorasi tanpa izin. Ternyata ditemukan cadangan dalam sumur yang sama sebanyak 600 juta barel. Ketika itu Exxon mengajukan usul untuk memperpanjang kontraknya sampai 2030. Keputusan ada di tangan Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina (DKPP). Dua dari lima anggota menolak.

Yang satu menolak atas pertimbangan yuridis teknis. Yang lain atas pertimbangan sangat prinsipil. Dia sama sekali tidak mau diajak berargumentasi dan juga sama sekali tidak mau melihat angka-angka yang disodorkan Exxon beserta para kroninya yang berbangsa Indonesia. Mengapa? Karena yang menjadi pertimbangan pokoknya, harus dieksploitasi bangsa Indonesia sendiri, yang berarti bahwa Exxon pada 2010 harus hengkang, titik. Alasannya sangat mendasar, tetapi formulasinya sederhana. Yaitu, bangsa yang 60 tahun merdeka selayaknya, semestinya, dan seyogianya mengerjakan sendiri eksplorasi dan eksploitasi minyaknya. Bahkan, harus melakukannya di mana saja di dunia yang dianggap mempunyai kemungkinan berhasil.

Menurut peraturan yang berlaku (sebelum Pertamina berubah menjadi Persero),
kalau DKPP tidak bisa mengambil keputusan yang bulat, keputusan beralih ke
tangan presiden. Maka, bola ada di tangan Presiden Megawati Soekarnoputri.
Beliau tidak mengambil keputusan, sehingga Exxon kalang kabut. Exxon mengirimkan executive vice president-nya yang langsung mendatangi satu anggota DKPP yang mengatakan “pokoknya tidak” itu. Dia [si executive vice president Exxon] mengatakan, sejak awal sudah ingin bertemu satu orang anggota DKPP yang berinisial KKG ini, tetapi dilarang kolega-koleganya sendiri.

KKG tersenyum sambil mengatakan, [itu] karena para koleganya masih terjangkit mental inlander. Lalu dia [si executive vice president Exxon] berargumentasi panjang lebar dengan mengemukakan semua angka betapa Indonesia diuntungkan. KKG menjawab bahwa kalau dia [Exxon] ngotot sampai seperti itu, apa lagi latar belakangnya kalau dia tidak memperoleh untung besar dari perpanjangan kontrak sampai 2030? Karena itu, [kata KKG], kalau mulai 2010, sesuai kontrak, Exxon harus hengkang dan seluruhnya dikerjakan Pertamina, semua laba yang tadinya jatuh ke tangan Exxon akan jatuh ke tangan Indonesia sendiri. Lagi pula, KKG menjelaskan bahwa sudah waktunya [Indonesia] belajar menjadi perusahaan minyak dunia seperti Exxon.

KKG bertanya kepadanya, “Bukankah kami berhak mulai merintis supaya menjadi Anda di bumi kita sendiri dan menggunakan minyak yang ada di dalam perut bumi kita sendiri?”

Eh, dia [si executive vice president Exxon] mulai mengatakan “tidak bisa mengerti bagaimana orang berpendidikan Barat bisa sampai seperti itu tidak rasionalnya!” Jelas KKG muntap dan mulai memberi kuliah panjang lebar bahwa orang Barat sangat memahami dan menghayati tentang apa yang dikatakan EQ, dan bukan hanya IQ. Apalagi, kalau dalam hal blok Cepu ini ditinjau dengan IQ juga mengatakan bahwa mulai 2010 harus dieksploitasi oleh Indonesia sendiri.

Bung Karno juga berpendidikan Barat dan sejak awal beliau mengatakan,
“Man does not live by bread alone.” Dalam hal blok Cepu, dua argumen
berlaku, yaitu man does not live by bread alone, dan diukur dengan bread juga
menguntungkan Indonesia, karena laba yang akan jatuh ke tangan Exxon menjadi
labanya Pertamina.

Pikiran lebih mendalam dan bahkan dengan perspektif jangka panjang yang
didasarkan materi juga mengatakan bahwa sebaiknya blok Cepu dieksploitasi oleh Pertamina sendiri. Mengapa? Jawabannya diberikan oleh mantan
Direktur Utama Pertamina Baihaki Hakim kepada Menko Ekuin ketika itu bahwa
Pertamina adalah organisasi yang telanjur sangat besar. Minyak adalah komoditas
yang tidak dapat diperbarui. Penduduk indonesia bertambah terus seiring dengan
bertambahnya konsumsi.

Kalau sekarang saja terlihat bahwa konsumsi nasional sudah lebih besar daripada
produksi nasional, di masa mendatang kesenjangan ini menjadi semakin besar, dan akhirnya organisasi Pertamina yang demikian besar itu akan dijadikan apa?

Apakah hanya menjadi perusahaan dagang minyak, dan apakah akan mampu
berdagang saja dalam skala dunia, bersaing dengan the seven sisters? Maka visi
jangka panjang Baihaki Hakim, mumpung masih lumayan cadangannya, sejak sekarang mulai go international dan menggunakan cadangan minyak yang ada untuk sepenuhnya menunjang kebijakannya yang visioner itu.

Menko Ekuin ketika itu memberikan dukungan sambil mengatakan, “Pak Baihaki, saya mendukung sepenuhnya. Syarat mutlaknya ialah kalau Anda ingin menjadikan Pertamina menjadi world class company, Anda harus juga memberikan world class salary kepada anak buah Anda.”

Sang Menko Ekuin keluar dari kabinet Abdurrahman Wahid. Setelah itu dia [KKG]
kembali ke kabinet sebagai kepala Bappenas dan ex officio menjabat anggota DKPP. Maka pikirannya masih dilekati visi jangka panjangnya Pak Baihaki Hakim dan kebetulan direktur utama Pertamina ketika itu juga masih Pak Baihaki Hakim. Tetapi, kedudukan kita berdua sudah sangat lemah, karena dikeroyok para anggota DKPP dan anggota direksi lain yang mental, moral, dan, cara berpikirnya sudah kembali menjadi inlander.

Baihaki Hakim yang mempunyai visi, kemampuan, dan telah berpengalaman 13 tahun menjabat direktur utama Caltex Indonesia langsung dipecat begitu Pertamina menjadi persero. Alasannya, kalau diibaratkan sopir, dia adalah
sopir yang baik untuk mobil Mercedes Benz. Sedangkan yang diperlukan buat Pertamina adalah sopir yang cocok untuk truk yang bobrok. Bayangkan, betapa inlander cara berpikirnya. Pertamina diibaratkan truk bobrok. Caltex adalah Mercedez Benz. Memang sudah edan semua..

Ada tekanan luar biasa besar dari pemerintah Amerika Serikat di samping dari Exxon. Ceritanya begini. Dubes AS ketika itu, Ralph Boyce, sudah membuat janji melakukan kunjungan kehormatan kepada kepala Bappenas, karena protokolnya begitu. Tetapi, ketika sang Dubes tersebut mendengarkan pidato sang kepala Bappenas di Pre-CGI meeting yang sikap,isinya pidato, dan nadanya bukan
seorang inlander, janjinya dibatalkan.

Eh, [kemudian] mendadak dia [Dubes AS] minta bertemu kepala Bappenas. Dia membuka pembicaraan dengan mengatakan akan berbicara tentang Exxon. Kepala Bappenas dalam kapasitasnya selaku anggota DKPP mengatakan bahwa segala sesuatunya telah dikemukakan kepada executive vice president-ya Exxon, dan dipersilakan berbicara saja dengan beliau.

Sang Dubes mengatakan sudah mendengar semuanya, tetapi dia hanya melakukan tugasnya. “I am just doing my job”. Kepala Bappenas mengatakan lagi, “Teruskan saja kepada pemerintah Anda di Washington semua argument penolakan saya yang diukur dengan ukuran apa pun, termasuk semua akal sehat orang-orang Amerika pasti dapat diterima.”

Kepala Bappenas keluar lagi dari kabinet karena adanya pemerintahan baru, yaitu
Kabinet Indonesia Bersatu, dan Exxon menang mutlak. Ladang minyak di blok Cepu yang konon cadangannya bukan 600 juta barrel, tetapi 2 miliar barrel, oleh para inlander diserahkan kepada Exxon penggarapannya.

Saya terus berdoa kepada Bung Karno dan mengatakan, “Bung Karno yang saya cintai dan sangat saya hormati. Janganlah gundah dan gelisah, walaupun Bapak sangat gusar. Istirahatlah dengan tenang. Saya juga sudah bermeditasi di salah satu vihara untuk menenangkan hati dan batin saya. Satu hari nanti rakyat akan
bangkit dan melakukan revolusi lagi seperti yang pernah Bapak pimpin, kalau para
cecunguk ini sudah dianggap terlampau lama dan terlampau mengkhianati rakyatnya sendiri.”

*) Mantan Menteri Negara PPN/kepala Bappenas

catatan: kata2 di dalam kurung [….] adalah tambahan dari saya, untuk memudahkan pemahaman

Category: Other
Menyambung diskusi kemarin..soal kebijakan SBY yang pro AS itu (lihat previous review)… saya jadi teringat masalah subsidi BBM. Ada sebagian pihak yg membela pencabutan subsidi. Saya sendiri tidak cukup pandai menulis analisa soal ini, tapi ini ada artikel dari jurnalis senior, Farid Gaban. Menurut saya, sangat mencerahkan, dan memberi tahu kita bahwa kalimat “terpaksa dan tak ada pilihan selain menaikkan harga BBM” ternyata omong kosong.——————–Pencabutan Subsidi BBM dan Kapitalisme Semu
oleh: Farid Gaban

Salah satu argumen terpenting yang diajukan para pendukung pencabutan subsidi BBM adalah ini: Harga minyak di pasaran dunia meningkat tajam (kini berkisar US$ 50 dan bahkan tidak mustahil meroket ke US$ 100).

Jika harga minyak naik maka demikian pula dengan besaran subsidi. Ini sangat logis. Menurut pemerintah, karena kenaikan itu pemerintah kini harus mengeluarkan lebih dari Rp 70 trilyun untuk subsidi minyak.

Meski masih anggota OPEC, Indonesia memang bukan lagi “eksportir minyak”. Justru tak diuntungkan oleh kenaikan harga minyak.

Indonesia masih menjadi eksportir minyak mentah. Namun pada saat yang sama menjadi importir minyak olahan. Harga minyak olahan lebih mahal dari minyak mentah, sehingga dinilai dari uangnya (bukan volume minyak), Indonesia kini net-importer (pengimpor minyak).

Ini memang ironis. Selama puluhan tahun, ketika minyak masih berlimpah, Indonesia (Pertamina) gagal membangun instalasi pengolahan sehingga tak bisa menangguk keuntungan dari naiknya harga minyak dunia sekarang. Kini, setelah minyak habis, Indonesia harus gigit jari. Ini kesalahan Orde Baru yang terpenting dalam kebijakan migas dan iklim korupsi yang mengikutinya. Bukan kesalahan Pemerintahan Yudhoyono.

Dalam jangka panjang, terutama jika harga minyak justru cenderung naik, subsidi minyak memang akan melangit dan menggerogoti keuangan pemerintah. Jawaban logis pemerintah: mengurangi atau bahkan menghapus subsidi minyak.

Nampaknya logis. Tapi jawaban ini adalah jawaban mau enaknya sendiri, membebankan tanggungjawab pemerintah kepada rakyat.

Di mana-mana, tugas pemerintah adalah memberi subsidi (kata lain dari fasilitas dan kemudahan) kepada rakyatnya. Kata “memberi” bahkan cenderung menyesatkan. Sebagian besar pemasukan pemerintah Indonesia kini berasal dari pajak (sekitar 80%). Jadi pemberian subsidi bukanlah sikap Sinterklas. Pemerintah hanya menyalurkan kembali apa yang sudah diberikan rakyat melalui pajak.

Ada berbagai macam subsidi. Ada pula berbagai sifat subsidi. Tax holiday, misalnya, yang diberikan kepada perusahaan yang mau berinvestasi di sektor sosial seperti pendidikan dan kesehatan, adalah bentuk subsidi. Di Amerika orang mengenal social security, jaminan sosial (biaya hidup kita ditanggung negara jika kehilangan pekerjaan dan jika jatuh miskin). Subsidi pertanian di Amerika dan Eropa termasuk tinggi.

Dalam dunia perbankan kita dulu mengenal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI – yang pada dasarnya subsidi juga, diberikan pada industri perbankan). Bentuk subsidi lain: penjaminan bank. Jika sebuah bank ditutup karena bangkrut, meski bank itu bank swasta, pemerintah akan membayar dana nasabahnya–dan itulah yang terjadi sejak 1998 hingga kasus penutupan Bank Global belum lama ini.

Subsidi BBM sekarang (Rp 70 trilyun) sangat kecil dibanding subsidi yang diberikan kepada sektor perbankan swasta. Dana publik dipakai untuk subsidi swasta (segelintir konglomerat dan orang-orang kaya yang punya deposito di bank). Dan dalam jumlah yang sangat besar.

Pada 1998, dengan restu IMF, rakyat Indonesia dipaksa membeli perusahaan-perusahaan bangkrut milik konglomerat. Caranya? Pemerintah mengeluarkan surat utang (obligasi) dengan nilai Rp 700 trilyun lebih. Siapa membayar utang itu? Publik, kita semua, tak peduli kaya atau miskin.

Pemerintah, melalui BBPN, memang menguasai aset perusahaan swasta yang kemudian dijual. Tahun lalu, ketika BPPN dibubarkan, kita tahu nilai aset yang bisa dikembalikan kurang dari 30%–itupun belum dikurangi ongkos operasi BPPN yang aduhai. Tambah ironis, beberapa perusahaan BPPN yang sudah sehat setelah disuntik dana masyarakat, dijual kepada swasta lagi (dalam beberapa hal pemilik lama) dengan harga murah.

Publik dirugikan berlapis-lapis. Dan nilai kerugian mencapai ratusan trilyun–jauh lebih besar dari subsidi BBM pada tingkat sekarang.

Subsidi BLBI dan bail-out perusahaan swasta pada 1998 adalah subsidi langsung, yang hanya dinikmati segelintir orang meski nilainya ratusan trilyun. Sementara subsidi BBM adalah subsidi tak langsung. Minyak adalah komoditas strategis, yang gejolak harganya mempengaruhi berbagai sektor sekaligus. Subsidi minyak bukan subsidi langsung: bukan minyak itu sendiri yang dikirimkan langsung ke rumah-rumah kita. Subsidi minyak, karena perannya yang strategis, adalah peredam kenaikan harga-harga kebutuhan pokok dan layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Jika subsidi dihapus, dan harga barang serta jasa naik, maka rakyat akan kehilangan daya beli, khususnya rakyat di kalangan miskin.

Pemerintah kini berusaha mengubah subsidi tak langsung itu menjadi subsidi langsung. Argumennya: subsidi BBM yang tidak langsung dinikmati orang-orang kaya yang bermobil dan secara intensif menggunakan listrik (dari BBM juga). Dana kompensasi BBM adalah bentuk subsidi langsung itu (beras miskin, kesehatan gratis, beasiswa untuk orang miskin). Ini oke saja, tapi ada dua pertanyaan penting:

1. Bagaimana orang miskin didefinisikan? Seberapa banyak mereka? Hanya 13%? Bagaimana dengan 50% orang yang mendekati miskin (berpenghasilan di bawah US$ 2)?

2. Di mana saja meraka? Punyakah pemerintah alamat mereka? Pertanyaan ini relevan karena dana kompensasi adalah subsidi langsung, dari pintu ke pintu. Bagaimana mendistribusikannya secara efektif dan tanpa ada penyunatan?

Memang ada unsur ketidakadilan dalam subsidi BBM. Orang kaya menggunakan BBM lebih banyak dari orang miskin. Ketidakddilan itu harus dikoreksi. Tapi, haruskah dengan menghapus seluruh subsidi? Bukankah ada cara lain: kenakan pajak yang lebih besar kepada orang kaya, pada mobil yang dipakai dan setiap perangkat elektronik mereka. Mengingat jumlah orang miskin jauh lebih banyak dari orang kaya, mana lebih masuk akal: menarik pajak orang kaya atau mendistribusikan subsidi langsung kepada orang miskin?

Jika mengurus bantuan langsung ke Aceh dan Nias dengan target dan jenis bantuan yang jelas saja tidak becus, bagaimana menyalurkan bantuan kepada puluhan juta orang miskin…

Dengan menghapus subsidi BBM dan membiarkan negara tetap membayar utang obligasi rekap perbankan, Pemerintah Yudhoyono telah memilih untuk berpihak pada orang-orang kaya.

Orang mengatakan ini merupakan konsekuensi dari kapitalisme. Keliru. Di negeri kapitalis Amerika dan Eropa, hal seperti ini tidak terjadi. Subsidi untuk orang miskin dan sektor pertanian di sana tergolong tinggi. Hampir mustahil bisa kita temukan pula di negeri-negeri kapitalis itu praktek busuk: betapa dengan mudah utang swasta dialihkan menjadi utang publik. Penjaminan dan bail-out terhadap perusahaan/utang swasta hanya dimungkinkan melalui perdebatan publik yang luas, bahwa itu memang mengandung kepentingan publik.

Sebaliknya dari menguntungkan publik, bail-out terhadap perusahaan swasta di Indonesia telah menyumbang secara signifikan jumlah utang yang harus dibayar publik. Pengeluaran negara untuk pembayaran utang sampai sekarang mencapai 36% (lebih dari Rp 100 trilyun) dari pengeluaran pemerintah–jenis pengeluaran terbesar. Dengan proporsi pengeluaran untuk membayar utang, pemerintah hanya sedikit menyisakan uang untuk pembangunan infrastruktur dan layanan sosial.

Dalam situasi seperti itu, untuk menyeimbangkan penerimaan dan pengeluaran negara, Pemerintah Yudhoyono punya banyak tugas dan tanggungjawab, yang semestinya dia sadari ketika berkampanye menjadi presiden.

1. Mengurangi derajat korupsi di kalangan birokrat.
2. Meningkatkan manajemen dan profesionalisme dalam penarikan pajak.
3. Menegosiasi utang luar negeri yang gila jumlahnya.
4. Membenahi BUMN yang korup, yang menyedot 20% pengeluaran negara.
5. Memikirkan strategi pembangunan ekonomi yang lebih masuk akal dan mempertimbangkan secara serius kalangan miskin.
6. Kreatif dan imajinatif mencari sumber-sumber daya baru untuk diolah dan dijual ke pasar internasional (dua pertiga negeri kita adalah perairan dengan kekayaan luar biaya yang belum dieksplorasi)
7. Membangun sistem transportasi publik yang efisien, murah dan nyaman, sehingga mengurangi orang berlomba-lomba membeli mobil pribadi yang boros BBM.
8. Memperkuat pemupukan modal sosial melalui pendidikan dan kesehatan yang berkualitas namun murah. Kini rumah sakit dan sekolah justri diprivatisasi secara radikal sehingga makin sulit dijangkau kalangan miskin.

Semua itu membutuhkan tenaga dan pikiran yang prima, juga dukungan politik yang luas. Pemerintah Yudhoyono tak hanya malas berpikir tapi justru meyepelekan dukungan politik publik: dia bilang “I don’t care!”

Pemerintah Yudhoyono malas berpikir dan kurang keras menuntut diri sendiri. Dia menyerahkan beban kepada masyarakat. Jika itu rumusnya: siapa saja akan senang jadi presiden.

Lebih menjijikkan jika sikap seperti itu justru didukung oleh kalangan akademisi, cendekiawan dan budayawan seperti yang digalang Freedom Institute.***

http://fgaban.blogspot.com/2005/04/pencabutan-subsidi-bbm-dan-kapitalisme.html

Sebuah Imperium Menunggu Rubuh (Amran Nasution) May 15, ’08 1:34 AM
for everyone
Category: Other
Artikel menarik…
—————“Sebuah Imperium Menunggu Rubuh”Oleh: Amran Nasution

Bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Amerika teramat sulit
dilupakan. Betapa tidak? Dalam merintis karir militer, ia mondar-
mandir menuai ilmu di negeri itu. Ia sempat dua kali mengikuti
program latihan militer di Fort Benning, Georgia, di tahun 1976 dan
1982. Lalu, sekolah staf dan komando, 1991, ia tempuh di Fort
Leavenworth, Kansas, tempat penggodokan para perwira yang amat
bergengsi itu. Gelar S2, ia raih di universitas di sana. Tentu tak
banyak perwira Indonesia yang begitu intens menimba ilmu dari negeri
yang punya pemenang nobel terbanyak di dunia.

Maka dalam suatu kesempatan mengunjungi Amerika di tahun 2003,
sebagai Menko Polkam, SBY berkata, ‘’I love the United State, with
all its faults. I consider it my second country’’. Terjemahan bebas
penulis: “Saya cinta Amerika, dengan segala kesalahannya. Saya
menganggapnya negeri kedua saya.” (lihat Al Jazeera English –
Archive, 6 Juli 2004).

Tulisan ini tak bermaksud memperdebatkan ukuran atau kadar
nasionalisme dari pernyataan itu. Meski yang mengucapkannya kini
menjadi Presiden Indonesia.

Yang pasti, Perdana Menteri Australia John Howard, 68 tahun, tak
pernah menyatakan Amerika Serikat sebagai negeri kedua. Ia hanya
dikenal sebagai teman dekat Presiden George Walker Bush. Sementara
orang mengejeknya sebagai sheriff (kepala polisi) Amerika untuk
kawasan ini. Itu saja sudah cukup menyebabkan Partai Konservatif
yang dipimpinnya kalah telak dalam Pemilu 23 November lalu.

Bukan hanya jabatan Perdana Menteri yang dipegangnya 11 tahun –
dengan memenangkan 4 Pemilu – harus lepas dari tangan. Howard
sendiri tak terpilih menjadi anggota Parlemen di daerahnya,
Bennelong, pantai utara Sydney. Ia secara memalukan, dikalahkan
Maxine McKew dari Partai Buruh. McKew, bekas pembawa acara televisi
itu adalah politisi yang tak dikenal. Dengan itu, Howard tercatat
sebagai Perdana Menteri pertama yang kalah dalam pemilihan Parlemen
sejak 1929.

Padahal selama pemerintahannya, ekonomi Australia betul-betul
melonjak amat cepat (booming). Lihatlah Sydney, kota terbesar dan
pusat bisnis itu, seakan tak pernah bisa diam. Pusat perbelanjaan
dan pertokoan selalu ramai. Turis asing melimpah. Di mana-mana
gedung jangkung bertumbuhan.

Para analis berpendapat booming terjadi berkat kekayaan alam
negeri kanguru itu akan batubara dan biji besi (iron ore), yang
menjadi inceran China dan India, dua raksasa ekonomi baru dengan
industri tumbuh sangat cepat. Lantas berbagai kebijakan Howard
mendorong semua berkah itu menjadi kenyataan.

Tapi itulah, ia teman Bush. Ia kirim tentara ke Iraq dan
Afghanistan. Kemudian ketika Bush menolak Protokol Kyoto yang
dimaksudkan untuk mencegah pemanasan bumi, Howard pun ikut-ikutan.
Maka dalam kampanye, lawannya Kevin Rudd, 50 tahun, pemimpin Partai
Buruh, menjadikan dua isu itu sebagai senjata pamungkas menembaki
Howard. Rudd berjanji segera menarik 550 pasukan tempur Australia
dari Iraq, dan menanda-tangani Protokol Kyoto.

Kampanye itu sukses. Prestasi Howard dalam meningkatkan kemakmuran
tak lagi dipedulikan. Berbagai jajak pendapat memang menunjukkan
rakyat tak suka Bush, sekalian anti-Perang Iraq.

Nasib sial pun menerpa Howard dan partainya. Beberapa hari sebelum
Pemilu, beredar pamflet mengatas-namakan Federasi Islam Australia,
menyatakan bahwa pimpinan Partai Buruh mendukung usaha untuk
mengampuni hukuman mati atas para pelaku bom Bali. Seperti diketahui
bom Bali 2002, sangat berbekas di masyarakat Australia, karena dari
202 korban meninggal, 88 di antaranya adalah warga negeri itu.

Ternyata setelah diusut, Federasi Islam Australia tak pernah ada.
Diusut lagi, seperti ditulis kantor berita Reuters, 21 November
lalu, ketahuan yang membuat pamflet tak lain anggota tim sukses
Howard.

’’Saya mengecam itu. Saya tak ada hubungannya. Itu bukan bagian
dari kampanye saya,’’ kata Howard. Tapi tetap saja ia dan partainya
kehilangan simpati pemilih, dianggap menghalalkan semua cara dengan
selebaran memfitnah lawan politik.

Pada 23 November lalu, persis sehari sebelum Pemilu, Panglima
Tentara Australia Marsekal Udara Angus Houston, mengumumkan bahwa
seorang pasukan komando tewas di Afghanistan. Ia merupakan korban
ketiga yang tewas dalam bentrokan dengan pejuang Taliban di bulan-
bulan terakhir, dan menyebabkan kampanye anti-Perang Iraq dari
Partai Buruh seakan mendapat tambahan bensin.

Maka kini negeri itu dipimpin Kevin Ruud, bekas diplomat Australia
di Beijing, yang fasih berbahasa Mandarin. Sebagaimana biasa tokoh
Partai Buruh, Kevin Ruud diduga akan mempererat hubungan dengan
Asia. Ingat Paul Keating, Perdana Menteri dari partai itu yang
kemudian dikalahkan Howard, suka mondar-mandir ke Jakarta.

Memang tak ada pengamat yang percaya Ruud akan merenggangkan
hubungan dengan Amerika. Apalagi kalau dalam Pemilu 2008, Presiden
Amerika dipegang Partai Demokrat. Tapi sementara negeri adikuasa itu
masih di tangan Bush, diduga hubungan kedua negeri tak akan mesra.

Poodle-nya Bush

Dengan kekalahan dramatis itu berarti korban Bush bertambah saja.
Sebelumnya, 2004, Presiden Spanyol Jose Maria Aznar tergeletak dalam
Pemilu, hanya karena dia terlalu akrab dengan Bush. Seperti Howard,
dia pendukung penting perang melawan teror (war on terror) dan
mengirimkan pasukan berperang di Iraq. Howard akhirnya tumbang oleh
lawannya, Kevin Rudd, Ketua Partai Buruh Australia (ALP) yang
selalu berkampanye anti-perang.

Kebetulan tiga hari menjelang pemilihan, ibu kota Madrid
terguncang hebat oleh ledakan bom. Pagi itu, 11 Maret 2004, ketika
orang bergegas ke kantor dengan menyesaki kereta api komuter, 10
ledakan menerpa 4 jaringan kereta. Sebanyak 191 penumpang tewas dan
lebih 2000 orang cedera. Ini merupakan serangan teroris paling
berdarah di negeri itu. Aparat keamanan menuduh Al-Qaidah lokal
bertanggung jawab dalam bom Madrid. Aznar tersungkur dan Zapatero
naik menggantikan. Tanpa pikir panjang ia tarik tentara Spanyol dari
Iraq.

Korban lain, Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi. Konglomerat
media dan pemilik klub sepak bola AC Milan itu dikalahkan Romano
Prodi dalam Pemilu tahun 2006 lalu. Semua orang Italia tahu
bagaimana dekatnya Berlusconi dengan Bush.

Kemudian menyusul Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Kalau Howard
diejek sebagai sheriff di Asia, Blair lebih malang: ia dapat
julukan poodle-nya Bush. Setiap ada demo anti-perang Iraq di London
atau kota lain, selalu ada poster bergambar Presiden Bush menyeret
seekor anjing kecil berbulu panjang dengan tempelan wajah Tony Blair.

Di Parlemen telinganya selalu panas menerima cerca dan makian dari
kelompok oposisi. Yang paling galak tentu George Galloway, anggota
Parlemen dari independen yang sudah lama dikenal sebagai musuh
Israel di Parlemen Inggris. Dia selalu memanggil Perdana Menteri
Blair sebagai Mr Liar (Tuan Pembohong), karena terbukti senjata
pemusnah massal yang menjadi alasan Blair mengirim tentara ke Iraq,
tak pernah ada.

Padahal dulu, 1997, ketika pertama kali menjadi Perdana Menteri,
ia termuda dalam sejarah Inggris. Otaknya amat cemerlang,
karakternya mantap, dan wajahnya tampan. Karena itu dia terpilih
terus. Tapi sejak mengirim pasukan ke Iraq – semula Inggris
menyertakan 45.000 tentara, belakangan tinggal 7100, bertugas di
Basrah – populeritasnya melorot drastis. Akhirnya karena desakan
internal partai Blair memilih mundur. Penggantinya Gordon Brown
menarik pasukan.

Teman Bush yang sudah habis diterpa gelombang adalah Presiden
Pakistan Pervez Musharraf. Sebenarnya di bidang ekonomi Musharraf
terbilang berhasil. Tentu untuk ukuran Pakistan, negeri miskin
dengan angka buta huruf tinggi. Tapi karena dianggap antek Bush,
populeritasnya di mata rakyat hancur-hancuran. Musharraf akhirnya
juga tumbang oleh Yousaf Raza Gilani yang kini menjabat sebagai
Perdana Menteri Pakistan yang baru

Di halaman belakang Amerika, di kawasan Amerika Latin, teman Bush
rontok satu-persatu. Malah Presiden Hugo Chavez dari Venezuela kini
menjadi musuh utama. Kata-kata setan, Hitler, imperialis, dan
semacamnya berhamburan dari Chavez, setiap membicarakan Bush.

Sekarang praktis di kawasan itu hanya tersisa beberapa teman
Amerika. Salah satunya Presiden Alvaro Uribe dari negeri kartel
narkotik, Colombia. Selain memerintah dengan otoriter, Uribe sangat
kejam kepada para petani karena itu pemberontakan nyaris tak
berhenti. Namun Presiden Bush mendukungnya terutama dengan bantuan
peralatan militer guna melawan pemberontak. Sejak 2002, Bush
membantu Uribe 4 milyar dollar.

Bagaimana Bush– SBY? Tentu Indonesia tak mengirim pasukan ke Iraq
atau Afghanistan. Tapi hubungan keduanya amat baik. Bush, misalnya,
beberapa waktu lalu, menelepon langsung SBY, ketika kasus nuklir
Iran dibahas Dewan Keamanan PBB. Tiba-tiba Indonesia berubah sikap
180 derajat: semula mendukung, kemudian menuntut proyek nuklir Iran
dihentikan.

Barang siapa menyaksikan acara Asian Pacific American Heritage
Month di Gedung Putih, Washington, 27 Mei 2005, yang dihadiri
Presiden SBY dan keluarga, tentu akan tahu betapa akrab keduanya.
Presiden Bush bukan cuma mengenal SBY dan Ibu Ani, tapi mengenal
anak-anaknya.

’’Saya ingin memperkenalkan Agus dan Edhie, putra Presiden.
Selamat datang. Kami gembira kamu hadir. Agus akan menikah 8 Juli
yang akan datang,’’ ujar Bush di hadapan hadirin (lihat Weekly
Compilation of Presidential Documents, 30 Mei 2005). Bayangkan, Bush
sampai ingat tanggal Agus menikah, padahal dia sulit membedakan
Australia dengan Austria.

Sebenarnya itu tak terlalu aneh. Sampai sekarang perusahaan
Amerika Freeport-McMoran sesuka hati mengeduk emas dari perut bumi
Papua. Mau politisi Amin Rais berteriak-teriak sampai suaranya
parau, mau demonstrasi anti-Freeport di Papua atau Jakarta, toh
perusahaan asing terbesar di Indonesia itu tetap aman-aman saja.

WALHI yang dulu galak menyerang kini diam seribu bahasa. Tak tahu kenapa. Yang
jelas salah satu donatur LSM itu adalah USAID, milik
Pemerintah Amerika. Berarti uang yang disumbangkan donor itu ke
WALHI berasal dari pajak rakyat Amerika, termasuk dari Freeport.
Maka perusahaan itu pernah memprotes USAID ke pemerintahnya karena
membantu WALHI (the New York Times, 20 Mei 1998).

Tapi yang paling melegakan Presiden Bush pastilah keputusan
Pemerintah SBY pada 2005, memberikan Blok Cepu kepada perusahaan
minyak Amerika terbesar Exxon Mobil. Padahal sudah lama perusahaan
ini berebut sumur di perbatasan Jawa Timur–Jawa Tengah itu dengan
Pertamina. Blok Cepu menurut para ahli memiliki cadangan 600 juta
barel dan merupakan ladang paling menguntungkan di Indonesia.
Rupanya di mata Pemerintah, memberi keuntungan kepada perusahaan
asing lebih baik dari perusahaan milik sendiri.

Belum cukup. Baca laporan lembaga riset Kongres Amerika
(Congressional Research Service, CRS) pada 2005. Di situ diketahui
betapa Presiden SBY cukup melegakan sebagai patner bagi Amerika
dalam perang melawan teror (war on terror). Untuk proyek itu,
Pemerintah Amerika memberi bantuan dana dan fasilitas, membentuk dan
melatih pasukan anti-teror Detasemen 88 Polri, sekalian mengongkosi
operasional pasukan setiap tahun.

Mungkin untuk mengingatkan kunjungan Bush ke Istana Bogor tahun
lalu, kini di sana bergelantungan begitu banyak dan mencolok foto
Presiden Amerika Serikat itu. Bila anak-anak sekolah dasar
berkunjung ke istana, salah-salah mereka mengira inilah foto
Gubernur Jenderal yang pernah menguasai Indonesia.

Masa Kegelapan

Tapi itulah, di dalam laporan tadi disebutkan betapa kebencian
kepada Amerika melonjak drastis di kalangan rakyat Indonesia.
Berdasarkan data jajak pendapat, kata laporan itu, pada tahun 1999,
79% responden menyukai Amerika. Pada 2002, angka itu menurun menjadi
61%. Tiba-tiba setahun kemudian, 2003, anjlok cuma tinggal 15%.
Menurut jajak pendapat lain, 83% responden Indonesia membenci
Amerika Serikat. Rupanya dalam soal Amerika sikap rakyat beda dengan
Presiden SBY.

Bila data dianalisa, gampang terbaca bahwa penyerangan Afghanistan
(2001) dan terutama Iraq (awal 2003) menyebabkan tumbuh suburnya
kebencian itu. Lalu ditambah sikap Amerika yang selalu membela
Israel dalam konflik Palestina. Tapi sesungguhnya kebencian pada
Amerika terjadi hampir di seluruh dunia. Itu yang menyebabkan Tony
Blair, Howard, dan kawan-kawan terjungkal satu persatu dari
kekuasaan.

Ternyata dampak war on terror Presiden Bush jauh lebih mengerikan.
International Institute for Strategic Studies (IISS), think tank
cukup disegani dari London, dalam laporan tahunan yang dirilis
September lalu, menyebutkan bahwa kegagalan Amerika dalam Perang
Iraq menyebabkan negeri super power itu kehilangan pengaruh. Dan itu
membahayakan stabilitas Asia dan Timur Tengah. IISS memberi gambaran
suram dalam konflik Timur Tengah, meningkatnya semangat Al-Qaidah,
dan tumbuhnya radikalisme Islam di Eropa. Dengan melemahnya
kepemimpinan Washington, menurut IISS, suhu yang memanas akan
menyebar dan mengancam kesejahteraan global.

Sekarang, dunia sudah merasakan bagaimana instabilitas Timur
Tengah – khususnya Iraq – menyebabkan harga minyak mendekati 100
dollar/barel. Amerika sudah terkena imbas terutama sebagai negeri
importir minyak terbesar dunia. Krisis kredit perumahan membuat
gonjang-ganjing ekonominya. Dollarnya anjlok. Sudah tak sedikit
pengamat yang meramalkan Amerika segera “ambruk”.

Biaya perang demikian besar. Staf Partai Demokrat di Kongres
menghitung dari 2002 sampai 2008, perang yang lebih panjang
dibanding Perang Dunia kedua itu, menghabiskan 1,3 trilyun dollar.
Kalau dirupiahkan sulit menghitung angka nolnya.

Jumlah itu, menurut Profesor Tyler Cowen dari George Mason
University, belum yang sesungguhnya. Karena menurut ahli ekonomi
ini, belum dihitung opportunity cost, biaya atas peluang yang hilang
akibat perang. Misalnya, perang Iraq telah menewaskan hampir 4000
tentara Amerika dan lebih 1000 petugas keamanan sewaan kontraktor.
Yang cedera lebih 28.000. Di antaranya tak sedikit mengalami
kerusakan otak atau berbagai trauma permanen yang tak bisa
disembuhkan. Semua mengakibatkan Amerika akan kesulitan merekrut
tentara. Nah, semua itu ada hitung-hitungan kerugiannya.

Bagaimana Iraq? Sebuah survei menyebutkan sudah 1 juta orang Iraq
yang tewas. Kalau angka ini terlalu tinggi, mungkin kurang sedikit
dari itu. Menurut perhitungan John Pike dari http://www.GlobalSecurity. org,
sebuah grup riset, tentara Amerika menghamburkan 250.000 peluru
untuk menembak mati tiap seorang gerilyawan. Itu bukan cuma
pemborosan. Tapi menggambarkan betapa parah kerusakan yang terjadi.
Betapa tak berimbangnya perang yang terjadi .

Konflik mengakibatkan terjadi perlombaan senjata, termasuk senjata
nuklir, opini dunia yang menghujat Amerika, dan rakyat Amerika
sendiri harus berkorban membiaya perang yang begitu mahal (the
Washington Post, 18 November 2007).

Maka Moris Berman, 63 tahun, ahli sejarah kebudayaan kelahiran New
York, yang memperoleh Ph D dari Johns Hopkins University, menulis
buku Dark Ages America: The Final Phase of Empire (Norton, 2006),
yang meramalkan imperium Amerika segera akan rubuh. Ia
mendeskrifsikan Amerika sebagai sebuah kultur dan emosional yang
rusak oleh peperangan, menderita karena kematian spiritual dan
dengan intensif mengeskpor nilai-nilai palsunya ke seluruh dunia
dengan menggunakan senjata. Republik yang berubah menjadi imperium
itu berada di dalam zaman kegelapan baru dan menuju rubuh
sebagaimana dialami Kekaisaran Romawi.

Memang banyak orang mengecam buku itu, terutama kaum neo-
konservatif (neokon) yang gemar menghasut Amerika untuk berperang.
Tapi melihat keadaan sekarang – defisit APBN kian menggelembung,
terorisme mengancam, citra dan wibawa rusak di mata dunia, serta
kegagalan di Iraq dan mungkin Afghanistan – tak sedikit pula yang
mempercayai ramalan Berman. Bagaimana Pak SBY?

Perempuan Iran (1) Mar 19, ’08 5:25 AM
for everyone

Category: Other
Apa yang Anda bayangkan tentang perempuan Iran? Hitam (bajunya), keras, saklek, atau apa lagi? Tujuh tahun lalu, ketika saya pertama kali saya menatap mereka, saya juga punya kesan yang kurang lebih sama. Mata mereka memancarkan ketegasan atau mungkin, kekeraskepalaan. Apalagi, sepertinya mereka sama sekali tidak sungkan untuk berbicara apapun sesuai isi hati mereka. Mereka sama sekali tidak segan untuk mengajukan pertanyaan yang sangat personal kepada saya: dari mana, sedang apa di sini, siapa yang membiayaimu hidup di sini, berapa uang beasiswa perbulan yang kau terima, (atau setelah saya bekerja: berapa gaji yang kau terima)? Pertanyaan-pertanyaan itu sering saya dapatkan di atas bis, di mesjid, atau di salon, dari perempuan-perempuan yang tak saya kenal.Kadang-kadang, saya merasa kesal dihujani pertanyaan personal seperti itu, apalagi dari orang tak dikenal. Namun, kadang-kadang saya merasakan hal itu sebagai sikap hangat. Apalagi bila saya sedang kebingungan berada di tempat asing, misalnya sedang duduk di sebuah pesta yang orang-orangnya tidak saya kenal. Mereka akan menyapa dan dengan hangat bertanya ini-itu. Hal itu membuat saya sedikit lega dan tidak lagi merasa bagai kambing congek. “Keberanian” mulut mereka juga dengan mudah ditemui di antrian pasar. Di pasar dekat rumah kami, setelah mengambil barang belanjaan sesuai keinginan, kami harus mengantri di depan kasir, terutama bila berbelanja di pagi hari yang ramai. Orang-orang Iran memang umumnya patuh pada antrian, namun selalu saja ada yang tebal muka. Pertengkaran pun muncul, dengan suara keras. Yang satu tebal muka, yang lain tidak mau kehilangan hak karena disalip dalam antrian.Terkadang saya salut juga dengan keberanian para perempuan itu menyampaikan pendapat. Misalnya, suatu saat saya pernah melihat seorang perempuan menampar dan memaki-maki dengan galak seorang laik-laki yang mencoleknya. Saya bangga sekali melihat kejadian itu. Soalnya, sebagaimana umumnya perempuan Melayu, saya biasanya memendam kekesalan dengan diam atau menangis. Melihat ada perempuan lain dengan gagah berani menampar lelaki kurang ajar membuat saya merasa terwakili. Meskipun sebenarnya pengalaman saya beberapa kali kena colek lelaki kurang ajar terjadi di negeri saya sendiri, bukan di Iran.

Atau, suatu saat saya melihat seorang perempuan Iran dengan suara keras marah-marah di pool taksi di Sadeqieh Square, square terdekat dari rumah kami. Katanya, “ Para pejabat bermunculan di tivi menjanjikan tidak ada kenaikan harga. Mana buktinya?!” Dia lalu berpanjang lebar memaki-maki pemerintah. Benar-benar berani, pikir saya. Meski, terasa aneh juga karena ternyata, tarif taksi untuk trayek Sazman Barnameh-Sadeqieh Square hanya naik 250 Rial (senilai dengan 250 Rupiah).

Seiring dengan berlalunya waktu, saya mulai bisa mengenali jenis-jenis perempuan Iran. Ada yang memang keras dan tegas, dan bisa dibilang tidak berperasaan dalam bersikap (untuk ukuran perempuan
Indonesia). Mereka yang seperti itu biasanya datang dari desa, atau tidak berpendidikan cukup, atau berasal dari daerah-daerah panas. Sebaliknya, perempuan dari Teheran, Isfahan, atau dari utara Iran (yang hawanya dingin), dan yang berpendidikan tinggi, umumnya sangat lemah-lembut dalam bertutur kata atau bersikap. Wajah mereka pun biasanya cantik-cantik dan berkulit putih.

Kelemahlembutan (sebagian) perempuan Iran membuat saya banyak belajar tentang basa-basi dan sikap menyenangkan orang lain. Hanya untuk menanyakan kabar seseorang saja butuh waktu bermenit-menit. Hale shuma khube? Khanevade cheturand? Khube? Dukhtaret cheture? Khuda negares dare.. bla..bla… (Kabarmu baik? Keluarga bagaimana? Baik? Putrimu bagaimana? Semoga Tuhan menjaganya). Bila melihat saya menggendong anak, perempuan-perempuan itu akan menghujani anak saya dengan berbagai puji-pujian, meski terkadang terasa berlebihan. Namun, menyenangkan orang lain termasuk ibadah, bukan? Jadi, saya pun belajar untuk memperbanyak kosa kata puji-pujian dalam bahasa Persia agar bisa balik memuji-muji mereka. Sebaliknya, keberanian mereka untuk memprotes sesuatu dan bertengkar mulut demi mempertahankan hak, membuat saya belajar untuk berani juga. Minimalnya, sekarang saya tidak mengomel dalam hati lagi bila ada yang menyalip antrian di pasar, melainkan dengan tegas mengajari si penyalip itu agar tahu diri. Bahkan kalau perlu, bertengkar mulut dengannya

Tulisan ini pernah dimuat di Surabaya Post. Tulisan mengenai Perempuan Iran dimuat dalam 3 bagian, ini salah satu di antaranya. Bbrp bagian dari tulisan ini juga disertakan dalam buku “Pelangi di Persia”.

Pengalaman Berlebaran di Negeri Persia Nov 16, ’06 11:26 AM
for everyone
Category: Other
Dimuat di Padang Ekspres 1 NovemberIdul Fitri kali ini terasa menarik bagi saya. Kebetulan sebelum lebaran saya berkenalan dengan seorang mahasiswi pascasarjana jurusan Kajian Timur Tengah dari UI yang sedang melakukan riset di Iran. Sebelumnya, ketika Presiden Iran Ahmadinejad datang ke Indonesia dan berpidato di UI bulan Mei lalu, dalam sesi tanya jawab, teman saya ini mengajukan beberapa pertanyaan yang diakhiri dengan proposal, “Apakah Bapak bersedia memberi beasiswa kepada saya untuk melakukan riset di Iran?” Ahmadinejad saat itu spontan mengiyakan dan sejak sebulan lalu, mahasiswi tersebut sudah berada di Iran. Dia berminat sekali menunaikan sholat Id di Mushola Imam Khomeini, tempat utama sholat Id di kota Teheran. Selama ini saya biasanya sholat Id di lapangan dekat rumah kami saja. Karena ingin menemani kawan baru saya itu dan sekaligus ingin mencari pengalaman menarik, berangkatlah kami di pagi buta hari Selasa tanggal 24 Oktober, menuju Musholla Imam Khomeini.Meski kami berangkat di saat matahari masih belum muncul dari peraduannya, namun di jalan-jalan sudah terlihat polisi berpatroli bahkan sejak puluhan kilo sebelum lokasi. Dalam radius sekitar1,5 kilo sebelum lokasi di kawasan Abbas Abad, Tehran tengah, jalanan sudah diblokir dan tidak ada mobil yang boleh masuk kecuali bis-bis dan taksi-taksi khusus yang memang disediakan gratis untuk jamaah sholat Id ini, yang berdatangan dari berbagai penjuru Teheran. Kami terpaksa turun dan jalan kaki karena taksi yang kami naiki bukan taksi khusus tersebut. Di tengah gerimis, kami berjalan kaki dengan bergegas menuju Musholla Imam. Di sepanjang jalan menuju musholla itu telah berdiri posko-posko. Ada posko khusus yang membagi-bagikan bunga-bunga untuk para jamaah sholat, kami mendapat tiga kuntum bunga kuning. Ada posko yang khusus memberi hadiah kepada anak-anak kecil yang ikut sholat, yaitu buku plastik lengkap dengan spidol dan penghapusnya. Ada posko yang membagikan kue-kue dan susu kotak. Polisi-polisi yang berpatroli (dan para petugas pemadam kebakaran) juga ikut membagi-bagikan teks-teks doa kepada orang-orang.

Ternyata, meskipun disebut musholla, bangunannya sangat besar dan luas, meskipun masih setengah jadi. Musholla itu didirikan di atas tanah seluas satu juta meter persegi dengan bangunan-bangunan panjang dan bertingkat yang mengelilingi satu lapangan kosong tanpa atap. Sholat Id dipusatkan di lapangan tengah dengan shaf-shaf yang melebar ke berbagai arah. Menjelang masuk ke shaf-shaf sholat, kami digeledah dulu secara ketat oleh petugas keamanan (jamaah perempuan digeledah oleh petugas perempuan juga). Penggeledahan ketat ini dilakukan karena yang akan menjadi imam dan khatib sholat adalah Leader Iran, Ayatullah Sayed Ali Khamenei, sehingga rawan aksi-aksi terorisme. Menurut televisi Iran, diperkirakan dua juta orang menghadiri sholat Id di musholla tersebut, termasuk Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad.

Tak lama setelah kami lolos dari antrian pemeriksaan, kami pun segera mengambil tempat duduk di shaf. Jam sudah menunjukkan pukul delapan. Suara takbir khas Idul Fitri terdengar menggema dari pengeras suara, namun nadanya berbeda dengan nada takbir khas Idul Fitri di Indonesia. Takbir khas Indonesia bagi saya terasa lebih syahdu dan enak didengar. Sekitar sepuluh menit kemudian, sholat pun dimulai. Berbeda dengan cara sholat Id di negeri kita, dimana rakaat pertama 7 kali takbir dan rakaat kedua 5 kali takbir, sholat Id di Iran hanya 5 kali takbir pada rakaat pertama dan 4 kali takbir pada rakaat kedua. Usai sholat, Ayatullah Khamenei menyampaikan khutbah dua bagian, bagian pertama berisi nasehat-nasehat tentang ketakwaan dan bagian kedua berisi pesan-pesan politik kepada rakyat Iran, antara lain agar menyukseskan pemilu Majelis Khubregan (Majelis Para Ulama—rakyat memilih 86 ulama kepercayaan mereka untuk duduk di majelis itu, lalu ke-86 ulama itu akan melakukan pemilihan di antara mereka sendiri untuk memilih Leader yang saat ini dijabat oleh Ayatullah Khamenei).

Hal menarik lain dari Idul Fitri yang saya lalui di Iran tahun ini adalah adanya upaya pemerintahan Ahmadinejad untuk membuat Idul Fitri tahun ini lebih meriah daripada biasanya. Pada malam hari setelah diumumkannya awal bulan Syawal (yang ditetapkan dengan metode rukyat, bukan hisab), pemerintah mengumumkan libur nasional selama 4 hari, mulai Selasa (hari Idul Fitri) hingga Jumat. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Republik Islam Iran diberlakukan libur cukup panjang untuk Idul Fitri. Selama ini, libur Idul Fitri hanya satu hari saja dan keesokan harinya pekerjaan, sekolah, dan kegiatan lain tetap dilakukan seperti biasa. Tidak ada arus mudik besar-besaran. Juga tidak ada peningkatan konsumsi masyarakat untuk makanan atau baju baru, sebagaimana terjadi di Indonesia.

Juru bicara pemerintahan Ahmadinejad, Ghulamhusein Ilham, mengatakan bahwa keputusan ini dilakukan untuk mengikuti tradisi negara-negara Islam lain di dunia yang menjadikan hari Idul Fitri sebagai hari raya yang benar-benar meriah. Selama ini, tradisi pulang kampung, menyediakan berbagai makanan khusus, menghias rumah, membeli baju baru, dan saling berkunjung malah dilakukan orang-orang Iran pada tahun baru syamsiah (awal musim semi), bukan pada hari raya Idul Fitri. Namun karena mendadaknya pengumuman pemerintah mengenai libur empat hari pada Idul Fitri tahun ini, yang terjadi adalah kemacetan di mana-mana dan munculnya keluhan masyarakat yang mengalami kerepotan dalam melakukan transaksi bank atau menyelesaikan urusan-urusan di kantor-kantor pemerintahan.

Usaha pemerintahan Ahmadinejad untuk mengubah tradisi Idul Fitri di Iran juga dilakukan dengan menggelar berbagai perayaan untuk warga kota. Di Teheran, perayaan diselenggarakan di Azadi Square pada sore hari Idul Fitri, yang dihadiri oleh puluhan ribu orang. Dalam perayaan itu para artis dan penyanyi tampil untuk menghibur warga. Malam sebelum Idul Fitri juga diadakan pesta kembang api. Dengan adanya berbagai keramaian ini (termasuk kemacetan lalu lintas akibat arus mudik), saya merasakan bahwa inilah Idul Fitri paling meriah bagi saya selama tinggal di Iran, dan ternyata, begitu pula bagi orang-orang Iran sendiri.

Dina Sulaeman
Penerjemah di IRIB, tinggal di Teheran

PEREMPUAN IRAN: OBSERVASI ANTARA KONSTITUSI DAN HDI Nov 16, ’06 10:30 AM
for everyone
Category: Other
PEREMPUAN IRAN: OBSERVASI ANTARA KONSTITUSI DAN HDI
Oleh: Dina Y. Sulaeman*
Dibacakan pada Seminar Mhsw Indonesia se- Timur Tengah,
resumenya dimuat di Padang Ekspres*maaf, tabel dan grafik gak bisa dicopy ke sini, gak tau kenapa *Mukadimah

Dalam masyarakat manapun, termasuk masyarakat yang bisa diberi label ‘masyarakat relijius’, perempuan selalu menempati posisi yang krusial. Sebagai salah satu bukti konkritnya, penilaian atas keberhasilan pembangunan di sebuah negara yang dilakukan PBB akan diukur melalui HDI (Human Development Index). HDI sendiri memiliki beberapa komponen, di antaranya GDP (Gross Domestic Product), GDI (Gender-related Development Index) dan GEM (Gender Empowerment Measures). Indikator untuk mengukur GDI antara lain adalah angka harapan hidup, angka melek huruf, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan perempuan. Sementara itu, GEM diukur dari proporsi perempuan dalam pengambilan keputusan di parlemen, proporsi kaum perempuan profesional atau manajerial, dan rata-rata pendapatan perempuan di luar sektor pertanian. Singkatnya, sebuah negara akan memiliki kesempatan untuk meraih value HDI yang tinggi bila perempuan di negara itu memiliki value GDI dan GEM yang tinggi pula.

Bukti lainnya adalah bahwa salah satu subjek penting dalam laporan-laporan HRW (Human Right Watch) adalah perempuan. Selama perempuan di suatu negara mengalami penindasan atau diskriminasi, negara itu tidak akan mendapatkan nilai bagus terkait dengan perlindungan HAM.

Tentu saja, indikator perlindungan HAM dan indikator yang dipakai PBB dalam penetapan GDI/GEM, merupakan sebuah objek yang masih bisa diperdebatkan. Namun yang jelas, hal ini bisa menjadi salah satu bukti betapa krusialnya posisi perempuan dan itu pula sebabnya, pembangunan sebuah masyarakat relijius sama sekali tidak bisa mengabaikan peran perempuan.

Dalam lokakarya ini, tema masyarakat relijius telah diangkat dengan konteks Islam. Dengan kata lain, masyarakat relijius yang dimaksud di sini adalah masyarakat yang menerapkan nilai-nilai Islam.

Republik Islam Iran bisa disebut sebagai contoh kasus yang bisa dianalasis untuk melihat sejauh mana sebuah sistem Islam bisa memberi kesempatan atau peluang bagi perempuan untuk mencapai posisinya yang layak. Namun, karena sebuah kajian analisis memerlukan waktu dan tenaga yang banyak, dalam makalah ini hanya akan ditampilkan kajian deskriptif.

Bab I: Kondisi Sebelum Revolusi Islam

Meskipun mayoritas penduduk Iran pra Revolusi beragama Islam, situasi relijius tidak mewarnai kehidupan masyarakat. Situasi zaman itu bisa dilihat dari tulisan Massoumeh Price berikut ini:

“Reza Shah diangkat sebagai raja pada tahun 1925. Pada tahun 1926, Sadigheh Dawlatabadi mengikuti The International Women’s Conference di Paris. Sekembalinya dari Paris, dia muncul di depan publik dalam pakaian Eropa. Pada tahun 1928, Parlemen meratifikasi aturan baru berpakaian. Semua laki-laki, kecuali para ulama, diharuskan berpakaian ala Eropa selama berada di dalam kantor-kantor pemerintah. Pada tahun 1930, topi perempuan dibebaskan dari pajak. Emansipasi didiskusikan secara kontinyu dan digalakkan oleh pemerintah. Pada tahun 1936, Reza Shah, istrinya, dan anak-anak perempuannya mengikuti upacara wisuda di Women’s Teacher Training College di Tehran. Semua perempuan disarankan untuk datang ke acara itu tanpa menggunakan kerudung. Pada saat itulah, ‘emansipasi’ perempuan Iran secara resmi dicanangkan. Pelepasan jilbab dijadikan sebuah kewajiban serta perempuan dilarang menggunakan chadur dan kerudung di depan umum.

Pada tahun 1968, diratifikasi UU Perlindungan Keluarga. Dalam UU itu ditetapkan bahwa perceraian harus dilakukan dalam pengadilan keluarga, aturan perceraian dibuat menguntungkan, poligami dibatasi dan diharuskan adanya izin tertulis dari istri pertama. … (Pada waktu itu pula) Mrs. Parsa diangkat sebagai menteri perempuan pertama di Iran. (Kemudian dikeluarkan aturan) perempuan harus mengikuti pendidikan militer dan harus mengikuti wajib militer… Aborsi tidak pernah dilegalisasi, tetapi sanksi yang ada telah dihilangkan sehingga membuat (aborsi) sangat mudah dilakukan.”

Kondisi zaman pra-Revolusi itu digambarkan oleh Imam Khomeini sebagai berikut:

Radio, televisi, media cetak, sinema, dan teater adalah di antara alat-alat yang banyak digunakan untuk menyeret bangsa-bangsa, khususnya generasi muda, ke arah kejahatan. Dalam seratus tahun terakhir, khususnya setengah abad terakhir, kita melihat betapa besarnya peran alat-alat ini dalam menentang Islam dan ulama yang berkhidmat kepada Islam. Fasilitas ini berperan besar dalam mempropagandakan imperialisme Barat dan Timur. Alat-alat ini juga digunakan untuk menciptakan pasar berbagai produk. Melalui media ini, mereka menciptakan paham kemewahan, membangun bangunan dengan berbagai jenis hiasan dan keindahannya, serta membuat berbagai jenis minuman dan pakaian sebagai mode yang harus diikuti masyarakat. Umat Islam dicekoki dengan hal-hal yang melenakan. Dengan cara ini, terciptalah pemikiran bahwa merupakan kebanggaan besar bila bersikap kebarat-baratan dalam setiap sisi kehidupan, mulai dari perilaku, tutur kata, pakaian, dan lain-lain.

Ahmad Heydari menulis,

“Sebelum Revolusi, Rezim Shah di Iran telah mengibarkan bendera pembelaan hak-hak asasi dan kebebasan perempuan. Membuka hijab serta mengabaikan rasa malu, harga diri, rasa keberagamaan, merupakan langkah-langkah awal rezim ini dalam ‘mengantarkan’ kaum perempuan pada hak-hak mereka. Di sisi lain, masyarakat yang masih teguh menjalankan nilai-nilai agama mengambil sikap untuk mengekang perempuan dan menjauhkannya dari masyarakat.”

Menanggapi ‘gerakan emansipasi’ Iran era pra-Revolusi yang berkiblat ke Barat, ulama-ulama Islam Iran melakukan usaha-usaha perlawanan. Ali Shariati pada tahun 1975 menerbitkan bukunya yang berjudul “Fathima is Fathima” yang antara lain berisi kecamannya atas perilaku perempuan yang kebarat-baratan. Shariati dalam bukunya itu mengenalkan kepada perempuan Iran, seorang teladan muslimah sepanjang zaman, yaitu Fathimah a.s. Ayatullah Muthahhari juga dengan gencar menyeru kaum perempuan Iran untuk kembali mengenakan hijab, melalui sebuah artikel berseri di majalah yang populer saat itu, “Zan-e Ruz”.

Trend HDI pada era pra Revolusi Islam, bisa dilihat dalam grafik pada Bab IV. Dalam grafik itu terlihat stagnansi HDI value sejak tahun 1974 hingga tahun 1980. Ini merupakan hal yang cukup mengherankan karena pada saat itu rezim Pahlevi menggembar-gemborkan pembangunan ala Barat bagi Iran.

Bab II: Kondisi Pasca Revolusi

Pasca kemenangan Revolusi Islam, spirit pengangkatan harkat dan martabat perempuan segera menggema di Iran. Pemimpin Revolusi Islam, Imam Khomeini, dalam berbagai kesempatan selalu menyebutkan peran penting perempuan dalam pembangunan bangsa. Di antara pernyataan Imam Khomeini berkaitan dengan hal ini adalah sbb:

Perempuan juga harus berperan serta dalam melindungi masyarakat. Perempuan harus bahu-membahu bersama laki-laki dalam aktivitas sosial dan politik, tentu saja dengan tetap menjaga aturan yang telah ditetapkan Islam yang, alhamdulillah, hari ini telah terlaksana di Iran.”

Pengakuan atas hak dan martabat perempuan di Iran mulai tampak sejak penyusunan Konstitusi/UUD RII (Republik Islam Iran) oleh para ulama yang tergabung dalam Majelis-e-Khubregan. Meskipun hanya satu ulama perempuan yang tergabung dalam majelis tersebut, UUD yang dihasilkan sangat berpihak kepada perempuan. Kata perempuan disebut lima kali dalam UUD tersebut (bandingkan dengan UUD 45 atau UUD Amerika Serikat yang sama sekali tidak menyebut kata ‘perempuan’). Dalam Pembukaan UUD RII terdapat dua paragraf yang khusus berbicara tentang perempuan, yaitu sbb.
Perempuan dalam Konstitusi
Melalui pembentukan infrastruktur sosial yang Islami, semua elemen kemanusiaan yang (selama ini) berkhidmat kepada eksploitasi asing, harus meraih kembali identitas asli dan hak asasi mereka. Sebagai bagian dari proses ini, sudah selayaknya perempuan harus menerima penambahan (proporsi) yang besar atas (penunaian) hak-hak mereka karena pada rezim lama, mereka juga menderita opresi yang lebih besar.
Keluarga adalah unit dasar dalam masyarakat serta menjadi pusat pertumbuhan dan pembangunan manusia. Penggabungan antara kepercayaan dan idealisme, yang merupakan dasar dari pertumbuhan dan perkembangan manusia, adalah hal yang paling utama dalam pembentukan keluarga. Adalah kewajiban pemerintah Islam untuk menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan ini. Konsep keluarga ini, akan menghindarkan perempuan dari anggapan sebagai objek atau instrumen dalam mempromosikan suatu produk, atau objek eksploitasi. (Konsep keluarga) akan mengembalikan fungsi mulia perempuan sebagai ibu. Hal ini merupakan penegakan ideologi kemanusiaan, serta menempatkan perempuan sebagai pemegang peran utama dalam masyarakat sekaligus menjadi mitra perjuangan bagi laki-laki dalam berbagai area penting kehidupan. Pemberian tanggung jawab yang berat kepada perempuan ini merupakan pengejawantahan nilai Islam yang agung dan mulia.

Dalam tubuh UUD RII terdapat dua pasal khusus berkaitan dengan perempuan, yaitu pasal 20 dan 21, sbb.
Pasal 20 [Kesetaraan di Hadapan Hukum]
Semua warga negara, baik laik-laki maupun perempuan, secara setara menerima perlindungan hukum dan memiliki semua hak kemanusiaan, politik, ekonomi, sosial, dan budaya, yang sesuai dengan kriteria Islam.
Pasal 21 [Hak-Hak Perempuan]
Pemerintah harus menjamin hak perempuan, yang sesuai dengan kriteria Islam, dan mewujudkan tujuan-tujuan di bawah ini:
1) menciptakan lingkungan yang kondusif untuk perkembangan kepribadian perempuan dan pengembalian hak-hak mereka, baik material maupun intelektual;
2) perlindungan terhadap para ibu, terutama pada masa kehamilan dan pengasuhan anak, dan perlindungan terhadap anak-anak yatim;
3) membentuk pengadilan yang berkompeten untuk melindungi keluarga;
4) menyediakan asuransi khusus untuk janda, perempuan tua, dan perempuan tanpa pelindung;
5) memberikan hak pengasuhan kepada ibu angkat untuk melindungi kepentingan anak ketika tidak ada pelindung legal.
Berkaitan hak perempuan untuk menjadi presiden di Iran—sebuah topik yang selalu menjadi sasaran tembak dan dalil penting dalam usaha membuktikan ke-‘diskriminatif’-an pemerintahan Islam Iran terhadap perempuan—ternyata ada catatan sejarah yang menarik. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, UUD RII disusun oleh Majlis-e-Khubregan yang terdiri dari para ulama Islam (tentu saja, implementasinya dilakukan setelah mendapatkan persetujuan rakyat melalui referendum). Di antara ulama islam yang menjadi anggota Majelis-e-Khubregan adalah seorang cendikiawan perempuan bernama Munireh Gurji yang menyatakan bahwa dalam sistem Wilayatul Faqih, presiden bukanlah pemimpin tertinggi, sehingga sah-sah saja bila perempuan menjadi presiden.

Masalah ini kemudian menimbulkan perdebatan keras. Sebagian ulama menyatakan bahwa presiden harus laki-laki, dan sebagiannya berpandangan bahwa perempuan sah-sah saja untuk menjadi presiden. Akhirnya, untuk menghindari deadlock disepakati kalimat berikut ini.

Pasal 115 [Kualifikasi]
Presiden harus dipilih di antara “rijal” relijius dan politisi yang memiliki kualifikasi sbb.: asli Iran; warga negara Iran; memiliki kapasitas administrasi dan kepemimpinan; memiliki masa lalu yang baik; jujur, bertakwa, beriman, dan berpegang teguh pada landasan Republik Islam Iran dan mazhab resmi Negara.

Dalam pasal ini, tidak disebutkan secara jelas istilah ‘laki-laki’, melainkan digunakan kata ‘rijal’. Secara semantis, rijal adalah bentuk plural dari kata rajul, yang berarti laki-laki. Akan tetapi, istilah ini juga sering merujuk kepada arti personality atau tokoh. Hingga kini, istilah rijal tersebut masih menjadi bahan perdebatan di antara para ulama. Jadi, sepertinya, saat konstitusi disusun, masalah kualifikasi gender dibiarkan mengambang.

Dalam perkembangannya, penafsiran terhadap istilah “rijal” ini diserahkan kepada Dewan Garda Konstitusi (Shora-ye Negahban-e qanun-e asasi) yang berwenang untuk melakukan verifikasi kelayakan setiap warga Iran yang mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilu. Yang pasti, setiap kali event pemilu kepresidenan diselenggarakan, jumlah perempuan Iran yang mendaftar selalu signifikan. Mereka memang selama ini belum bisa lolos dari “screening” capres itu. Akan tetapi, gugurnya mereka dalam pencalonan itu disebabkan tidak terpenuhinya syarat-syarat penting lainnya, seperti kualifikasi di bidang administrasi dan pemerintahan. Jadi, istilah “rijal” ini hingga sekarang belum dihadapkan kepada “ujian konstitusi”.

Kembali kepada proses sejarah dicantumkannya kata “rijal” dalam konstitusi Iran, ada pernyataan resmi dari Wakil Ketua Majelis-e Khubregan, Ayatullah Beheshti (salah satu ulama besar Iran yang berdiri di garis depan Revolusi Islam, yang kemudian gugur syahid akibat serangan teroris). Syahid Beheshti mengatakan bahwa untuk saat ini, tidak berhasil diambil kesepakatan di antara para ulama yang tergabung dalam Majelis-e Khubregan berkaitan dengan boleh-tidaknya perempuan menjadi presiden. Namun, bukan berarti pembahasan atas masalah ini telah ditutup dan telah dipastikan bahwa perempuan tidak berhak menjadi presiden.

Ayatullah Syahid Beheshti menyatakan,
“…Bagi saya sendiri, dalil-dalil yang ada dalam riwayat mengenai tidak bolehnya seorang perempuan menjadi presiden, sama sekali tidak cukup dan tidak akan pernah cukup…Namun pandangan seperti ini tidak berhasil mendapat persetujuan duapertiga dari anggota Majelis…Oleh karena itu, saya menyatakan, UUD untuk saat ini menetapkan bahwa presiden bisa dipilih di antara para tokoh politik dan perdebatan tentang boleh-tidaknya perempuan menjadi presiden untuk sementara dihentikan sampai di sini, sampai kelak situasi memungkinkan untuk dilakukan pembahasan ulang.”

Dari catatan sejarah ini, jelas terlihat bahwa seiring dengan perkembangan zaman serta semakin terbuktinya kiprah dan kemampuan kaum perempuan Iran, sangat mungkin dilakukan pembahasan ulang dan bahkan amandemen terhadap UUD terkait dengan hak perempuan untuk menjadi presiden.

Perkembangan HDI value pada masa pasca Revolusi Islam terlihat sangat pesat. Ini bisa dilihat pada grafik dalam Bab IV. Bahkan, trend kenaikan HDI value Iran jauh melampaui trend di negara-negara Asia selatan. Perlu mendapat catatan, diantara tahun 1981-1989, Republik Islam Iran sedang berjuang/berperang melawan invasi Irak (serta mengalami embargo), tetapi bahkan pada saat itu pun HDI value Iran tetap menunjukkan kenaikan. Ini memperlihatkan bahwa dalam masa perang pun, RII tetap konsisten dalam membangun negara.

Bab III: Hak-Hak Kerja Perempuan Iran

Dalam bab ini dibahas posisi perempuan dalam konstitusi / UUD RII, terutama menyangkut hak-hak kerja perempuan Iran, baik untuk konsesi positif maupun konsesi negatif yang diterimanya.

a. Konsesi Positif

Meskipun dalam pembukaan UUD RII dan pasal 20-21 disebutkan bahwa fungsi dan peran utama perempuan adalah membangun keluarga sebagai pondasi dari sebuah masyarakat, perempuan Iran juga memiliki hak untuk bekerja di luar rumah atau melakukan kegiatan ekonomi. Pasal 28 UUD RII berbunyi sbb.
Article 28 [Pekerjaan]
(1) Setiap orang memiliki hak untuk memilih pekerjaan yang diinginkannya selama tidak bertentangan dengan interes Islam dan masyarakat, dan tidak melanggar hak-hak orang lain.
(2) Pemerintah memiliki kewajiban, dengan menimbang kebutuhan sosial terhadap berbagai jenis pekerjaan, untuk menyediakan kesempatan kerja bagi setiap warga negara dan menciptakan kondisi yang setara dalam kesempatan kerja.
Dari pasal ini jelas bahwa perempuan Iran berhak untuk memiliki pekerjaan dan hak-hak perempuan dalam masalah ini juga diatur dalam UU Ketenagakerjaan Iran, antara lain sbb.

1. Pasal 39: untuk pelaksanaan kerja yang sama dalam kondisi yang sama, dan dalam satu tempat kerja yang sama, laki-laki dan perempuan harus memperoleh gaji yang sama.
2. Pasal 75: pekerjaan yang berbahaya dan berat tidak boleh diserahkan kepada pegawai perempuan.

Dalam UU Perlindungan Pekerja Perempuan yang disahkan pada tahun 1992, disebutkan, peran dan pekerjaan utama perempuan adalah dalam keluarga, namun juga ditegaskan bahwa “Kesempatan bekerja bagi perempuan dalam bidang budaya, sosial, ekonomi, dan administrasi merupakan di antara syarat yang harus dipenuhi dalam penegakan keadilan sosial… (pasal 2).“ Berdasarkan titik tolak pandangan bahwa peran utama perempuan adalah dalam keluarga, tidak heran bila dalam pasal-pasal UU Perlindungan Pekerja Perempuan itu terlihat dukungan besar terhadap para pekerja perempuan agar mereka tetap dapat menjalankan fungsinya sebagai ibu, antara lain pasal 76 dan 78 yang bisa dirinci sbb.

• Pekerja perempuan berhak atas cuti hamil dan melahirkan, serta berhak mendapatkan fasilitas pengasuhan anak selama jam kerja.
• Hak cuti hamil dan melahirkan adalah 90 hari, dan bila pekerja perempuan melahirkan tidak secara normal, hak cuti ditambah 14 hari.
• Tempat kerja yang memiliki pekerja perempuan, harus memberikan setengah jam dalam setiap tiga jam, kepada perempuan untuk menyusui anaknya, sampai si anak berusia dua tahun dan setengah jam cuti itu harus dihitung sebagai jam kerja
• Tempat kerja harus menyediakan tempat pengasuhan/penitipan anak sesuai dengan kelompok umur anak-anak tersebut.
• Setelah melalui masa cuti hamil/melahirkan, pekerja perempuan berhak kembali pada posisi/jabatannya semula dan mutasi kepegawaian tidak boleh dilakukan terhadap si perempuan dalam periode cuti tersebut.

b. Konsesi (yang dianggap) Negatif

Ada tiga poin dalam UU Ketenagakerjaan yang dianggap sangat diskriminatif terhadap perempuan, dan hal ini pula yang menjadi salah satu isu besar yang diangkat oleh Shirin Ebadi, pemenang Nobel Perdamaian tahun 2003. Ketiga poin itu adalah sbb.

1. Perempuan dilarang menjadi hakim.
Dalam UUD RII tidak secara spesifik disebutkan gender seorang hakim, yaitu sbb.
Pasal 163 [Kualifikasi]
Kondisi dan kualifikasi yang harus dipenuhi oleh seorang hakim akan ditetapkan oleh undang-undang, yang sesuai dengan kriteria agama.
Pada tahun 1982, disahkan sebuah aturan pelaksanaan yang berisi bahwa hakim dipilih di antara laki-laki yang memenuhi syarat. Pada tahun 1984, ditetapkan aturan tambahan yang menyatakan bahwa perempuan bisa menjadi penasehat dalam pengadilan keluarga atau kantor urusan perwalian anak. Seiring dengan berlalunya waktu, semakin dirasakan perlunya kehadiran hakim perempuan dalam pengadilan keluarga. Oleh karena itu, disahkan revisi aturan pada tahun 1995 yang memberikan izin kepada Ketua Mahkamah Agung untuk mengangkat perempuan yang memenuhi syarat sebagai hakim yang memegang jabatan-jabatan berikut ini:
• Penasehat hukum pada Dewan Tinggi Peradilan Perkantoran
• Hakim pada Pengadilan Keluarga
• Hakim investigasi serta hakim dalam bidang penelaahan dan penyusunan hukum peradilan,
• Hakim pada Kantor Perwalian Anak dan kantor-kantor lain yang memerlukan pos hakim.
Catatan: hakim perempuan (hingga saat ini) tidak bisa menjabat sebagai ketua pengadilan.

2. Perempuan dilarang menjadi tentara.

Berdasarkan Pasal 32 UU Militer dan Pasal 20 Aturan Personalia Sepah-e Pasdaran-e Enqelab (tentara garda revolusi yang khusus bertugas menjaga kemurnian Revolusi Islam Iran), yang disahkan tahun 1991, disebutkan bahwa perempuan tidak boleh bergabung dalam ketentaraan, selain sebagai tenaga medis. Namun, terbuka peluang bagi kaum perempuan untuk aktif dalam kegiatan semi-militer, yaitu dalam angkatan Basij (tentara rakyat) serta dalam Angkatan Kepolisian

3. Perempuan dilarang bekerja bila tidak mendapat izin suami.

Pasal 1117 UU Madani menyebutkan bahwa, “Seorang suami berhak untuk melarang istrinya bekerja, bila si suami memandang bahwa pekerjaan yang dilakukan istrinya itu bertentangan dengan kemaslahatan rumahtangga atau mengganggu harga diri dirinya atau harga diri istrinya.”

Namun demikian, sesungguhnya hak yang sama diberikan kepada perempuan Iran, yaitu pasal 18 UU Perlindungan Keluarga, yang menyatakan bahwa istri berhak mengajukan keberatan atas pekerjaan yang dilakukan suaminya dan pengadilan akan mengeluarkan surat larangan melakukan pekerjaan tersebut kepada suami, seandainya terbukti di pengadilan bahwa memang pekerjaan tersebut bertentangan dengan kemaslahatan keluarga atau harga diri dari kedua pihak. Bahkan, bila surat keputusan larangan dari hakim itu telah dikeluarkan dan si suami tetap berkeras melanjutkan pekerjaannya itu, UU Pernikahan menyebutkan bahwa perempuan berhak untuk menuntut cerai.

Selain itu, terkait dengan pekerjaan seorang istri, konsesi besar diberikan kepada istri atas penghasilan yang diperolehnya. Pasal 1118 UU Madani disebutkan, “Istri berhak secara independen dalam memanfaatkan harta yang dimilikinya sendiri sesuai dengan kehendaknya sendiri.”

Bab IV: Perempuan Iran dalam Statistik

Dari Gambar 1. di bawah ini, terlihat bahwa sejak awal revolusi RII terus menunjukkan kemajuan indeks HDI-nya. Bahkan pada sejak sebelum tahun 2000 (sekitar tahun 1998) peningkatan indeks HDI RII mulai melebihi peningkatan indeks HDI negara-negara lain di dunia. Sedangkan jika dibandingkan dengan negara-negara yang berada dalam regional yang cukup dekat dari RII, yaitu Asia selatan, RII menunjukkan keunggulan. Sebaliknya, pada masa pra-revolusi (1975-1979) indeks HDI Iran cenderung stagnan. Demikian pula pada tahun 1980, dimana pada saat itu sedang terjadi masa transisi antara masa pra-revolusi dan masa revolusi Islam Iran.
Bila dibandingkan dengan negara-negara yang cukup dekat secara regional dengan RII, yaitu Asia selatan, HDI value Iran masa pra-revolusi lebih tinggi dan pada masa RII menjadi semakin jauh lebih tinggi. Dari grafik terlihat pula bahwa laju peningkatan HDI value RII, terutama antara tahun 1980 hingga 1995, lebih besar daripada laju peningkatan HDI value negara-negara lain di dunia dan juga jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia selatan (kemiringan grafik RII lebih besar daripada kemiringan grafik untuk dunia dan untuk Asia selatan).

Pada masa antara tahun 1990 hingga tahun 1995 RII menunjukkan laju peningkatan HDI value yang tertinggi. Tapi bahkan pada antara tahun 1980-1990 pun cukup tinggi, meskipun, perlu diingat bahwa antara tahun 1981 hingga 1989 RII mengalami masa perjuangan / perang mempertahankan diri dari serangan Irak yang didukung oleh kekuatan Barat.

Pada tahun 2004, Republik Islam Iran menempati ranking ke 101 dari 177 negara (Indonesia: rangking ke 111). Ini menunjukkan konsistensi RII dalam pembangunan negara.

Sebagaimana telah disebutkan pada mukadimah, salah satu komponen dalam penetapan value HDI adalah GEM (Gender Empowerment Measures) dan GDI (Gender-related Development Index). Berikut disarikan pula dalam Tabel 1. terkait GEM untuk membandingkan kondisi perempuan Iran dengan kondisi di beberapa negara muslim lain.

Gambar 1. Grafik kecepatan peningkatan HDI RII dibandingkan dengan negara-negara di Asia selatan dan di dunia

Tabel 1. GEM Beberapa Negara Muslim di Dunia
Sumber grafik dan tabel: Human Development Report-UNDP tahun 2004
(catatan: dalam laporan yang sama, tingkat pendapatan perkapita Iran adalah US$6.690 dan menempati peringkat ke-70 dari 175 negara)

Dari Tabel 1. di atas, ada beberapa kesimpulan yang bisa diambil, yaitu:
1. Perkiraan tingkat pendapatan perempuan Iran, yaitu USD 2,835 PPP, terhitung kelas menengah (menempati ranking ke-80 dari 175 negara), namun masih lebih rendah bila dibandingkan dengan Saudi Arabia atau Oman. Hal ini bisa terjadi karena secara umum, pendapatan perkapita di Saudi Arabia jauh melampaui Iran, yaitu mencapai US$12.650.
2. Rasio pendapatan laki-laki dan perempuan di Iran masih rendah (bila dibandingkan dengan Indonesia, Mesir, Pakistan, Jordan), karena secara umum memang jumlah tenaga kerja perempuan Iran masih lebih sedikit dibanding jumlah tenaga kerja perempuan di Indonesia, Mesir, Pakistan, Jordan.
3. Jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah – Afrika (Saudi Arabia, Mesir, Yemen ) tingkat partisipasi perempuan Iran di parlemen tergolong tinggi, ini menunjukkan besarnya kemampuan perempuan Iran, perhatian perempuan Iran terhadap masyarakatnya, juga konsistensi implementasi dari konstitusi Iran.
4. Jumlah administrator dan manajer perempuan di Iran lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah-Afrika (Bahrain, Mesir, Arab Saudi, Yaman), ini menunjukkan kemampuan perempuan Iran dan kesempatan yang diberikan oleh masyarakat (keluarga, suami) dan oleh pemerintah Iran.
5. Sebagai pekerja profesional dan teknik, perempuan Iran juga lebih maju dibandingkan dengan perempuan di negara-negara lain di kawasan Timur Tengah – Afrika (Arab Saudi dan Mesir–juga Turki), ini akibat kemajuan pendidikan untuk perempuan di Iran yang terutama dinikmati perempuan Iran sejak revolusi Iran, juga berkaitan dengan kesempatan yang diberikan oleh pemerintah dan masyarakat Iran bagi perempuan Iran dalam dunia kerja.

Perlu dicatat di sini bahwa indikator GEM adalah berlandaskan pada paradigma Barat yang mengukur kemajuan perempuan dari sisi keikutsertaan mereka dalam lapangan pekerjaan. Padahal, dalam paradigma Islam yang dianut oleh Republik Islam Iran, indikator keberhasilan perempuan adalah keberhasilannya dalam membangun sebuah keluarga yang sehat. Dalam paradigma yang dianut di RII, perempuan dipersilahkan untuk mengaktualisasikan kemampuannya di lapangan pekerjaan dengan tetap mengingat bahwa tugas utamanya adalah sebagai pembangun unit terkecil (dan terpenting) dalam masyarakat, yaitu keluarga.

Dengan menganut paradigma seperti ini, kebijakan pemerintah RII bukanlah membuka lapangan pekerjaan di perkantoran seluas-luasnya kepada perempuan dan menjauhkan perempuan dari keluarganya, melainkan lebih pada upaya pemberdayaan perempuan untuk membangun industri rumah tangga.

Lebih jauh lagi, indikator GEM/GDI justru bertentangan dengan trend perempuan Barat yang (dianggap) maju. Menurut Family and Home Network tahun 2002, dari 13 survei polling di Amerika tahun 1991-1997 mengenai ”Keseimbangan antara Bekerja dan Keluarga” menunjukkan trend kaum perempuan untuk ‘kembali ke rumah’. Suatu survei menyebutkan 41% dari 1101 responden wanita menyadari bahwa ”model keluarga ayah bekerja dan ibu tinggal di rumah” adalah terbaik untuk membesarkan anak. Survei kedua menyebutkan, andai boleh memilih, hanya 4% dari 18.000 responden wanita memilih kerja penuh waktu, 61% memilih kerja paruh-waktu, dan 29% tidak memilih bekerja. Sekitar 56% justru berprinsip ”lebih baik buat anak jika ibu tidak bekerja”.

Polling yang dilakukan di Iran juga menunjukkan fakta bahwa kebanyakan perempuan Iran merasa puas dengan menjadi ibu rumah tangga murni. Ketika ditanyakan kepada responden, apakah interes terpenting dalam hidup mereka, 36,6 % menjawab ‘anak’, 33 % ‘pekerjaan’, 13,5 % ‘isu politik’, 12 persen ‘hak perempuan dalam masyarakat’, dan 5% ‘keamanan’. Ketika ditanya mengenai pandangan mereka tentang kehidupan, 67% menyatakan optimis, 24 menyatakan ‘agak optimis’, dan 9% menyatakan kecewa.

Bab V: Kesimpulan

Konstitusi dan berbagai UU di Republik Islam Iran memperlihatkan keberpihakan kepada perempuan. Implementasi dari Konstitusi dan UU ini memperlihatkan hasil yang di antaranya bisa dilihat dari HDI value keluaran PBB (UNDP), yaitu bahwa sistem Islam sama sekali tidak menghalangi kemajuan suatu masyarakat. Selain itu, sistem Islam justru memiliki nilai plus, yaitu selain mendorong kemajuan perempuan (melalui peningkatan taraf pendidikan dan kesehatan, serta pemberian kesempatan kerja dan beraktivitas sosial), juga ada sistem yang mengontrol agar kaum perempuan tetap melaksanakan kewajiban utamanya sebagai pembangun keluarga.

Catatan Penulis

Dari paparan di atas, ada beberapa poin yang merupakan kesimpulan subyektif penulis, yang menurut penulis cukup penting untuk dituliskan di akhir makalah ini, yaitu sbb.
1. Meskipun kekuasaan tertinggi dalam RII dipegang para ulama, pintu diskusi selalu terbuka dan tidak pernah ada yang disebut sebagai keputusan sakral yang berlaku sampai akhir zaman. Sebagai contoh konkrit, meskipun telah ada aturan yang melarang perempuan sebagai hakim, usaha gigih kaum perempuan Iran berhasil membuka pintu (meskipun masih kecil) peluang bagi mereka untuk berkecimpung dalam dunia yustisia. Begitu pula untuk berbagai masalah lain, selalu ada peluang diambil ijtihad baru oleh para ulama.
2. Peluang untuk pengambilan ijtihad oleh para ulama membuat perempuan Iran memiliki ruang gerak untuk berpikir, berinovasi, dan mengkritisi situasi kaumnya dengan cara ilmiah dan proporsional.
3. Prinsip utama yang dipegang oleh RII, yaitu bahwa tugas dan peran utama perempuan adalah membangun keluarga, yang merupakan pondasi sebuah masyarakat, adalah prinsip yang akan menghindarkan kaum perempuan Iran terjebak dalam indikator-indikator semu kemajuan perempuan (semisal GEM/GDI).
4. Terkait dengan poin 3, para pekerja perempuan Iran diuntungkan oleh fasilitas yang wajib disediakan untuk mereka terkait kehamilan, melahirkan, dan menyusui anak. Problema anak merupakan problema terbesar yang dialami pekerja perempuan Indonesia, yang seringkali terpaksa menghentikan pemberian ASI demi pekerjaan.
5. Meskipun masalah jilbab tidak disinggung dalam makalah ini, namun poin ini termasuk hal penting untuk diperhatikan. Kewajiban penggunaan jilbab di Iran jelas merupakan keuntungan besar lain bagi kaum perempuan Iran. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua perempuan Iran setuju dengan jilbab dan sehari-hari bisa dilihat, terutama di kota-kota besar Iran, banyak dari mereka yang asal-asalan berjilbab. Namun kewajiban ini memiliki dua keuntungan:
• Bila tidak diwajibkan, kondisi sosial akan memburuk (timbul pelecehan terhadap perempuan dan terancamnya keamanan perempuan).
• Dengan adanya kewajiban berjilbab, semua perempuan yang memang ingin berjilbab memiliki kebebasan untuk memilih profesi apa saja, dan boleh menggunakan jilbab di segala tempat, termasuk di tempat-tempat yang (konon) membahayakan bila perempuan ‘terlalu menutupi tubuh’, seperti di laboratorium (sebagaimana alasan yang pernah dikemukakan pemerintah Inggris dalam melarang pelajar perempuan menggunakan jilbab).

6. Belajar dari situasi di Iran, penulis melihat diperlukannya kelapangan hati para ulama dan pengambil keputusan di Indonesia untuk menerima dengan jernih segala protes dan keberatan hati yang diajukan oleh aktivis perempuan Indonesia yang prihatin atas kondisi kaumnya. Tanpa adanya perlindungan hak terhadap kaum perempuan, tidak akan tercipta masyarakat yang sehat, baik itu berlabel relijius atau tidak

Teheran, 16 Agustus 2005
©dinasulaeman

Benarkah Pluralisme Kehendak Tuhan? Nov 16, ’06 9:56 AM
for everyone
Category: Other
Artikel ini tanggapan dari tajuk rencana Padang Ekspres 18 Juli tahun 2003 yang mengutip ketua MUI Sumbar, bahwa “pluralisme (agama) adalah kehendak Tuhan.”Dimuat di Padang Ekspres bulan yang sama (tanggal pastinya, saya lupa, udah lama banget sih).(Bagian 1)

Berbicara mengenai pluralisme yang lalu mengenai pluralisme agama, saya jadi terkenang pada ucapan seorang dosen saya di Iran. Dia berkata, “Bila pluralisme agama diterima, berarti, tidak ada agama yang benar di dunia ini.”

Mengapa? Karena, spirit pluralisme adalah menerima kebenaran semua agama. Padahal, setiap agama meyakini kebenaran ajarannya dan menolak ajaran agama lain. Di dalam ajaran agama A, ada penolakan terhadap kebenaran agama B. Berarti, menurut agama A, agama B adalah salah. Sebaliknya menurut agama B, ajarannyalah yang benar, ajaran agama A yang salah. Kesimpulannya, bila kita menerima kebenaran kedua agama itu (sesuai dengan spirit pluralisme), artinya, kita harus menerima pula bahwa agama A dan B adalah sama-sama salah.

Untuk membahas lebih lanjut mengenai pluralisme agama ini, kita harus memahami dulu, apa pengertian yang bisa diambil dari istilah pluralisme? Mizbah Yazdi, seorang ulama kontemporer Iran, memberikan empat kemungkinan pengertian atau pemahaman terhadap terminologi pluralisme, yaitu: 1) Tolerasi 2) Kebenaran adalah sebuah hakekat yang memiliki wajah yang bermacam-macam dan muncul pada berbagai agama. 3)Kebenaran itu banyak dan bermacam-macam. 4).Tidak ada kebenaran yang utuh. Semuanya hanya merupakan saham yang berpotensi membentuk konfigurasi sebuah kebenaran komprehensif bernama pluralisme.

Dari keempat pemahaman tersebut diatas, hanya konsep toleransi (tasamuh) yang merupakan bagian tak terpisahkan dari agama Islam. Kita bisa melihat dalam catatan sejarah, bahwa di Madinah semasa Rasulullah hidup, kaum Yahudi, Kristen dan Muslim hidup berdampingan. Tidak pernah ada catatan sejarah bahwa Rasulullah memaksa orang lain masuk Islam. Rasulullah hanya mengajak, bahkan Al Qur’an memberi istilah yang lebih halus lagi “Innama anta mudzakir”, sesungguhnya engkau (Muhammad) hanya mengingatkan (pemberi peringatan). Kaum muslimin baru melancarkan perang terhadap kaum Yahudi (dalam perang Khaibar) setelah orang-orang Yahudi itu menghianati perjanjian damai Piagam Medinah.

Sementara itu, ketiga pemahaman lainnya tertolak oleh logika. Para pendukung pluralisme sering mengemukakan argumentasi bahwa kebanaran adalah sebuah hakekat yang memiliki wajah yang berbeda-beda dan muncul dalam berbagai agama. Ucapan Ali bin Abi Thalib sering dinukil sebagai pembenaran. Beliau pernah berkata : “Hikmah itu tersebar di mana-mana”. Memang benar hikmah itu tersebar dimana-mana, bahkan bila kebenaran itu datang dari seorang yang menurut kita bodoh sekalipun, kebenaran itu harus kita terima. Namun, itu tidak bisa disamakan dengan menerima kebenaran semua agama.

Pluralisme berangkat dari epistemologi humanisme yang merelatifkan seluruh konsep kebenaran. Menurut konsep ini, tidak akan pernah ada kebenaran hakiki yang bisa dicapai manusia, dalam hal apapun, termasuk dalam urusan agama. Menurut para pluralis, adalah bohong kalau ada yang mengatakan bahwa telah menemukan kebenaran yang pasti, termasuk misalnya meyakini secara pasti keberadaan Allah Yang Esa.

Dengan memainkan logika sederhana sekalipun, argumentasi relativitas kebenaran ini bisa tertolak. Bila kaum pluralis meyakini bahwa semua kebenaran itu relatif, berarti pada saat yang sama, keyakinan mereka itu pun harus direlatifkan kebenarannya. Artinya, keyakinan “bahwa kebenaran adalah relatif” pun merupakan sebuah kerelatifan, bisa benar, bisa tidak.

Landasan pemikiran bahwa hakekat kebenaran muncul dalam semua agama sangat bertolak belakang dengan konse-konsep pokok ajaran Islam. Ajaran Islam jelas-jelas mengajarkan bahwa ada beberapa kebenarannya yang pasti (tidak relatif), dan itulah yang dinamakan “akidah”. Islam juga mengajarkan bahwa satu-satunya ajaran yang benar adalah ajaran Islam. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa Muhammad SAW adalah nabi terakhir dan Islam adalah syariat paling sempurna (Al-Azhab:40, Al-Maidah: 3), setelah datangnya syariat Islam, agama-agama lain tidak ada artinya (Ali Imran :85), dan dan janji Allah berkenaan dengan superioritas Islam atas agama atau aliran lain (At-Taubah : 33).

Lebih jauh lagi, paham pluralisme agama memiliki sederet konsekwensi logis yang sangat fatal. Sebagaimana yang sudah saya sebutkan diawal artikel ini, konsep pluralisme justru akan membawa manusia kepada penyalahan semua agama. Konsekwensi lainnya adalah sebagai berikut.

Pertama, keyakinan terhadap pluralisme pada akhirnya akan menjauhkan agama dari praktek-praktek ibadahnya. Praktek ibadah menjadi tidak bermakna karena menurut konsep pluralisme, yang penting adalah keyakinan terhadap keberadaan Tuhan (bahkan, menurut John Hick, pencetus pluralisme, yang penting adalah kepercayaan terhadap konsep kebenaran, bukan lagi kepercayaan terhadap adanya Tuhan).

Kedua, pluralisme mengandung kontradiksi logika internal dalam urusan agama. Secara akidah misalnya, pluralisme akan menyeret pengikutnya untuk membenarkan Islam sebagai agama yang meyakini Allah yang satu, dan pada saat yang sama ia juga diharuskan untuk membenarkan Kristen yang meyakini trinitas. Dan sisi ibadah Islam yang mengajarkan haramnya makan daging babi dan minuman keras adalah sama benarnya dengn penganut agama lain yang menghalalkannya.

Ketiga, pluralisme akhirnya akan menyeret orang kepada paham “non-religi”, satu kondisi ketika seseorang tidak lagi beragama karena permisifisme yang ditawarkannya sedemikian luas dan tanpa batas sehingga tidak ada lagi norma-norma agama yang layak untuk dijadikan pegangan.

Dalam Tajuk Rencana Padang Ekspres tertulis “ ….. berkembangnya wacaana pluralisme agama merupakan bagian dan proses sejarah daalam membangun peradaban Sumatera Barat yang lebih siap menghadapi tantangan zaman….pluralisme adalah fakta sejarah yang tidak dapat ditolak. Demikian pula pluralisme di Sumbar. Meskipun daerah ini dikenal dengan sebutan The Land Of Minangkabau, yang memegang falsafah Adat Bersandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah, tetapi tidak dapat menolak pluralisme tersebut …Pluralisme merupakan kehendak Tuhan sekaligus kehendak alam …. “

Menurut saya, wacana pluralisme agama sangat tidak relevan dikembangkan di Sumatera Barat. Pertama, karena secara logika konsep pluralisme ini sudah tertolak. Kedua, karena masyarakat Sumbar cenderung homogen, sehingga tidak mengandung potensi perselisihan antar agama. Ketiga, percaturan politik di Sumbar nampaknya tidak banyak kerkaitan dengan unsur agama. Keempat, tantangan zaman kini justru adalah persaingan yang tidak seimbang antara Barat-Timur. Umat Islam di seluruh dunia dilecehkan, dimiskinkan, ditekan, dijajah, dibodoh-bodohi. Hasil kekayaan alam indonesia diangkut keluar negeridan dinikmati oleh perusahaan asing (dan segelintir pejabat Indonesia) sementara puluhan juta rakyat Indonesia (yang mayoritas muslim) hidup dibawah garis kemiskinan.

Karena itu, daripada memperdebatkan pluralisme, lebih baik para pemimpin Sumbar lebih memperhatikan usaha-usaha memajukan kesejahteraan rakyat. Wacana pluralisme justru kontra produktif bila dikembangkan di Sumbar yang mayoritas muslim. Muslim yang mengenal jatidirinya-lah yang mampu mamajukan Sumbar, bukan muslim menyerah kalah kepada paham-paham asing dan menganggap semua agama benar dan pada akhirnya meremehkan ajaran agamanya sendiri.

(Bagian 2)

Saya hendak berbaik sangka, mungkin pernyataan dalam Tajuk Rencana Padang Ekspres tersebut bisa dimaknai bahwa manusia itu banya dan berbeda-beda kehendaknya. Seperti kata pepatah, rambut sama hitam, tapi pendapat berbeda-beda. Jadi sudah menjadi kehendak Tuhan (sunnatullah), bila di dunia ini ada pluralitas, ada keanekaragaman. Tuhan menciptakan manusia dengan kebebasan untuk memilih keyakinannya sendiri. Tetapi, Tuhan pun sudah memberi petunjuk, maka keyakinan yang paling benar untuk dipilih. Tuhan pula yang melarang kita tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain, apalagi memaksakkan agama. Laa ikraaha fid-diin (tidak ada paksaan dalam agama).

Pendek kata bila rakyat Sumbar tidak saling toleransi dan saling bertengkar satu sama lain, tentu pembangunan akan terhambat. Tetapi, sikap toleransi kita kepada orang lain jelas tidak bisa kita samakan dengan konsep hakiki pluralisme. Bila yang dimaksudkan adalah toleransi, tentu sebaiknya kita menjauhkan diri dari penggunaan istilah pluralisme. Pluralisme adalah sebuah paham yang akar-akarnya bisa ditarik sejak mas renaissance antara abad ke-14 sampai abad ke 16, dan gerakkan protestanisme abad ke-16

Di kala itu, kekuasaan gereja yang amat dominan dan mengekang kebebasan pribadi masyarakat Eropa membuat timbulnya gerakkan penentangan terhadap gereja. Penentangan dan pembunuhan massal yang terjadi di Eropa akibat pemaksaan ajaran agama kristen ortodoks di masa itu membuat sekelompok politisi memunculkan paham liberalisme politik yang bertumpu pada sikap toleran dan pemisahan urusan agama dengan urusan negara. Liberalisme agama memiliki beberapa karakteristik, antara lain penerimaan atas penafsiran baru terhadap ajaran agama dan penekanan terhadap paham bahwa masalah asasi dalam beragama adalah pengalaman pribadi, bukan akidah, hukum syar’i, atau peribadatan.

Paham liberalisme agama ini terus berkembang dan pada abad ke-20, lahir paham inklusivisme yang dicetuskan oleh seorang teolog bernama Karl Reiner (1904-1984). Dia menentang konsep eksklusivisme Kristen yang menyatakan bahwa umat manusia yang selamat (masuk surga) adalah mereka yang telah mengikuti proses penebusan dosa Isa Al Masih yang dilambangkan dengan pembabtisan. Reiner menyatakan bahwa pemeluk agama lain yang melakukan kebajikan pada hakikatnya adalah pengikut Al Masih juga dan karenanya berhak masuk surga.

John Hick (lahir 1922), seorang teolog Protestan asal Inggeris, tidak puas dengan konsep inklusivisme yang masih “Al-Masih-sentris” itu. Menurutnya, semua agama akan bisa mencapai surga asal mereka mempercayai adanya Tuhan, baik itu Allah, Tao, Brahma, dan sebagainya. Menurut Hick, orang-orang yang selamat adalah mereka yang melakukan perubahan dalam dirinya dan ini terjadi ketika manusia menghadapkan diri kepada Tuhan. Pendapat Hick ini kemudian berkembang menjadi lebih jauh lagi, yaitu manusia yang selamat adalah mereka yang berbuat baik, meskipun tidak mempercayai Tuhan. Hick pun bahkan memasukkan komunisme ke dalam kelompok ajaran yang membawa keselamatan. Atas pendapatnya ini, Hick kemudian disebut sebagai Bapak Pluralisme Agama.

Anehnya, Hick dan pengikutnya sama sekali tidak bersuara ketika Salman Rushdie, penulis Inggeris, menulis buku menghina Nabi Muhammad SAW, atau ketika pelajar-pelajar muslim di Inggeris dihalang-halangi untuk mengenakan jilbab di sekolah, atau ketika pengikut sekte David Koresh di Amerika dibunuhi oleh tentara AS. Padahal menurut pluralisme yang membenarkan semua agama, tidak ada hak siapapun untuk menghina nabi agama lain, melarang orang lain membentuk sekte apapun sesuai dengan keyakinannya. Tampaknya, para pendekar pluralisme baru berteriak ketika ada sebuah daerah atau negara yang berniat menjalankan syariat Islam, atau ada orang Kristen atau Yahudi yang berselisih dengn orang Islam. Bila orang-orang non-Islam ingin menyebarkan pahamnya kepada dunia Islam, mereka akan bertopeng di balik pluralisme. Namun sebaliknya, bila ajaran Islam hendak ditegakkan (bahkan oleh individu sekalipun, bukan dalam sebuah gerakan terorganisasi), bendera pluralisme dikibarkan untuk menghalang-halanginya.

Pluralisme bukanlah kehendak Tuhan. Ia adalah sebuah komoditas politik yang digunakan oleh kekuatan-kekuatan besar untuk menghegemoni dunia.*

©dinasulaeman

Rahasia Kemenangan Hizbullah Nov 15, ’06 11:10 PM
for everyone

Category: Other
Rahasia Kemenangan Hizbullah
(pernah dimuat di harian Padang Ekspres)Perang Lebanon telah usai. Meski menorehkan banyak luka, derita, dan kehilangan, rakyat Lebanon menyambut kemenangan ini dengan suka cita. Masyarakat Dunia Arab juga gembira. Kemenangan Hizbullah melawan agresi Israel, yang sering disebut-sebut sebagai kekuatan militer nomor satu di Timur Tengah, seolah-olah telah mengembalikan muka Dunia Arab. Sebagaimana diketahui, pada tahun 1967 Israel secara tiba-tiba melakukan serangan terhadap wilayah Mesir, Syria, Jordan. Hanya dalam waktu enam hari, ketiga negara yang menjadi representasi perlawanan bangsa Arab terhadap Israel itu, kalah telak. Namun kini, sebuah kekuatan milter yang sederhana dari segi peralatan tempur ternyata tidak bisa dikalahkan Israel, meski rezim ini sudah menghabiskan dana antara 95-115 juta dollar AS per hari selama 34 hari perang. Bukan hanya Dunia Arab, Dunia Islam secara umum pun bangkit harga dirinya dan meraih keyakinan kembali bahwa Israel bukanlah negara tak terkalahkan, sebagaimana yang selama ini menjadi mitos.Analis militer Iran, Doktor Ala’i, menyimpulkan bahwa anggota pasukan Hizbullah memiliki tiga karakteristik penting yang menjadi kunci kemenangannya dalam perang ini. Hizbullah memiliki pasukan yang tidak takut mati dan menganggap bahwa kematian syahid adalah tujuan hidup; telah menjalani latihan militer yang sangat ketat; dan mengenali dengan baik setiap sentimeter medan perang. Kekalahan Israel sesungguhnya dimulai ketika mereka mengirimkan pasukan darat ke dalam kawasan Lebanon selatan. Medan peperangan yang berbukit-bukit, bersemak, dan berpohon-pohon, memberikan kesempatan bagi Hizbullah untuk memenangkan perang. Di televisi diperlihatkan, suatu saat suatu kawasan sudah dibombardir habis oleh pesawat Israel, dan secara teori, seharusnya semua pasukan Hizbullah yang berada di kawasan itu tewas. Namun tiba-tiba dari dalam tanah, bermunculan tentara Hizbullah dan melakukan serangan balik kepada tentara darat Israel.

Analisis politik Iran lainnya menyebut bahwa kunci kemenangan Hizbullah adalah solidnya pasukan dan rapinya jaringan komunikasi selama perang berlangsung. Hizbullah sama sekali tidak bisa ditembus oleh mata-mata Israel, yang sudah sangat terkenal kehebatannya itu. Bisa dipastikan, hal ini bersumber dari dukungan rakyat. Konon, setiap keluarga warga Lebanon selatan salah satunya pasti menjadi anggota Hizbullah, baik aktif maupun pasif. Kesolidan pasukan Hizbullah juga membuat saluran komunikasi dari panglima tertinggi hingga ke pasukan terdepan tidak bisa diputus oleh Israel. Selain itu, penghubung komunikasi antara Hizbullah dengan rakyat Lebanon, yaitu televisi Al Manar, tetap mengudara selama perang. Padahal, Israel telah membombardir banyak situs yang disangka sebagai pusat penyiaran televisi ini, termasuk stasiun televisi nasional Lebanon.

Kini, ketika perang usai, Hizbullah masih terus menjadi berita. Pasalnya, organisasi militer ini bergerak cepat untuk membantu rakyat Lebanon korban perang. Mereka memberikan bantuan uang 12.000 dollar AS untuk tiap keluarga yang kehilangan rumah, yang digunakan untuk menyewa rumah selama setahun, sampai rumah mereka kembali dibangun. Para anggota Hizbullah yang semula angkat senjata, kini tengah sibuk bekerja membangun atau memperbaiki kembali berbagai sarana fasilitas umum yang rusak akibat perang, dan setelah itu mereka merencanakan akan membangun kembali rumah-rumah yang hancur. Selain pasukan Hizbullah, diperkirakan, ada sekitar 1000 tenaga profesional, terutama insinyur teknik, yang menjadi sukarelawan dalam program rekonstruksi yang disebut dengan Jihad Al Bina (Jihad Pembangunan) ini.

Gerak cepat Hizbullah ini, tak urung menimbulkan kekhawatiran dari negara-negara Barat, sebagaimana dilansir Financial Times (27/8). Koran ini bahkan menyebut Perancis telah menyeru negara-negara Arab agar segera mengumpulkan dana rekonstruksi Lebanon, supaya tidak ketinggalan dari ‘kekuatan radikal’. Meskipun disanggah oleh Hizbullah, banyak pihak yang mengira, sumber dana besar yang dimiliki organisasi militer itu berasal dari Iran. John Bolton, Duta Besar AS untuk PBB seperti dikutip Associated Press (28/7), menyatakan bahwa Iran membantu Hizbullah 100 juta dolar pertahun.

Menurut pengamatan saya, angka 100 juta dolar pertahun itu sulit dipercaya. Kondisi perekonomian Iran saat ini tidaklah memungkinkan untuk mengirim bantuan dalam jumlah yang sedemikian besar kepada Hizbullah. Iran bukanlah negara kaya. Menurut Bank Dunia, pendapat per kapita Iran saat ini rata-rata 2429 dollar dolar dan berada di urutan ke-99 negara dunia. Pemerintah negara ini masih harus berjuang menyelesaikan banyak masalah dalam negeri, terutama masalah pengangguran (11 persen) dan inflasi (yang saat ini masih di atas 10 persen). Pemerintah Iran juga masih harus menanggung subsidi yang sangat besar pada berbagai sektor ekonomi nasional.

Lalu, dari manakah sumber keuangan Hizbullah yang sedemikian besar itu? Saya menduga, sumbernya adalah mobilisasi dana kaum Syiah seluruh dunia, yang dikelola oleh para ulama mereka. Di dalam mazhab Syiah, dikenal zakat penghasilan (disebut khumus) sebesar 20 persen pertahun, yang harus langsung diserahkan kepada para ulama tertentu yang memiliki predikat marji’ (rujukan). Setahu saya, di Iran minimalnya ada sembilah ulama berstatus marji’ (antara lain, Ayatullah Khamenei, Ayatullah Lankarani, Ayatullah Behjat), di Lebanon ada satu ulama marji’ bernama Ayatullah Muhammad Husein Fadhlullah, dan dari Irak dikenal nama Ayatullah Sistani. Bisa dibayangkan, betapa besar dana zakat dari seluruh penjuru dunia yang berada di tangan para ulama itu. Dana besar itu dimanfaatkan sesuai dengan pertimbangan para ulama tersebut. Sangat masuk akal bila Hizbullah menjadi salah satu tempat penyaluran dana itu, yang pada gilirannya dimanfatkan organisasi militer itu untuk kepentingan korban perang di Lebanon.

Terlepas dari masalah siapa yang memberi dana kepada Hizbullah, seharusnya dunia Islam tidak tinggal diam dalam melihat proses rekonstruksi di Lebanon. Sangat miris bila diingat bahwa justru Perancis yang menyerukan agar negara-negara Arab mengumpulkan bantuan (terlepas dari apa motivasi Perancis di balik seruan ini). Sebagaimana diungkapkan di awal tulisan ini, kemenangan Hizbullah telah menyelamatkan muka dunia Arab, karena itu sudah seharusnya mereka berterima kasih dengan cara membantu proses rekonstruksi. Terlebih lagi, seperti dikatakan seorang analis politik Iran, bila dunia Arab dan dunia Islam pada umumnya bersatu membantu Lebanon, secara politis, Israel akan semakin tersudut. Terakhir, mengapa ‘siapa yang membantu Hizbullah’ harus dipermasalahkan, sementara AS dibiarkan setiap tahun secara terang-terangan menyuplai 2,2 milyar dollar ke Israel?

©dinasulaeman

Negeri Tanpa Musik Sep 13, ’06 6:37 AM
for everyone

Category: Books
Genre: Childrens Books
Author: Renny Yaniar
–> kalo ini sih bukan published_writing ya:)
Apa jadinya bila di suatu negeri, Sang Raja melarang rakyatnya bernyanyi dan bermusik?
Negeri Biru Gunung jadi sunyi. Tidak ada lagi petani-petani yang bernyanyi sambil bekerja… Sikap rakyat Biru Gunung pun berubah. Mereka tak lagi ramah dan menyenangkan. Mereka jarang tersenyum dan hanya bicara seperlunya…

Saya ingat, dulu waktu kecil, cerita-cerita tentang kerajaan dan putri raja, benar-benar membawa saya berimajinasi ke dunia lain. Mungkin sekarang sudah tiba giliran putri saya, Kirana, untuk juga mengkhayalkan dunia lain itu. Selama ini saya belum pernah membacakannya cerita tentang raja dan putri raja versi Indonesia, paling-paling Cinderella dan sejenisnya.

Kini, membaca buku Negeri Tanpa Musik yang diberi gambar-gambar yang indah dan sangat menarik (apalagi gadis cilik seperti Kirana, pasti suka sekali melihat gambar Putri Imana yang cantik), dengan kalimat pendek-pendek yang mudah dipahami, Kirana terlihat enjoy.

Ide cerita dalam buku ini pun unik. Ya, apa jadinya kalau kita tidak boleh bernyanyi? Wah, gadis cilik yang suka bernyanyi, pasti akan berimajinasi ke sana-kemari. Untung saja, di akhir cerita, rakyat negeri Biru Gunung diperbolehkan menyanyi dan bermusik kembali.

Buku ini semakin menjadi special bagi kami karena… dikirim langsung oleh pengarangnya, Mbak Renny Yaniar (via teman saya yang mau ikut seminar di Tehran).

“Terimakasih Tante Renny,” kata Kirana.


Narges [sinetron di tivi Iran] Sep 12, ’06 2:12 PM
for everyone

Category: Movies
Genre: Drama
–> hehehe.. yang ini juga bukan published_writing loh:)Sejak awal musim panas ini, di channel tiga tivi Iran diputar serial sinetron berjudul Narges
Ratingnya nomor satu. Saking populernya film ini, jalanan kota terasa lengang tiap jam 22.45 malam. Bahkan, Ketua Parlemen yang sedang pidato pun (ralat: pidatonya bukan dlm rapat parlemen, tapi di depan warga sbh kota, saat dia lagi kunjungan daerah) berkata, “Saya akan singkat saja berpidato, supaya Anda sekalian bisa segera pulang untuk menonton Narges.” Pertandingan Liga Spanyol Barcelona VS Ossasona (di tim itu yang ada pemain Iran-nya–dalam situasi lain, akan ‘wajib’ disiarkan secara live), demi Narges, tidak disiarkan. Tua-muda-laki2-perempuan, hampir semua terbius oleh sinetron Narges.. termasuk.. Kirana!
Ada kisah sedih juga, pemeran Narges (nama tokoh utama perempuan) bernama Poupak Goldarreh (lihat foto yg dibawa oleh ibu berkerudung putih) tewas dalam kecelakaan lalu lintas. Akibatnya, di tengah2 film, pemerannya diganti oleh orang lain.

Ceritanya tentang percintaan dua anak muda, Nasreen dan Behrooz. Nasreen (adiknya Narges) adalah anak pensiunan guru, dia kesal pada kehidupannya yang sederhana. Sementara Behrooz yang anak orang kaya, justru memberontak pada kehidupan bergelimang harta yang ternyata tidak memberi kebahagiaan.

Percintaan Nasreen dan Behrooz ditentang habis-habisan oleh kedua keluarga, terutama oleh Narges, si kakak yang salihah. Konflik berkembang ke sana-kemari (kepanjangan kalo diceritain semua), pokoknya seru abis deh. Meski tetap menjaga hijab dan aturan syariat, terbukti bisa juga diproduksi film yang keren (di film itu juga gak ada khutbah sana-sini atau idiom2 agama).

Yang menarik bagi saya adalah saya jadi tahu beberapa hal baru dalam budaya Iran. (ralat: ini hasil liat sinetron, lalu saya nanya2 ke temen2, kenyataan di masyarakat kayak apa, gitu)

1. Ternyata duda di Iran dianggap ‘aib’ untuk melamar gadis, keluarga si gadis umumnya gak bakal mau menikahkan anak gadisnya dengan duda.

2. Ternyata, poligami di Iran susye, bo. Harus ada surat pernyataan dari istri pertama. Tanpa surat itu, istri kedua tidak akan mendapatkan surat nikah resmi dan artinya hak-haknya tidak terlindungi. Artinya, susah dicari perempuan yang mau jadi istri kedua.

3. Tokoh jahat dalam film ini adalah Mahmood Syaukat (bapaknya Behrooz). Galak abis, licik pula. Kaya raya. Punya istri kedua dan mereka menikah sembunyi-sembunyi. Ketika ketahuan sama istri pertama, si Syaukat yang super galak ini kelihatan panik, ngomong terbata-bata, dan mati-matian membujuk istrinya supaya tidak meminta cerai.

Saya benar-benar heran melihatnya. Jadi, saya bertanya pada teman2 orang Iran. Ternyata, punya istri kedua dalam masyarakat Iran dianggap aib dan nama baik si laki-laki di mata masyarakat akan jatuh. Itulah yang ditakutkan oleh Syaukat. Jadi inget temen sekantor saya yang kawin lagi secara sembunyi-sembuyi. Setelah ketahuan dan istri pertama tidak ridho, entah gimana cerita sebenarnya, pokoknya tak lama kemudian dia dipecat dari kantor.

Hmm..sekian review singkat saya.. udah ya..Narges mau mulai neh


Menatap Wajah Hezbollah dari Iran Aug 4, ’06 12:47 PM
for everyone

Category: Other
catatan: bintang lima itu credit dari saya buat Hezbollah loh, bukan buat tulisan saya 🙂Menatap Wajah Hezbollah dari Iran
Oleh: Dina Sulaeman
(dimuat di Padang Ekspres 3 Agustus)
–> sayang websitenya bubar, jadi saya gak bisa nge-linkSejak meletusnya perang di Lebanon, suasana perang amat terasa di Iran, terutama jika kita banyak menonton televisi. Betapa tidak, tiap sebentar diputar filler (film pendek) berisi adegan-adegan perang, dilatarbelakangi lagu-lagu heroik berbahasa Arab. Pidato Sayid Hasan Nasrallah, pemimpin Hezbollah Lebanon, yang berisi ancaman-ancaman terhadap Israel disiarkan live atau siaran tunda. Laporan-laporan reporter televisi Iran disampaikan secara live dari Lebanon, bahkan ada reporter yang melaporkan kondisi terakhir dengan diiringi suara bom beruntutan dan asap hitam di belakang punggungnya. Setiap hari, berita channel satu pukul sembilan malam akan dimulai dengan kalimat, “Perjuangan hari kesekian (ketiga.. ke sembilan..ke duapuluh)…” lalu mengabarkan kondisi terbaru di medan perang.

Pemerintah Mesir, Arab Saudi, dan Jordan menyebut Hezbollah sebagai pengacau dan pencari gara-gara. Rezim Israel, AS, Inggris, dan Kanada menyebutnya sebagai teroris. AS sejak dulu sudah menaruh Hezbollah dalam daftar organisasi-organisasi teroris dunia, setara dengan Al Qaida. Tapi, melihat Hezbollah dari Iran, kita akan menemukan wajah yang berbeda. Foto-foto Sayyid Hasan Nasrullah dipajang di berbagai sudut jalan. Di televisi ditampilkan rekaman demonstrasi-demonstrasi yang berlangsung di berbagai penjuru dunia dengan membawa-bawa bendera Hezbollah dan foto Hasan Nasrallah. Demonstrasi mendukung Hezbollah tidak hanya terjadi di Iran dan negeri-negeri Arab, melainkan juga di Amerika, Australia, Belgia, Perancis, Argentina, Turki, dan lain-lain. Hezbollah kini seolah menjadi icon baru perlawanan terhadap kekejaman Israel. Ketika dunia Islam hanya mampu memberi reaksi seputar resolusi atau demonstrasi, Hezbollah maju dengan senjata.

Siapa Hezbollah sesungguhnya? Organisasi militer ini dibentuk pada tahun 1982, diarsiteki beberapa orang asal Iran, antara lain Doktor Chamran, ahli fisika nuklir Iran keluaran Harvard University. Tujuan pendirian Hezbollah adalah dalam rangka membebaskan kawasan Lebanon selatan yang dicaplok oleh Israel pada tahun 1978. Organisasi ini punya cara kerja yang unik. Di satu sisi memperkuat kemampuan militer, di sisi lain, mereka juga berjuang dalam bidang sosial. Mereka membangun rumah sakit, sekolah, fasilitas umum, dan menanggung kehidupan anak-istri dari pejuang yang tewas dalam perang.

Pada tahun 2000, akhirnya Hezbollah berhasil mengusir keluar tentara Israel dari wilayah Lebanon selatan, meski hanya dengan bekal senjata minim dan tanpa dukungan dari pemerintah Lebanon sendiri. Kemenangan besar ini membuat kharisma Hezbollah semakin mencuat di Timur Tengah, terutama di tengah bangsa Lebanon sendiri. Apalagi, sikap para pemimpin Hezbollah yang tidak ambisius mengejar karir politik, membuat para politikus elit di Lebanon sama sekali tidak merasa terancam oleh keberadaan organisasi militer independen ini.

Bahkan, ketika AS dan sekutu-sekutunya menekan pemerintah Lebanon agar melucuti senjata Hezbollah, Presiden Lebanon, Emil Lahoud berkata, “Bagi bangsa kami, Hezbollah adalah gerakan perjuangan pertahanan nasional dan tanpa mereka, kami tidak akan berhasil membebaskan wilayah kami. Karena itu, kami sangat menghargai gerakan Hezbollah.” Besarnya dukungan rakyat Lebanon terhadap Hezbollah tampak jelas ketika pada 8 Maret 2005 hampir dua juta massa menyambut seruan Sayid Hasan Nasrullah. Pada hari itu, alun-alun Riyadh al-Shulh, Beirut, menjadi panggung demonstrasi akbar anti Amerika dan Zionis, serta dukungan kepada Hezbollah.

Meski tentara Zionis sudah terusir dari seluruh wilayah Lebanon –kecuali kawasan Shab’a– pada tahun 2000, Hasan Nasrullah berjanji bahwa ia akan mengembalikan semua pejuangnya yang ditawan Israel ke pangkuan keluarga mereka masing-masing. Pada tahun 2004, pemimpin Hezbollah itu berhasil memenuhi sebagian janjinya dengan cara pertukaran tawanan, 400 tahanan Palestina dan 59 pejuang Hezbollah ditukar dengan seorang bisnismen Israel, Elhanan Tennenbaum, dan 3 jasad tentara Israel. Hari Rabu (12/7) pasukan Hezbollah menyerang kawasan Shab’a milik Lebanon yang masih dikuasai Israel. Dalam serangan ini, Hezbollah berhasil menewaskan beberapa tentara Israel dan menawan dua lainnya.

Sebagaimana sebelumnya, Hezbollah kali ini juga menuntut dilakukannya pertukaran tawanan, yaitu dengan 8000 tahanan Palestina dan 5000 tahanan Lebanon yang kini menderita penyiksaan di penjara-penjara Israel. Namun kali ini, Israel membalasnya dengan gempuran membabi-buta. Analis militer Iran menyatakan, cepatnya reaksi Israel itu menunjukkan bahwa sebelumnya Israel memang sudah bersiap-siap untuk menyerang, hanya menunggu momen yang bisa dijadikan dalih di depan opini dunia. Ketika serangan tentara Zionis semakin membabi-buta dan dunia menuntut diadakannya gencatan senjata, AS malah menggunakan hak vetonya untuk menghalangi. Masih menurut analis militer Iran, sesungguhnya serangan Israel itu termasuk dalam program AS untuk melucuti Hezbollah dan menduduki Lebanon. Direncanakan, serangan itu hanya akan memakan waktu empat hari.

Namun, AS, Israel, dan dunia tekejut melihat bahwa Hezbollah berhasil mempertahankan wilayahnya meski perang telah berlangsung 20 hari (saat tulisan ini dibuat). Kekuatan persenjataan dan terorganisirnya serangan Hezbollah tak urung membuat Israel dan dunia terperangah. Meski hanya bersenjatakan roket, tanpa tank, helikopter, pesawat F-16, kapal perang, atau artileri, Hezbollah berhasil menembak jatuh pesawat F-16, kapal perang, dan terakhir (31/7) bahkan menghancurkan kapal induk Israel. Hujan roket Hezbollah bahkan berhasil menghancurkan berbagai kota Israel, di antaranya Haifa, yang jaraknya 50 kilo dari perbatasan Lebanon.

Dalam sepanjang sejarah berdirinya negara illegal Israel, belum pernah ada serangan yang berhasil menembus kota-kota utamanya. Tak heran hal ini membuat warga Israel sangat ketakutan. Segera mereka berdemo meminta dihentikannya perang. Anggota parlemen Israel pun bertengkar, sebagian menghendaki perang dihentikan, sebagian menuntut dilanjutkannya perang. Eksodus besar-besaran warga Israel ke luar negeri terjadi, sampai-sampai pemerintah Zionis meminta negara-negara asing agar tidak memberi visa kepada warga Israel yang ingin kabur itu. Tak hanya warga yang ketakutan, koran Kayhan terbitan Iran pun beberapa hari yang lalu memasang foto-foto polisi Israel yang menangis ketakutan di tengah gempuran Hezbollah di kota Haifa.

Sebaliknya, Hezbollah tampil dengan sangat percaya diri. Saya sempat menyimak pidato Sayyid Hasan Nasrullah yang disiarkan live oleh televisi Iran dan beberapa jaringan televisi internasional. Yang paling nyelekit dari pidatonya itu, “Kami tidak butuh bantuan dari manapun. Kami bisa mempertahankan negeri kami sendiri. Kami hanya meminta bantuan dari Allah. Kalian wahai pemimpin bangsa Arab, pikirkanlah nasib kalian sendiri. Pikirkanlah akhirat kalian, bila kalian memang percaya pada akhirat. Pikirkanlah, bagaimana kalian mempertanggungjawabkan sikap kalian yang berdiam diri di depan kezaliman ini.” Pidato ini ditujukan kepada Liga Arab yang sebelumnya (15/7) mengadakan sidang di Kairo. Sidang itu tidak menghasilkan apapun, selain kecaman terhadap Israel atas serangannya ke Palestina dan Lebanon.

Setiap kali ada battle (perang) sengit dan posisi Hezbollah kritis, organisasi militer ini mengirim surat resmi ke Iran, meminta diadakan majelis doa Jausyan-Shaghir (jausyan=pakaian perang shaghir=kecil). Dan, berbagai majelis doa pun digelar. Orang-orang Iran menangis tersedu-sedu membaca doa yang berisi harapan agar Allah melindungi kaum muslimin dari bahaya itu. Tak lama kemudian datang kabar bahwa Hezbollah memenangkan battle itu.

Terakhir, di televisi ditampilkan pula adegan orang-orang Israel yang kalang kabut, berlarian ke bunker. Yang tragis, justru polisi dan tentara Israel pun tampak ikut berlarian ke dalam bunker. Diberitakan, dalam 24 jam, polisi-polisi yang seharusnya menjaga kemanan warga itu hanya keluar dari bunker selama 2 jam, untuk mengambil persediaan makanan. Fakta ini benar-benar menunjukkan kepengecutan mental tentara Israel. Selain itu, juga membuktikan kata-kata Ahmadinejad, bahwa sebuah bangsa tidak perlu senjata nuklir untuk membela dirinya. Yang diperlukan adalah mental kuat bangsa itu sendiri. Terbukti, tentara Israel yang memiliki 200 hulu ledak nuklir malah lari pontang-panting ketika dilempari roket dan kalah telak dalam pertempuran darat. Yang berani mereka lakukan hanya menggunakan pesawat untuk menjatuhkan bom-bom ke berbagai desa dan kota, membunuh rakyat sipil, termasuk perempuan dan anak-anak tak berdosa.

Tehran, 1/8/2006


Partavi az Asrar-e Namaz (Pancaran Cahaya Sholat) Jun 7, ’06 5:49 PM
for everyone
Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Muhsin Qiraati
–> hehehe.. yang ini juga bukan published_writing loh:)Muhsin Qiraati dikenal sebagai ahli tafsir kontemporer Iran. Dia telah menyusun kitab tafsir berjudul Tafsir-e Noor yang formatnya sangat sederhana, tanpa banyak istilah-istilah ‘berat’ sehingga mudah dipahami oleh orang awam. Kalau sedang mengajar tafsir (setiap pekan, Qiraati selalu muncul di channel satu), dia harus ‘didampingi’ papan tulis dengan kapur tulis (menurutnya, kalau tanpa papan tulis konvensional, dia tidak lancar dalam mengungkapkan isi kepalanya:D) dan pelajarannya diselipi gurauan ‘berisi’ di sana-sini.Di antara pembahasan dalam buku Pancaran Cahaya Sholat ini, adalah mengenai ibadah. Menurut Qiraati, ada beberapa pekerjaan yang bisa disebut ibadah (selain ibadah ritual seperti sholat-haji-baca Quran), yaitu sbb:
1.Berpikir tentang kebesaran Allah
2. Bekerja
Rasulullah bersabda, “Ibadah terbagi menjadi 70 bagian. Bagian yang paling mulia adalah mencari rizki yang halal.”
3.Mencari ilmu
Rasulullah bersabda, “Perbuatan seseorang yang keluar dari rumahnya untuk menimba ilmu pengetahuan dalam rangka menolak kebatilan dan membimbing orang-orang yang tersesat sama seperti 40 tahun ibadah.”
4. Melayani masyarakat
5. Berusaha mewujudkan pemerintahan yang adil di muka bumi

Ada poin yang sangat saya sukai, karena sangat berguna—dan harus terus-menerus diingat-ingat:
Hal-hal yang dapat merusak ibadah:
1. Riya’ (melakukan pekerjaan dengan tujuan untuk dipuji orang lain)
2. Ujub (perasaan bangga atas ibadah yang sudah dilakukan, meskipun hanya
disimpan dalam hati)
3. Dosa (dosa akan membakar pahala dari ibadah-ibadah yang kita lakukan)

NB: kalau bisa berbahasa Persia, teks lengkap buku ini dan buku2 karya Qiraati lainnya bisa didownload dari website beliau http://www.qaraati.ir

Nahjul Balaghah for The Children Jun 7, ’06 5:06 PM
for everyone
Category: Books
Genre: Childrens Books
Author: Ali bin Abi Thalib (kw)
–> yang ini juga bukan published_writing loh:)Nahjul Balaghah (=Puncak Kefasihan) adalah kitab yang memuat kata-kata (pernyataan), khutbah, dan surat-surat dari Imam Ali bin Abi Thalib (kw). Konon isinya sangat indah dari segi bahasa (Arab) dan mengandung makna yang sangat dalam, mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari akhlak sampai politik. Terjemahan kitab ini, setahu saya sudah ada dalam bahasa Indonesia (dan sangat-sangat tebal). Dalam buku Nahjul Balaghah for The Children ini, beberapa perkataan Imam Ali terkait alam semesta dan konsep-konsep agama disajikan dalam format kalimat pendek, dalam bahasa Inggris. Satu topik ditampilkan dalam satu lembar dan di sampingnya ada gambar menarik yang sesuai topik itu. Karena pendeknya, orang tua akan “dipaksa” untuk mendongeng (atau memberi penjelasan panjang lebar, serta mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari) terkait dengan topik di tiap halamannya.Di antara isi buku ini adalah sbb.

The Creation

He made the creation
Without any example dan without
the advice of any counsel
or the assistance of a helper

The Earth

He created the earth and suspended it
Retained it without support
Made it stand without legs
And raised it without pillars

The Moon

Then He decorated the heavens
With the stars and the light of the
meteors dan set the shining sun and
the bright moon in an orbit that rolls around

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s