Me Time (Buku 33 Ibu-Ibu)

dina-bunda intanMe Time, ini istilah yang sering dipakai oleh ibuk-ibuk jaman now. Artinya kurang lebih, menyendiri sejenak, ga ngurusin rumah tangga. Tujuannya adalah biar pikiran fresh lagi, biar ga stress, dll.

Eh si Akang kalau saya ngomong soal me time selalu ngomel, “Apa..?? Mama itu udah kebanyakan me time-nya! Papa nih yang butuh me time!”

Hahaha. Lha iya, emang si Akang tipe yang ngurusin keluarga banget. Tak jarang, saat blio ada di rumah dan saya lagi sibuk ngetik-ngetik, blio yang nyediakan makanan (sholawat..semoga demikian selamanya, aamiin..).

Kenapa kok bahas me time? Karena saya baru baca buku berjudul Me Time: Perjalanan Ibu Bahagia.  Buku ini kumpulan tulisan dari 33 penulis, ibuk-ibuk semua.

Continue reading

Advertisements

Dilan dan Ketundukan pada Narasi Mainstream

imam khomeini quote

“Dilan memasang poster Imam Khomeini! Artinya dia itu Syiah! Sesat!”

Sudah bisa diduga, yang nuduh-nuduh Syiah itu (dan yang nge-like) adalah ibuk-ibuk dan bapak-bapak kalangan you know who yang emang demen nuduh-nuduh ga jelas. Musuh utama mereka ini: Syiah, China, Kapir, Liberal, Komunis, dll, dan setiap pihak yang ‘beda’ dari mereka, langsung dikasih stempel demikian.

Yang paling kasian tentu saja Pakde Jokowi, semua stempel itu dilekatkan di keningnya sekaligus oleh kalangan you know who ini. Yang pernah belajar sedikit filsafat pasti tertawa, kok bisa di satu orang menempel beberapa stigma sekaligus yang secara paradigmatik bertolak belakang? Tapi karena yang demen bikin itu stempel justru golongan yang mengharamkan filsafat, pantas saja kalau terjadi kekacauan akut dalam cara berpikir.

Dan, bermunculanlah status, komen, serta tulisan yang membela Dilan dan Pidi Baiq (sang novelis).

Saya awalnya ya agak-agak kasian sama Pidi Baiq. Saya pun membaca novel Dilan, versi e-book gratisan. Tapi dulu saya pernah beli kok novelnya, untuk putri saya (17 thn) yang penasaran pingin baca. Tapi sepertinya karena si putri punya ‘selera tua’ (yang sedang dibacanya saat ini: Dunia yang Dilipat, Yasraf Amir Piliang), novel itu hanya dibacanya beberapa lembar lalu disumbangkan ke rumah baca.

Diceritakan bahwa tokoh Dilan (anak SMA kelas 2, di tahun 1990) memasang poster Imam Khomeini di kamarnya, berdampingan dengan poster Mick Jagger. Mungkin dengan keberadaan poster itu, si penulis (Pidi Baiq) ingin menciptakan citra ‘garang’ atau revolusioner pada Dilan. Meski sebenarnya tidak nyambung juga dengan jalinan cerita keseluruhan, dimana karakter Dilan sama sekali tidak garang, apalagi revolusioner, kecuali ketika pacarnya diganggu orang.

Di novel Dilan, sama sekali ga ada tuh nuansa revolusioner yang diteriakkan Imam Khomeini, “Wahai rakyat tertindas di dunia! Wahai negeri-negeri Muslim. Bangun! Ambilah hak kalian dengan gigi dan cakar kalian!”

Yang ada: “Jangankan Anhar. Kepala Sekolah nampar Lia, KUBAKAR SEKOLAH INI!”

*tepok jidat dan berdoa, semoga anak cowokku ga jadi remaja kayak Dilan*

Lalu, sepertinya si penulis, Pidi Baiq sudah khawatir sejak semula akan ada tuduhan Syiah, di halaman lain (saya lupa nomer halamannya), dia memberikan penjelasan yang malah terasa garing, kurang lebih begini: kekaguman Dilan pada Imam Khomeini tidak terkait dengan mazhab.

Continue reading

Novel “Sapere Aude!”

sapere audeNovel berjudul asing ini tiba di rumah kami pada suatu siang.  Penulisnya Astrid Tito dan Budy Sugandi, diterbitkan Gramedia.

Sapere Aude! Hm, apa artinya? Kata Wiki, sapere aude adalah frasa Latin yang bermakna dare to know (berani untuk tahu), atau dare to be wise (berani untuk bijak) atau dare to think for yourself! (berani untuk berpikir sendiri, tak diatur-atur orang). Frasa ini awalnya digunakan dalam the First Book of Letters (20 BCE), oleh penyair Romawi, Horace. Di novel dijelaskan bahwa sapere aude adalah ‘berani mengambil pilihan/keputusan terbaik’.

Jalinan kisah dalam novel ini, hm… ya cocok sekali buat pemuda-pemudi yang sedang mencari tambatan hati. Di dalamnya juga bertaburan puisi cinta romantis. Bisa jadi template buat kamu yang perlu merayu seseorang, hahaha.

Tokoh utamanya adalah seorang pemuda keren bernama Gilang (soleh, aktivis NU, pintar, dapat beasiswa kuliah di Jerman) yang menjalani hari-harinya di Eropa. Ada beberapa wanita dalam hidupnya, yang siap ‘dipilih’. Yang mana yang dipilih Gilang? Kalau mengikuti logika emak-emak seperti saya, ya harusnya yang dipilih adalah Tajul Bariyah, sudahlah cantik, pintar, salehah, pintar masak, anak aktivis senior NU pulak. Pas kan? Niscaya Gilang dan Tajul akan menjadi keluarga muda NU yang akan berperan dalam menjaga NKRI 🙂

Continue reading

Ngaji Adem Bersama Kiai Ndas

cover kiai ndasJudul : Kiai Ndas (Ngaji Raga, Ngaji Ati, Ngaji Laku)
Penulis : Nurul Huda Haem
Penerbit : Quanta (Gramedia grup), Jakarta, 2017
Tebal : 217 Halaman

Karen Amstrong dalam bukunya “Compassion” (2013:129) menulis, “…betapa jarangnya kita meluangkan tempat untuk yang lain dalam interaksi sosial. Dan, betapa seringnya kita memaksakan pengalaman dan keyakinan sendiri tentang orang dan peristiwa, dan penilaian ketus yang menyakitkan…”

“Meluangkan tempat untuk yang lain”, sebuah frasa yang terasa asing di tengah atmosfer sosial-politik masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Betapa banyak tersebar narasi yang memaksakan pemahaman dan keyakinan kepada pihak lain. Ketika beradu pendapat, umpatan kafir atau munafik demikian mudah terlontar. Narasi agama tidak lagi terasa menyenangkan, mewujud menjadi narasi penghakiman yang menciutkan nyali.

Karenanya, kehadiran buku Kiai Ndas seperti oase yang menyegarkan di tengah suasana beragama yang panas dan penuh hiruk pikuk ini. Buku yang berisi wejangan yang dikemas dalam cerita-cerita singkat ini mengajak pembaca untuk ‘beragama dengan menyenangkan’. Tokoh utama dalam buku ini adalah seorang kiai nyentrik yang suka berkata ‘endasmu!’ (kepalamu!) sehingga dijuluki Kiai Ndas.

Continue reading

Buku Papi

buku papi
Ini Papi saya. Hari ini, tepat tanggal 17 Agustus 2017 beliau merayakan ulang tahun ke-77. Kami, anak-anak Papi, memberi hadiah istimewa berupa buku yang naskahnya ditulis oleh Papi sendiri. Buku ini berisi kumpulan artikel yang ditulis Papi dalam rentang waktu cukup panjang. Karena kadang-kadang diminta mengisi KULTUM (kuliah tujuh belas menit) di masjid usai Subuh, Papi menuliskan naskah ceramahnya itu dan mengumpulkannya dengan rapi selama bertahun-tahun. (Sempat pula lembaran-lembaran naskah itu dijilid dan dikasih kata pengantar, ada niat diterbitkan tapi tak jadi.) Dulu waktu muda Papi memang suka menulis, dan berkali-kali dimuat di koran.
Menurut saya, isinya sangat bermanfaat untuk bahan renungan, serta relevan dengan kondisi bangsa kita hari ini. Jadi, saya dan adik-adik berinisiatif mencetaknya dalam jumlah terbatas untuk dibagikan kepada teman dan kerabat. Saya sendiri yang mengeditnya, supaya lebih enak dibaca (jadi jangan heran kalau ada ‘gaya’ saya di buku ini, seperti biasa, ringan dan lugas karena saya emang ga suka sama yang ruwet-ruwet heuheu..).
Tadi buku itu diserahkan ke Papi sebagai kejutan. Tentu saja beliau senang sekali, tidak menyangka tulisan-tulisannya akhirnya berwujud jadi buku. ❤
Nah, supaya lebih banyak yang membacanya, kami juga mengupload e-book-nya di website.
Cara mendapatkannya, silahkan klik link berikut ini:

Klarifikasi Soal Jilbab Traveler

Di FB ada seseorang yang secara kurang ajar membuat fitnah atas saya terkait tulisan saya di buku Jilbab Traveler yang dieditori Asma Nadia. Saya merasa perlu menulis klarifikasi karena berpotensi merugikan orang lain, yaitu Asma Nadia, meskipun dia bukan teman dekat (sebatas hubungan antara penulis-editor), bahkan dia bukan friend FB saya. Saya me-remove Asma dari friend FB saya setelah dia menjadikan Jo***  sebagai partner promosi bukunya. Buat saya, it’s a big no-no. Saya juga sudah meremove ratusan orang lainnya dari pertemanan FB yang hobi menyebar status-status fitnah, baik produksi Jo***, maupun produksi media-media-mengaku-Islam. Saya benar-benar merasakan pahitnya difitnah, jadi sikap saya me-remove pendukung fitnah adalah bentuk solidaritas saya kepada para korban fitnah lainnya.

Tapi saya benar-benar berempati pada Asma Nadia atas ‘nasib’-nya hari ini. I’ve been there, since 3 years ago 😦 Sejak tahun 2011 akhir, saya mulai aktif menulis soal Suriah dan ini sebenarnya biasa saja buat saya; karena saya memang sejak 2007 mulai mendedikasikan diri menjadi peneliti dan pengamat Timur Tengah. Suriah hanya satu dari sekian banyak tulisan saya yang lain soal Timteng. Namun khusus Suriah, rupanya tulisan saya sangat mengganggu situs-situs berlabel Islam yang menjadi pendukung utama jihad Suriah (dalam rangka merekrut “mujahidin” dan menggalang dana bantuan untuk “mujahidin). Jadi, siapapun yang anti-jihad Suriah akan mereka tuduh Syiah dengan dilengkapi definisi dan deskripsi yang mengandung fitnah luar biasa (saya 8 tahun tinggal dan bergaul dengan orang Syiah di Iran, jadi saya tahu pasti betapa besarnya kebohongan yang disebarkan para ‘mujahidin online’ itu).

Media pelopor fitnah kepada saya adalah Arrahmah.com (saya disebut Tokoh Syiah Indonesia), dirilis hanya dua hari setelah status FB saya yang membela Dr Joserizal Jurnalis (yang dituduh Arrahman.com sebagai Syiah karena dia tidak mau mengirim bantuan medis ke Suriah) dan status saya itu laku keras di medsos (dishare ribuan kali). Dari Arrahmah, kemudian disebarluaskan secara masif media-media-mengaku-Islam lainnya, termasuk berbagai fanpage -mengaku-Islam, dibantu oleh para netizen, terutama ibu-ibu -mengaku- muslimah yang merasa sedang berjihad dengan cara menshare fitnah. Mereka begitu percaya pada media-media pembohong itu.

Inilah klarifikasi yang saya maksud:

Seorang bernama Andy Ikha Umma Naqieb menulis begini (klik untuk memperbesar): FITNAH

Berikut ini saya upload hasil scan tulisan saya tersebut. Silahkan baca sendiri dan beri penilaian sendiri orang macam apa Andy Ikha ini. Sialnya, sedihnya, banyak sekali muslimah model begini ini. Semoga Allah memberi hidayah. Tapi ingat bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa manusia yang menzalimi orang lain, sebelum orang yang dizalimi itu memaafkannya.

Tulisan pertama (tentang Jalan-Jalan ke Iran). Klik untuk memperbesar.

Iran-1Iran-2Iran-3Iran-4Iran-5Iran-6Iran-7Iran-8

 

Tulisan kedua (tentang Jalan-Jalan ke Damaskus). Klik untuk memperbesar.

Damaskus1Damaskus2Damaskus3Damaskus4Damaskus 50-51Damaskus5Damaskus6Damaskus7Damaskus8

Demikian, terimakasih kepada yang mau membaca.

bahayanya-fitnah

Terbit: Avalonia Castle-2

avalonia castle-2Alhamdulillah, buku terbaru Kirana sudah terbit 🙂

Judul: Avalonia Castle 2: Kembalinya Sang Raja

Penerbit: DAR! Mizan (Kecil-Kecil Punya Karya)

Buku ini sequel buku sebelumnya, Avalonia Castle “Misteri Kalung Kerajaan” yang sempat cetak ulang 3 kali (atau lebih ya, lupa lagi tepatnya).

Di buku ini, Rana menuntaskan kisah misteri keberadaan ayahnya Princess Fiona, Raja Ederic, yang sebelumnya disangka sudah meninggal.

Ini sinopsisnya:

Peristiwa aneh kembali terjadi di Avalonia Castle!
Hana yang menjadi pelupa setelah meminum ramuan cantik. Makan Raja Ederic yang tidak mengeluarkan sinar ketika disentuh Princess Fiona. Aneh! Siapakah yang berada di dalam makam itu sebenarnya? Benarkah bukan Raja Ederic? Lalu di mana Raja Ederic sekarang berada? Siapakah Ellen dan pria tua yang terdampar di pertambangan emas pinggir sungai? Baca yuk, kelanjutan kisah seru Princess Fiona. Hana, dan Anne hanya di buku ini!