Berburu Buku Sampai Eneg

obral1

menunggu jam 9

Sejarahnya dimulai Senin lalu. Pagi-pagi, Kirana kami antar ke travel, untuk menuju tempat magangnya, di sebuah perusahaan film dokumenter. Lalu, kami menuju Jl Caringin 74, untuk mendatangi obral buku di gudang Gramedia. Reza sudah seneng banget, bakal beli buku. Dia memang suka bilang “buku itu sahabatku, Ma…” dan toko buku memang tempat favoritnya.

Jalanan Bandung pagi itu masih lengang, jadi dalam waktu singkat kami sudah sampai di Caringin. Baru jam 7, tapi kami sudah bawa laptop, siap menghabiskan waktu sampai jam 9 (saat obral dibuka) dengan mengetik. Sementara Reza juga sudah siap dengan buku bacaan dan dvd-nya. Saat akan parkir, seseorang memberi info, “Bu, baru dibuka jam 11! Pagi ini ada gubernur mau datang!”

What?? Saya benar-benar kesal. Ini hari terakhir obral. Ngapain pula gubernur datang dan melarang rakyat biasa masuk sampai jam 11?? Menunggu sampai jam 11 terlalu lama. Lagipula, nomer antrian masuk tidak boleh diambil sekarang, harus tunggu jam 11. Kacau deh. Terpaksa kami putuskan pulang. Reza langsung menangis. Saya yang super bad mood, tidak bisa apa-apa. Akhirnya si Akang yang membujuk Reza, menjanjikan akan ke toko Gramedia esok hari. “Ga apa-apa, papa ada uang kok, Reza boleh beli buku meski harganya tidak obral,” bujuk si Akang.

Continue reading

Cerita dari Pameran Homeschooling

panitia1

panitia ortu & panitia remaja

Saat Reza seharusnya masuk SD, dia mogok sekolah, pinginnya “belajar sama mama aja!” Jangan bayangkan saya ini mama yang hebat sampai si anak terpesona dan pingin belajar sama mamanya. Sebaliknya, saya malah ga sabaran ngajarin pelajaran sekolah ke anak. Lalu saya baca setumpuk buku tentang homeschooling dan menyadari bahwa konsep HS adalah ortu menjadi fasilitator anak belajar, bukan jadi guru (kalau bisa sekaligus jadi guru, ya boleh saja, tapi tidak harus). Jadi, saya cuma ngajak anak main, beli & baca buku, jalan-jalan ke berbagai tempat, ngobrol, memperkenalkan ke berbagai situs/fasilitas belajar online, dan memotivasi anak untuk belajar, memenej waktu, berkarya, dll. Panjanglah kalau diceritain di sini. Intinya, di rumah kami, saya tidak jadi guru untuk anak-anak saya.

Lalu, bagaimana dengan sosialisasi? Ini pertanyaan umum yang sering diajukan kepada para pelaku HS.

Continue reading

Jakarta, Antara Temanggung dan Kendeng

membatikSeperti saya tulis sebelumnya, saya berusaha untuk sering melakukan traveling bersama anak, sebagai media belajar. Traveling terkadang tidak harus direncanakan jauh hari, atau harus ke lokasi yang jauh. Terkadang kesempatan traveling datang begitu saja, tanpa terlalu direncanakan. Kali ini, perjalanan ke Jakarta berawal sederhana. Seorang novelis, Sundari Mardjuki, mengadakan acara launching novel terbarunya, Genduk, yang digabungkan dalam acara Pasar-Pasaran Temanggung (pementasan Jaran Kepang, workshop membatik, dll) di Museum Nasional Jakarta, hari Sabtu (30/7). Wah, menarik nih, pikir saya. Di saat yang sama, saya juga membaca tentang petani Kendeng yang kembali mendirikan tenda perjuangan di depan istana Presiden. Akhirnya, saya putuskan untuk mengajak anak-anak ke Jakarta.

Pagi-pagi subuh, saya dan anak-anak berangkat ke Jakarta naik bis umum. Sampai di Jakarta, nyambung naik busway ke Monas. Ini pengalaman baru buat kami. Dengan lugu, saya nanyain cara pembayaran. Saya tidak punya kartu apapun yang disebut si mbak, jadilah saya beli kartu e-money yang tersedia di counter. Bahkan nempelin kartunya ke sensor di pintu masuk pun, musti dibantu petugas. Ih, kliatan banget datang dari kampung nih 🙂

Busway cukup nyaman, karena sepi. Reza segera membuka bekalnya, bersiap sarapan. Tapi langsung ditegur petugas. Saya menghibur Reza dengan menawari minum. Dia menggeleng, “Minum juga gak boleh! Liat tuh!” Aih, iya, ternyata di kaca ada gambar burger+gelas yang dikasih tanda coret.

Ok, sekarang kita belajar taat aturan, ya Nak.

Reza memperhatikan gambar larangan. Ada gambar dua sosok laki-laki dan perempuan, dicoret juga. Reza nanya, apa itu maksudnya? Nah, kesempatan deh, belajar tentang tata krama pergaulan, jangan sentuh perempuan non muhrim, dst.

Tiba-tiba ia berbisik, “Ma, itu petugasnya juga melanggar aturan!”

Saya menoleh. Ternyata si petugas busway berdiri tepat di atas tulisan “Dilarang Berdiri” di depan pintu masuk/keluar busway. Ooow…

Continue reading

Traveling Bersama Anak (3): Ciletuh

sunset in puncak darma

pemandangan di Puncak Darma, Ciletuh

Traveling di Indonesia memang butuh biaya besar, terutama di biaya transportasi. Karena itu, memang perlu visi yang kuat (apa sih, yang ingin dicapai dari bertraveling?). Saya selalu berterus-terang kepada anak-anak, soal mahalnya biaya jalan-jalan, supaya mereka menghargai ‘nilai’ dari kegiatan kami ini. Jalan-jalan ke Geopark Ciletuh  (Maret 2016) contohnya. Sejujurnya, saya saat itu tidak punya uang. Tapi kebetulan ada rombongan teman-teman yang akan ke sana. Kalau berangkat sendiri saja, pastilah jauh lebih mahal. Tapi, ikut rombongan tentu tak bisa semau kita waktunya. Nunggu kalau ada uang, bisa-bisa tak akan jadi travelingnya. Jadi, saya daftar saja, dengan pinjam uang ke adik saya yang PNS itu (haduh, malu-maluin ya? :D).

Inipun saya ceritakan terus-terang ke anak-anak. Saya mencicilnya selama 6 bulan. Sempat terpikir, apakah ini sama dengan ngajarin berhutang ya? Ah sudahlah, kalau terlalu mikir ya gak jalan deh. Yang penting, saya kasih liat ke anak-anak bahwa saya berhutang dengan rasional: tujuannya jelas (bukan asal jalan-jalan/hura-hura) dan cara pembayarannya jelas pula (bukan asal ngutang; meski ke adik sendiri saya tetap bayar tepat waktu, sesuai perjanjian). Jadi inilah salah satu hikmah bertraveling dengan anak-anak: no pain, no gain. Traveling itu butuh dana, jadi musti kerja buat cari uangnya. Anak-anak melihat bahwa mamanya nulis atau ngedit supaya dapat uang. Papanya bahkan bekerja lebih banyak/sibuk lagi dan karena itu seringkali tidak bisa ikut saat saya dan anak-anak jalan-jalan.

Continue reading

Traveling Bersama Anak (2): Lombok

Jpeg

Pantai Kuta Lombok

Kata seorang ustadz, anak-anak itu sudah terlahir dengan berbagai macam fitrah, antara lain fitrah menghargai keindahan. Alam Lombok, luar biasa indahnya (yang kami lihat di foto). Inilah saatnya membawa anak-anak untuk melihat langsung keindahan itu, untuk mengeksplorasi fitrah keindahan mereka.

Dari Bali, kami menyeberang ke Lombok dengan menaiki kapal ferry yang sangat nyaman. Reza sangat menikmatinya karena inilah pertama kalinya ia naik kapal besar. Tak henti ia berkeliling, mengeksplorasi kapal.

Anak-anak memandang keindahan dengan mata mereka sendiri. Berperjalanan (seharusnya) melatih ortu untuk hening sejenak dan mencoba memandang dunia sebagaimana anak-anak memandangnya. Mereka polos, lugu, tanpa prejudice. Kitalah orang dewasa yang (sayangnya) mengajari mereka (mungkin tanpa sadar) untuk prejudice, memandang rendah pada siapa saja yang bukan ‘aku’ atau ‘kita’.

Continue reading

Traveling Bersama Anak (1): Bali

Jpeg

Pantai Pandawa

Sejak memulai homeschooling untuk Reza, kami berupaya melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Dulu, traveling adalah sesuatu yang membosankan buat anak-anak (dan saya juga sih), karena yang kami tuju itu-itu saja: Padang dan Jatiwangi (Majalengka). Dana yang kami punya ya habis buat ke dua tempat itu saja, dengan niat silaturahim ke ortu.

Akhirnya, karena terstimulasi oleh perasaan ‘wajib traveling biar anak-anak belajar tentang dunia’ (kan homeschooling itu ortu yang jadi guru, jadi ya kami yang memfasilitasi), saya berusaha memperluas ‘cakrawala’. Awalnya sih jalan-jalan di seputar Bandung aja. Kadang sekeluarga, kadang saya bertiga dengan anak-anak, naik angkot (apalagi dulu Kirana pernah punya proyek nulis buku traveling). Kemudian, kami jalan-jalan berempat ke Salatiga (ikut acara Festival Pendidikan Rumah) dan lanjut ke Jogja (2014). Lalu, Mei 2015, trip menyusuri pantai-pantai Gunung Kidul Jogja, gabung dengan komunitas Muslimah Backpacker. Lalu, ke Dieng, gabung dengan grupnya mbak Yayah. Ke tempat-tempat itu, biayanya masih terjangkaulah (apalagi kalo ikut rombongan backpacker).

Jpeg

Bersama ibu dan adik di Kintamani

Lalu, muncul  ide ‘gila’, mengapa tidak ke Bali dan Lombok, pulau yang beda, budaya yang benar-benar baru? Tapi biayanya..??

Continue reading

Proses Menemukan Bakat Anak

kue ira & rezaTeorinya sekilas saya pelajari waktu ikut FESPER (Festival Pendidikan Rumah) 2014, dari salah satu narasumber, yaitu bu Septi Peni Wulandari. Beliau mengenalkan istilah 4E dalam proses menemukan bakat anak, yaitu “Enjoy – Easy – Excellent – Earn”.

Jadi, ortu mendukung dan memfasilitasi berbagai aktivitas anak, sampai mereka menemukan ada aktivitas tertentu yang mereka senang, mudah, dan mahir dalam melakukannya, serta mampu menghasilkan uang dari aktivitas itu. Dengan konsep seperti ini, tak heran bila kita temukan anak-anak di usia sangat muda sudah mampu berbisnis sendiri, atau berkarya yang memberi penghasilan (misalnya, menulis buku, mendesain baju, menyanyi, acting, dll).

Di antara cara ‘memfasilitasi’ itu adalah dengan mengenalkan berbagai profesi kepada anak-anak. Pengalaman saya sendiri, untuk melakukan ini, yang diperlukan paling utama adalah “waktu” dan “tebel muka” grin emoticon. Misalnya, pernah saya duduk hampir satu jam di pinggir jalan, menemani Reza memperhatikan seorang penjual mainan orisinil (si Mang berkreasi sendiri membuat mainan hewan-hewan fantasi dari kain perca dan kawat). Si Mang-nya menggelar lapak benar-benar (literally) di pinggir jalan umum. Apa saya nggak malu duduk di pinggir jalan gitu? Ya malu lah, tapi apa boleh buat. Apa ada waktu? Sebenarnya sih, semua ibuk-ibuk itu pastilah sibuk banget, tapi seperti kata guru parenting saya, “Menyediakan waktu buat anak itu wajib!”

Continue reading