Sehari Kemarin (2)

gs1

sumber foto: grup WA

Sehari kemarin, saya ngebolang lagi sendirian di Jakarta. It’s a kind of me-time, meski kata si Akang saya tuh terlalu banyak me-time-nya, haha.

Tujuan utama sebenarnya nonton pagelaran teater Gatotkaca Stress di gedung Usmar Ismail. Acaranya jam 19.00, tapi saya berangkat dari rumah jam 10-an, dianter si Akang dan anak-anak ke tol, tempat naik bis Primajasa. Mereka mau lanjut cari sepatu dan makan siang.

Jam 11-an, bis meluncur ke suatu tujuan, lalu saya turun di suatu tempat, lalu naik ojek ke suatu tempat, untuk ketemuan dengan seseorang. Haish, rahasia-rahasiaan begini yak. Masalahnya ini sensi sih, terkait pilkada di Jakarta. Hahaha, saya mau bikin penelitian kecil-kecilan, buat diri sendiri, membuktikan bagaimana media mendistorsi informasi.  Kesimpulan yang saya dapat, eh bener, ada media sialan yang mendistorsi berita. Udah gitu aja ya ceritanya. Mungkin suatu saat ditulis lengkapnya, kalau perlu.

Jam 17.45-an saya cari ojek lagi, meluncur ke Usmar Ismail. Wah, jam segitu macetnya… Untung si abang ojek lincah banget. Saya nyampe jam 18.15. Cepet-cepet nukerin e-tiket dengan tiket beneran, dapat goodie bag n voucher jutaan rupiah (potongan harga kalau ikut  berbagai pelatihan dari para coach n trainer), buku Inspiring Moms (ini khusus untuk yang beli tiket kelas Yudistira dan Arjuna) dan sebotol kopi. Lalu, buru-buru ke mushola untuk sholat.

Continue reading

Jakarta, Antara Temanggung dan Kendeng

membatikSeperti saya tulis sebelumnya, saya berusaha untuk sering melakukan traveling bersama anak, sebagai media belajar. Traveling terkadang tidak harus direncanakan jauh hari, atau harus ke lokasi yang jauh. Terkadang kesempatan traveling datang begitu saja, tanpa terlalu direncanakan. Kali ini, perjalanan ke Jakarta berawal sederhana. Seorang novelis, Sundari Mardjuki, mengadakan acara launching novel terbarunya, Genduk, yang digabungkan dalam acara Pasar-Pasaran Temanggung (pementasan Jaran Kepang, workshop membatik, dll) di Museum Nasional Jakarta, hari Sabtu (30/7). Wah, menarik nih, pikir saya. Di saat yang sama, saya juga membaca tentang petani Kendeng yang kembali mendirikan tenda perjuangan di depan istana Presiden. Akhirnya, saya putuskan untuk mengajak anak-anak ke Jakarta.

Pagi-pagi subuh, saya dan anak-anak berangkat ke Jakarta naik bis umum. Sampai di Jakarta, nyambung naik busway ke Monas. Ini pengalaman baru buat kami. Dengan lugu, saya nanyain cara pembayaran. Saya tidak punya kartu apapun yang disebut si mbak, jadilah saya beli kartu e-money yang tersedia di counter. Bahkan nempelin kartunya ke sensor di pintu masuk pun, musti dibantu petugas. Ih, kliatan banget datang dari kampung nih 🙂

Busway cukup nyaman, karena sepi. Reza segera membuka bekalnya, bersiap sarapan. Tapi langsung ditegur petugas. Saya menghibur Reza dengan menawari minum. Dia menggeleng, “Minum juga gak boleh! Liat tuh!” Aih, iya, ternyata di kaca ada gambar burger+gelas yang dikasih tanda coret.

Ok, sekarang kita belajar taat aturan, ya Nak.

Reza memperhatikan gambar larangan. Ada gambar dua sosok laki-laki dan perempuan, dicoret juga. Reza nanya, apa itu maksudnya? Nah, kesempatan deh, belajar tentang tata krama pergaulan, jangan sentuh perempuan non muhrim, dst.

Tiba-tiba ia berbisik, “Ma, itu petugasnya juga melanggar aturan!”

Saya menoleh. Ternyata si petugas busway berdiri tepat di atas tulisan “Dilarang Berdiri” di depan pintu masuk/keluar busway. Ooow…

Continue reading

Traveling Bersama Anak (3): Ciletuh

sunset in puncak darma

pemandangan di Puncak Darma, Ciletuh

Traveling di Indonesia memang butuh biaya besar, terutama di biaya transportasi. Karena itu, memang perlu visi yang kuat (apa sih, yang ingin dicapai dari bertraveling?). Saya selalu berterus-terang kepada anak-anak, soal mahalnya biaya jalan-jalan, supaya mereka menghargai ‘nilai’ dari kegiatan kami ini. Jalan-jalan ke Geopark Ciletuh  (Maret 2016) contohnya. Sejujurnya, saya saat itu tidak punya uang. Tapi kebetulan ada rombongan teman-teman yang akan ke sana. Kalau berangkat sendiri saja, pastilah jauh lebih mahal. Tapi, ikut rombongan tentu tak bisa semau kita waktunya. Nunggu kalau ada uang, bisa-bisa tak akan jadi travelingnya. Jadi, saya daftar saja, dengan pinjam uang ke adik saya yang PNS itu (haduh, malu-maluin ya? :D).

Inipun saya ceritakan terus-terang ke anak-anak. Saya mencicilnya selama 6 bulan. Sempat terpikir, apakah ini sama dengan ngajarin berhutang ya? Ah sudahlah, kalau terlalu mikir ya gak jalan deh. Yang penting, saya kasih liat ke anak-anak bahwa saya berhutang dengan rasional: tujuannya jelas (bukan asal jalan-jalan/hura-hura) dan cara pembayarannya jelas pula (bukan asal ngutang; meski ke adik sendiri saya tetap bayar tepat waktu, sesuai perjanjian). Jadi inilah salah satu hikmah bertraveling dengan anak-anak: no pain, no gain. Traveling itu butuh dana, jadi musti kerja buat cari uangnya. Anak-anak melihat bahwa mamanya nulis atau ngedit supaya dapat uang. Papanya bahkan bekerja lebih banyak/sibuk lagi dan karena itu seringkali tidak bisa ikut saat saya dan anak-anak jalan-jalan.

Continue reading

Traveling Bersama Anak (2): Lombok

Jpeg

Pantai Kuta Lombok

Kata seorang ustadz, anak-anak itu sudah terlahir dengan berbagai macam fitrah, antara lain fitrah menghargai keindahan. Alam Lombok, luar biasa indahnya (yang kami lihat di foto). Inilah saatnya membawa anak-anak untuk melihat langsung keindahan itu, untuk mengeksplorasi fitrah keindahan mereka.

Dari Bali, kami menyeberang ke Lombok dengan menaiki kapal ferry yang sangat nyaman. Reza sangat menikmatinya karena inilah pertama kalinya ia naik kapal besar. Tak henti ia berkeliling, mengeksplorasi kapal.

Anak-anak memandang keindahan dengan mata mereka sendiri. Berperjalanan (seharusnya) melatih ortu untuk hening sejenak dan mencoba memandang dunia sebagaimana anak-anak memandangnya. Mereka polos, lugu, tanpa prejudice. Kitalah orang dewasa yang (sayangnya) mengajari mereka (mungkin tanpa sadar) untuk prejudice, memandang rendah pada siapa saja yang bukan ‘aku’ atau ‘kita’.

Continue reading

Traveling Bersama Anak (1): Bali

Jpeg

Pantai Pandawa

Sejak memulai homeschooling untuk Reza, kami berupaya melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Dulu, traveling adalah sesuatu yang membosankan buat anak-anak (dan saya juga sih), karena yang kami tuju itu-itu saja: Padang dan Jatiwangi (Majalengka). Dana yang kami punya ya habis buat ke dua tempat itu saja, dengan niat silaturahim ke ortu.

Akhirnya, karena terstimulasi oleh perasaan ‘wajib traveling biar anak-anak belajar tentang dunia’ (kan homeschooling itu ortu yang jadi guru, jadi ya kami yang memfasilitasi), saya berusaha memperluas ‘cakrawala’. Awalnya sih jalan-jalan di seputar Bandung aja. Kadang sekeluarga, kadang saya bertiga dengan anak-anak, naik angkot (apalagi dulu Kirana pernah punya proyek nulis buku traveling). Kemudian, kami jalan-jalan berempat ke Salatiga (ikut acara Festival Pendidikan Rumah) dan lanjut ke Jogja (2014). Lalu, Mei 2015, trip menyusuri pantai-pantai Gunung Kidul Jogja, gabung dengan komunitas Muslimah Backpacker. Lalu, ke Dieng, gabung dengan grupnya mbak Yayah. Ke tempat-tempat itu, biayanya masih terjangkaulah (apalagi kalo ikut rombongan backpacker).

Jpeg

Bersama ibu dan adik di Kintamani

Lalu, muncul  ide ‘gila’, mengapa tidak ke Bali dan Lombok, pulau yang beda, budaya yang benar-benar baru? Tapi biayanya..??

Continue reading

Menanti Cak Nun

JpegSecara sangat kebetulan, saya mendapat info bahwa pada Jumat malam 11 Desember 2015, Cak Nun akan tampil di Kenduri Cinta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Waktunya cocok, Jumat siangnya si Akang harus ketemu mahasiswanya di kampus, Sabtu pagi harus jemput Kirana yang alhamdulillah jadi finalis #ARKI2015 (Akademi Remaja Kreatif Indonesia). Rana sejak Rabu berada di hotel Twin Plaza bersama 99 finalis lainnya.

Jadi, mengapa Jumat malam tak dimanfaatkan untuk datang ke Kenduri Cinta? Saat ide ini saya sampaikan, si Akang langsung defensif. “Malamnya nginep dimana? Biayanya gimana? Kita tuh sekarang musti berhemat …”

Saya pun hunting hotel-hotel murah seputar TIM. Akhirnya dapat yang cocok. Si Akang mulai melunak. Saya bilang, saya akan memasak bekal makanan, untuk mengurangi jajan di jalan. Reza bahkan ikut serta membuat pisang goreng untuk bekal (dan 90% habis dimakannya sendiri). Dan, Jumat pagi pun kami berangkat ke Jakarta.

Continue reading

Hadiah yang Tak Bisa Hilang

Reza at Holy Defence Museum, Tehran

Reza at Holy Defence Museum, Tehran

Bulan Agustus yang lalu kami sekeluarga jalan-jalan ke Iran. Saya dan suami dapat undangan (plus tiket gratis) untuk mengikuti dua konferensi internasional. Sekalian saja Reza kami bawa, untuk nengokin tanah kelahiran mereka.

Dalam perjalanan dari Doha ke Tehran, Reza dapat hadiah boneka dan satu set drawing kit dari pramugari. Sampai di Tehran, baru dia nyadar, drawing kit-nya tertinggal di pesawat. Lalu, tiba-tiba, boneka di tangannya terjatuh ke kolong lift dan tidak bisa diambil lagi. Langsung deh, mewek. Tiba-tiba, seorang lelaki Iran di belakang kami memberi Reza boneka yang sama. Rupanya itu boneka milik anaknya, si anak perempuan terlihat ikhlas saja memberikan bonekanya supaya Reza berhenti menangis.

Continue reading