Jalan-Jalan di Balikpapan

Habis dari Palembang, saya dapat undangan seminar di Balikpapan. Kali ini saya dianter si Akang. Anak-anak ditinggal di rumah, saya titipkan ke bi Elin yang biasa bantu-bantu di rumah kami. Hm, jadi serasa honeymoon gitu deh 😀

Tiba di bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman,  waaah… airportnya modern dan keren banget, serasa di Doha atau KLIA gitu deh. Bisa lihat foto-fotonya di sini. Saya sempat berfoto-foto, tapi entah dimana tersimpannya. Selain ini sudah beberapa bulan yang lalu, dan saya memang payah dalam menyimpan file, selalu saja terserak dimana-mana.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, saya dan si Akang pinjam motor dari penjaga penginapan, dan jalan-jalan keliling kota. Tujuan utama, pingin cari pantai, tempat wisata favorit saya. Pantai yang kami tuju ada di pusat kota, jalan Sudirman. Kami menyusuri ruas-ruas jalan protokol yang lebar, asri, bersih, dan sepi banget.

Continue reading

Jalan-Jalan ke Palembang

Sebenarnya ini cerita lama, Juni tahun lalu. Tapi karena berbagai kesibukan, saya tidak sempat menuliskannya. Jadi serasa punya utang deh, sama seorang blogger yang baik hati mau menemani saya jalan-jalan keliling Palembang. Namanya Yayan, seorang travel blogger terkenal (omnduut.com). Kalau baca blognya Yayan, dia sering cerita menemani turis asing karena dia gabung di coachsurfing. Juga menemani teman-temannya sesama travel blogger. Jadi, emang sangat tepat meminta bantuan Yayan nganterin jalan-jalan keliling Palembang.

Sebab utama perjalanan ini adalah undangan untuk mengisi seminar di IAIN Palembang. Sampai di airport, dijemput sama Yayan (panitia seminar sudah menawarkan untuk menjemput sih, tapi saya tolak). Pake motor, hihihi, siap-siap punggung pegel deh. Karena Yayan sudah kasih tau bakal jemput pake motor, saya bawa ransel, bukan koper.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Museum Al Quran Raksasa yang berlokasi di Jalan M Amin Fauzi, Soak Bujang, RT 03, RW 01, Kelurahan Gandus, Kecamatan Gandus, Palembang. Sampai di lokasi, whoaaaa.. takjub banget liat ayat-ayat Al Quran dipahat di lembaran kayu berukuran 177cm x140cm x2,5 cm. Kayunya adalah kayu tembesu yang banyak tumbuh di Sumsel.

Penggagas pembuatan kaligrafi Al Quran Raksasa adalah tokoh Palembang bernama H. Sofwatillah Mohzaib. Ia sendiri pandai memahat kaligrafi di atas kayu, namun dalam pembuatan Al Quran Raksasa ini ia dibantu oleh tim pemahat dan menghabiskan waktu selama 7 tahun.

Rasanya sungguh luar biasa, masuk ke ruangan yang berisi lembaran-lembaran kayu bertuliskan ayat-ayat Quran, sambil membaca beberapa ayat di antaranya, semoga dapat berkahnya.

Continue reading

Mencicipi Kopi Khas Jawa Barat, Java Preanger

Kemarin saya mengikuti sebuah seminar yang diadakan di sebuah hotel di Jalan Pelajar Pejuang. Dari stasiun Bandung, naik angkot hijau muda menuju Gede Bage, dan diturunkan di belokan jalan Martanegara (karena rute angkot tsb memang demikian).

Nah, saat saya mau nanya-nanya, hotelnya ada dimana, terlihatlah kafe Gen Coffee. Lokasinya di Jln Pelajar Pejuang tapi tepat di belokan jalan Martanegara itu (tepatnya, Jl Pelajar Pejuang no 109-111A)

Saya udah lama dengar nama kopi Java Preanger itu, tapi belum pernah merasakan, belinya juga ga tau dimana. Jadi, karena penasaran, saya pun masuk ke kafe itu. Kafenya kecil saja, hanya ada 1 meja bundar dengan beberapa kursi. Ada meja-meja yang di atasnya ditaruh toples-toples berisi biji-biji kopi. Lalu ada mesin pemanggang biji kopi (roaster). Disediakan juga kopi gratis untuk minum di tempat, boleh pilih jenis yang mana. Sayang waktu itu saya lagi puasa, jadi ga nyicipin.

Bapak pemilik kafe sangat ramah, namanya Pak Dede Gustaman. Beliau dengan ramah menjelaskan koleksi kopinya satu persatu, dibuka toplesnya dan menyuruh saya mencium wanginya. Karena saya bilang saya tidak terlalu suka kopi yang terasa banget asamnya, Pak Dede menyarankan untuk memilih kopi jenis  Cattura Yellow. Harganya @100gr Rp65.000. Saya minta 50 gram aja.

Continue reading

Persian Kebab di Bintaro

Beberapa waktu yang lalu, kami sekeluarga ke Jakarta untuk beberapa keperluan. Di perjalanan, kami sempatkan mampir ke Lotte Mart Bintaro, untuk mengejar sesuatu spesial, yaitu Persian Kebab. Yang menginfokan soal kebab ini, teman fesbuk saya. Lama memendam penasaran, akhirnya hari itu sampai juga deh…

Pemilik toko kebab ini orang Iran asli, menikah dengan orang Indonesia. Namanya Sayid Mehdi. Saya sempat WA-an sama dia, pake bahasa Persia (dan ini bikin dia antusias banget), dapet nomernya dari teman saya itu. Sayangnya dia lagi ga di toko. Tapi dia menyuruh karyawatinya untuk memberi kami oleh-oleh berupa douh (minuman khas Iran terbuat dari yoghurt) dan nun/nan (roti tipis khas Iran, mirip tortila).

Continue reading

Taman-Taman Asri di Bandung

Pada masa kepemimpinan kang Emil, taman-taman di kota Bandung dibenahi sehingga semakin nyaman dikunjungi. Saya dan Reza beberapa hari yang lalu berjalan-jalan menikmati beberapa taman ini, antara lain taman Cibeunying, taman Pustaka Bunga, dan taman Lansia (tiga taman ini berdekatan, kalau naik angkot turun di Jalan Citarum).

Taman Lansia yang paling menyenangkan, ada kursi dan meja yang nyaman untuk ngetik (serta ada wifi gratis).

Setelah itu kami pergi ke perpustakaan di Lapangan Gasibu (tak jauh dari taman Lansia). Perpustakaan ini juga nyaman, ada meja dan colokan listrik kalau ibu-ibu mau mengetik sambil menunggui anak membaca buku.

Berikut ini beberapa foto-fotonya.

Sehari Kemarin (2)

gs1

sumber foto: grup WA

Sehari kemarin, saya ngebolang lagi sendirian di Jakarta. It’s a kind of me-time, meski kata si Akang saya tuh terlalu banyak me-time-nya, haha.

Tujuan utama sebenarnya nonton pagelaran teater Gatotkaca Stress di gedung Usmar Ismail. Acaranya jam 19.00, tapi saya berangkat dari rumah jam 10-an, dianter si Akang dan anak-anak ke tol, tempat naik bis Primajasa. Mereka mau lanjut cari sepatu dan makan siang.

Jam 11-an, bis meluncur ke suatu tujuan, lalu saya turun di suatu tempat, lalu naik ojek ke suatu tempat, untuk ketemuan dengan seseorang. Haish, rahasia-rahasiaan begini yak. Masalahnya ini sensi sih, terkait pilkada di Jakarta. Hahaha, saya mau bikin penelitian kecil-kecilan, buat diri sendiri, membuktikan bagaimana media mendistorsi informasi.  Kesimpulan yang saya dapat, eh bener, ada media sialan yang mendistorsi berita. Udah gitu aja ya ceritanya. Mungkin suatu saat ditulis lengkapnya, kalau perlu.

Jam 17.45-an saya cari ojek lagi, meluncur ke Usmar Ismail. Wah, jam segitu macetnya… Untung si abang ojek lincah banget. Saya nyampe jam 18.15. Cepet-cepet nukerin e-tiket dengan tiket beneran, dapat goodie bag n voucher jutaan rupiah (potongan harga kalau ikut  berbagai pelatihan dari para coach n trainer), buku Inspiring Moms (ini khusus untuk yang beli tiket kelas Yudistira dan Arjuna) dan sebotol kopi. Lalu, buru-buru ke mushola untuk sholat.

Continue reading

Jakarta, Antara Temanggung dan Kendeng

membatikSeperti saya tulis sebelumnya, saya berusaha untuk sering melakukan traveling bersama anak, sebagai media belajar. Traveling terkadang tidak harus direncanakan jauh hari, atau harus ke lokasi yang jauh. Terkadang kesempatan traveling datang begitu saja, tanpa terlalu direncanakan. Kali ini, perjalanan ke Jakarta berawal sederhana. Seorang novelis, Sundari Mardjuki, mengadakan acara launching novel terbarunya, Genduk, yang digabungkan dalam acara Pasar-Pasaran Temanggung (pementasan Jaran Kepang, workshop membatik, dll) di Museum Nasional Jakarta, hari Sabtu (30/7). Wah, menarik nih, pikir saya. Di saat yang sama, saya juga membaca tentang petani Kendeng yang kembali mendirikan tenda perjuangan di depan istana Presiden. Akhirnya, saya putuskan untuk mengajak anak-anak ke Jakarta.

Pagi-pagi subuh, saya dan anak-anak berangkat ke Jakarta naik bis umum. Sampai di Jakarta, nyambung naik busway ke Monas. Ini pengalaman baru buat kami. Dengan lugu, saya nanyain cara pembayaran. Saya tidak punya kartu apapun yang disebut si mbak, jadilah saya beli kartu e-money yang tersedia di counter. Bahkan nempelin kartunya ke sensor di pintu masuk pun, musti dibantu petugas. Ih, kliatan banget datang dari kampung nih 🙂

Busway cukup nyaman, karena sepi. Reza segera membuka bekalnya, bersiap sarapan. Tapi langsung ditegur petugas. Saya menghibur Reza dengan menawari minum. Dia menggeleng, “Minum juga gak boleh! Liat tuh!” Aih, iya, ternyata di kaca ada gambar burger+gelas yang dikasih tanda coret.

Ok, sekarang kita belajar taat aturan, ya Nak.

Reza memperhatikan gambar larangan. Ada gambar dua sosok laki-laki dan perempuan, dicoret juga. Reza nanya, apa itu maksudnya? Nah, kesempatan deh, belajar tentang tata krama pergaulan, jangan sentuh perempuan non muhrim, dst.

Tiba-tiba ia berbisik, “Ma, itu petugasnya juga melanggar aturan!”

Saya menoleh. Ternyata si petugas busway berdiri tepat di atas tulisan “Dilarang Berdiri” di depan pintu masuk/keluar busway. Ooow…

Continue reading