Perjalanan

travelingSaya suka sekali melakukan perjalanan, terutama ke tempat-tempat baru. Ke tempat yang sudah bisa didatangi pun, saya juga suka. Misalnya, perjalanan ke rumah ibu mertua. Saya selalu menikmati pemandangan di perjalanan dan berkali-kali bilang, “Eh liat itu sawahnya [atau langit, atau gunung], indah banget ya?”

Padahal, saya kan sudah ratusan kali melewati jalan yang sama? Tapi selalu saja terpesona lagi dan lagi.

Penyebabnya adalah perubahan suasana hati dan cara berpikir saya. Sungguh, hati yang bahagia akan berdampak pada mata: bagaimana engkau melihat dunia.

Dulu, perjalanan ke rumah ibu mertua terasa sangat menjemukan. Karena, ada beberapa hal yang mengganjal di hati (ya biasalah, banyak juga para ibu-ibu muda yang mengalami problem serupa). Tapi seiring bertambahnya usia, setelah saya ikut berbagai pelatihan perbaikan diri (misalnya Neurosemantic ++ dengan pak Prasetya M. Brata yang pernah sedikit saya ceritakan di sini) dan self healing dengan bu Yuli Suliswidiawati, hidup menjadi jauh lebih menyenangkan. Apakah orang-orang di sekitar saya berubah? Tidak. Tapi, cara saya memandang dan mempersepsi kata-kata mereka jauh berubah. 

Continue reading

Advertisements

3 Film di Tahun Baruan

tahun baruan 2018

ngopi sebelum nonton

Libur tahun baruan (2018), ngapain saja? Secara ‘kebetulan’ saya mengisinya dengan nonton 3 film dengan 3 orang berbeda. Kenapa ‘kebetulan’ dikasih tanda kutip? Karena kan sebenarnya tidak ada ‘kebetulan’ dalam hidup, tapi keputusan-keputusan kita (dan pilihan-pilihan kita sendiri)-lah yang membuat sesuatu itu terjadi. Kalau saya memutuskan untuk tidak nonton, tentu tidak ada acara nonton itu, ya kan?

Film pertama, tralaaa.. Ayat-Ayat Cinta 2. Sebenarnya sama sekali tidak berminat nontonnya (sudah bisa menebak isinya kayak apa). Tapi karena diajak dan ditraktir Rika, adik saya, ya hayu ajalah.

Di luar dugaan, saya suka setting filmnya (setting lokasi, di Skotlandia). Indaaaah banget. Salah satu impian saya adalah jalan-jalan ke kawasan Eropa yang klasik-klasik gitu. Tapi, jalan ceritanya, hm, bikin saya pening berkali-kali. Yang paling bikin saya komen “Whaaaaattttt???” tentu saja adegan “debat” antara Fahri dengan dosen di Universitas Edinburgh. Saya sampai bertanya-tanya dalam hati, apakah para alumnus Univ tua & keren itu tidak tersinggung almamaternya digambarkan dengan sekoplak itu dalam film AAC 2?

Continue reading

Jalan-Jalan di Balikpapan

Habis dari Palembang, saya dapat undangan seminar di Balikpapan. Kali ini saya dianter si Akang. Anak-anak ditinggal di rumah, saya titipkan ke bi Elin yang biasa bantu-bantu di rumah kami. Hm, jadi serasa honeymoon gitu deh 😀

Tiba di bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman,  waaah… airportnya modern dan keren banget, serasa di Doha atau KLIA gitu deh. Bisa lihat foto-fotonya di sini. Saya sempat berfoto-foto, tapi entah dimana tersimpannya. Selain ini sudah beberapa bulan yang lalu, dan saya memang payah dalam menyimpan file, selalu saja terserak dimana-mana.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, saya dan si Akang pinjam motor dari penjaga penginapan, dan jalan-jalan keliling kota. Tujuan utama, pingin cari pantai, tempat wisata favorit saya. Pantai yang kami tuju ada di pusat kota, jalan Sudirman. Kami menyusuri ruas-ruas jalan protokol yang lebar, asri, bersih, dan sepi banget.

Continue reading

Jalan-Jalan ke Palembang

Sebenarnya ini cerita lama, Juni tahun lalu. Tapi karena berbagai kesibukan, saya tidak sempat menuliskannya. Jadi serasa punya utang deh, sama seorang blogger yang baik hati mau menemani saya jalan-jalan keliling Palembang. Namanya Yayan, seorang travel blogger terkenal (omnduut.com). Kalau baca blognya Yayan, dia sering cerita menemani turis asing karena dia gabung di coachsurfing. Juga menemani teman-temannya sesama travel blogger. Jadi, emang sangat tepat meminta bantuan Yayan nganterin jalan-jalan keliling Palembang.

Sebab utama perjalanan ini adalah undangan untuk mengisi seminar di IAIN Palembang. Sampai di airport, dijemput sama Yayan (panitia seminar sudah menawarkan untuk menjemput sih, tapi saya tolak). Pake motor, hihihi, siap-siap punggung pegel deh. Karena Yayan sudah kasih tau bakal jemput pake motor, saya bawa ransel, bukan koper.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Museum Al Quran Raksasa yang berlokasi di Jalan M Amin Fauzi, Soak Bujang, RT 03, RW 01, Kelurahan Gandus, Kecamatan Gandus, Palembang. Sampai di lokasi, whoaaaa.. takjub banget liat ayat-ayat Al Quran dipahat di lembaran kayu berukuran 177cm x140cm x2,5 cm. Kayunya adalah kayu tembesu yang banyak tumbuh di Sumsel.

Penggagas pembuatan kaligrafi Al Quran Raksasa adalah tokoh Palembang bernama H. Sofwatillah Mohzaib. Ia sendiri pandai memahat kaligrafi di atas kayu, namun dalam pembuatan Al Quran Raksasa ini ia dibantu oleh tim pemahat dan menghabiskan waktu selama 7 tahun.

Rasanya sungguh luar biasa, masuk ke ruangan yang berisi lembaran-lembaran kayu bertuliskan ayat-ayat Quran, sambil membaca beberapa ayat di antaranya, semoga dapat berkahnya.

Continue reading

Mencicipi Kopi Khas Jawa Barat, Java Preanger

Kemarin saya mengikuti sebuah seminar yang diadakan di sebuah hotel di Jalan Pelajar Pejuang. Dari stasiun Bandung, naik angkot hijau muda menuju Gede Bage, dan diturunkan di belokan jalan Martanegara (karena rute angkot tsb memang demikian).

Nah, saat saya mau nanya-nanya, hotelnya ada dimana, terlihatlah kafe Gen Coffee. Lokasinya di Jln Pelajar Pejuang tapi tepat di belokan jalan Martanegara itu (tepatnya, Jl Pelajar Pejuang no 109-111A)

Saya udah lama dengar nama kopi Java Preanger itu, tapi belum pernah merasakan, belinya juga ga tau dimana. Jadi, karena penasaran, saya pun masuk ke kafe itu. Kafenya kecil saja, hanya ada 1 meja bundar dengan beberapa kursi. Ada meja-meja yang di atasnya ditaruh toples-toples berisi biji-biji kopi. Lalu ada mesin pemanggang biji kopi (roaster). Disediakan juga kopi gratis untuk minum di tempat, boleh pilih jenis yang mana. Sayang waktu itu saya lagi puasa, jadi ga nyicipin.

Bapak pemilik kafe sangat ramah, namanya Pak Dede Gustaman. Beliau dengan ramah menjelaskan koleksi kopinya satu persatu, dibuka toplesnya dan menyuruh saya mencium wanginya. Karena saya bilang saya tidak terlalu suka kopi yang terasa banget asamnya, Pak Dede menyarankan untuk memilih kopi jenis  Cattura Yellow. Harganya @100gr Rp65.000. Saya minta 50 gram aja.

Continue reading

Persian Kebab di Bintaro

Beberapa waktu yang lalu, kami sekeluarga ke Jakarta untuk beberapa keperluan. Di perjalanan, kami sempatkan mampir ke Lotte Mart Bintaro, untuk mengejar sesuatu spesial, yaitu Persian Kebab. Yang menginfokan soal kebab ini, teman fesbuk saya. Lama memendam penasaran, akhirnya hari itu sampai juga deh…

Pemilik toko kebab ini orang Iran asli, menikah dengan orang Indonesia. Namanya Sayid Mehdi. Saya sempat WA-an sama dia, pake bahasa Persia (dan ini bikin dia antusias banget), dapet nomernya dari teman saya itu. Sayangnya dia lagi ga di toko. Tapi dia menyuruh karyawatinya untuk memberi kami oleh-oleh berupa douh (minuman khas Iran terbuat dari yoghurt) dan nun/nan (roti tipis khas Iran, mirip tortila).

Continue reading

Taman-Taman Asri di Bandung

Pada masa kepemimpinan kang Emil, taman-taman di kota Bandung dibenahi sehingga semakin nyaman dikunjungi. Saya dan Reza beberapa hari yang lalu berjalan-jalan menikmati beberapa taman ini, antara lain taman Cibeunying, taman Pustaka Bunga, dan taman Lansia (tiga taman ini berdekatan, kalau naik angkot turun di Jalan Citarum).

Taman Lansia yang paling menyenangkan, ada kursi dan meja yang nyaman untuk ngetik (serta ada wifi gratis).

Setelah itu kami pergi ke perpustakaan di Lapangan Gasibu (tak jauh dari taman Lansia). Perpustakaan ini juga nyaman, ada meja dan colokan listrik kalau ibu-ibu mau mengetik sambil menunggui anak membaca buku.

Berikut ini beberapa foto-fotonya.