Traveling Bersama Anak (2): Lombok

Jpeg

Pantai Kuta Lombok

Kata seorang ustadz, anak-anak itu sudah terlahir dengan berbagai macam fitrah, antara lain fitrah menghargai keindahan. Alam Lombok, luar biasa indahnya (yang kami lihat di foto). Inilah saatnya membawa anak-anak untuk melihat langsung keindahan itu, untuk mengeksplorasi fitrah keindahan mereka.

Dari Bali, kami menyeberang ke Lombok dengan menaiki kapal ferry yang sangat nyaman. Reza sangat menikmatinya karena inilah pertama kalinya ia naik kapal besar. Tak henti ia berkeliling, mengeksplorasi kapal.

Anak-anak memandang keindahan dengan mata mereka sendiri. Berperjalanan (seharusnya) melatih ortu untuk hening sejenak dan mencoba memandang dunia sebagaimana anak-anak memandangnya. Mereka polos, lugu, tanpa prejudice. Kitalah orang dewasa yang (sayangnya) mengajari mereka (mungkin tanpa sadar) untuk prejudice, memandang rendah pada siapa saja yang bukan ‘aku’ atau ‘kita’.

Continue reading

Traveling Bersama Anak (1): Bali

Jpeg

Pantai Pandawa

Sejak memulai homeschooling untuk Reza, kami berupaya melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Dulu, traveling adalah sesuatu yang membosankan buat anak-anak (dan saya juga sih), karena yang kami tuju itu-itu saja: Padang dan Jatiwangi (Majalengka). Dana yang kami punya ya habis buat ke dua tempat itu saja, dengan niat silaturahim ke ortu.

Akhirnya, karena terstimulasi oleh perasaan ‘wajib traveling biar anak-anak belajar tentang dunia’ (kan homeschooling itu ortu yang jadi guru, jadi ya kami yang memfasilitasi), saya berusaha memperluas ‘cakrawala’. Awalnya sih jalan-jalan di seputar Bandung aja. Kadang sekeluarga, kadang saya bertiga dengan anak-anak, naik angkot (apalagi dulu Kirana pernah punya proyek nulis buku traveling). Kemudian, kami jalan-jalan berempat ke Salatiga (ikut acara Festival Pendidikan Rumah) dan lanjut ke Jogja (2014). Lalu, Mei 2015, trip menyusuri pantai-pantai Gunung Kidul Jogja, gabung dengan komunitas Muslimah Backpacker. Lalu, ke Dieng, gabung dengan grupnya mbak Yayah. Ke tempat-tempat itu, biayanya masih terjangkaulah (apalagi kalo ikut rombongan backpacker).

Jpeg

Bersama ibu dan adik di Kintamani

Lalu, muncul  ide ‘gila’, mengapa tidak ke Bali dan Lombok, pulau yang beda, budaya yang benar-benar baru? Tapi biayanya..??

Continue reading

Menanti Cak Nun

JpegSecara sangat kebetulan, saya mendapat info bahwa pada Jumat malam 11 Desember 2015, Cak Nun akan tampil di Kenduri Cinta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Waktunya cocok, Jumat siangnya si Akang harus ketemu mahasiswanya di kampus, Sabtu pagi harus jemput Kirana yang alhamdulillah jadi finalis #ARKI2015 (Akademi Remaja Kreatif Indonesia). Rana sejak Rabu berada di hotel Twin Plaza bersama 99 finalis lainnya.

Jadi, mengapa Jumat malam tak dimanfaatkan untuk datang ke Kenduri Cinta? Saat ide ini saya sampaikan, si Akang langsung defensif. “Malamnya nginep dimana? Biayanya gimana? Kita tuh sekarang musti berhemat …”

Saya pun hunting hotel-hotel murah seputar TIM. Akhirnya dapat yang cocok. Si Akang mulai melunak. Saya bilang, saya akan memasak bekal makanan, untuk mengurangi jajan di jalan. Reza bahkan ikut serta membuat pisang goreng untuk bekal (dan 90% habis dimakannya sendiri). Dan, Jumat pagi pun kami berangkat ke Jakarta.

Continue reading

Hadiah yang Tak Bisa Hilang

Reza at Holy Defence Museum, Tehran

Reza at Holy Defence Museum, Tehran

Bulan Agustus yang lalu kami sekeluarga jalan-jalan ke Iran. Saya dan suami dapat undangan (plus tiket gratis) untuk mengikuti dua konferensi internasional. Sekalian saja Reza kami bawa, untuk nengokin tanah kelahiran mereka.

Dalam perjalanan dari Doha ke Tehran, Reza dapat hadiah boneka dan satu set drawing kit dari pramugari. Sampai di Tehran, baru dia nyadar, drawing kit-nya tertinggal di pesawat. Lalu, tiba-tiba, boneka di tangannya terjatuh ke kolong lift dan tidak bisa diambil lagi. Langsung deh, mewek. Tiba-tiba, seorang lelaki Iran di belakang kami memberi Reza boneka yang sama. Rupanya itu boneka milik anaknya, si anak perempuan terlihat ikhlas saja memberikan bonekanya supaya Reza berhenti menangis.

Continue reading

Jogja: Let’s Snorkel!

Setelah misi Yes I Can di Dieng tercapai, saya lanjutkan dengan misi snorkeling di Jogja. Ceritanya, Kirana kan pernah snorkeling di Bunaken. Waktu itu, dia dapat hadiah menang lomba nulis, tapi cuma saya yang bisa mendampingi. Walhasil Reza ga ikut menikmati. Saat ada tawaran trip ke Jogja dari Muslimah Backpacker (MB) yang salah satu menunya adalah snorkeling, wah, langsung saya daftar deh. Kesempatan untuk another Yes I Can moment buat Reza.

Trip ke Jogja kali ini adalah menelusuri pantai-pantai di Gunung Kidul yang ternyata..beneran menakjubkan! Subhanallah deh, Indonesia ini emang luar biasa, menyimpan banyak tempat yang indah bangeeeet… Ibu saya aja sampai heran “Lho, kalian ke pantai atau ke gunung sih?” Itulah uniknya, kami ke Gunung Kidul, dan memang melewati jalanan menanjak dengan hutan di kiri-kanan, tapi ujung-ujungnya nyampe ke pantai. Liat aja sendiri di peta detilnya ya. Dan yang terlintas di benak saya dalam perjalanan ini: duh, untung… ikut trip MB. Ga kebayang berapa banyak duit habis kalau ke sini sendirian/sekeluarga (tidak berombongan). Soalnya, sepertinya tidak ada transportasi umum ke lokasi (musti naik motor atau bawa mobil sendiri…dan pasti jatuhnya mahal banget tuh). Kalau ikut rombongan backpacker, biaya bisa jauh ditekan. Btw, kesian deh si Akang ga ikut, dia cuma bisa terkagum-kagum liat foto-foto dan video rekaman traveling kami. Pepatah lama memang tetap laku di keluarga kami: pernikahan itu bagaikan workshop… suami work, istri shop 😀 😀

Nah, pantai yang berat dicapai adalah Pantai Nglambor. Elf AC yang ditumpangi rombongan cuma sampai parkiran. Kami musti jalan kaki sekitar 1 kilo di tengah panas terik. Tapi, oh…oh.. setelah sekian menit berjalan tertatih-tatih (saya udah capek banget soalnya, kaki udah sakit-sakit), muncul pemandangan indah… :

Jpeg

Pantai Nglambor Jogja

Pantai ini memang keren. Fasilitas snorkeling lengkap dengan pemandu dan fotografer bawah air, cuma bayar @Rp35.000. Pemandunya banyak dan care banget. Saya, Rana, dan Reza, dibimbing satu pemandu.

Nah, di detik inilah muncul perang batin. Pasalnya, ombaknya gedeee.. hiks. Saya kan ga bisa berenang, jadi kuatir banget melihat ombaknya. Dulu waktu di Bunaken kan snorkelingnya di tengah laut, jadi ga ada ombak besar. Itupun, saya dulu ga berani jauh-jauh dari kapal sampai ada insiden tangga jatuh segala.

“Reza, ombaknya besar sekali, nak. Gimana kalau lain waktu snorkelingnya?” bujuk saya.

Mata Reza langsung berkaca-kaca. “Buat apa Mama beli tiket mahal-mahal, buat apa kita jauh-jauh ke sini kalau enggak snorkeling?!” jawabnya dengan nada marah.

Waduh. Saya tahu, kalau saya melarang Reza snorkeling, justru akan membuatnya kehilangan kepercayaan diri. Misi Yes I Can juga bisa lewat deh… Akhirnya, saya beranikan diri nyemplung ke laut bersama Rana dan Reza. Benar-benar tidak nyaman, pasirnya banyak serpihan batu karang, jadi sakit saat melangkah. Pakai sepatu plastik yang disediain sih, tapi pasir dan serpihan karang tetap masuk ke sepatu. Seorang mas pemandu menggandeng tangan saya, Reza, dan Kirana sekaligus, membimbing pelan-pelan ke tengah. Dia berusaha menenangkan saya dan mengajari cara mengapung di air. Tapi saya risih juga, dia itu laki-laki, gitu lho. Jadi, saya hanya beberapa detik membenamkan kepala ke air dan sempat ngeliat sebentar ikan-ikan di bawah laut. Lalu, “Udah ah, saya nitip anak-anak aja ya!”

Trus saya ke tepi. Dan bahkan duduk di tepi pantai pun ga bisa tegak, sewaktu-waktu ombak datang cukup keras, sampai saya terpelanting. Tapi lama-lama seru juga. Justru malah ditunggu-tunggu tuh ombak, lalu jerit-jerit sama pengunjung pantai lainnya, hihihi.

Bagaimana nasib Kirana dan Reza…? Wow, air mata saya hampir menetes, melihat mereka sedemikian menikmati snorkeling, mengapung-ngapung jauh ke tengah, tanpa didampingi si mas pemandu yang tadi itu. Tapi ada banyak pemandu yang siap siaga di berbagai titik, jadi saya tetap merasa aman. Duh, anak-anakku sudah besar ya… terharuuuu….

Malamnya, saya WA foto-foto kami ke si Akang dan saya cerita betapa anak-anak sedemikian gagah berani di tengah lautan *lebay dikit*. Komentar si Akang juga sama: anak-anak kita sudah besar ya…

snorkeling di Nglambor

Rana snorkeling di Nglambor

jogja-1a

Rana n Reza

Snorkeling di Pantai Nglambor ini dibatasi jamnya, karena peralatan terbatas, dan banyak yang ngantri. Apalagi pemandunya juga terbatas. Kira-kira 1 jam untuk 1 rombongan. Reza terlihat sekali bangganya, berani snorkeling di laut.

“Awalnya aku sedikit takut, tapi ditahan. Lama-lama terbiasa,” kata Reza. Wow.. yes you can, boy!

Nah, habis itu, kita ga langsung ganti baju karena kamar mandi sangat terbatas. Jadi, kami jalan lagi ke parkiran (dan itu panaaas banget, lebih praktis naik ojek aja, bayar 10rb). Lalu, dengan mobil berangkat ke Pantai Siung. Nah, di pantai ini, puas deh, kamar mandinya banyaaaak. Bayarnya cuma 2000-3000 sekali mandi.

Lalu, makan siang sambil duduk-duduk di bawah pohon. Nikmatnyaaaa.. Pengelola trip MB bekerja sama dengan warga lokal (namanya Mbak Arum) dalam penyediaan makanan. Nah, mba Arum, plus staf dapurnya bela-belain nganterin langsung makanan ke Pantai Siung dengan sistem prasmanan gitu (beda banget kan enaknya, dibanding nasi kotak). Oiya, kami juga nginep di rumah tradisional milik simbahnya mbak Arum.  Ini jadi pengalaman menarik buat anak-anak.

jogja-3a

Rumah Limas

Di rumah ini pula, anggota trip saling berkenalan dan berbagi cerita seru. Asyik jadi nambah saudara deh. Trending topic malam itu adalah tentang bisnis. Ternyata anggota trip kali ini banyak yang pebisnis, padahal masih muda-muda. Salut deh. Kata mba Susi, seorang pengusaha senior, “Jangan pernah bilang bisnismu ‘bisnis kecil-kecilan’! Ga ada bisnis yang kecil, semua musti dijalani dengan berani dan serius.” 🙂

Oiya, MB dapat hadiah sponsor Abon Jambrong Unia yang dimakan rame-rame di pinggir pantai Siung. Ternyata ini ikan asin jambrong yang disuir-suir, dikasih bumbu dan bawang goreng yang banyaaak… Top deh, mak nyus. Tanpa MSG pula. Cocok banget buat bekel traveling.

Jpeg

Abon Jambrong Unia di Pantai Siung

Saya sudah catat baik-baik, abon ini akan saya jadikan salah satu bekal kalau ke Bali. Kata temen saya, supaya ngirit dan kehalalan terjaga, memang kita sebaiknya bawa bekal masakan kering kalau jalan-jalan ke Bali. Niat saya, trip Bali akan dilanjut dengan trip ke Lombok, demi snorkeling. Amin..amiin.. semoga niat ini kesampaian. Akang kerja yang rajin ya.. hihihi…

Silahkan mampir ke blog Rana dan Reza untuk membaca catatan jalan-jalan mereka 🙂

20.000 Angklung untuk KAA

Jadi ceritanya ini kejadian tak terduga. Dalam perjalanan menuju tempat les Rana, angkot yang kami tumpangi melewati Stadion Siliwangi. Saya lihat banyak orang berkerumun. Kebetulan paginya baca di fb, hari ini ada acara pemecahan rekor dunia permainan angklung oleh 20.000 orang. Karena masih ada waktu, saya putuskan untuk turun. Yah, nonton sekitar 10 menit cukuplah, pikir saya. Eh, ternyata semua pengunjung disuruh melewati barikade dan dihitung satu persatu. Saya mulai heran. Tapi kemudian dikasih kaos, snack, dan angklung. Lho, jadi, semua pengunjung sekalian didaulat main angklung?! Benar-benar nggak diduga nih.

Saya jadi bingung deh. Di satu sisi ingat jadwal les, di sisi lain, kalau keluar rasanya ada yang salah karena sudah terlanjur dihitung. Saya coba tunggu sebentar, ga taunya malah acara nggak dimulai juga. Mungkin menunggu sama genap 20.000 orang. Akhirnya saya putuskan untuk tetap di tempat. Dan benar juga, kemudian ketauan, pihak Guinness World Record ga mau masuk ke lokasi karena mereka melihat orang-orang pada keluar (artinya, hitungan panitia di pintu masuk sudah tidak akurat). Nah kesempatan ini saya pakai buat ngasih pelajaran soal ‘setia kawan’ ke anak-anak, “Lihat, gara-gara ada segelintir orang yang ga setia kawan, akhirnya kita semua jadi korbannya.. Tapi setia kawan itu harus dalam kebaikan ya..!”

Duh, di tengah panas terik itu, panitia berusaha melakukan penghitungan manual. Suaranya sudah terdengar lemes. Teriakan-teriakannya seolah ga didengar. Akhirnya kang Emil (Walikota Bandung) naik ke panggung dan mengambil alih komando. Wow… langsung salut deh sama kang Emil. Keliatan banget emang dia dicintai sama warganya. Sejak awal nih ya, waktu para pejabat pidato, terasa sekali beda sambutan warga. Waktu kang Emil bicara, sorak-sorai sangat ramai dan penuh antuasias. Apalagi ada joke andalan kang Emil, “Yang jomblo mana suaranyaaaa…?!” 😀

angklung1

Nah, kali inipun untuk menenangkan massa agar tidak bubar (emang enak, dijemur panas-panas di stadion?!), kang Emil melakukan berbagai cara, mulai menyuruh berbaris rapi (ajaib, beneran itu 20ribu orang yang tadinya berdiri berantakan, bisa jadi pada rapi), melempar joke-joke (lagi-lagi, yang dapat sambutan adalah joke tentang para jomblo), ngasih kata-kata motivasi, dan mengajak bernyanyi. Rasa nasionalisme dan cinta pada Bandung keliatan banget bisa didoktrinkan oleh kang Emil ke hadirin sehingga mereka mau tetap bertahan. Malah ada sesi yang bikin saya terharu juga: penyanyi di panggung menyanyikan lagu Padamu Negeri, dan kang Emil menyuruh hadirin untuk memejamkan mata, meresapi lagi tersebut.

Jpeg

Akhirnya hitungan pun selesai dan kami disuruh main angklung lagi We Are The World. Meskipun, belum ketauan juga, Guinness World Record akan kasih sertifikat pemecahan rekor atau tidak. Katanya mereka musti rapat dulu di London sana. Ih nyebelin juga nih… mentang-mentang… Kalau pihak rekor MURI sih langsung kasih sertifikatnya ke kang Emil.

Kami lalu cepat-cepat naik taksi. Reza yang tadinya nangis karena kecapean, langsung tersenyum senang saat tahu bahwa angklungnya boleh dibawa pulang. Dia berkata, “Kita ini tercatat dalam sejarah ya Ma?” (menirukan kata-kata kang Emil saat menenangkan massa).

Pulangnya, menuju stasiun, kami lewat jalan Otista (Pasar Baru) yang sudah disterilkan, pengendara kendaraan bermotor ga boleh lewat. Wow, jalan yang biasanya macet itu kini malah penuh dengan manusia yang lagi selfie dan wefie, atau sekedar jalan-jalan santai. Seru juga. Reza sampai berpose tiduran di jalan segala (fotonya liat di blognya Reza aja ya).

angklung2

Kami sempat berusaha mendekat ke jalan Asia-Afrika, ternyata sudah diblokir, ga boleh masuk. Saya melihat banyak warga yang senasib, pingin ke jalan Asia Afrika tapi ga bisa. Ada yang menarik kami temui di jalan, sebuah masjid bergaya China di jalan ABC. Langsung deh numpang sholat Ashar di situ, bapak-bapak polisi dan Basarnas yang sedang bertugas juga ikut berjamaah di masjid itu. Reza yang sholat di shaf bapak-bapak, kemudian dengan takjub berbisik, “Ma, ini pertama kalinya aku melihat pistol beneran dari dekat!” 😀

masjid jln abc

Pinginnya sih hari Sabtu mau nonton Karnaval Asia Afrika. Tapi untung ga jadi, karena saya liat di tivi, massa sangat membludak, bergerak saja susah. Melihat antusiasme warga, terasa sekali keberhasilan kang Emil menjadikan KAA sebagai pesta rakyat. Mudah-mudahan saja, spirit asli KAA, yaitu perlawanan terhadap imperialisme (termasuk jenis modernnya, yaitu penjajahan ekonomi – neoliberalisme) juga ditangkap oleh warga.

Ini video rekaman permainan angklung 20rb orang (saat latihan)

Dieng: Yes I Can!

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman yang tinggal di AS (Amerika Serikat) mengirim bingkisan kepada kami di Teheran. Sebelumnya, saya juga mengirim buku kepada sang teman. Waktu saya kirim buku, rasanya biasa saja. Tapi saat menerima bingkisan balasan darinya, rasanya luar biasa. Wow. AS-Iran ternyata bisa juga ya, kirim-kiriman hadiah? 🙂

Salah satu  isi bingkisan dari teman baik saya itu adalah buku cerita anak berjudul “The Little Engine That Could”. Buku ini terkenal banget, terbit tahun 1930 dan sepertinya terus dicetak ulang sampai sekarang. Ceritanya tentang kereta api biru yang berjuang keras untuk naik ke bukit dengan mengulang-ulang kalimat “I think I can, I think I can…” Saya membacakannya berulang-ulang pada anak-anak saya, dengan rasa cinta. Apalagi buku itu ada coretan-coretan tangan anak-anak teman saya itu (memang itu bukan buku baru keluar dari toko), rasanya semacam ada bonding dan cinta yang menyeruak di sela-sela halamannya.

Dan.. bertahun-tahun kemudian, saya menemukan kesempatan untuk mengulang-ulang mantra sang kereta api biru. Saya dan anak-anak mendaki puncak Sikunir (Dieng) pada pagi-pagi buta, sehabis sholat Subuh. Saya sendiri bukan pendaki gunung (dan sebenarnya malas sekali beraktivitas fisik yang merepotkan). Tapi saya ingin mencoba mengajari anak spirit pantang menyerah. Dan mendaki gunung memang cara terbaik untuk mengajari anak hal tersebut, selain juga kepercayaan diri bahwa “Aku bisa!” Sekali mulai mendaki, harus sampai ke puncak. Sebelumnya, Rana dan Reza sudah berhasil mencapai puncak gunung Geulis di Jatinangor tapi saya ga ikut.

Awalnya, rasa dingin benar-benar mengganggu. Saya sampai harus beli kupluk untuk anak-anak, plus sarung tangan. Sepanjang pendakian, dengan terengah-engah, saya terus ucapkan, “Ayo Reza, pasti bisa!” Kami terpisah dari rombongan yang berjalan lebih cepat. Maklum, saya sendiri lambat berjalan, harus terus menyemangati Reza pula. Kirana, karena sudah besar, ga perlu lagi dibujuk-bujuk. Dia jalan terus dengan tegap, tanpa mengeluh. I’m proud of you, girl!

Dan ketika akhirnya sampai ke puncak, wow… bahagia sekali rasanya. Memang sayangnya, awan mendung menghalangi sehingga keindahan matahari terbit yang diidam-idamkan tak terlihat. Setelah itu, kami juga langsung turun melewati jalur yang sama. Sayangnya ga ada pemandu yang memberi tahu kami bahwa sebenarnya dalam perjalanan turun, ada pemandangan indah yang bisa dilihat dari puncak Sikunir ini, yaitu Telaga Cebong.

dieng1

dalam perjalanan turun dari Puncak Sikunir

rame-rame turun dari Puncak Sikunir

rame-rame turun dari Puncak Sikunir

Tapi ya tak apalah, toh misi utama sudah dicapai: menaklukkan puncak pegunungan Dieng. Dan saya melihat banyak sekali orang memasang tenda di seputar Telaga Cebong, saya langsung bertekad, suatu saat akan kembali ke sini full team, bersama si Akang, dan camping di sini. 🙂 Selain ke Puncak Sikunir, kami juga mengunjungi tempat-tempat wisata ‘wajib’ lainnya di Dieng, seperti Telaga Warna, Telaga Menjer, dan Kompleks Candi Arjuna. Senengnya, saya nemu buah Terong Belanda banyak banget yang jual di sini, terutama di Desa Sembungan (di starting point kalau mau mendaki ke ke Puncak Sikunir, ini desa tertinggi di Pulau Jawa lho, wow banget dong). Saya borong banyak-banyak deh. Di desa ini saya banyak melihat pohon pepaya tapi buahnya mini. Ternyata itu pohon carica namanya, dan manisan carica adalah oleh-oleh khas Wonosobo. Rasanya seger banget. Saya jadi kangen banget ih sama carica.

Telaga Cebong dari dekat

Telaga Cebong dari dekat

Reza di pinggir Telaga Warna, sayang airnya lagi sedikit (kemarau)

Reza di pinggir Telaga Warna, sayang airnya lagi sedikit (kemarau)

Reza bergelantungan di pohon (di hutan di sekeliling Telaga Warna)

Reza bergelantungan di pohon (di hutan di sekeliling Telaga Warna)

Reza di kompleks Candi Arjuna

Reza di kompleks Candi Arjuna

Oiya, kami ke Dieng ini ikut trip backpacker yang dikoordinatori mba Yayah (kenal di FB). Rombongan (sekitar 40-an ibu-ibu&gadis-gadis, dan beberapa anak) yang datang dari berbagai kota di Indonesia, berkumpul di Terminal Mendolo Wonosobo. Kami tiba jam 3 dini hari, padahal jam ngumpul adalah jam 8 pagi. Jadi, untuk pertama kalinya dalam hidup, kami duduk dan tidur-tiduran di bangku terminal menunggu pagi (untungnya terminalnya bersih dan aman). Beneran backpackeran ini mah. Untung anak-anak santai aja, nggak mengeluh. Setelah fajar datang, karena menunggu jam 8 masih lama, saya dan anak-anak naik angkot ke alun-alun Wonosobo cari sarapan. Asyik juga sarapan pagi-pagi di situ, sambil menatap alun-alun yang asri. Ada beringin besar-besar. Ada gereja dan masjid yang berdampingan di sini, seolah menyimbolkan kedamaian kota. Kirana sampai-sampai bilang ingin pindah saja ke Wonosobo yang resik dan asri ini.

Hm, misi Dieng sudah terlaksana pada 19 Oktober 2014. Sayangnya, meski kini sudah berlalu 6 bulan, niat saya untuk kembali ke Dieng full team, naik mobil sendiri dan kemping di sana, masih belum kesampaian. Padahal, sebelumnya sudah ada niat mau ke Bromo full team juga (setelah dulu ke Bromo sendirian bulan bulan Maret 2013, bareng Muslimah Backpacker). Wah… kebanyakan niat ini mah. Ga tau kapan terlaksana. Sekarang ditulis dulu, buat kenang-kenangan. 🙂

From Makassar with Love :)

Judul artikel ini tidak lebay. Itulah yang memang saya rasakan. Terus-terang sebelumnya kesan saya terhadap orang Makassar tuh agak gimanaaa… gitu;  keras, tak mau kompromi, galak, dll. Apalagi di tivi kan berita tawuran di Makassar sering terjadi. Ditambah lagi, rencana kedatangan saya ke Makassar (dalam rangka seminar internasional) sempat “disambut” dengan broadcast (BC) penolakan. Tentu saya sempat kuatir kalau-kalau ada serangan fisik ke saya.

Heran banget, kok “mereka” takut amat ya, sama saya? Sebelumnya saya juga dijegal BC penolakan penayangan Metro Realitas tentang kasus Azzikra (Ust Arifin Ilham) di mana saya menjadi SALAH SATU narasumbernya. Kalau TV sekelas Metro sampai membatalkan penayangan sebuah acara, berarti benar-benar dahsyat jumlah BC yang masuk ke pemrednya dong ya? Padahal nih ya, saya paling-paling muncul 2-3 menit; itupun saya bicara sesuai kapasitas saya sebagai pengamat Timteng. Banyak narasumber lainnya, termasuk dari Azzikra, kepolisian, dll. Saya pikir, pembatalan tayangan itu justru merugikan Azzikra dan pihak-pihak pendukungnya. Mereka sudah dikasih kesempatan ngomong panjang lebar di media terkemuka, malah dihalangi tayang oleh “mereka”.

Mereka telah menciptakan hantu dalam kepala mereka sendiri, yang akhirnya mereka yakini bahwa hantu itu riil, dan mereka pun jadi takut sendiri. Bener-bener terjangkit halusinasi. Korban simulacra tingkat akut.

Dan reporter Metro pun barangkali tak mau rugi toh? *logat Makassar*. Mereka kan sudah jauh-jauh ke Bandung mewawancarai saya. Akhirnya wawancara itu ditampilkan sebagian di acara Metro Realitas dan Prime Time News yang membahas ISIS. Tonton video 3 menit-nya di sini.

Singkat cerita, meski ada sedikit kecemasan, saya tetap datang ke Makassar, sendirian. Acara seminar berlangsung lancar. Panitia sangat profesional dan sigap. Saya tidak melihat ada penjagaan keamanan. Tapi kemudian saya ketahui bahwa sebenarnya ada polisi yang berjaga-jaga. Ada seorang panitia yang sepertinya juga ditugaskan mengawal saya, bahkan sampai ke toilet pun ia membuntuti saya (tapi nunggu di luar dong:D). Peserta membludak, sampai musti dikasih kursi tambahan dan sebagian terpaksa berdiri atau duduk di lantai. Suasana diskusi pun seru, belum pernah saya hadir di seminar dengan audiens yang kritis dan bicaranya blak-blakan seperti ini. Ga sungkan-sungkan mereka mendebat pembicara (ada 4 pembicara termasuk saya), tapi dengan cara yang tetap santun dan bernuansa akademis (bukan debat kusir dan pakai kata “pokoknya”). This is sooo.. Makassar, I love it 🙂

Usai seminar saya tidak langsung pulang karena pingin traveling dulu. Rugi dong jauh-jauh ke Makassar kalo ga jalan-jalan. Awalnya saya berniat jalan-jalan sendirian saja. Saya sudah kontak wartawan terkenal asal Makassar. Dia bilang, di luar acara seminar, tenang saja, saya bisa keliling sendirian, ga perlu takut.

mksr1

sunset di pantai Losari

Tapi rupanya, panitia juga pingin berlibur, wohoho…! 😀 Saya bisa maklumi, mereka pastilah capek banget mempersiapkan acara. Jadi, ya memang musti liburan dong biar seger lagi. Akhirnya, kami pun jalan-jalan rame-rame. Dan betul, the more the merrier. Mereka (aktivis HMI semua nih) seru banget, sepanjang jalan ga henti-hentinya bersuara kenceng (tepatnya: antusias dan penuh semangat :D). Saya hanya senyum-senyum saja, menikmati logat Makassar yang makin lama makin enak terdengar di telinga saya. Sampai sekarang masih terngiang-ngiang itu logat Makassar, saya bahkan sampai praktekkan ke anak-anak 😀

Tujuan pertama (sore habis seminar) adalah pantai Losari, menikmati pemandangan matahari terbenam. Subhanallah indahnya… Lalu ke Fort Rotterdam, tapi cuma bisa masuk sebentar ke halamannya, karena sebenarnya sudah tutup. Besoknya, ke Dusun Rammang-Rammang. Ini wisata naik perahu untuk menelusuri taman hutan batu kapur. Di dunia, konon taman hutan batu kapur hanya ada di China dan Madagaskar. Bisa baca detilnya di blog orang lain. Ongkos perahunya (muat untuk 10 orang + 1 pemilik perahu) 250rb. Itupun setelah tawar-menawar cukup lama. Saya menikmati gaya Fitri, salah satu panitia, dalam tawar-menawar. Unik sekali, dia berpanjang lebar bicara kesana-sini, menyelipkan khutbah segala (misalnya: kalau kau kasih murah, rizkimu tambah lancarji :D), untuk membujuk si pemilik perahu agar turunkan harga.

rammang-rammang2

berperahu di rammang-rammang

 

Dari situ, lanjut ke Leang-Leang. Ini juga taman batu kapur. Menakjubkan sekali, bebatuan berbagai bentuk seolah muncul begitu saja dari dalam tanah. Cerita lengkap bisa baca saja di blog orang lain. Tak lama kami di sana, lanjut lagi ke Taman Nasional Bantimurung. Jadi, tiga lokasi ini relatif berdekatan (di kabupaten Maros) dan bisa dicapai seharian. Cuma, seharusnya, Bantimurung jadi lokasi pertama yang dikunjungi. Saat kami tiba di Bantimurung, sudah sore, museum dan taman penangkaran kupu-kupu sudah tutup. Tapi saya cukup terhibur melihat kupu-kupu berterbangan di sela-sela percikan air terjun. Kata penjual suvenir yang membuntuti kami dengan setia, waktu terbaik berkunjung ke Bantimurung memang pagi hari (banyak kupu-kupu) dan di bulan Mei, saat debit air sedikit (dan jernih; kalau kemarin saya ke sana airnya kecoklatan), sehingga bisa main tubing (meluncur di air terjun dengan ban mobil).

Leang-Leang

Leang-Leang

Besoknya lagi, kami ke Pulau Samalona dan Kodingareng keke. Ini ga jauh-jauh amat dari bandara. Jadi rencananya, habis dari pulau, saya akan langsung ke bandara. Awalnya kami ke dermaga ****. Lagi-lagi Fitri yang turun tangan bernegosiasi. E..e..e… *meniru logat Fitri* si pemilik perahu menyebalkan banget sikapnya. Bahkan dia menghalangi pemilik perahu lain untuk tawar-menawar dengan kami.  Jadilah, kami angkat kaki dari situ dan pergi ke Dermaga Kayu Bangkoa. Dapat harga 325rb. Beda harga antara dermaga pertama dengan Kayu Bangkoa dalam tawar-menawar ini sangat tipis. Tapi ini masalah harga diri, Daeng! 😀

(Oiya, harga sewa perahu 325rb adalah dengan tujuan pulau Samalona. Tapi di tengah jalan, si pemilik perahu bilang, pulau Kodingareng keke lebih indah, tapi bayarnya nambah jadi 500rb. Sudah dilakukan tawar-menawar, dia keukeuh 500rb. Sikapnya tetap ramah dan penuh senyum *so tak ada masalah harga diri di sini* jadi akhirnya deal 500 rb dengan 2 tujuan, pulau Samalona dan Kodingareng keke. Keduanya sama-sama indah. Di Pulau Samalona ada perkampungan, jadi ada tempat makan dan mandi; ada banyak bule yang datang ke situ. Sementara pulau Kodingareng keke adalah pulau sangat mungil yang masih alami, tidak berpenduduk.)

Lalu dimulailah perjalanan mengarungi samudera. Wow.. wow.. wow.. indah bangeeeet…. subhanallah 1000x. Saya pernah ke laut Bunaken, tapi sayang waktu itu agak mendung. Sehingga, bila dibandingkan keduanya, laut Makassar jauuuuuh…. lebih indah! Alhamdulillah, matahari bersinar sangat cerah. Lautan berwarna biru tua, hijau muda, biru muda. Di sela-sela air yang terhempas saat dilewati perahu, muncul bias warna pelangi tak putus-putusnya. Dan, pasir pantai Kodingareng keke, wuih… putiiiih banget… Airnya pun sangat bening dan tenang. (Sebagai buktinya, biar ga dituduh hoax, bisa tonton rekaman video saya di bawah, sekitar menit ke-2)

makasar3

Saya ga tahan, akhirnya nyemplung ke air, bersama Mustafa (4 th), anak Andis. Sambil main air, iseng saya coba bicara dengan logat Makassar dengan Mustafa, hehe. Di pantai Kodingareng keke ini banyak sekali ikan-ikan kecil-kecil mirip teri halus, namanya ikan penja. Kebetulan saat itu ada fansclub-nya Valentino Rossi yang sedang berfoto-foto. Akhirnya kami gabung juga dong, biar fans-nya Rossi kliatan tambah banyak, heuheuheu.

pantai kodingareng keke

with Valentino Rossi FC

 

Oiya, jangan lupa soal kuliner. Wow.. makanan Makassar uenaaak… Favorit saya sup konro, coto, ikan bakar, pisang epe, otak-otak… (hehehe, semuanya difavoritin karena enak semua).

ikan parape dan ikan cepa bakar

 

Singkat cerita, di akhir perjalanan ini, saya pun jatuh cinta pada Makassar dan pada orang-orang Makassar 🙂

Semoga suatu saat bisa ke sana lagi full team. Rana dan Reza langsung kepingin ke Makassar saat liat-liat foto-foto traveling saya. Saat melihat foto pasir putih di pulau Kodingareng keke, Reza spontan nyeletuk, “Pasirnya seperti kristal bertebaran di sela-sela birunya laut.” Eaaaa….

Sebagian foto + rekaman video sudah digabungkan dalam film singkat 5 menit ini, silahkan ditonton. 🙂

Ke Jogja Lagi….

Saya jatuh cinta pada Jogja sejak pertama kali mengunjunginya. Kota ini eksotis banget. Pertama kali saya ke Jogja itu tahun 1996 (atau 1995 ya? lupa), bersama teman-teman sekelas waktu kuliah S1.

taman sari jogja 1995

ki-ka: Isfand, Dina, Hasan (alm), Nita, Agus

Lalu, kedua kali tahun 1997, bersama Papi, untuk mencari bahan skripsi (mengetik kalimat ini, saya jadi terharu dan rindu banget sama Papi. Inget beliau jauh-jauh dari Padang mengantar saya kuliah ke Bandung, trus karena saya nangis pada hari pertama penataran, Papi langsung menawarkan agar saya pulang saja ke Padang dan kuliah di swasta saja. Tapi darah perantau saya lebih kuat daripada kemanjaan saya. Jadi, saya tetap bertahan di Bandung, meskipun sedih banget rasanya berpisah dari ortu. Enam tahun kemudian, saya dapat beasiswa S2 di Univ Teheran, saya juga sempat nangis-nangis di masa-masa awal, pingin pulang ke Padang (padahal ke Iran-nya berdua suami, dan dia benar-benar kebingungan saat saya nangis itu :D).

Kali ketiga, alhamdulillah, saya ke Jogja lagi bersama suami dan dua anak, April 2014. Awalnya kami ke Salatiga dulu untuk mengikuti camping FESPER (Festival Pendidikan Rumah), yang karena kesibukan, tak sempat saya tuliskan cerita serunya di blog. Pokoknya seru banget deh, bertemu dengan sesama keluarga yang meng-homeschooling-kan anak-anak mereka, dapat semangat baru dan inspirasi baru.

Lalu… dari Salatiga, lanjut ke Jogja deh, dianter dengan mobil oleh adiknya teman kami. Di jalan, sempet mampir ke Borobudur. Ceritanya juga panjang dan seru, entah kapan bisa dituliskan. Karena sudah capek camping, saya minta ke si Akang agar kami menginap di hotel yang mentereng. Kalau nginep di losmen sederhana, kan apa bedanya sama rumah sendiri :D. Awalnya, kita mau mengambil dua kamar, saya berdua suami; Rana bareng Reza. Tapi Reza mendadak ngadat, maunya tidur sama saya, sudah dibujuk sampai lama, ga mempan juga. Yaelah… kalau gitu ya mending nyewa satu kamar aja, tidur berempat rame-rame. Si Akang jadi agak-agak kesel gitu 😀

Besoknya, kami jalan-jalan. Standarlah, Taman Pintar, naik becak keliling kompleks keraton, belanja batik, Parangtritis. Kalau buat saya, semuanya menyenangkan. Tapi yang paling berkesan itu saat kami makan di sebuah restoran di kompleks Keraton, yang menunya adalah menu raja keraton. Waduh namanya lupa. Saya browsing barusan, ga ketemu (kalau ada pembaca yang tau nama restoran ini, info ya). Makanannya enak bangeeeet…! (Belum pernah saya memuji-muji makanan Jawa kayak begini.) Tapi harganya memang bikin tepok jidat untuk ukuran backpacker, wkwkwk. Ini salah satu menu yang kami pesan:

makanan keraton

bagian dalam restoran, rumah tua keluarga keraton

bagian dalam restoran, rumah tua keluarga keraton

Sampai suatu hari, datang satu paket buku hadiah dari seorang teman. Buku-buku ini terbitan Badan Geologi Bandung.

buku terbitan badan geologi

Isinya foto-foto indah alam Indonesia, yang membuat Kirana dan Reza terpekik-pekik kagum dan spontan berkata, “Ayo kita ke sini Maaaa…!” Waah.. kalau ada waktu dan duitnya ya dijalanin semua deh… saya juga terkagum-kagum melihat betapa indahnya Indonesia dalam foto-foto itu.

Alhamdulillah, ada tawaran ikut trip ke Jogja bersama komunitas Muslimah Backpacker… dan, di antara yang dikunjungi adalah situs-situs yang ada di buku-buku itu! Waduh, anak-anak semangat banget (terutama Reza). Sejak jauh-jauh hari dia sudah merancang, tas apa yang mau dibawa, apa saja isi tasnya, dll. 🙂

Acaranya masih 17 hari lagi (yang berminat masih bisa gabung lho. Bisa kontak langsung ke tim trip MB atau founder MB (hp085722256562).) Saya browsing-browsing mengumpulkan  foto-foto antara lokasi yang akan dikunjungi dalam Trip MB ke Jogja ini (biar anak-anak tambah ga sabaran sehingga mereka bakal lebih semangat menempuh perjalanan jauh naik kereta :D)

air terjun sri gethuk

Air Terjun Sri Gethuk

Sumber foto: Kompasiana

Air Terjun Jogan

Air Terjun Jogan

Sumber foto: pesonawarnaindonesia.blogspot.com

Gua Pindul Jogja

Gua Pindul Jogja

Sumber foto: tipswisatamurah.com

Snorkeling di Pantai Nglambor

Snorkeling di Pantai Nglambor

Sumber foto: www.temantour.com

Sunrise di Telaga Embung

Sunrise di Telaga Embung

Sumber foto: Hipwee.com

Telaga Embung

Telaga Embung

Sumber foto; tipsjalan.com

Dan masih ada yang lain.. tapi ga ada waktu lagi buat upload. Segini cukuplah buat bikin Rana dan Reza ter-wow-wow. Selain itu akan ada kegiatan membersihkan pantai (ngumpulin sampah dalam rangka Hari Bumi), melepas tukik, snorkeling, kunjungan ke panti asuhan dengan membawa buku-buku untuk anak-anak, dll. Wah, cocok banget aktivitasnya nih buat anak-anak. Semoga kami diberi kesehatan supaya bisa kesampaian ikut trip ini. Amin. Ehm, mengingat kegiatannya yang bakal padat, saya kayaknya musti rajin ikut fitness lagi setelah lama absen nih 😀

Dendeng Batokok @Dago

dendeng batokok dago1Saya rasanya belum pernah ya, promosiin tempat makan di blog. Tapi yang ini istimewa banget, sampai saya merasa ‘wajib’ nulis tentangnya. Enak dan murah (sampai takjub).

Ceritanya, hari Minggu kemarin, anak-anak ikut acara Bandung Sketchwalk di Pasar Baru. Setelah membuat sketsa sekitar dua jam, Reza mulai bosan, lalu kami jalan-jalan di lantai 6. Sempet beli sepatu dan tas. Lalu, naik becak ke Sarasvati Art Gallery, tempat pertemuan para peserta Bandung Sketchwalk. Semua karya ditaruh di lantai, untuk dinikmati sama-sama. Keren-keren deh…  (baca ceritanya di blog Kirana). Sekitar sejam kemudian, kami dijemput sama si Akang yang habis menjemput Rika (adik saya) di Batununggal (pool bis Primajasa khusus Bandara). Nah, Rika ini ada perlu ke Dago, ke rumah dosennya. Jadilah kami nyimpang ke Dago dulu sebelum pulang.

Rika di-drop di Kanayakan dan naik ojek ke dosennya, kami nungguin sambil makan siang. Saya sebelumnya, tiap pulang-pergi kampus, sering melirik-lirik restoran sederhana ini. Tapi belum pernah mampir. Kemarin itu, kesempatan deh, saya ajak si Akang dan anak-anak makan di sana.

Ternyata.. wow banget.. Ga nyangka saya: uenaaak…! (Karena ga nyangka, dikirain ini resto biasa-biasa aja, makanya ga sempet difoto tuh makanannya). Kalau istilahnya si Akang: ‘ini restoran niat banget jualannya’. Satu paket makanan tuh lengkap, nasi, sop (yang enak banget, sop asli Padang ini mah), lalapan sepiring (dan keliatan bersih banget serta ditata rapi di piring), sambel merah, plus lauk yang dipilih.  (Jadi, bayangkan penuhnya meja kami, masing-masing orang dapat paket lengkap begitu). Pilihannya selain dendeng batokok, ada soto, sop, ayam bakar, dll.

Saya pesan dendeng batokok, yang ternyata itu dendeng paling enak yang pernah saya rasakan selama ini *duh, ini nulis sambil ngiler.. ntar kalau ke kampus, mampir ke sana lagi aaah..* Dagingnya ukuran cukup besar, lembut, dan dilumuri sambel ijo yang enak banget. (Kalaupun ada kekurangan, sambel merahnya menurut saya terlalu asin).

Rana dan Reza pilih ayam bakar, yang juga enak, dilengkapi sambel kacang. Si Akang beli sop. Beberapa lama kemudian, Rika datang, dan pesen dendeng batokok juga.

Dan pas bayar… saya bener-bener takjub. Makanan lengkap berlima, plus masing-masing pesan juice, hanya 127.000! Ya ampun… makanan seenak dan selengkap itu, satu porsinya berarti cuma 15 ribuan – di luar juice (tapi ada pajak 10%). Mantap deh… 🙂

Poin plus lainnya.. kebersihannya.  Di sudut ruangan restoran (yang emang ga besar itu) disediakan mushola, westafel, dan toilet yang bersih. Dan, antara musholla dengan dapur dibatasi oleh kaca bening. Artinya, semua kegiatan di dapur bisa diamati dari mushola. Bersih. Trus ya, pelayannya selalu senyum. Ga dibuat-buat, kliatan enjoy gitu, ngurusin restoran ini.

Nah yang mau wisata kuliner ke daerah Dago, jangan lupa mampir ke sana ya.. hehe.. Lokasinya di sebelah toko swalayan Borma, dari arah bawah/simpang Dago, sebelah kanan jalan.

*suer saya ga kenal sama pemilik restoran itu, dan ga dibayar… ini murni apresiasi karena puas banget kemarin makan di sana 🙂