Politik dan Sepiring Nasi Kuning

Dua hari kemarin (Jumat-Sabtu), puas deh kuliah. Belajar dari dosen-dosen yang hebat, dan sekelas dengan bapak-bapak pejabat senior dari berbagai institusi negara. Berbagai cerita di balik layar tentang politik nasional dan internasional diobrolkan dan didiskusikan (sambil tertawa-tawa karena jokes dari beberapa bapak). Tentu saja, off the record. Hanya saja, semakin membuat saya prihatin melihat pilpres 2014 ini. Betapa banyak fakta sejarah yang terkaburkan. Betapa banyak yang diyakini masyarakat (setidaknya, mereka yang saya lihat di medsos, atau yang ngobrol langsung dengan saya), ternyata bohong belaka. Sungguh sayang (dan mengerikan), bila hanya untuk sesuatu yang ‘dunia’ ini, orang-orang menyebarluaskan berita-berita yang sebenarnya belum terverifikasi (hanya “kata orang”), tapi ternyata bohong dan berimbas pada ‘akhirat’. Naudzubillah min dzalik.

Lalu, apakah artinya kita harus diam? Tentu saja tidak, penyampaian aspirasi politik itu dijamin dalam demokrasi kok. Tapi, manusia berhati nurani akan tahu bagaimana cara menyampaikan aspirasi politik tanpa terjebak pada penyebaran kebohongan dan kebencian.

Usai kuliah, saya dijemput sahabat saya sejak lama (sejak zaman nge-blog di Multiply dulu), bunda Intan Rosmadewi. Beliau kebetulan mau ngajar ngaji di rumah temannya, tak jauh dari kampus saya. Karena ‘aura’-nya politik (maklum, saya kan baru keluar kelas), jadilah kami (saya, bunda, dan teman bunda) ngobrol rame soal pilpres. Kaditu-kadieu lah (kesana-sini deh). Saya takjub, dua ibu yang ngobrol sama saya ini, ternyata gaul banget ya, soal pilpres, hehehe. Dan yang membuat saya lebih takjub lagi, ‘analisis’ mereka mantap juga, padahal ga pake teori-teori ilmu politik, ga pake “akses ke sumber informasi dari elit”, hanya dibimbing ‘intuisi keibuan’. Isi obrolan, tak usahlah di-share di sini ya. Salam kampred deh-lah ya.. (kampred: kampanye presiden damai).

Tapi saya sempet kesel juga. Saat kedua ibu itu ngaji (dan saya menunggu di ruang tamu), tiba-tiba ada telepon dari seseorang. Awalnya cuma silaturahmi. Tapi kemudian nyerempet soal pilpres  dan beliau membombardir saya dengan berbagai cerita bohong soal seorang capres. Dengan baik-baik saya jelaskan bahwa cerita yang disampaikan itu salah, tapi ga ngefek. Beliau ngotot banget. Ya sudahlah, mau gimana lagi kan? Fitnah yang tersebar memang sulit diklarifikasi.

Ada sebuah kisah, seorang sufi ditanyai tentang fitnah. Sufi itu menyuruh si penanya untuk menyebarkan bulu ayam di pasar. Bulu-bulu itu berterbangan ke sana-kemari. Lalu, sang sufi menyuruh orang ini mengumpulkan kembali bulu ayam itu. Bisakah? Tentu tak mungkin, entah kemana terbangnya bulu-bulu itu. Tak akan bisa dikumpulkan utuh kembali. Itulah fitnah. Sekali tersebar, tak mungkin lagi bisa diklarifikasi secara utuh. Akan terus disampaikan, turun-temurun, sampai hari kiamat; hari ketika semua kebohongan dibuka di Padang Mahsyar.

Dan sebagai orang yang pernah mengalami nasib dibully oleh berita fitnah di medsos, lalu  berimbas ke banyak hal dalam kehidupan nyata, saya tau gimana efek keji sebuah fitnah. Kecenderungan  umum pembaca internet adalah membaca sekilas, menelannya mentah-mentah, dan tak berusaha mencari lebih dalam. Artinya, meski ada klarifikasi dari berita yang pertama, umumnya akan ‘lewat’, tak terbaca oleh orang itu. Ini umumnya lho. Selalu ada segelintir orang yang berbeda dari ‘umumnya’. Bunda Intan salah satunya. Setia mendampingi saya (meski lewat telepon) di masa-masa sulit saya. Bener-bener sahabat sejati dan tempat curhat yang keren deh.

Usai ngaji, saya dianter bunda Intan ke Baltos; saya mau naik travel (shuttle) menuju Jatinangor. Yang nyetir suami bunda, yang dengan setia nunggu di mobil, selama istrinya ngajar ngaji (plus ngobrol kaditu-kadieu.. hehe.. toplah, ayah Eko memang suami siaga! :D). Dan ternyata, saya dibekelin makanan. Jadilah menu makan malam saya dan keluarga adalah nasi kuning buatan bunda. Enaaaak… 🙂

nasi kuning bunda

nasi kuning buatan bunda Intan

 

Hm, alhamdulillah… Kata hadis, silaturahmi bikin umur panjang dan rizki luas. Amiiin. Hatur nuhun ya bundaaaa..love you full 🙂

Ikut Bandung Historical Study Games, Yuk?

Seperti pernah saya posting di sini, Museum Konperensi Asia Afrika mau mengadakan peringatan hari besar bangsa Asia Afrika selama sepekan, yaitu 18 – 24 April 2014. Acara itu antara lain dilakukan dengan merekrut ratusan relawan yang akan bergotong-royong menyukseskan acara.

Dengan berbagai latar belakang idealisme *jiyaaaaah* saya mendorong Kirana untuk mendaftar jadi relawan. Pertama, biar dapat wawasan baru, terutama mengenai sejarah Asia-Afrika. Kedua, biar dapat pengalaman baru dalam memberikan ‘pelayanan masyarakat’. Ketiga, biar tau cara bekerja dalam tim, Keempat, biar rasa cinta bangsa-nya semakin terpupuk.. dan lain-lain deh, banyak.

Apakah Rana dengan sukarela ikut? Hoho..tentu saja tidak. Rana masih 13 tahun dan langsung membelalakkan mata, “Apa?! Trus aku nanti ngapain di sana?” Saya jelaskan sebisanya. Dia sama sekali ga tertarik. Saya bujuk, “Ya minimalnya dicoba dulu dong, Sayang…”  Akhirnya Rana pun mendaftar dan  terdaftar resmi jadi relawan deh 🙂

Dengan ogah-ogahan, pada hari Ahad yll, dia datang ke acara pembekalan para relawan, ditemani Papa dan Reza (Mama sedang ada kerjaan lain). Yang datang banyak sekali. (Rana kemudian mengomel, “Cuma aku yang masih anak-anak!”–padahal meski usianya baru 13 tahun, tingginya udah melebihi para mahasiswi :D) Acaranya pun di ruang utama Gedung Merdeka, tempat para pemimpin dunia dulu bersidang, tempat dulu bung Karno menyerukan kebangkitan bangsa-bangsa Asia-Afrika.  Dan kalau baca buku “The Bandung Connection”, wah mengharukan dan heroik sekali upaya para negarawan kita dulu dalam melaksanakan konperensi ini.

IMG_20140323_120338

Rana paling belakang, jilbab putih

Pas pulang, saya tanya-tanya. Katanya, yang seru pidatonya pak Desmond, staf di MKAA dan pembina aktif Sahabat MKAA. “Kok bisa ya, dia hafal segitu banyak info tentang sejarah dunia?” kata Rana.   Lumayanlah, Rana sekarang mulai antusias. Hehe.. berkat pak Desmond teaaa… 🙂

Rana nanti kebagian tugas di pelaksanaan BHSG (Bandung Historical Study Games), yaitu kegiatan jalan sehat dalam bentuk permainan yang edukatif. Para peserta akan dibawa menjelajah sejumlah monumen di kota Bandung dan menjawab pertanyaan mengenai monumen tersebut.

Ada hadiahnya ga..?? Ada dooong.. Lumayan banget, yang juara I aja 1,5 juta plus trophy dan voucher menginap di hotel Savoy Homan (ini hotel bersejarah panjang lho…). Juara II 1 juta + trophy + voucher makan di hotel Savoy Homann. Juara III 750rb+ trophy + voucher makan di hotel Savoy Homann. Info selengkapnya, silahkan meluncur ke situs Museum Asia Afrika.

Jalan-Jalan Ke Sekolah Perempuan

Ceritanya begini. Saya sadar sepenuhnya bahwa berkebun itu sangat penting dalam proses pendidikan anak. Silahkan browsing saja, gimana pentingnya. Apalagi kalau baca-baca metode pendidikan Charlotte Mason (misalnya, buku ‘Cinta yang Berpikir’ karya Ellen Kristi), wah, pasti deh, merasa bersalah banget kalo engga mengajak anak mencintai alam, tumbuhan, dan kebun.

Masalahnya, saya TIDAK suka berkebun. Males banget. Tapi sebagai ibu yang bertanggung jawab *amin* saya berusaha menumbuhkan tekad untuk berkebun. Setelah lama tertunda, akhirnya, pak tukang pun datang, membuat rak untuk pot-pot yang KELAK (lama banget?) akan ditanami sayuran. Lalu, selama berhari-hari,  rak itu nganggur. Berkebunnya masih wallahu a’lam, saya masih mencari inspirasi (dan motivasi) dulu. Padahal bibit sudah ada beberapa jenis, dikasih temen-temen (antara lain hasil jalan-jalan ke Pesantren Babussalam, duluuu banget…sampai sekarang blm ditanam).

Nah, seperti biasa, ketika saya butuh inspirasi, saya browsing-browsing, ketemu deh sumber inspirasinya. Awalnya, saya baca tulisan teh Indari Mastuti (Iin) di Kompasiana, trus saya ‘kejar’ ke facebooknya (selama ini kami berteman di FB tapi belum pernah saling sapa :D). Eh, pas baca wallnya, beliau menawarkan bibit cabe dan mempersilahkan siapa aja yang minat datang ke rumahnya. Langsung deh, saya inbox, ngajak ngobrol. Ternyata orangnya ramah banget. Padahal, beliau ini ibu terkenal lho, founder grup Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), Ibu-Ibu Doyan Bisnis (IIDB), dan yang sedang naik daun, Sekolah Perempuan. Wah, kayaknya emang wajib dikunjungi nih. Saya selalu kagum pada aktivis sosial yang punya sumbangsih nyata ke masyarakat, secara saya susah banget kalau diajak aktif sosial (saya tipe rumahan dan agak-agak susah bersosialisasi).

Akhirnya, karena diniatin banget, jadi juga deh, hari Ahad sore, saya, Rana, dan Reza main ke rumah teh Iin. Subhanallah, masuk ke rumah, yang sekaligus difungsikan sebagai Sekolah Perempuan (SP) itu, saya langsung takjub lihat deretan buku-buku yang tersusun rapi. IIDN dan SP berhasil melahirkan ratusan penulis perempuan (targetnya: 1 juta!), dan kini sudah terbit 500-an judul buku karya mereka. Kata teh Iin, yang belajar nulis di IIDN / SP itu bahkan ada yang belum kenal word, masih ngetik pake HP. Tapi, akhirnya bisa nerbitkan buku juga. Saya bahkan ketemu dengan ibu mertua teh Iin, yang ternyata WOW… sudah menerbitkan 40 (gak salah baca: EMPAT PULUH) judul buku resep masakan!

Jadi, ibu-ibu, never give up ya.. Kalau sudah berniat menulis, ada minat (dan sedikit bakat pun cukuplah), insya Allah bisa kok jadi penulis, asal rajin berlatih nulis. Cara ampuh jadi penulis adalah.. dengan MENULIS. Minimalnya, mulailah nulis di blog atau note FB (jangan puas hanya nulis 2-3 kalimat curhat di FB ya).

Seiring waktu, di SP tidak hanya fokus pada belajar nulis. Ibu-ibu yang punya minat dan bakat di bidang lain pun diberi keterampilan, misalnya bikin kerajinan tangan yang laku dijual, bikin baju, dll. Gak heran kalau SP berkali-kali di-studi-bandingi pejabat dan peneliti (atau ibu-ibu biasa kayak saya). Soalnya, ini memang gerakan yang unik: berawal dari komunitas di FB, akhirnya berkembang menjadi persahabatan di dunia nyata dan bergerak nyata mengembangkan potensi kaum perempuan.

Rana dan tante Iin; Rana pegang boneka lucu karya anggota Sekolah Perempuan

Rana dan tante Iin; Rana pegang boneka lucu karya anggota Sekolah Perempuan

Eh, trus berkebunnya gimana?  Ya gitu deh… saya nanya-nanya soal cara menanam, kapan disiram (sekalian, ‘menasehati tak langsung’ ke Rana dan Reza, kan mereka mendengar percakapan saya dengan teh Iin).

“Tanaman itu makhluk hidup lho.. Harus disayang, dikasih air, dikasih pupuk… Kalau enggak, kan kasihan…” kata tante Iin.

(Rana dan Reza awalnya cuek aja sambil makan baso yang enak, suguhan tante Iin. Tapi, akhirnya Reza nyeletuk juga, merencanakan pembagian tugas menyiram kebun :D)

salah satu sudut kebun mungil teh Iin

salah satu sudut kebun mungil teh Iin

Pulangnya… waduh, jadi malu, dikasih banyak oleh-oleh.Mulai dari buku karya anggota IIDN: Womenpreneur Checklist (karya Dian Akbas) dan Ketika Jodoh Menghampiri (Ida Fauziah). Buku Womenpreneur adalah panduan memulai usaha untuk perempuan, menjawab berbagai pertanyaan: bisnis apa yang cocok untukku, bagaimana memulainya, bagaimana mendapatkan modal, dll. Sedangkan buku Ketika Jodoh Menghampiri berisi tips inspiratf mewujudkan keluarga sakinah,mawaddah, wa rahmah. Wah, penting dibaca nih..;)

hadiah buku

hadiah buku

Trus ya, teh Iin membekali kami dengan sekarung…kompos! Waduh, senengnya.. (dan sekaligus: jadi ada tanggung jawab moral dong, hahaha.. masa udah dimodalin kompos dan beberapa bibit tumbuhan, berkebunnya kaga mulai-mulai?!)

Lalu, hari tadi, akhirnya, kegiatan berkebun dimulai, dengan menyaring tanah (jadi, ada tanah bekas bangunan gitu deh..cuma banyak campuran batu, jadi disaring dulu pake kawat kasa yang agak besar ukuran lubangnya, habis itu dicampur sama kompos). Jujur saja, memulainya tuh.. MALES banget! Ini bener-bener perjuangan deh buat saya. Tapi melihat Reza yang antuasias (kayaknya, nasehat tante Iin-nya ngefek banget tuh), rasanya ga tega kalau saya tetep males. Rana sih agak males-malesan (nah, ini turunan mama-nya banget deh), tapi tetap mau bekerja.

Lumayanlah, sore tadi selesai ngurusin tanah. Disambung besok lagi deh. Mudah-mudahan kebunnya jadi dan kapan-kapan fotonya bisa dipamerkan di blog ini 😀

With millions thanks to teh Indari Mastuti. Semoga Allah selalu memudahkan langkahnya bersama Sekolah Perempuan.

[Sharing] Pentingnya Komunitas Penulisan

Senangnya, hari Sabtu tanggal 25 Mei 2013 saya bisa menghadiri perayaan ulang tahun ke-3 Forum Penulis Bacaan Anak (PBA) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Selain makan-makan (judul acaranya juga ‘Pesta Awug’—awug ini makanan khas Sunda, dari tepung beras dan gula merah), juga ada sharing dari para pakar, judulnya “Antara Penulis, Blog, dan Personal Branding”.

Ini dia awugnya, dipotong oleh mbak Ary

Ini dia awugnya, dipotong oleh mbak Ary. Kaos putih: kang Benny Rhamdani, kaos abu: kang Ali Muakhir, baju ungu : Lygia Pecanduhujan

Mbak Meidya Derni (jilbab kuning, penulis, tinggal di AS), yang selama ini cuma saya kenal di dumay, akhirnya jumpa juga di Bandung. Kirana (jilbab merah, dapat awug dari kak Ali Muakhir)

Mbak Meidya Derni (jilbab kuning, penulis, tinggal di AS), yang selama ini cuma saya kenal di dumay, akhirnya jumpa juga di Bandung. Kirana (jilbab merah, dapat awug dari kak Ali Muakhir). Jilbab htm:mbak Indari, jilbab abu: kak Indah Juli. Jilbab oranye, lupa lagi 😀 (foto:pinjam dari grup FB PBA)

Pembicara pertama mba Ary Nilandari, tentang penulisan cerita anak (eeh.. saya nggak terlalu nyimak, malah sibuk ngobrol dan kangen-kangenan sama uni Desti, xixixi..maafin ya mba Ary…).Pembicara kedua Bang Aswi, blogger yang udah ngetop sehingga malah mampu mendapat uang dari blogging. Caranya gimana..? Eeeehrrr.. sama, gak terlalu nyimak juga (wadoooh..gimana seh!). Tapi yang saya ingat adalah bang Aswi bilang, nulis di blog itu jangan cuma sekedar curhat tapi upayakan ada manfaatnya buat diri sendiri dan buat pembaca. Eh, beneran lho, saya baca di buku Self Hypnosis, menulis itu salah satu cara memberikan energi positif pada diri. Jadi, saat gundah gulana, bolehlah nulis curhat, tapi sambil mencari solusinya (jadi nulisnya sambil mikir, kira-kira gw musti apa nih supaya lepas dari masalah ini); nah itu akan ‘menghipnosis’ pikiran kita. Artinya, kalau kita menulis yang baik, kebaikan itu akan memantul pada diri kita.

Nah… untuk jadi blogger yang sukses, Bang Aswi bilang, kita musti bikin jadwal yang teratur. Misalnya, wajibkan diri satu pekan satu tulisan; di  hari dan jam tertentu. Insya Allah lama-lama nulisnya jadi luwes dan bukan ga mungkin jadi penulis buku. Nah, pembicara ketiga, kak Indah Juli (pengasuh grup FB Emak-Emak Blogger), semakin melengkapi. Bliau bilang, komunitas di dunia maya (dumay) itu membawa 3P (pengetahuan, pertemanan, dan pengalaman). Jadi, berkomunitas di dumay itu penting…!

Para narasumber,ki-ka: kang Benny Rhamdani, mba Indari, mba Ary Nilandari, kak Indah Juli, dan kang Ali Muakhir

Para narasumber,ki-ka: kang Benny Rhamdani, bang Aswi, mba Indari, mba Ary Nilandari, kak Indah Juli, dan kang Ali Muakhir

Saya setuju sekali dengan yang disampaikan bang Aswi dan kak Indah Juli. Saya bahkan berani bilang bahwa komunitas dunia maya (dumay) telah banyak sekali mengubah hidup saya, ke arah yang tak saya sangka-sangka sebelumnya. Dulu, awalnya saya suka nimbrung di milis jurnalisme. Di situ saya kenal beberapa orang yang kini akhirnya menjadi teman baik saya. Lalu tahun 2005, setelah kenal blog Multiply, saya merutinkan diri menulis catatan ringan tentang kehidupan saya sehari-hari. Saya mewajibkan diri menulis, awalnya sepekan dua tulisan, lalu sepekan sekali. Tanggapan dari teman-teman serta pertemanan yang terjalin antarnegara-antarbenua, sungguh memberikan semangat menulis yang besar. Saya saksikan, banyak ibu-ibu rumah tangga blogger Multiply yang akhirnya bermetamorfosis jadi penulis profesional (menerbitkan buku-buku yang terpampang manis di toko-toko buku).

Saya pun, awalnya jadi penulis buku ya dari Multiply ini. Ceritanya, habis melahirkan Reza, saya pun curhat di blog (biasaaa..curhat aja neh). Komen-komen menanggapi postingan saya itu akhirnya melahirkan ide untuk nulis buku soal baby blues. Penanggung jawabnya, saya dan Mbak Mamiek Syamil.  Sebuah kenangan tak terlupakan, saat masih di Teheran, malam-malam saya chatting dengan mbak Mamiek Syamil yang saat itu tinggal di Arkansas (Amerika), mendiskusikan editing buku kami, Oh Baby Blues. Buku itu kumpulan tulisan para ibu blogger Multiply. Itulah buku pertama saya (kami). Trus, tulisan saya di blog soal penghafal Quran cilik dilamar penerbit dan jadilah buku berjudul Doktor Cilik dan kini cetak ulang (plus revisi) dengan judul Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik. Buku saya Pelangi di Persia (dan dicetak ulang dengan judul Journey to Iran) juga awalnya tulisan-tulisan singkat di blog yang dikembangkan jadi buku.

Selain soal buku, pertemanan yang terjalin benar-benar luar biasa. Saya jadi punya banyak saudara baru, yang di dumay aja udah akrab banget, setelah ketemuan di darat, apalagi. Seneeeeng..deh.

beberapa teman tersayang,yang awalnya kenal dari dumay ki-ka: Dian Iskandar, Eva Nukman, Desti Jenialita (saya yang paling kanan). Mbak Mamiek Syamil juga hadir, sayang ga sempet foto2.

beberapa teman tersayang,yang awalnya kenal dari dumay ki-ka: Dian Iskandar, Eva Nukman, Desti Jenialita (saya yang paling kanan). Mbak Mamiek Syamil juga hadir, sayang ga sempet foto2.

Berkat blogging, kemajuan yang saya rasakan adalah: saya sampai pada tahap kecanduan menulis. Kalau tidak menulis, otak saya galau sekali (halah!). Eh.. beneran.. setelah bersikap keras pada diri sendiri selama hampir dua tahun (mewajibkan diri nulis di blog), justru akhirnya saya sering kebanjiran ide di kepala. Rasanya banyak sekali yang ingin saya tuliskan di blog. Tapi karena semakin ke sini waktu saya rasanya semakin terbatas, seringkali ide itu hanya sempat tercatat di folder laptop saya, atau di hp, tak sempat diselesaikan. Tentu saja ada yang diselesaikan; tapi tulisan yang selesai dibanding ide yang ada di kepala, jauh banget.

Selain kecanduan menulis, juga rasanya saya bisa menulis dengan jauh lebih lancar dan mengalir dibanding zaman dulu. Beberapa orang menyebut kelebihan saya adalah mampu menuliskan topik yang berat dengan sederhana. Nah, kalau benar demikian, saya berhutang budi dari blog. Tapi, sejujurnya di dalam hati saya tuh pengen sekali bisa menulis yang ‘sulit’. Kayaknya keren banget kalau saya bisa menulis sesuatu yang dalam, tinggi, dan orang yang baca perlu mikir lama untuk mencernanya.. haha.. sungguhan ini, bukan nyindir. Saya sering terpesona pada penulis-penulis politik, filsafat, dan sosbud yang bukunya ‘berat’ itu dan berkhayal, barangkali suatu saat saya bisa sepintar mereka *nah ini sih curcol namanya*

Dari komunitas dumay pula jalan hidup saya banyak berubah. Misalnya nih, suatu saat, ketika saya sudah pindah ke Bandung, saya musti ‘mengejar’ Bunda Elly Risman, mau nitipin buku Oh Baby Blues untuk dibawa ke Amrik (untuk disampaikan ke mbak Mamiek yang akan mengkoordinir bedah buku itu di sana). Darimana saya tau beliau datang ke Bandung? Dari uni Eva Nukman, yang awalnya saya kenal di dumay juga, saat dia masih di Jerman dan saya masih di Tehran. Berkat info dari uni Eva soal seminar bu Elly di Bandung, saya pun ikut seminar itu tanpa tau apa yang akan dibahas di seminar. Ternyata, itulah seminar yang mengubah hidup saya: mengubah cara pandang saya ke anak-anak. Saya tersadarkan bahwa banyak sekali kesalahan saya dalam mendidik anak. Sejak itu saya jadi rajin ikut pelatihan parenting, bahkan akhirnya membantu penulisan sebuah buku parenting super keren, Amazing Parenting.

Trus..dari sisi pertemanan, saya dulu sering merasa ‘sendirian’ karena sedikit sekali punya teman diskusi masalah politik internasional (paling-paling saya diskusi sama suami, di sela-sela diskusi soal beras dan bawang, xixixi).  Eh… ketika saya membuat blog khusus mahasiswa magister HI Unpad, saya dikontak Global Future Institute. Lambat-laun, saya semakin berkenalan dan cocok dengan pemikiran para aktivisnya, sering berdiskusi di dumay, sempet ketemuan juga di beberapa forum. Di sinilah saya mendapatkan komunitas yang nyaman dan mendorong saya untuk terus menulis di bidang politik internasional.

Sebagai ibu, saya juga menyukai bacaan anak-anak (apalagi, tiap hari saya harus membaca buku cerita bersama Reza; yang sekarang sedang dibaca bersama adalah ‘Bagaimana Cara Melatih Nagamu’, Cressida Cowell :D), dan sesekali menulis cerita anak, dan saya juga menjadi redaktur majalah anak muslim, IRFAN. Alhamdulillah, ada komunitasnya juga di dumay (FB), yaitu Komunitas Penulis Bacaan Anak. Meski tidak aktif nimbrung, tapi mengamati diskusi penuh semangat para penulisnya membuat semangat menulis terus terjaga. Di sini saya menyaksikan beberapa orang yang tadinya ‘biasa’ sekarang sudah menjelma jadi penulis terkenal dengan buku-buku yang tiap sebentar terbit. Dan semangat ini saya tularkan ke teman-teman saya yang belum ‘tersentuh’ komunitas dumay. Saya ceritakan berkali-kali dalam berbagai forum diskusi, “Di luar sana banyak lho, ibu-ibu yang rajin menempa diri menulis, sampai akhirnya jadi penulis… Ayo, yang penting ada kemauan, insya Allah ada jalan!”

Jadi, buat teman-teman yang menyatakan ‘ingin bisa nulis’, inilah saran saya: mulailah nge-blog dan temukan komunitasmu. Semoga dengan demikian semangatmu terus menyala dan kemampuanmu semakin terasah.

Nah, kalau sudah terasah, lama-lama bisa maju ke topik personal branding deh.. Ini sharing dari mbak Indari Mastuti. Beliau bilang, sangat mungkin seseorang mampu menulis banyak jenis tulisan, tapi pilihlah yang terbayak kita miliki dan fokus di sana supaya terbentuk brandingnya. Brand ini misalnya…ingat mas Ali Muakhir atau Benny Rhamdani, inget cerita anak… atau ingat Yusuf Mansyur, ingat buku tentang sedekah… gitu misalnya. Tapi meski punya brand tertentu, sama sekali tidak berarti kita ga boleh nulis di topik-topik lainnya.

Nah, sekian dulu ceritanya ya… Happy writing! 🙂