Parenting di Masa Pandemi


Insya Allah, pandeminya sebentar lagi selesai, tapi ini ilmunya tetap bisa dipakai sepanjang masa, terutama buat saya sendiri. Saya menulis ini terinspirasi dari Nurul Arifin.

Nurul bilang (saat diwawancara wartawan setelah kematian putrinya), “…kalau saya melihat, pandemi ini juga membawa satu akibat ya, banyak orang frustasi karena ga bisa bergaul bebas, mau berinteraksi sulit, hubungannya lewat Zoom… Mungkin anak saya salah satu korban dari ini semua, jadi rasa frustasi, menjadi asosial, yang biasa berkumpul dengan teman-temannya jadi sulit…” [1]

Saya juga menghadapi kesulitan selama masa pandemi ini karena anak saya yang tertekan akibat BDR (belajar di rumah). Dia selama SD homeschooling, jadi minggu-minggu awal BDR [kelas 2 SMP] masih biasa saja. Tapi lama-lama muncul masalah. Dia ada di masa pubertas, sedang senang-senangnya berkegiatan di sekolah, tapi tiba-tiba dirumahkan.

Awalnya saya saya pikir, kami ini sudah cukup baik jadi ortu, kami memenuhi semua permintaan anak-anak, berusaha mencukupkan semua fasilitas supaya mereka tetap nyaman belajar. Tapi, karakteristik anak itu beda-beda. Ada yang tidak punya fasilitas mendambakan fasilitas. Ada yang dilimpahi fasilitas, eh, malah merasa terbebani, karena seolah “ditagih” untuk berkarya, padahal kami mendorong anak berkarya adalah supaya hari-harinya penuh aktivitas bermanfaat.

Continue reading

Catatan Menyambut Tahun Baru 2022

Malam tahun baru, menjelang 1 Januari 2022, kami melewatinya di rumah saja. Bakar jagung dan memanggang sosis di atas kompor gas, bukan di atas arang. Minumannya ramuan 131, biar tubuh lebih segar dan setrong melawan virus. Rana menulis resolusi tahun baru di bukunya, berdiskusi dengan Papa. Reza menolak membincangkan resolusinya, ya sudah ga apa-apa. Saya juga ga punya resolusi apa-apa, tapi bertekad memanfaatkan waktu sebaik mungkin di masa-masa mendatang.

Alhamdulillah, kami bisa menyaksikan keramaian kembang api dari lantai dua rumah kami. Alhamdulillah, karena ‘perjuangan’ membangun 2 ruangan tambahan di lantai dua itu buat kami “sesuatu” banget. Dan kini kami untuk pertama kalinya, duduk di sana, menikmati pesta kembang api. Meski kucing kesayangan kami, Grey, jadi meringkuk ketakutan.

Malam ini, sambil menanti jam 12 malam, saya mengulang-ulang beberapa bagian dari buku “Berani Tidak Disukai” (Ichiro Kishimi & Fumitake Koga). Saya kutip di sini salah satu bagian yang menarik (meski semuanya sangat menarik, buat saya).

Continue reading

Catatan Akhir Tahun 2021

Awal tahun 2021 (dulu) kami mulai dengan optimis. Kami menyengaja pergi ke hotel, menyusun bersama resolusi dan life book. Tapi banyak sekali rencana yang tidak tercapai, bahkan banyak cerita sedih yang kami alami. Hanya saja, saya memang memilih tidak menceritakan hal yang sedih-sedih di medsos. Biar saja disimpan dan didoakan dalam hati. Di saat yang sama, sebenarnya banyaaak… sekali kebahagiaan yang kami terima. Tapi, ya cuma sesekali saja saya ceritakan di facebook. Seharusnya disimpan juga di sini, karena facebook sangat rentan diblokir, tapi sayang belum sempat juga.

Kali ini, saya memaksakan diri menulis, agak panjang, sekedar sebagai kenang-kenangan. Mungkin suatu hari akan dibaca oleh anak-anak saya kalau saya sudah ‘pergi’. Tahun 2021 saya semakin memahami, di mana akar kesalahan dalam penanganan pandemi ini, tapi sedihnya, apa yang diketahui tidak bisa semaunya diceritakan, ada banyak yang harus disimpan saja. Kalaupun ada yang bisa disampaikan, yang diterima justru tanggapan tidak enak, dari mereka yang merasa tahu – padahal tidak tahu – bahkan sekedar level dasarnya pun tak tahu. Merasa tahu, padahal tidak tahu. Illusion of knowledge.

Continue reading

Menata Kembali Hidup

bunga

Sudah lama sekali saya tidak mengisi blog ini. Saya lebih sering menulis catatan di Facebook (meskipun juga tidak sering-sering amat). Padahal, di FB itu rentan sekali karena FB suka semena-mena men-suspend akun seseorang. Seharusnya saya lebih sering menulis di blog ini, seperti dulu, dan saya berencana demikian. Mudah-mudahan bisa konsisten.

Beberapa hari yang lalu, ada dialog begini:

Rana: “Ma, aku sudah memutuskan untuk menata kembali kehidupanku.”

Saya: [kaget, memikirkan sesuatu yang heboh] …”Gimana tuh?”

Rana: “Aku mau bangun pagi.”

Gubrak. Kirain apa. Ternyata bangun pagi “doang”. Tapi dipikir-pikir, bangun pagi ini memang menjadi problem selama “lockdown”. Bangun untuk Subuh berjamaah, ngaji bareng sambil terkantuk-kantuk, lalu anak-anak pada tidur lagi deh. Lalu mereka bangun siang, males-malesan. Walhasil belajar juga ga serius, banyak rencana-rencana yang tidak terealisasi. Berarti Rana sudah merasa bahwa hidupnya jadi ‘kacau’, makanya mau “menata kembali”.

Saya berempati padanya. Semakin lama, situasi ini memang terasa semakin tak nyaman. Rasa rindu ketemu teman-teman. Sedih atas bubarnya berbagai rencana kegiatan kampus. Memikirkan bahwa “harus di rumah aja” sampai tahun depan. Oh no…

Saya juga sebenarnya sudah mulai spaneng. Terutama, saya rindu sekali pada ortu dan adik-adik saya di Padang. Pingin sekali terbang ke sana. Tapi mikirin biaya dan keribetan tes ini-itu, terpaksa ditahan saja rindu ini. Saya segera istighfar, bersyukur, segini juga alhamdulillah… banyak sekali orang yang jauh lebih berat bebannya. Tapi ya berdoa juga, semoga ada keajaiban terjadi, yaitu… *kalo diterusin kuatir ada yang protes.

Nah balik ke bangun bagi, saya cari-cari di google, manfaat bangun pagi. Ketemu, share di grup keluarga.

Saya share di sini ya, barangkali aja ada yang ‘relate’ dan termotivasi.

Manfaat bangun pagi:
-Membawa perasaan tenang dan damai.
-Otak berfungsi lebih baik.
-Nilai akademis lebih besar.
(kabarnya ada penelitian yang dilakukan, mahasiswa yang bangun pagi meraih nilai yang lebih baik daripada mereka yang terlambat bangun).
-Punya lebih banyak energi.
-Bangun lebih awal membuat Anda terlihat lebih cantik dan menarik. Asal, malamnya juga ga telat tidur (jadi, cukup tidur).

Selama “dirumahkan” ini, saya punya kebiasaan baru, jalan pagi dan pakai smart watch yang bisa menghitung langkah. Target saya, sehari bisa 5000 langkah (artinya, perlu banyak jalan, ga harus keluar, pokoknya jangan kebanyakan duduk di depan laptop, biar sehat). 5000 langkah itu juga sebenarnya kurang (dan segitu pun jarang tercapai, ihiks).

Saya ikut grup WA yang di dalamnya para member setor jumlah langkah harian, mereka bisa sampai 40-50 ribu langkah per hari. Saya pikir, apa rumahnya gede banget yak, jadi ngider rumah aja bisa ribuan langkah? Lha kalau di rumah mungil kami, muter-muter sampai bosen juga paling-paling dapat ratusan langkah.

Tapi yang jelas ini kemajuan baru buat saya. Dan saya baru nyadar, ini kan juga “menata kembali hidup” ya, biar lebih sehat. Aamiin.

Cara “olahraga” seperti ini disebut Non-exercise Activity Thermogenesis (NEAT). NEAT ini intinya yang menyatakan bahwa cara untuk membakar kalori (=menyehatkan tubuh) meliputi semua kegiatan fisik sehari-hari. 

Banyak orang berpikir, kalau ngepel, nyapu, dll, itu bukan olahraga. Yang dianggap olahraga itu: pergi lari di luar rumah; yoga, senam, dll. Nah, kalau konsep NEAT justru  mendorong kita untuk terus bergerak sepanjang hari, dan pembakaran kalorinya jauh lebih besar dibanding olahraga dengan “sengaja”. Olahraga yang “sengaja” juga sering dihambat oleh malas (karena harus menyegaja pergi ke luar, ganti baju khusus, dll).

Jadi, ibu-ibu bisa meniatkan bekerja di rumah, apapun itu, sebagai olahraga yang menyehatkan tubuh. Sebaiknya pasang target, misalnya, sehari minimal 5.000 langkah. Kita hilir-mudik nyapu, ngepel, mengelilingi dapur (sedang masak, kan mondar-mandir tuh, dari kompor ke arah bak cuci piring, lalu ke arah kulkas), dll.

Cara ngitung langkahnya gimana? Bisa beli smart watch yang dipakai sepanjang hari. Atau, download aplikasi Google fit di hp. Tapi kalau pakai Google fit, hp harus dikantongin terus. Atau pakai tas khusus hp untuk olahraga yang diikatkan ke pinggang.

Nah.. saat jalan ini, kita bisa “nyambi” kerja atau menuntut ilmu. Misalnya, sambil mendengar audio book. Caranya, bisa audio di hp dikeraskan; atau, bisa dengan memakai earphone. Atau, pakai earphone wireless juga bisa, biar ga ribet ada kabel (ada yang harganya 50 rb).

 

Atau.. bisa juga sambil ngetik di atas treadmill, treadmill-nya dikasih meja. Kayak gini nih:

treadmill

ide-nya dari sini:

meja treadmill

 

Treadmill ini ada ceritanya juga. Sekitar 3 tahun yang lalu, saya beli bekas, dengan honor hasil ngisi seminar. Awalnya ya semangat, lama-lama males dan terbengkalai begitu saja. Penyebabnya, bosen: kebayang kan, jalan, diem, gak ngapa-ngapain.

Lalu, muncul ide untuk membuat meja, pakai sisa kayu dan besi yang ada saja, minta tolong ke seorang tukang, tetangga. Nah, sekarang saya bisa ngetik di laptop, sambil jalan di treadmill.

Demikian cerita hari ini, semoga bermanfaat 🙂

Saya dan Hari Favorit Winnie the Pooh

Beberapa hari yang lalu, saat kami liburan ke Padang, si Akang, Rana, dan Reza pergi ber-3 ke Transmart. Tujuan mereka, menonton Christopher Robin dan main (tepatnya: menemani Reza main). Saya tidak ikut, ada paper yang harus saya selesaikan. Paper yang sudah berminggu-minggu, tak jua selesai. Padahal deadline semakin mendekat, dia seperti monster yang menghantui setiap malam. Dan ketika mereka pulang, tak ada kemajuan pada paper itu. Waktu saya habis untuk hal-hal lain.

Ketika mereka pulang, semua berkomentar mirip: filmnya bagus sekali, Mama harus nonton karena itu ‘mama banget’. What?

Dengan penuh semangat, baik Rana maupun Akang mengulangi dialog-dialog yang -kata mereka- luar biasa. Sementara Reza hanya menyimak.

Akhirnya saya benar-benar menyempatkan waktu untuk itu, di Bandung. Setelah paper itu selesai (dengan tidak memuaskan, karena diselesaikan detik-detik akhir).

Saya menonton sendirian, dan menanti-nanti kalimat-kalimat yang membuat Rana dan Papanya terpesona.

Continue reading

Umur

KLIA 2-Nov 2-2017

Kemarin, saya merasa benar-benar bego, dodol, dan amat ceroboh. Pasalnya, hari Rabu yll, saya pesan tiket kereta api via situs KAI. Sistem web ini adalah beli satu-satu, jadi beli tiket pergi dulu (Bandung-Jakarta), lalu selesai transaksi, buka lagi dari awal, baru beli tiket pulang (Jakarta-Bandung). Saat saya pesan tiket Jakarta-Bandung, saya malah pilih yang jam 5.05 WIB. Saya ceroboh, ga sadar bahwa harusnya saya ambil kereta jam 17, bukan jam 5!

Walhasil, setelah mengikuti sebuah FGD di sebuah kantor pemerintah di Jakarta Pusat, saya pun ke Gambir. Dan saat itulah saya baru menyadari kedodolan saya.

Continue reading

Basa-Basi Basi

body shamingBuka FB pagi-pagi, ketemu artikel soal “body shaming“. Saya baru tahu istilah ini, kurang-lebih maknanya mengolok-olok tubuh orang (atau diri sendiri). Isi tulisan ini pun seputar pengalaman pahit seseorang yang sering mengalami body shaming, dan tips untuk menghadapinya.

Tapi saya lebih sering mendapati jenis ‘body shaming’ yang sebenarnya tidak bermaksud membully atau mencela (ini prasangka baik saya) melainkan karena ingin menunjukkan perhatian, tapi akibatnya malah jadi SOK PERHATIAN dan MENYEBALKAN. Saat ketemu dengan seseorang yang lama tak jumpa, komentar yang lazim diucapkan, “Gemuk ih, sekarang, makmur nih ye!” atau sebaliknya, dengan ekspresi wajah prihatin, “Kok kurus banget, kecapekan ya?”

Ibuk-ibuk, sadarilah, setiap perempuan itu (termasuk Anda sendiri) punya kondisi berbeda-beda. Saya pernah baca curhat seseorang yang sebal dikomentari gemuk. Memang ibu itu tidak gemuk, tapi montok, dan sebenarnya cantik!

Saya sendiri, karena sering dikatain “kurus kering” waktu kecil (maksudnya -saya percaya- baik, supaya saya makan lebih banyak), sangat sensitif dengan komentar kurus. Jadi, saya malah seneng saat dikomentari gemuk. Aneh tho?  Continue reading

Ngaji Adem Bersama Kiai Ndas

cover kiai ndasJudul : Kiai Ndas (Ngaji Raga, Ngaji Ati, Ngaji Laku)
Penulis : Nurul Huda Haem
Penerbit : Quanta (Gramedia grup), Jakarta, 2017
Tebal : 217 Halaman

Karen Amstrong dalam bukunya “Compassion” (2013:129) menulis, “…betapa jarangnya kita meluangkan tempat untuk yang lain dalam interaksi sosial. Dan, betapa seringnya kita memaksakan pengalaman dan keyakinan sendiri tentang orang dan peristiwa, dan penilaian ketus yang menyakitkan…”

“Meluangkan tempat untuk yang lain”, sebuah frasa yang terasa asing di tengah atmosfer sosial-politik masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Betapa banyak tersebar narasi yang memaksakan pemahaman dan keyakinan kepada pihak lain. Ketika beradu pendapat, umpatan kafir atau munafik demikian mudah terlontar. Narasi agama tidak lagi terasa menyenangkan, mewujud menjadi narasi penghakiman yang menciutkan nyali.

Karenanya, kehadiran buku Kiai Ndas seperti oase yang menyegarkan di tengah suasana beragama yang panas dan penuh hiruk pikuk ini. Buku yang berisi wejangan yang dikemas dalam cerita-cerita singkat ini mengajak pembaca untuk ‘beragama dengan menyenangkan’. Tokoh utama dalam buku ini adalah seorang kiai nyentrik yang suka berkata ‘endasmu!’ (kepalamu!) sehingga dijuluki Kiai Ndas.

Continue reading

Cime’eh (Cemooh)

bully

Dalam budaya Minangkabau, dikenal istilah cime’eh  (mencemooh, meledek, menghina). Dalam pembicaraan sehari-hari urang awak, terkadang cime’eh dilontarkan. Terkadang memang diniatkan untuk menghina, namun seringkali hanya bermaksud candaan. Pernah saya baca di sebuah artikel, cime’eh merupakan salah satu cara orang Minang bercanda, memunculkan gelak-tawa, dan mencairkan suasana. Sebagian orang juga menilai bahwa cime’eh adalah upaya para tetua dalam menempa anak muda, agar ia lebih tahan banting. Konon berkat cime’eh orang kampung, anak-anak bujang akan bersemangat pergi merantau dan di sana mereka bekerja keras supaya ketika pulang ke kampung halaman, mereka datang sebagai orang sukses yang tak pantas lagi di-cime’eh.

Namun, saya pikir, dampaknya tidak selalu baik. Menghina jelas berbeda dengan kritik atau penilaian terhadap orang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menghina bermakna merendahkan, memandang rendah (hina, tidak penting), memburukkan nama baik orang, atau menyinggung perasaan orang (seperti memaki-maki, menistakan).

Ini cerita ayah saya. Dulu, ketika SMP gurunya bertanya, “Apa bahasa Inggrisnya ‘meja’?” Ayah dengan penuh semangat menjawab, “Table!” Pak guru menimpali, “Apa?? Tabek?” [kolam ikan]. Sontak semua teman sekelas tertawa.  Sejak itu, ayah saya jadi antipati pada pelajaran bahasa Inggris. Akibatnya ketika sudah jadi PNS, ayah berkali-kali melepas kesempatan tugas ke luar negeri karena tidak mampu berbahasa Inggris dengan baik.

Continue reading

Afi, Plagiarisme, dan Logical Fallacy

Close-up  of young beautiful woman hands writing and work with laptop computer.Afi Nihaya Faradisa adalah seorang facebooker yang sangat terkenal karena status-statusnya di-like puluhan ribu orang. Tulisannya yang jadi hits berjudul ‘Warisan’. Saya tidak sepakat 100% dengan isinya, tapi menurut saya, sah-sah saja orang berpendapat dan berproses.  Dan sebuah tulisan yang baik (bukan hoax atau hate speech), selayaknya ditanggapi dengan baik dan beradab. Tapi anehnya, tulisan Afi ini mendatangkan bully-an dahsyat. Akun FB nya sempat down karena direport ramai-ramai.

Lalu, Afi menjadi sangat terkenal, masuk TV dan diwawancarai media dan bahkan masuk TV, acara Rosi dan Mata Najwa. Dalam acara itu, sekilas saya lihat Afi mampu memberikan pendapat dengan jelas, jadi ‘cocok’ dengan tulisannya. Dalam arti, apa yang ia tulis memang terinternalisasi dalam dirinya sehingga ia mampu menyampaikan pula dengan lisan.

Eh, tiba-tiba muncul tuduhan bahwa tulisan Afi itu plagiat. Banyak sekali yang komen, simpang siur, entah benar copas entah tidak. Saya tidak ada waktu untuk mengikuti intens. Tapi, ada hal-hal yang membuat saya miris.

Jadi ini komentar saya.

Continue reading