[Video] Jangan Biarkan Anak-Anak Teradikalisasi

cover3aPada November 2014, wartawan BBC, Mark Lowen, menemui seorang remaja usia 13 tahun yang sedang dalam masa persiapan bergabung dengan ISIS di Turki selatan. Dia ingin dipanggil sebagai “Abu Hattab”. Ia bergabung dengan kelompok jihad Syam al-Islam. Dia dididik hal ihwal syariah dan belajar menggunakan senjata, dan dengan bangga menunjukkan gambar ia membidik dengan senapan mesin.

Sekarang ia menghabiskan hari-harinya dengan selalu terhubung secara online, menonton video jihad dan chatting di Facebook dengan para petarung ISIS. Dalam beberapa pekan, katanya, dia akan pergi ke kubu ISIS di Raqqa di Suriah untuk menjadi seorang prajurit jihad belia.

Menurut laporan Human Rights Watch para prajurit bocah itu digunakan sebagai pelaku bom bunuh diri dan penembak jitu. [1]

Jurnalis independen, Vanessa Beeley, pada September 2016 mengunjungi korban bom bunuh diri di kawasan Al Qaa, Suriah. Si korban bernama Jean Houri. Pada 27 Juni 2016, terjadi aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh 4 orang. Jean berlari untuk membantu seorang korban akibat ledakan si pengebom ke-3, yang membuat kaki kirinya terluka. Tapi kemudian, si pengebom yang ke-4 meledakkan dirinya, sehingga kaki kanan Jean pun hancur. Para pengebom bunuh diri itu masih remaja. Mereka terlihat dalam pengaruh obat bius, salah satunya bahkan sudah dihujani lebih dari 50 peluru [oleh aparat], tapi mampu terus berjalan dan mampu meledakkan dirinya. [2]

Continue reading

Mindful Ramadan (4): Kritis

pray for turkey

Pray for Turkey from Paris

Turki dibom, Bangladesh dibom, Irak dibom. Di bulan Ramadan.  Suriah sudah lima tahun terakhir ini jadi korban bom di berbagai penjuru negerinya. Sialnya, pelakunya muslim yang mengaku sedang berjihad (ISIS atau kelompok-kelompok jihad dengan berbagai nama lain). Sebagian Muslim (atau pembela Muslim) berapologi dengan menyatakan, “ISIS bukan Islam!” [atau sekalian tambahkan: ISIS itu buatan AS-Israel!]. Tapi, coba kritis sedikit, kan yang melakukannya tetap orang Islam? Yang jadi anggota ISIS (dan kelompok-kelompok jihad lainnya, yang hobinya juga sama, main penggal dan main bom sana-sini) juga orang Islam, tho?

Saya tidak akan membahas lebih lanjut karena sudah pernah menuliskannya (baca: Ketika ISIS Masuk ke Kamar Kita)  dan karena fokus tulisan ini bukan itu. Fokus saya ada pada kata KRITIS.

Ya, “hilangnya daya kritis” adalah kalimat yang terlintas dalam pikiran saya saat melihat polah para jihadis di Timteng (dan para pendukungnya di Indonesia). Sepertinya, sulit sekali buat mereka menganalisis secara kritis, apa yang sedang terjadi di dunia ini (baca: Dunia Kita-1, Dunia Kita-2, Dunia Kita-3).

Mengapa ada sebagian umat Muslim yang sulit berpikir kritis, padahal mereka dikenal salih, rajin ngaji, bahkan sebagian hafal Quran? Saya baru saja membaca tausiah Gus Mus, yang ditulis oleh seorang Facebooker:

KH Ahmad Mustofa Bisri pernah bercerita tentang strategi setan menjauhkan umat manusia dari ridha Allah. Setiap perintah Allah kepada hambaNya, setan selalu punya sedikitnya dua cara menggoda agar perintah itu tidak terlaksanakan. Pertama, setan menggoda agar perintah tersebut dilaksanakan kurang dari semestinya. Kedua, setan menggoda agar perintah itu dilaksanakan berlebihan dari semestinya.

Continue reading

Proses Menemukan Bakat Anak

kue ira & rezaTeorinya sekilas saya pelajari waktu ikut FESPER (Festival Pendidikan Rumah) 2014, dari salah satu narasumber, yaitu bu Septi Peni Wulandari. Beliau mengenalkan istilah 4E dalam proses menemukan bakat anak, yaitu “Enjoy – Easy – Excellent – Earn”.

Jadi, ortu mendukung dan memfasilitasi berbagai aktivitas anak, sampai mereka menemukan ada aktivitas tertentu yang mereka senang, mudah, dan mahir dalam melakukannya, serta mampu menghasilkan uang dari aktivitas itu. Dengan konsep seperti ini, tak heran bila kita temukan anak-anak di usia sangat muda sudah mampu berbisnis sendiri, atau berkarya yang memberi penghasilan (misalnya, menulis buku, mendesain baju, menyanyi, acting, dll).

Di antara cara ‘memfasilitasi’ itu adalah dengan mengenalkan berbagai profesi kepada anak-anak. Pengalaman saya sendiri, untuk melakukan ini, yang diperlukan paling utama adalah “waktu” dan “tebel muka” grin emoticon. Misalnya, pernah saya duduk hampir satu jam di pinggir jalan, menemani Reza memperhatikan seorang penjual mainan orisinil (si Mang berkreasi sendiri membuat mainan hewan-hewan fantasi dari kain perca dan kawat). Si Mang-nya menggelar lapak benar-benar (literally) di pinggir jalan umum. Apa saya nggak malu duduk di pinggir jalan gitu? Ya malu lah, tapi apa boleh buat. Apa ada waktu? Sebenarnya sih, semua ibuk-ibuk itu pastilah sibuk banget, tapi seperti kata guru parenting saya, “Menyediakan waktu buat anak itu wajib!”

Continue reading

Men Are From Mars

delimaLaki-laki itu dari Mars, perempuan dari Venus, kata buku karya John Gray. Karena berasal dari dua planet berbeda, mereka punya bahasa yang beda juga, sehingga keduanya musti mengenal bahasa satu sama lain supaya nyambung.

Nah, salah satu ‘bahasa’ kaum Mars adalah ‘selalu berusaha memberi solusi’. Ini sering bikin ibuk-ibuk bete. Kita mau curhat kan pengennya mah disayang-sayang, eeeeh… malah dikasih solusi praktis (dan biasanya solusinya juga kita udah tau, tapi itu masih untung ga diomelin atau disalah-salahin). Jalan tengahnya, di satu sisi, kaum Mars musti paham, apa yang sebenarnya diinginkan orang Venus saat mereka curhat. Di sisi lain, kaum Venus juga paham bahwa sudah nature-nya kaum Mars untuk kasih solusi, dan hargai upaya mereka itu.

Continue reading

Reza @Nusantara Bertutur (Mendidik Anak Melalui Dongeng)

kak Andi Yudha sedang mendongeng

kak Andi Yudha sedang mendongeng

Ah, sepertinya sudah banyak yang tahu bahwa mendongeng kepada anak-anak itu adalah kegiatan penting di rumah. Tapi… sayangnya kegiatan ini semakin terabaikan. Padahal  melalui dongeng, selain bonding (keterikatan) dengan ortu akan semakin erat, anak akan belajar bahasa dan nilai-nilai tanpa merasa sedang belajar. Anak yang biasa didongengin insya Allah akan tumbuh menjadi anak yang mencintai buku/membaca. Cinta buku/membaca lebih penting daripada bisa membaca. “Bisa membaca” bisa didapat dengan ikut kursus singkat (banyak tuh iklannya, metode ini-itu). Tapi cinta membaca, hanya bisa ditumbuhkan melalui proses yang panjang, tidak bisa instant. Mendongeng adalah salah satu caranya. Dan pengamatan saya terhadap anak-anak saya sendiri, mereka lebih cepat menyerap ‘nilai’ dari cerita (baik film, maupun buku) dibandingkan dari pengajaran yang kaku atau nasehat panjang lebar (apalagi kalau disertai omelan).

Di makalah ilmiah yang ini, disebutkan bahwa sifat atau karakter anak adalah mempunyai kecenderungan untuk meniru dan mengidentifikasikan diri dengan tokoh yang dikaguminya. Melalui dongeng, anak akan dengan mudah memahami sifat-sifat, figur-figur, dan perbuatan-perbuatan yang baik dan yang buruk.

Sayangnya, akhir-akhir ini, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, karakter anak-anak lebih banyak dibangun oleh televisi, internet, dan games. Sudah tahu kan, karakter jenis apa yang kebanyakan muncul pada anak-anak Indonesia? Banyak yang negatifnya, kan? Ironis sekali.

Ternyata ada orang-orang yang prihatin atas masalah ini dan melakukan ‘sesuatu’ untuk mengubahnya dengan membuat gerakan Nusantara Bertutur (NB). NB awalnya digagas oleh alumni ITB angkatan ’81, dengan motornya pak Gilarsi W. Setyono, pak Arlan Septia, ibu Dyah Erowati, dll.  NB berupaya mengembalikan  budaya mendongeng demi membangun karakter anak-anak Indonesia karena dengan mendengarkan dongeng (yang berkualitas baik, tentunya), karakter anak bisa dibentuk menjadi mandiri, cerdas, tangguh, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat . Kegiatan NB antara lain memproduksi karya-karya dongeng (antara lain dimuat di Kompas, bahkan dikasih video juga (konon ada barcode yang ada di samping dongeng yang dimuat di Kompas, nah barcode itu kalau di-scan bisa terhubung dengan video dongeng). Saya belum pernah liat Kompas-nya sih, tapi video-video dongeng Nusantara Bertutur bisa diliat di sini.

Continue reading

[Parenting] Tips dari Gobind Vashdev

compassion(Copas dari status saya di FB)

Beberapa waktu yang lalu, saya beruntung bisa ikut seminarnya Gobind Vashdev bertema Parenting yang Welas Asih. Awalnya sempat ragu, karena penyelenggaranya organisasi Hindu (saya lupa namanya). Saya daftar via SMS, saya bilang, “Saya Muslim, apa boleh ikut?”

Tentu saja, jawabannya boleh. Saya pun datang. Ehm, acara diawali dan diakhiri dengan doa Hindu (aih, untung saya bukan dari golongan yang suka ngamuk dan bilang haram-haram ya). Biasa ajalah. Mereka berdoa pakai bahasa (apa ya, Sansekerta?), saya berdoa pakai bahasa Arab.

Melihat ada 3 orang berjilbab di ruangan itu, Gobind dengan penuh empati mengucapkan Assalamualaikum. Dia beberapa kali mengutip ayat Quran untuk berargumen, bahkan menceritakan kisah Imam Ali yang batal membunuh lawannya dalam perang (karena lawannya itu meludahi Imam Ali; Imam Ali khawatir dia membunuh karena ego/kemarahan, bukan karena pretext perang suci). Gobind benar-benar memesona saya (meski kayaknya saya memang jenis perempuan yang gampang terpesona, tapi suer emang dia pembicara yang keren).

Salah satu tips mendidik anak dari Gobind yang lumayan “menampar” saya adalah: lakukan apa yang kaunasehatkan pada anakmu. Gobind mengutip kisah Mahatma Gandhi. Ini saya ceritakan ulang dengan kata-kata saya ya.

Suatu hari, datang seorang ibu membawa anaknya menghadap Gandhi.

“Anakku ini sakit, dia seharusnya berpantang garam, tapi dia bandel sekali, tak mau menurut. Tolong nasehati dia,” kata si ibu,

“Aku tak bisa menasehatinya sekarang, datanglah minggu depan,” jawab Gandhi.

Pekan depan, mereka kembali datang. Gandhi berkata singkat pada anak itu, “Nak, jangan makan garam ya, itu buruk untuk kesehatanmu.”

Keduanya lalu pulang. Beberapa hari kemudian, si ibu datang sendirian ke tempat Gandhi.

“Aku heran, engkau hanya bilang ‘jangan makan garam’ dan anakku mau menurut. Padahal kalimat yang sama sudah aku sampaikan ribuan kali, tapi tak pernah diturutinya.”

“Ibu ingat, dulu ibu datang pertama kali, aku suruh ibu pulang dan datang lagi seminggu kemudian. Nah, selama seminggu itu, aku berpantang garam. Jadi, ketika ibu datang lagi, saya menasehati anak ibu dengan sesuatu yang memang saya lakukan.”

Jedeeerrrrr…! Kebayang kan, kebayang kan, betapa skak mat-nya saya?
Gimana saya bisa membuat anak-anak mengontrol pemakaian gadget bila saya juga fesbukan melulu??

Gimana saya bisa membuat anak-anak memilih makanan yang sehat, kalau saya tergoda wisata kuliner melulu??

Gimana saya bisa membuat anak-anak rajin ngaji, kalau porsi waktu membaca fesbuk saya lebih banyak daripada porsi waktu ngaji saya??

Padahal kan sudah ada di Quran, li maa taquuluuna ma laa taf’luun (mengapa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian lakukan?)

Kenapa harus menunggu orang Hindu seh, yang mengingatkanku? #eh

*maaf, saya menyebut-nyebut agama bukan dalam rangka SARA lho ya, tapi justru ingin memperlihatkan bahwa kita semua ini bersaudara dan bisa saling memberi inspirasi.

(sumber foto: compassionateheart.com)

Epistemic Community & Homoseksualitas

scientistBanyak yang menentang pendapat bahwa homoseksual adalah penyimpangan” dengan menyodorkan berbagai jurnal ilmiah yang menyebut “homoseksual adalah genetik/bawaan”. Ketika ada kasus-kasus yang ditangani civil society membuktikan bahwa ada yang semula gay, akhirnya ‘sembuh’, malah dimintai jurnal ilmiah. Seolah tanpa jurnal ilmiah, tak ada kebenaran. Kalaupun ada di jurnal, mungkin dipertanyakan: itu jurnalnya terindex dimana dulu?

Tesis S2 saya dulu membahas fenomena ini: hegemoni epistemic community. Ini saya copas sebagiannya (kalau dianggap agak ‘berat’, abaikan saja, nanti saya jelaskan dengan bahasa yang simpel):

Dengan membandingkan pemikiran Adler & P.Haas dengan E. Haas, peneliti menyimpulkan bahwa hegemoni memang terjadi dalam proses koordinasi kebijakan internasional. Negara (dalam hal ini negara dominan, seperti AS) melakukan hegemoni dengan cara menerima pengetahuan tertentu yang dipromosikan oleh epistemic community lalu mendesakkan pengetahuan itu kepada negara-negara lain untuk menjadi pengetahuan konsensual. Namun, bukan berarti epistemic community tidak ikut andil dalam hegemoni ini (seperti yang dikatakan Adler dan P. Haas), karena selain epistemic community selalu berupaya memonopoli akses pada posisi pengambilan keputusan di negara dominan, mereka juga akan berupaya memonopoli akses pada posisi pengambilan keputusan di negara-negara yang kurang dominan. Ketika para pengambil keputusan dari berbagai negara telah memiliki framing, definisi state interest, dan standar yang kurang lebih sama, maka penetapan kebijakan atas sebuah isu akan menjadi relatif mudah.

Jadi intinya begini, kalau ada sekumpulan ahli (=epistemic community) yang punya akses besar ke PBB, mengajukan kesimpulan tertentu, misalnya: homoseksual itu masalah genetik, maka kesimpulan itulah yang akan dipakai PBB untuk memutuskan sesuatu tindakan.

Continue reading