Basa-Basi Basi

body shamingBuka FB pagi-pagi, ketemu artikel soal “body shaming“. Saya baru tahu istilah ini, kurang-lebih maknanya mengolok-olok tubuh orang (atau diri sendiri). Isi tulisan ini pun seputar pengalaman pahit seseorang yang sering mengalami body shaming, dan tips untuk menghadapinya.

Tapi saya lebih sering mendapati jenis ‘body shaming’ yang sebenarnya tidak bermaksud membully atau mencela (ini prasangka baik saya) melainkan karena ingin menunjukkan perhatian, tapi akibatnya malah jadi SOK PERHATIAN dan MENYEBALKAN. Saat ketemu dengan seseorang yang lama tak jumpa, komentar yang lazim diucapkan, “Gemuk ih, sekarang, makmur nih ye!” atau sebaliknya, dengan ekspresi wajah prihatin, “Kok kurus banget, kecapekan ya?”

Ibuk-ibuk, sadarilah, setiap perempuan itu (termasuk Anda sendiri) punya kondisi berbeda-beda. Saya pernah baca curhat seseorang yang sebal dikomentari gemuk. Memang ibu itu tidak gemuk, tapi montok, dan sebenarnya cantik!

Saya sendiri, karena sering dikatain “kurus kering” waktu kecil (maksudnya -saya percaya- baik, supaya saya makan lebih banyak), sangat sensitif dengan komentar kurus. Jadi, saya malah seneng saat dikomentari gemuk. Aneh tho?  Continue reading

Advertisements

Cime’eh (Cemooh)

bully

Dalam budaya Minangkabau, dikenal istilah cime’eh  (mencemooh, meledek, menghina). Dalam pembicaraan sehari-hari urang awak, terkadang cime’eh dilontarkan. Terkadang memang diniatkan untuk menghina, namun seringkali hanya bermaksud candaan. Pernah saya baca di sebuah artikel, cime’eh merupakan salah satu cara orang Minang bercanda, memunculkan gelak-tawa, dan mencairkan suasana. Sebagian orang juga menilai bahwa cime’eh adalah upaya para tetua dalam menempa anak muda, agar ia lebih tahan banting. Konon berkat cime’eh orang kampung, anak-anak bujang akan bersemangat pergi merantau dan di sana mereka bekerja keras supaya ketika pulang ke kampung halaman, mereka datang sebagai orang sukses yang tak pantas lagi di-cime’eh.

Namun, saya pikir, dampaknya tidak selalu baik. Menghina jelas berbeda dengan kritik atau penilaian terhadap orang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menghina bermakna merendahkan, memandang rendah (hina, tidak penting), memburukkan nama baik orang, atau menyinggung perasaan orang (seperti memaki-maki, menistakan).

Ini cerita ayah saya. Dulu, ketika SMP gurunya bertanya, “Apa bahasa Inggrisnya ‘meja’?” Ayah dengan penuh semangat menjawab, “Table!” Pak guru menimpali, “Apa?? Tabek?” [kolam ikan]. Sontak semua teman sekelas tertawa.  Sejak itu, ayah saya jadi antipati pada pelajaran bahasa Inggris. Akibatnya ketika sudah jadi PNS, ayah berkali-kali melepas kesempatan tugas ke luar negeri karena tidak mampu berbahasa Inggris dengan baik.

Continue reading

[Parenting] Membeli Karya Anak

IMG20170604115046
Sharing sedikit lagi ya, semoga ga bosen. Karena di status sebelumnya mengutip Stephen King, saya teringat bahwa King waktu kecil rajin menulis dan tulisan itu ‘dibeli’ oleh ibunya.
 
Ini saya copas dari tulisan lama saya. King dalam buku “Stephen King on Writing”, menulis, “Punya seseorang yang mempercayaimu dapat membuat perubahan besar. Mereka tak harus menyusun pidato. Hanya percaya saja biasanya sudah cukup.”
 
King adalah penulis lebih dari 30 buku best-seller (yang diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia) ternyata bukan seorang yang melewati masa kecil secara ‘normal’. Ibunya single parent dan mereka sering pindah-pindah tempat tinggal. Namun, King bisa tumbuh menjadi penulis besar karena ternyata ibunya SANGAT menghargai tulisan-tulisannya. Tulisan King kecil diapresiasi ibunya (bahkan ibunya membeli karya King kecil seharga 25 sen untuk tiap cerita).
 

[Parenting] Mendidik Anak Sempurna (?)

IMG20170424080620

Ini sharing ala ibuk-ibuk ya… Ga usah ditanggapi dengan tegang. Jadi gini, barusan muncul di timeline FB, status orang, “saya kenal sama anak-anak muda yang pemikirannya cemerlang…rajin update status.. tapi mereka itu ga peduli sama urusan rumah, ga bantu-bantu ibunya, idealismenya ga terealisasi di kehidupan nyata.”

Saya ga ingin menilai negatif atas status ini. Saya pingin membahas dari sisi positif saja. Bahwa memang mendidik anak itu beraaaat… Manusia ga ada yang sempurna, tapi kita ortu perlu berupaya mendidik anak sesempurna mungkin. Banyak sekali aspek yang harus kita kembangkan dalam diri anak-anak. Jangan merasa sudah ‘selesai’ ketika anak kita pinter akademis, pinter nulis, pinter ini-itu. Kalau ustad Harry Santosa merumuskan ada sekian fitrah anak yang musti dikembangkan ortu: fitrah keimanan, bakat, belajar, seksualitas, perkembangan, estetika, sosial dll.

Continue reading

Kisah-Kisah Nyata tentang Radikalisasi Anak Muda

selamatkan anak-anak kitaKisah-kisah berikut ini nyata, saya kumpulkan dari teman-teman yang nyata. Semoga kita, terutama para orang tua, bisa mengambil hikmah dan menjaga anak-anak kita baik-baik.

Ibu I, suatu hari mengecek sebuah grup WA di hape keponakannya. Grup tersebut adalah grup siswa-siswi sebuah SMP. Didapatinya, kata gantung dan penggal biasa diucapkan anggota grup. Foto penggalan kepala juga di-share (kemungkinan korban teroris di Suriah). Saat ia mengadukan hal ini kepada ibu si anak, ternyata ibunya biasa saja. Menurut si ibu, adalah baik bila anaknya sejak kecil sudah punya semangat ‘jihad’.
Continue reading

[Parenting] Melatih Anak Menulis

menulis1

Skill menulis itu penting banget, menurut saya. Bukan melulu agar jadi penulis profesional, tapi dalam berbagai lini kehidupan kita, ada banyak hal yang bisa dilalui dengan mudah bila punya skill menulis dan sebaliknya jadi beban berat ketika skill menulis kita lemah. Misalnya saja nih, nulis paper tugas kuliah, skripsi, hingga disertasi. Bukan sekali dua kali saya saksikan orang yang sebenarnya pintar banget tapi kerepotan menyelesaikan studi gara-gara kesulitan menuangkan pemikirannya dalam tulisan.

Karena itu sejak anak-anak masih kecil sudah saya latihkan skill menulis kepada mereka. Berikut ini sekedar sharing, semoga bermanfaat buat ayah bunda.

Continue reading

Bakat Anak

kendengTeman saya yang sedang berkunjung ke Iran, di FB memposting fotonya bersama hafiz Quran asal Iran, Sayid Husain Tabatabai. Saya dulu menulis buku tentang masa kecil sang hafiz, judul bukunya “Doktor Cilik Hafal dan Paham Al Quran”.

Hal ini membuat saya teringat sesuatu. Begini, dulu saya sempat benar-benar ga betah tinggal di Iran (sering disangka pengungsi Afghan –konon wajah saya mirip orang Afghan, duit cekak melulu, kemana-mana jauh, rumah kontrakan ga nyaman sama sekali, dll). Namun, ketika si Akang menawarkan pulang saja, saya malah ga mau. Sebabnya, (ini sulit dipercaya, karena saya bukan jenis akhwat relijies 😀 ) karena saya ingin Kirana jadi hafizah Quran.

Saat itu hafiz cilik bernama Sayid Husain Tabatabai sedang hit banget, terkenal, dan bikin banyak ibu-ibu klepek-klepek, pingin anaknya kayak beliau, termasuk saya. Jadi, saya bertahan, untuk bisa menyekolahkan Rana di sekolah hafalan Quran di sana. Eh, alhamdulillah, setelah itu saya dapat kerjaan jadi jurnalis di IRIB. *rejeki anak soleha* Langsung segalanya berubah jadi nyaman, dari sisi keuangan, dari sisi rasa percaya diri (dulu saya ga pede banget jadi ibu RT doang, tapi sekarang malah males kerja full time), dan bakat menulis saya tersalurkan maksimal. Dan yang lebih menyenangkan, ternyata sekolah hafalan Quran itu tak jauh dari rumah kami.

Tapi, setelah pulang ke Indonesia, situasi ga kondusif lagi. Semakin lama, semangat menghafal Quran Rana semakin kendor, dan akhirnya berhenti. Saya sejujurnya tidak sadar bahwa jauh di lubuk hati terdalam ini amat mengganggu saya. Rasanya kecewa banget, sudah sedemikian ‘berkorban’ kok ga ada hasilnya.

Saya baru sadar akhir-akhir ini saja.

Continue reading