Tips Pernikahan

anniversaryKadang saya kasihan sama friends saya, saban hari dikasih status dan link-link soal Timteng. Jadi kali ini sebagai selingan saya mau sok bijak kasih nasehat soal pernikahan *eciye.

Sebenarnya niatnya mau posting menye-menye atas ultah pernikahan saya dan si Akang. Tapi ternyata gagal. Mungkin karena saya bukan orang romantis, ga bisa nulis puisi.

Jadi sudahlah, saya sharing aja, semoga bermanfaat untuk pasangan muda. Begini, ada dua hal penting yang saya dapatkan selama 18 tahun pernikahan kami.

Pertama, selalu beri ruang kepada masing-masing pihak untuk jadi dirinya sendiri. Bagaimanapun, pernikahan itu menyatukan dua pribadi yang berbeda, dengan sejarah kehidupan yang berbeda. Kalau suami-istri sama-sama memaksa pasangannya untuk ‘berubah’ menjadi sosok yang diinginkan (atau dikhayalkannya sebelum menikah), yang ada malah konflik melulu.

Continue reading

Advertisements

Men Are From Mars

delimaLaki-laki itu dari Mars, perempuan dari Venus, kata buku karya John Gray. Karena berasal dari dua planet berbeda, mereka punya bahasa yang beda juga, sehingga keduanya musti mengenal bahasa satu sama lain supaya nyambung.

Nah, salah satu ‘bahasa’ kaum Mars adalah ‘selalu berusaha memberi solusi’. Ini sering bikin ibuk-ibuk bete. Kita mau curhat kan pengennya mah disayang-sayang, eeeeh… malah dikasih solusi praktis (dan biasanya solusinya juga kita udah tau, tapi itu masih untung ga diomelin atau disalah-salahin). Jalan tengahnya, di satu sisi, kaum Mars musti paham, apa yang sebenarnya diinginkan orang Venus saat mereka curhat. Di sisi lain, kaum Venus juga paham bahwa sudah nature-nya kaum Mars untuk kasih solusi, dan hargai upaya mereka itu.

Continue reading

Kebaikan Hati

foto: julettemillien.com

foto: julettemillien.com

Reza (9th): “Mama, Nobita itu kan bodoh, penakut, cengeng… tapi sekarang aku tahu kelebihannya.”

Mama: “Apa?”

Reza: “Hatinya baik, dia menghibur orang-orang yang putus asa…”

Saya jadi teringat salah satu dialog dalam film Stand By Me Doraemon, ayah Shizuka menyadari bahwa calon mantunya itu (si Nobita) memang ‘payah’, tapi… hatinya baik. Hm, istimewa ya, calon mertua yang lebih memilih ‘kebaikan hati’ dibanding karir, kekayaan, dan sejenisnya?

Kebaikan hati, kata Dr Gottman (pakar pernikahan), ternyata kunci utama dari sebuah pernikahan yang kuat dan sehat. Kebaikan hati membuat pasangan merasa disayang, diperhatikan, dipahami, dan diterima. Kebaikan hati adalah “lawan” (antitesis) dari hinaan, kritikan, dan kekasaran. Jadi, pasangan yang baik tidak akan menghina, mengkritik, apalagi berlaku kasar. Menurut penelitian, penghinaan adalah penyebab utama terjadinya perceraian.

Pasangan yang baik hati adalah orang yang mampu menyampaikan ketidaksetujuan atau kemarahannya dengan baik; selalu berbaik sangka, dan tahu berterima kasih (bersyukur).

Dan yang perlu dicatat, kebaikan itu seperti otot: semakin dipraktekkan, semakin kuat kita mampu berbaik hati. Dan semakin kita baik pada pasangan, pasangan pun akan semakin termotivasi untuk membalas kebaikan itu.

Seperti kata Juliet, “My love as deep; the more I give to thee / The more I have, for both are infinite.”

Petuah Dr John Gottman bisa dibaca selengkapnya di sini: http://www.theatlantic.com/…/…/06/happily-ever-after/372573/

Pernikahan adalah Transaksi (?)

Beberapa waktu yang lalu, saya, suami, dan beberapa teman, nonton bareng film Iran berjudul “She was an Angel”. Salah satu bagian menceritakan bahwa si tokoh pria jatuh cinta lagi pada perempuan lain. Istrinya ga terima dan minta cerai. Si pria lalu menghubungi pengacara untuk mengurus perceraian itu, dan tanya si pengacara, “Kamu punya uang untuk bayar mahar istrimu?”

Di bagian ini, suami saya menjelaskan ke temen-temennya, bahwa yang dimaksud adalah, hutang mahar si cowok ke istrinya dulu saat nikah. Sudah tradisi di Iran: perempuan minta mahar sangat mahal ke laki-laki (dalam film ini, maharnya sekitar 500 juta rupiah), tapi diberikan dalam bentuk hutang. Kalau di tengah masa perkawinan, si laki-laki berbuat buruk dan istri minta cerai, maka mahar itu harus dilunasi. Bila tidak, si laki-laki akan dipenjara (dan negara benar-benar melaksanakan hukuman ini). Maka, tak heran bila biasanya laki-laki Iran (apalagi yang duitnya pas-pasan), ga berani macem-macem ke istrinya. Dan biasanya, kalau pernikahan damai-damai saja sampai tua, si istri merelakan mahar itu (tidak dibayar pun tak apa). Mahar itu seolah jaminan buat istri

Seorang teman nyeletuk, “Lho, bisa dibisniskan tuh, sama perempuan nakal?”

Suami saya nyengir, “Memang pada dasarnya pernikahan kan ‘transaksi’/ akad. Jadi si laki-laki musti hati-hati saat menjalin akad, jangan sampai dikibulin perempuan nakal.”

(Prosesnya sih lewat pengadilan ya. Hakim akan memutuskan, apakah perceraian itu sah atau tidak. Jadi bisa saja mahar itu hanya dibayarkan setengah, karena beberapa alasan, misal bila alasan istri minta cerai kurang kuat, hanya sekedar ga cinta lagi, dll).

Nah saya jadi inget di salah satu acara Mario Teguh, ada seorang perempuan yang curhat tentang perilaku buruk suaminya. Si perempuan ini rupanya sudah beli rumah dengan uangnya sendiri, sebelum nikah. Om Mario bertanya, “Ibu lebih teliti mana, beli rumah atau saat memilih suami?”

Setelah terdiam sesaat, si perempuan menjawab, “Lebih teliti saat beli rumah…”

Kata om Mario, “Ya, karena saat memutuskan menikah biasanya perempuan dibutakan oleh cinta..”

Pagi ini saya pikir-pikir lagi, benar juga ya… Pernikahan itu kan akad, transaksi, kontrak.. kan harusnya kita bener-bener mengkaji “pasal per pasal”-nya dengan cermat, sebagaimana kita mencermati pasal-pasal perjanjian untuk urusan lain. Tapi kenyataannya, dalam pernikahan seringkali cerewet pada pasal-pasal itu justru menimbulkan ketakutan tersendiri, “Ntar kalau aku terlalu cerewet, si dia malah takut dan ga jadi nikahin aku deh…”

Perempuan-termasuk saya sendiri- sepertinya cenderung terima saja. Apalagi kalau umur udah sampai di masa kritis, wah, tambah ga berani pasang syarat ini-itu.

Pernikahan saya pun, karena ga terlalu dikaji baik-baik, kayak nyemplung ke “medan pertempuran” tanpa persiapan. Untung aja si Akang tipe penyabar ketika tingkat toleransi saya -duluuu..lho, sekarang mah udah ‘sembuh’– sangat rendah. Saya dulu sulit bersabar atas berbagai perbedaan persepsi di antara kami, jadinya sering ngomel dan berantem deh. Di titik ini, saya pikir lagi, kalau seandainya dulu si Akang tau sifat saya ini, tentu dia ga mau dong nikahin saya, hehehe. Ada untungnya juga kali ya, kami tidak terlalu saling kenal sebelum nikah. Tapi, yang jelas, ini gambling (taruhan) banget sih. Coba kalau sifat saya dan suami sama, kayaknya sudah bubar dari dulu deh *naudzubillah

Lalu, saya dapat ‘hidayah’ untuk ikut berbagai pelatihan parenting dan self healing, saya berdiskusi intens dengan psikolog, dan perlahan saya menyadari memang ada yang salah dari diri saya. Salah satu pertanyaan teman psikolog itu, “Yang bikin kamu marah, sebenarnya bukan suami kamu kan? Tapi orang atau faktor di luar diri kalian berdua, iya kan?”

Artinya, ketika saya dan suami baik-baik saja, mengapa harus memperdulikan hal-hal eksternal dan membawanya ke dalam interaksi internal? (Contoh kasus: saya kesal atas perilaku saudara suami, atau temannya suami; nah, harusnya saya abaikan saja, toh itu kan orang lain.. yang penting suami saya orang baik, memperlakukan saya dengan baik.. rugi amat saya berantem sama suami karena orang lain).

Upaya saya untuk mengubah sudut pandang dan cara berkomunikasi pun mendatangkan hasil –alhamdulillah. Hubungan saya dan suami bisa sampai pada level ‘persahabatan’. Menurut bukunya John Gottmann, “pernikahan bahagia didasarkan pada persahabatan yang erat.. saling menghargai dan senang ditemani pasangannya.. saling mengenal dengan akrab, mereka tahu benar kesukaan, ketidaksukaan, kekhasan kepribadian, harapan, dan impian pasangannya…”

(baca review bukunya di sini, saya juga merekomendasikan buku ini)

Lalu, apakah sekarang rumah tangga saya aman dan damai selalu? Ah tidak juga. Soalnya, kayaknya “sudah bawaan” saya untuk protes *ngelap keringet* 😀 Jadi, perdebatan selalu saja muncul dalam hari-hari kami, dan seringkali -lagi-lagi hanya karena masalah eksternal yang sebenarnya ga ngefek buat kami. Contohnya, saya nulis sebuah artikel, dan suami saya ga setuju isinya, lalu kami berdebat *sok ilmiah ni ye*  (atau sebaliknya, saya ga setuju melihat keputusan yang diambil suami saya terkait kerjaannya.. duh padahal itu kan urusannya dia tho, ngapain juga saya ikut campur).

Tapi, karena kami ‘bersahabat’, kami tahu bahwa yang kami perdebatkan itu sebenarnya memang ga penting dan ga perlu diambil hati. Yang penting itu kau dan aku, gitu… *hoek..

Oh iya, akhir-akhir ini kalau kami berdebat lagi, ada satpam yang ngomelin:

“Hush diam, jangan bertengkar!” kata Kirana dengan cueknya.

“Kalau kalian bertengkar lagi, aku marahin ya!” ucap Reza dengan gayanya yang menggemaskan.

Saya dan suami pun jadi ketawa.

(Dari sisi parenting, apakah bertengkar di depan anak baik atau buruk? Tergantung sikon sih, menurut saya. Kalau dalam kasus saya, karena kami berdebat bukan dilandasi kebencian, tapi emang sama-sama kritis aja, saya pikir, malah melatih anak-anak untuk punya argumen dan kritis. Terbukti, menurun ke anak-anak, mereka ga terima kalau disalahkan begitu saja, selalu adu argumen dulu. Dan saya menerima protes mereka dengan senang hati, malah bangga melihat kekritisan mereka)

Balik lagi ke pernikahan = transaksi. Sebagaimana kita cermat meneliti barang yang akan dibeli, manusia pun mustinya cermat memilih pasangan hidup. Saya tidak menyarankan, laki–laki dan perempuan menikah begitu aja, tanpa terlalu kenal orangnya.. ini kan untung-untungan banget ?!

Saran saya, laki-laki atau perempuan yang akan menikah, meneliti baik-baik pasangannya, tapi tidak harus melalui pacaran. Cara yang dipakai orang Iran cukup menarik. Saat sepasang manusia berniat menikah, keluarga dari masing-masing pihak akan mengirim mata-mata. Si mata-mata ini akan mencari informasi ke tetangga, teman, guru, dll. (ya kalau nanya langsung ke si cowok: kamu rajin sholat nggak, pastilah jawabnya ‘iya’).

Contoh kasus, ada istri yang tersiksa karena suaminya mukulin dia. Seandainya dia dulu mengirim mata-mata, mungkin dia akan tahu bahwa bapaknya si cowok dulu suka mukulin anaknya.. perilaku KDRT umumnya menurun karena tertanam di alam bawah sadar. Temen saya psikolog menemukan kasus, seorang suami menangis karena menyesal sudah mukulin anaknya (dia merasa itu di luar kontrol dirinya, pokoknya kalau marah, dia refleks menggebukin anaknya). ternyata, dulu si bapak ini juga digebukin ayahnya).

Terakhir, faktor cinta memang sangat besar perannya dalam pernikahan (karena ada cinta, kesulitan relatif lebih ringan dijalani, ya nggak?) Nah, supaya nggak dibutakan oleh cinta, seorang perempuan memang perlu musyawarah dan mau mendengar kata-kata ortunya. Karena, ‘mata’ orang yang jatuh cinta itu beda dengan mata orang normal. Pernah nggak kamu merasa gini, “Heran, tuh cewe bego banget sih, mau-mau aja sama cowo ga jelas gitu?” Padahal, di mata si “cewe bego” itu, si “cowo ga jelas” ini luar biasa lho.. soalnya ‘mata’-nya beda.

Kesimpulan saya, pernikahan memang transaksi, jadi musti teliti;  tapi dilandasi cinta dan keimanan. Dan kalau sudah terlanjur ada konflik, cari jalan keluar, temui konsultan pernikahan, psikolog, atau baca buku-buku psikologi pernikahan. Insya Allah bisa kok, diselesaikan asal kedua pihak sama-sama mau membuka diri.

Puisi 15 Tahun, 1999-2014

15yrs

Puisi 15 Tahun

15 tahun bersama, mengapa sulit untuk membuat puisi?

Mengharapkanmu membuat puisi untukku, juga adalah sia-sia saja.

Jangankan puisi, berharap kau memanggilku ‘Honey’ pun seperti mengharap pohon sirsak berbuah nangka (?!)

(ehm, sama sih, aku juga merasa wagu kalau harus memanggilmu dengan ‘Yang’ .. jadi biarlah kita jadi pasangan konvensional saja.. saling memanggil mama-papa)

Mengapa puisi-puisi itu mudah tercipta saat kita belum bersama?

Ah, mungkin karena ketika itu masing-masing kita sedang berimajinasi tentang satu sama lain.

Lalu, setelah kita bersama, yang kita perlukan kemudian bukan lagi puisi, tapi rasionalitas: berjuang menjaga komitmen kuat-kuat.

Kita harus bertahan, berusaha tetap berjalan berdampingan (bukan berhadapan dan saling mengkritisi), menjaga langkah agar tetap seiring, memaklumi perbedaan isi otak (karena aku dari Venus, sementara kamu dari Mars, ya kan?), memahami bahasa satu sama lain (bahkan sampai hari ini pun kita terkadang masih berdebat hanya karena kau menggunakan bahasa yang tak kupahami, atau kamu yang tak memahami bahasaku).

Dan, kupikir-pikir lagi, sepertinya, kau telah menjelma menjadi puisi itu sendiri (ehm).

Puisimu menjelma menjadi perlindungan di sepanjang waktu dan sikap siaga di saat-saat sulitku,

atau sekedar sikap ‘remeh’, yang (lambat laun kusadari, maafkan atas ketelmianku) sebenarnya jauh lebih berharga dari ribuan puisi :

-membuang sampah, mengunci pagar, dan mengunci pintu depan setiap malam, sehingga aku bisa tidur duluan tanpa memikirkan apapun (dan eh, teman-temanku ada yang heran, saat tau bahwa kamu yang melakukannya; aku jadi heran, mengapa mereka harus heran?)

buru-buru memasang obat nyamuk elektrik saat terlihat tanda-tanda aku akan tertidur sambil baca buku (ah, pasti temanku itu akan heran juga kalau tau.. aku juga heran, mengapa aku tidak pasang sendiri obat nyamuk itu ya?)

-mencerewetiku untuk sholat tepat waktu atau minum obat (ketika sakit)

-mengantarkanku ke warung, hanya untuk membeli berbagai keperluan dapur dan rumah (dan waduh, kamu yang lebih tau apa –sabun-odol-tisu — yang sudah habis)

-membuatkan jus buah tiap hari (eh, bila sempat)

menyetel lagu-lagu kesukaanku di mobil saat kita bepergian (dan karena kita semakin sama-sama menua, aku jadi suka lagu ini: Saat Aku Lanjut Usia, Sheila on 7)

Dan… seribu satu aksi tanpa puisi; namun sejatinya menumbuhkan bunga di taman kita.

15 tahun

Terimakasih atas kebaikanmu selama ini

Dan aku berjanji untuk lebih baik lagi,

Tapi bukan buatmu, karena seperti katamu:

“Kalau mama berupaya menjadi pribadi yang lebih baik,jangan niatkan buat papa, tapi demi Allah”

😉

Om Mario

mario teguh-2Saya baca di fb, beberapa pria menjelek-jelekkan Mario Teguh. Bahkan ada yang menulis ‘hidup tak semudah c*c*tnya Mario Teguh’. Waduh… kok pakai istilah mulutnya binatang ya… 😦

Tapi saya nggak akan bela-belain MT. Ntar diolok, sebagaimana dulu jaman pilpres, beredar meme: ‘Situ sodaraan sama capres yak, galak amat belainnya?!’ 😀

Saya cuma ingin cerita bahwa MT berjasa buat saya dan keluarga, dan buat seorang yang lain. Kalau cerita di keluarga saya, ga usah detil ya. Intinya, si Akang jauh lebih manis sejak rutin mendengarkan ‘ceramah’ MT, heuheuheu… Misalnya, MT kan bilang, istri-istri suka kalau suaminya minta maaf, meskipun yang salah istrinya. Dan si Akang mempraktekkannya. Apakah ini bikin saya ngelunjak? Ah enggak tuh. Saya malah meleleh kalau si Akang minta maaf, meskipun kami sama-sama tau, yang salah itu saya. Langsung deh, emosi saya cair, dan saya juga ikut minta maaf. Dan, jadi makin cintaaaa..;)

Atau, MT kan suka ngasih nasehat-nasehat soal perbaikan kualitas diri. Nah, si Akang tuh menyerapnya dengan baik, dan menyampaikan ulang ke saya pada saat-saat yang tepat. Karena ‘logika’ nasehat yang dipakai sudah nyambung antara MT-saya-si Akang, jadi ya nyaman aja… Beda dengan zaman dulu, si Akang kalau ngasih nasehat khas cowok banget, solutif, dan sama sekali nggak mikir soal perasaan orang yang dinasehati (saya baca di buku Men are from mars, women are from venus, laki-laki sering ga tau bahwa perempuan kalau lagi sedih/curhat itu sebenarnya cuma ingin didengar dan disayang; laki-laki mengira dia bertugas ngasih solusi).

Dan maaf ya, saya jadi punya tesis baru bahwa seorang cowok yang ngefans sama MT bakal jadi suami yang sangat baik ke istrinya. Hahaha.. (saya bilang gini ke seorang teman single, dia bilang, wah gw musti cari jodoh di wall-nya MT dong!)

Pagi ini saya nemu kasus menarik. Tukang pijit langganan saya (sebut saja namanya bu L) cerita, dia juga suka nonton MT. (jangan salah, bu L ini meski profesinya tukang pijit, tapi cara bicara dan mikirnya keren banget… jadi dia nyambung diajak ngobrol apa aja, termasuk politik Timur Tengah 😀 ).

Nah salah satu pasien bu L (sebut saja bu W.. saya juga tidak tau identitas aslinya, bu L menjaga kerahasiaan klien dg baik) punya problem sama suaminya dan kabur dari rumah. Bu L yang emang jenis ibu yang sangat care sama teman, berusaha sms dan telpon bu W. Tapi, tak ada balasan. Bu L ga putus asa. Dia tetap kirim sms ke bu W. Isinya…kutipan kata-kata MT. Misalnya: wanita baik itu jodohnya laki-laki baik. Ketika dia salah pilih, dan menikah dengan laki-laki jahat, sangat wajar bila dia tak tahan dan menderita. Jadi, dia bisa memilih, pergi atau bertahan menderita. (maksud L, dia memberi semangat kepada W, bahwa pilihannya untuk pergi dari suaminya yang sangat-kurang-ajar itu adalah pilihan yang benar). Atau, tentang harta. Saya lupa kutipannya secara verbatim. Tapi intinya, kadang perempuan itu ga berani pergi dari suaminya yang jahat karena pertimbangan harta. Padahal, rizki Allah itu luas. Jadi, ga perlu kuatir. Lebih baik hidup terhormat dan bahagia meski sendiri, daripada terus bersama suami yang jahat. Atau, di waktu lain, bu L mengirim sms tentang cara move on yang diajarkan MT. Caranya gimana? Kata MT: laki-laki yang jahat memang sebaiknya dilempar ke ‘pasar bebas’. Biar saja dia bersama perempuan jahat, yang memang sudah ‘sekufu’: sama-sama jahat.

Lambat laun, akhirnya W memberi respon, membalas sms, dan mengaku sangat terbantu oleh sms-sms yang dikirim bu L. Dan akhirnya, dia memantapkan diri menyewa pengacara untuk mengurus perceraian. Sebelumnya, dia masih ragu, karena banyak yang menyayangkan: suaminya kaya raya, masak ditinggal begitu aja.. keenakan dong perempuan-perempuan selingkuhan suaminya itu.

So, meski mungkin nasehat-nasehat MT dinilai sebagian pihak banyak kurangnya, saya tetap bertahan mendengarkan ceramahnya (meski ga rutin setiap pekan, kapan sempat saja). Begitu pula si Akang dan anak-anak kami. Terkadang kami terkikik-kikik geli dan saling menggoda.. “Tuh.. papa gitu tuuuh!” atau “Nah..Mama kena deh..!” atau “Kakaaak.. dengerin tuh!”

Ambillah nasehat-nasehat kebaikan dan hikmah, dari manapun 🙂

All of Me

Ini sekedar cerita tentang hari kemarin kami, 30 Juli. Hari ulang tahun saya. Pagi-pagi, Reza sudah menyerahkan kado, dari Papa, Rana, dan Reza. Seperti biasanya, hiks, kado dari mereka selalu saja salah. Pengen nangis deh. Kali ini, mereka beliin baju motif bunga-bunga warna pink. Bagus sih. Tapiiii..ukuran 3L ! Gubraks. Apalagi, pas liat harganya (mereka lupa merobek tempelan harganya), glek, pengen banget ngomel, “mendingan duitnya kasih aja ke mama!” Di telpon, saya mengeluh ke adik saya. Dia tertawa terbahak, “Berarti di mata mereka Mbak itu gendut bangeeet!” Hwaaaa…. (Info: saya masih cukup kalo pake baju ukuran M)

Positive thinking: yang penting mereka ingat ultah saya, mereka mencintai saya… dan that’s enough for me 🙂

Siangnya, kami berangkat pulang ke Bandung (cerita di atas setting-nya di rumah mertua, di Majalengka). Di mobil, selain kami sekeluarga, ada adik ipar dan dua ponakan saya. Saya dan adik ipar ngobrol ke sana-sini. Tiba-tiba, Rana dan sepupunya nyanyi-nyanyi sambil dengerin lagu di tablet. Saya rasanya sudah berulang-ulang mendengar mereka menyenandungkan lagu itu, jadi penasaran.

“Lagu apa sih itu?” tanya saya.

Ga taunya, itu lagunya John Legend, All of Me. Saya dengarkan dengan seksama liriknya.  Cinta-cintaan. Saya ngomelin anak-anak, itu kan lagu orang dewasa.

Trus saya dan adik ipar mulai membahas anak-anak sekolah jaman sekarang yang sudah mulai melupakan lagu-lagu nasional. Apalagi, ada kecenderungan, sebagian sekolah-sekolah berlabel Islam tidak lagi mengadakan upacara di sekolah (apalagi lagu-lagu nasional), bahkan menolak Pancasila sebagai dasar negara yang bisa menyatukan semua agama, ras, dan golongan. Padahal, nasionalisme itu kan penting banget. Gimana bangsa kita mau maju kalau rasa cinta tanah air ga dipupuk sejak kecil? Duh, saya jadi agak merasa bersalah nih. Reza (karena sejak kelas 1 SD homeschooling) ga hafal lagu Indonesia Raya, ga hafal teks Pancasila dan lagu-lagu nasional. Saya terlewat memasukkannya dalam jadwal pelajaran Reza.

Ujung dari obrolan kami adalah.. nyanyi bareng! Adik ipar saya, ponakan saya, Rana, dan papanya, bersuara merdu. Mereka dengan bersemangat menyanyikan lagu Indonesia Raya, Satu Nusa Satu Bangsa, Halo-Halo Bandung, Hari Kemerdekaan, Maju Tak Gentar, dan Garuda Pancasila (dan tertawa terbahak-bahak saat ponakan saya melafalkan frasa ‘pribadi bangsaku’ menjadi ‘pribang pribangsaku’… hahaha.. ini kayaknya kesalahan sejak zaman dulu ya.. dulu saya waktu SD juga salah sebut begini wkwkw). Dalam hati saya berjanji akan mengenalkan lagu-lagu nasional kepada Reza dan berusaha menumbuhkan rasa cinta kedua anak saya pada Indonesia.

Tak terasa, perjalanan 3 jam yang penuh nyanyian itu pun berakhir, kami sampai di rumah dengan selamat.

Di rumah, dengan nada protes dan ‘ambil kesempatan’, saya bilang “Pa, sebenarnya Mama tuh pengennya kado anting-anting emas. Soalnya anting Mama kan patah.”

Si akang (mungkin karena merasa bersalah atas insiden baju 3L itu), langsung mengiyakan. Oh.. oh..   all of me is yours, Sir.

*istri mata duitan* :p