Belajar dari Monk

meditasi

Monk, atau pendeta Budha, sepertinya akhir-akhir ini populer sekali. Entah, mungkin saya saja yang telat. Saya baru aktif “main” IG sejak pandemi, dan dengan segera terhubung dengan banyak akun motivator. Lalu, bertemulah dengan akun dan video beberapa Monk.

Tentu saja, umumnya yang mereka bicarakan adalah hal-hal yang bisa dirasakan manfaatnya oleh banyak orang apapun agamanya. Ada satu monk bernama Dandapani yang mengajarkan cara untuk fokus/konsentrasi. Menurutnya: kita sangat mudah untuk tidak fokus karena sepanjang hari, kita melatih diri untuk tidak fokus sehingga kita ahli dalam ketidakfokusan.

Di antara “latihan ketidakfokusan” itu adalah mengerjakan banyak hal sekaligus. Ngobrol sambil pegang HP, nulis artikel sambil buka beberapa windows sekaligus, termasuk WA yang selalu pop-up setiap kali ada message baru, sambil mikirin mau masak apa hari ini, sambil buka Tokopedia dan melirik barang-barang yang menggoda hati.

Jadi, supaya bisa fokus, ya latihan fokus. Mulailah dengan fokus saat bicara dengan pasangan atau anak, jangan sambil buka WA.

Lalu, saya juga mengikuti video dan IG dari Monk Gelong Thubten. Hari ini di IG-nya dia menulis ini:

“Ketika kita merasa kewalahan dengan situasi, apa pun itu, satu cara untuk mengatasinya adalah “dengan berada pada saat ini” (being in the moment); karena “pada saat ini” semuanya secara umum bisa kita kendalikan, kita kelola.

Masalah muncul seringkali karena kita khawatir tentang masa depan, lalu kita menjadi kecil hati dan khawatir. Kita cenderung berpikir terlalu banyak, di luar memikirkan kehidupan “saat ini”. Semakin kita “hidup di saat ini”, semakin mudah kita mengelolanya. Menjalani hidup kita momen demi momen, memungkinkan kita melakukan upaya terbaik kita, dan menghargai betapa beruntungnya kita. “

~ Lama Zangmo

Monk Gelong mengajarkan bahwa cara “hidup di saat ini” (being in the moment” adalah dengan meditasi. Meditasi, kata Gelong, bukan mengosongkan pikiran (karena itu akan sulit dilakukan, dan orang jadi frustasi karena merasa gagal). Meditasi dilakukan dengan berkonsentrasi pada nafas kita, tapi biasanya, pikiran melayang kemana-mana. Nah, pada saat kita sadar pikiran sudah melayang (tidak lagi fokus pada nafas), ya tarik kembali pikiran/kesadaran itu, fokus lagi. Terima saja bahwa tadi kita ga fokus (jangan malah menyesali diri sendiri). Kata Monk Gelong: meditasi ini seperti persahabatan, persahabatan dengan pikiran. Kita menerima semua kekurangan dan kelemahan diri; dan itu membuat pikiran dan hati kita damai. Lalu, niatkan diri ini untuk menebar kebaikan/kasih sayang (compassion).  (sumber: video Monk Gelong: mulai menit ke-15)

Sebagai Muslim, saya secara refleks “menerjemahkan” kata-kata Monk ini dengan momen kekhusyukan sholat. Agar khusyuk, di antara yang bisa kita lakukan adalah fokus pada bacaan kita, setiap ayat/bacaan sholat kita pahami dan resapi artinya dan kita ucapkan dengan penuh ketundukan dan kesadaran bahwa kita sedang menghadap-Nya.

Nah, kan kasusnya, saking kita hapal ayat/bacaan sholat, kita sering mengucapkannya begitu saja dan pikiran melayang ke mana-mana,. Kalau itu terjadi, segera tarik lagi pikiran kita, fokus lagi. Perlakukan diri ini dengan kasih sayang, jangan dimarahi. Compassion pada diri sendiri dulu. Mensyukuri pada semua yang sudah diberi Allah untuk kita. Ketika muncul rasa syukur yang tulus itu, sholat otomatis jadi terasa ‘beda’ kan?

Nah, ada lagi motivator di IG (lupa namanya, founder MindValley.com) yang bilang bahwa meditasi adalah upaya menemukan intuisi, tentang apa yang harus dilakukan dalam hidup. Mungkin, bisa saya terjemahkan sebagai “meminta petunjuk dari Allah, harus mengambil langkah yang mana?”

Saat sholat, ketika kita bisa khusyuk, tentu kita semakin “dekat” dengan-Nya dan dialog-dialog kita dengan-Nya menjadi semakin intens. Kita minta dikasih jalan, dibukakan jalan yang terbaik, dst.

Lalu, ada lagi motivator di IG, namanya Rima Olivia, yang mengajarkan bahwa baca sholawat itu sebenarnya sejalan dengan meditasi (beliau menyebutnya mindfulness). Logikanya begini, saat kita melakukan berbagai hal (misal, memasak, menggendong anak, olahraga) sambil membaca sholawat, kita “hadir” sepernuhnya dalam momen itu: menyadari bahwa memasak dan mengiringinya dengan sholawat.

Menurut Rima, aktivitas membaca sholawat ini memunculkan banyak keajaiban. Dalam bukunya (Shalawat untuk Jiwa), antara lain Rima menulis,

“Di sisi lain, kebermaknaan hidup, merasa lebih bahagia, dan jawaban tentang hal mendasar hidupnya, seperti terjawab dengan sendirinya.”

Menurut Monk Gelong, tujuan dari meditasi adalah memunculkan kebahagiaan (bukan mencari kebahagiaan di luar sana, tetapi menggali kebahagiaan dari dalam diri).

Lho jadi nyambung dengan sholawat ya?

Yah itulah sekedar pemaknaan dari berbagai hikmah yang tersebar di media sosial. Semoga bermanfaat untuk diri saya sendiri (=mengikat ilmu) dan pembaca 🙂

Prie GS

menjual-diri-prie-gs

sumber foto: akun twitter Prie GS

Saya pertama kali mengenal namanya sekitar tahun 2003 atau 2004. Saat itu saya masih bekerja sebagai jurnalis di Iran Broadcasting, Teheran. Seorang karyawati asal Malaysia hobi sekali membaca tulisan-tulisan Prie GS (di media online) dan menyimpannya di folder khusus. Saya membacanya sekilas, tapi waktu itu saya masih belum punya ketertarikan pada tulisan-tulisan motivatif, pengembangan karakter, dan sejenisnya.

Di Facebook, sejak sekitar setahun terakhir, saya follow akun beliau, tapi juga masih belum terlalu tertarik. Sampai akhirnya, dua bulan yang lalu, terbuka kesempatan untuk mengikuti pelatihan Next Level Public Speaking Clinic bersama Prie GS dan Prasetya M. Brata. Waktu tepat ketika saya memang merasa perlu menimba ilmu di bidang ini. Salah satu syarat ikut pelatihan adalah membaca buku Prie GS, “Menjual Diri”.

Saya pun membeli dan membacanya, dan merasa wow banget. Di buku itu dijelaskan bahwa untuk  menjadi pembicara (speaker) diperlukan intelektualitas, kecerdasan emosional, dan spiritualitas. Sekilas terlihat klise. Tapi cara Prie menjelaskan 3 unsur itu, benar-benar lain dari yang lain, karena dia hadir sepenuhnya dalam buku itu, menceritakan hal-hal yang dialaminya selama ini, sehingga pembaca (saya) berkali-kali tersentak dan berpikir, “Benar juga ya?” Ini benar-benar a must read book, menurut saya.

Continue reading

Mindful Ramadan (4): Kritis

pray for turkey

Pray for Turkey from Paris

Turki dibom, Bangladesh dibom, Irak dibom. Di bulan Ramadan.  Suriah sudah lima tahun terakhir ini jadi korban bom di berbagai penjuru negerinya. Sialnya, pelakunya muslim yang mengaku sedang berjihad (ISIS atau kelompok-kelompok jihad dengan berbagai nama lain). Sebagian Muslim (atau pembela Muslim) berapologi dengan menyatakan, “ISIS bukan Islam!” [atau sekalian tambahkan: ISIS itu buatan AS-Israel!]. Tapi, coba kritis sedikit, kan yang melakukannya tetap orang Islam? Yang jadi anggota ISIS (dan kelompok-kelompok jihad lainnya, yang hobinya juga sama, main penggal dan main bom sana-sini) juga orang Islam, tho?

Saya tidak akan membahas lebih lanjut karena sudah pernah menuliskannya (baca: Ketika ISIS Masuk ke Kamar Kita)  dan karena fokus tulisan ini bukan itu. Fokus saya ada pada kata KRITIS.

Ya, “hilangnya daya kritis” adalah kalimat yang terlintas dalam pikiran saya saat melihat polah para jihadis di Timteng (dan para pendukungnya di Indonesia). Sepertinya, sulit sekali buat mereka menganalisis secara kritis, apa yang sedang terjadi di dunia ini (baca: Dunia Kita-1, Dunia Kita-2, Dunia Kita-3).

Mengapa ada sebagian umat Muslim yang sulit berpikir kritis, padahal mereka dikenal salih, rajin ngaji, bahkan sebagian hafal Quran? Saya baru saja membaca tausiah Gus Mus, yang ditulis oleh seorang Facebooker:

KH Ahmad Mustofa Bisri pernah bercerita tentang strategi setan menjauhkan umat manusia dari ridha Allah. Setiap perintah Allah kepada hambaNya, setan selalu punya sedikitnya dua cara menggoda agar perintah itu tidak terlaksanakan. Pertama, setan menggoda agar perintah tersebut dilaksanakan kurang dari semestinya. Kedua, setan menggoda agar perintah itu dilaksanakan berlebihan dari semestinya.

Continue reading

Mindful Ramadan (3): Sabar?

langit

bukan iklan Li** lho 🙂

Kata sabar saya kasih tanda tanya, karena memang kata yang satu ini terkadang terasa ambigu. Ketika kita diam saja saat orang menghina atau mengatakan hal-hal yang bohong tentang diri kita, apa itu sabar? Ada seorang ada akhwat (dulu waktu SMP statusnya malah sahabat dekat saya), ia tak pernah membela saya (atau minimalnya menghibur) ketika saya dibully orang2 (dan orang2 itu adalah teman sekelompoknya si akhwat ini). Tapi ketika saya menulis klarifikasi atas kebohongan temen sekelompoknya dia itu, dengan fasih dia sodorkan kata-kata, “Nabi aja dulu dihina sabar, ga membalas.” Maksut loooo???

Padahal ya, demi menjaga pertemanan dengannya, saya selalu menahan diri untuk tidak membalas komen-komennya yang nyelekit itu; dan ini semakin membuat saya kesal: mengapa saya selalu saja berusaha menjaga perasaan teman, sementara si teman tak merasa perlu memikirkan perasaan saya? Rugi banget ya gue?!

Tapi, meski saya ‘rugi’, di saat yang sama saya juga beruntung karena melalui FB saya jadi kenal banyak orang hebat. Seorang bapak motivator terkenal (saya beruntung beliau bersedia jadi friend FB saya), memberi komen singkat di salah satu postingan saya, “if you get serious, you get stupid”.

Continue reading

Epistemic Community & Homoseksualitas

scientistBanyak yang menentang pendapat bahwa homoseksual adalah penyimpangan” dengan menyodorkan berbagai jurnal ilmiah yang menyebut “homoseksual adalah genetik/bawaan”. Ketika ada kasus-kasus yang ditangani civil society membuktikan bahwa ada yang semula gay, akhirnya ‘sembuh’, malah dimintai jurnal ilmiah. Seolah tanpa jurnal ilmiah, tak ada kebenaran. Kalaupun ada di jurnal, mungkin dipertanyakan: itu jurnalnya terindex dimana dulu?

Tesis S2 saya dulu membahas fenomena ini: hegemoni epistemic community. Ini saya copas sebagiannya (kalau dianggap agak ‘berat’, abaikan saja, nanti saya jelaskan dengan bahasa yang simpel):

Dengan membandingkan pemikiran Adler & P.Haas dengan E. Haas, peneliti menyimpulkan bahwa hegemoni memang terjadi dalam proses koordinasi kebijakan internasional. Negara (dalam hal ini negara dominan, seperti AS) melakukan hegemoni dengan cara menerima pengetahuan tertentu yang dipromosikan oleh epistemic community lalu mendesakkan pengetahuan itu kepada negara-negara lain untuk menjadi pengetahuan konsensual. Namun, bukan berarti epistemic community tidak ikut andil dalam hegemoni ini (seperti yang dikatakan Adler dan P. Haas), karena selain epistemic community selalu berupaya memonopoli akses pada posisi pengambilan keputusan di negara dominan, mereka juga akan berupaya memonopoli akses pada posisi pengambilan keputusan di negara-negara yang kurang dominan. Ketika para pengambil keputusan dari berbagai negara telah memiliki framing, definisi state interest, dan standar yang kurang lebih sama, maka penetapan kebijakan atas sebuah isu akan menjadi relatif mudah.

Jadi intinya begini, kalau ada sekumpulan ahli (=epistemic community) yang punya akses besar ke PBB, mengajukan kesimpulan tertentu, misalnya: homoseksual itu masalah genetik, maka kesimpulan itulah yang akan dipakai PBB untuk memutuskan sesuatu tindakan.

Continue reading

[Parenting] Bunda Elly Risman dan LGBT

loveDi grup-grup WA dan FB dari kemarin beredar link video 30 menit Bunda Elly Risman. Saya sudah nonton dan merinding banget. Padahal isi pembicaraan bunda Elly sudah berkali-kali saya dengar (dan saya sampaikan ulang, kalau sesekali diminta ngisi kajian parenting). Tapi, kali ini seiring dengan isu LGBT akhir-akhir ini, Bu Elly terlihat emosional, suaranya bergetar, dan berkali-kali matanya berkaca-kaca.

Intinya, berbagai bentuk penyimpangan perilaku anak (mulai dari yang sederhana: bohong, lelet, malas… sampai ke yang parah: selfie telanjang, kecanduan pornografi, hingga seks bebas dan same-sex attraction/gay/lesbi,dll) berakar dari kesalahan pola asuh orang tua.

Kesalahannya seperti apa sih? Bisa liat sendiri di video. Di video bagian awal bu Elly menyebut kesalahan komunikasi, “cara bicara ortu yg korup” –> itu maksudnya 13 gaya komunikasi yang salah. Jadi logikanya: cara komunikasi kita yang salah akan berefek buruk pada kepribadian anak (misal, jadi penakut, alay, gampang dipengaruhi orang, tidak tegas memegang prinsip –> nah, ini erat kaitannya dengan berbagai penyimpangan perilaku seks, mereka mau-mau saja dibujuk/diajak untuk coba-coba, akhirnya kecanduan).

Cara-cara komunikasi yang salah itu tidak dijelaskan detil oleh bu Elly di video tersebut, karena waktu yang singkat, hanya 30 menit.

Saya pernah ikut seminar bunda Elly dan ikut pelatihannya bunda Rani Razak Noeman terkait kesalahan komunikasi ini. Ini saya copas rangkumannya. Karena awalnya saya nulisnya di grup WA, harap maklum banyak sekali pakai singkatan, saya ga sempet ngedit ulang. Teorinya dari seminar&pelatihan Ibu Elly Risman&Ibu Rani Razak Noeman; tetapi penguraian ulang dengan kalimat saya sendiri.

Ada 13 gaya bicara yg harus DIHINDARI

1.Memerintah 2.mengancam 3. Menceramahi 4.menginterogasi 5. Melabeli 6. Membandingkan 7.menghakimi 8.menyalahkan 9.mendiagnosis 10. Menyindir 11.memberi solusi 12.menyuap 13.membohongi

Selama ini, pengakuan dari para teman-teman peserta pelatihan (termasuk saya sendiri), dengan mengubah cara bicara, dll, manfaatnya terasa: respon anak positif, lebih nurut, masalah yang ada bisa teratasi. Sehingga kita lebih tenang dalam menghadapi anak dan ga banyak energi keluar utk ngomel. Syaratnya konsisten dan sabar, insyaAllah akan ada respon positif dari anak.

  1. Memerintah. Knp kok kita ga boleh memerintah anak (apalagi disertai bentakan)? Krn, anak jd pasif, ga mandiri, ga ada inisiatif/kreatif, dan ibu jg capek nyuruh2 terus.

Kalo kita ingin anak berbuat sesuatu, ajak, dan terangkan alasannya. ‘Nak, yuk sholat, mama temani’, ‘nak, yuk bereskan mainanmu, biar rmh rapi’. Insya Allah, lama2 akan trbiasa dan atas inisiatif sendiri anak akan melakukan hal2 itu.

Kebiasaan nyuruh2 bikin anak pasif. Misal nilai matematika jelek, jgn disuruh2 belajar atau les. Tapi, ajak bicara/diskusi, usahakan sampai anak menemukan sendiri apa sebab nilainya jelek, dan dia sendiri yg bilang ‘aku ingin les!’ jadi anak ada rasa tanggung jwb, dia les bukan krn ‘disuruh ibu’, tp krn dia merasa perlu les.

  1. Mengancam

Para ibu paling ahli mengancam: “kalo gak makan, mama tinggal! Kalo nakal, mama kurung di kamar mandi!” Akibatnya, anak nurut karena takut, bukan karena kesadaran. Anak jadi penakut, mau saja diajak2 hal negatif sama teman2nya karena takut ancaman.

Ada yang bilang, sah-sah saja mengancam anak, toh Allah di Quran jg mngancam dg siksa yg pedih! Jwbnya: ancaman Allah itu kan hukum utk org yg baligh (sdh ada taklif). Utk anak2, kita sampaikan wajah Jamal (indah) Allah dulu.. Nak, sholat..supaya kita disayang Allah.. Nak, Allah itu baik, sudah kasih ini.. itu .. yuk kita berterimakasih.. caranya dg sholat.. Mnrt pnelitian, otak kiri dan kanan anak tersambung syaraf2nya pada usia9 th, dan saat itu dia bisa mnghubungkan sebab-akibat yg abstrak (“ghaib”). Jd saat itulah idealnya kita kenalkan “hukuman” Allah, bhw manusia2 yg tidak patuh akan mendapat siksa, masuk neraka. InsyaAllah dg proses ini, anak beribadah dg landasan cinta dan syukur, bukan semata2 takut pd neraka. Amin.

Continue reading

Bagaimana Cara AS Mendirikan Al Qaida/ISIS?

Kajian Timur Tengah

Ini copas status saya di FB tgl 18 Nov (yang dg segera di-report oleh takfiri, sehingga status tsb dihapus FB dan saya diblokir, tidak bisa posting di FB selama beberapa hari). Saya tambahi beberapa info baru.

====

Mungkin ada yang bertanya-tanya, gimana cara AS mendirikan Al Qaeda, ISIS, dll.? Sedemikian begonyakah orang Muslim sampai nggak nyadar kalo dikerjain? Tentu saja, caranya enggak blak-blakan dong. Sangat tersistematis (emangnya AS itu bego, apa?). AS tidak langsung hadir di lapangan, tetapi pakai tangan “ustadz-ustadz” dan aliran dananya pun kadang lewat negara-negara kroninya (seperti diakui oleh Hillary Clinton, CIA bekerja sama dengan Pakistan dan Arab Saudi). Makanya ada status FB orang Indonesia yang saat ini sedang jihad di Suriah, dia bilang, “Senjata mujahidin itu memang dari Amerika; malah bagus kan, canggih! [halooo…???] tapi bukan gratisan, melainkan sumbangan dari Arab Saudi dll.” (browsing aja, itu status dicopas pkspiyungan).

Poin penting pertama: berpikirlah kritis, jangan…

View original post 495 more words

Mengenang Al Nakba

Kajian Timur Tengah

Nakba Day, atau Al Yaum Al Nakba, atau HariMalapetaka adalah hari peringatan didirikannya Israel dari sudut pandang bangsa Palestina. Proklamasi pendirian Israel tanggal 14 Mei 1948 bagi orang-orang Zionis merupakan perwujudan dari ‘cita-cita bersejarah kaum Yahudi’. Namun bagi bangsa Palestina, hari itu adalah hari malapetaka, yang menjadi tonggak dari pengusiran ratusan ribu orang Palestina. Pengusiran itu terus berlanjut hingga hari ini, 65 tahun kemudian. Kini diperkirakan lima juta orang Palestina hidup terusir, tersebar ke berbagai wilayah; atau jadi pengungsi namun masih di wilayah Palestina. Banyak di antara mereka masih memegang kunci dan sertifikat rumah-rumah mereka yang kini sudah dihancurkan, atau ditempati orang Israel.

536271_220531904715801_1283003541_n

Kronologi Al Nakba

Kronologi tragedi Al Nakba sangatlah panjang dan luas dimensinya, namun dalam buku ini penulis membatasi penulisan kronologi  pada gelombang kedatangan imigran Yahudi Zionis, pengusiran bangsa Palestina dari tanah air mereka, serta upaya bangsa Palestina sendiri sejak awal dalam memperjuangkan kemerdekaan. (Bahkan, menariknya…

View original post 1,195 more words

Cerita dari Jamuan Teh Petang di Gedung Merdeka

Siang yang cukup terik, saya melangkahkan kaki dari Masjid Agung menuju Gedung Merdeka di jalan Asia Afrika Bandung. Saya diundang hadir dalam “Jamuan Teh Petang Bersama Para Saksi Sejarah KAA 1955”. Acara dimulai 13.30 (28/4/2015), masih banyak waktu, jadi saya jalan pelan-pelan. Saya tidak sempat datang ke jalan AA sebelum KAA meskipun banyak yang memuji-muji keindahannya di medsos. Sayang kini yang saya lewati sepertinya sudah berkurang keindahannya. Saya melewati monumen Asia Afrika yang sudah pitak di sana-sini (sebagian nama-nama negara di monumen itu dicabuti tangan-tangan jahil).

monumen yang pitak

monumen yang pitak

Bola-bola batu bertuliskan negara-negara KAA sudah tidak ada lagi benderanya (yang kata orang semula tertancap di atasnya). Bunga-bunga di pot banyak yang layu. Di medsos diberitakan kalau bunga-bunga itu rusak gara-gara diinjak warga. Tapi yang saya lihat, justru sepertinya gara-gara tidak dirawat Dinas Pertamanan. Misalnya pot gantung ini, kan tidak mungkin diinjak? Tapi bunganya layu tuh.

24Kakak ipar saya cerita, 10 tahun yll, dia juga datang berfoto-foto di jalan AA. Suasana sangat indah karena sangat banyak bunga. Tapi zaman itu belum musim hp berkamera dan media sosial, jadi tidak seheboh sekarang. Bahkan kakak ipar nggak berfoto sama sekali. Namun, tiga hari pasca KAA semua bunga itu layu. Entah tidak dirawat, entah memang sejak awal ditanam secara kamuflase saja (bunga potong/bunga segar ditancepin ke pot).

Tapi saya tetap salut pada kang Emil. Selera arsitek memang beda ya. Kalau bunga-bunya bisa layu, lampu-lampu hias dan bangku-bangku insya Allah akan tahan lama. Di pinggir sungai Cikapundung sekarang juga ada Cikapundung Riverspot (bangku-bangku+meja dari besi merah), asyik buat kongkow-kongkow di sore hari. Sayang sungainya udah banyak sampah lagi. Ah intinya mah, kita ini masih jauuuuh kalau pingin jadi tertib kayak negara-negara maju. Ayo, para ortu, didik anak-anak kita baik-baik yuk, agar taat aturan, tertib, disiplin, dan punya sensitivitas menjaga lingkungan. Dan.. amanah!

Di jalanan yang panas, banyak juga orang yang berfoto-foto. Wah demam KAA belum habis rupanya.Saya ikutan mejeng juga deh 😀

1aMasih ada bazaar juga. Saya tergoda beli dua bahan batik warna pink *I’m a pink lover* yang dijual disc 50%, cuma Rp50.000 sehelai. Duh beruntung banget saya :D. Nama tokonya MAHABATIK, toko asli mereka di Paris van Java Mall.

Saya lalu masuk ke Gedung Merdeka.. wow, gorden-gorden merah terlihat mewah dan membuat semakin keren suasana gedung (saya sudah berkali-kali masuk sini, jadi bisa merasakan perbedaannya). Lalu, ketemu pak Thomas Siregar, Ketua Museum Konperensi Asia-Afrika (MKAA) yang ramah dan keren, beliau langsung menyuruh saya makan siang dulu. Oala, disediain makan siang tho… sayang saya udah terlanjur makan bareng suami dan anak-anak. Tapi saya tetap masuk ke ruang makan, dan… berjumpa dengan seseorang yang bikin kaget: jurnalis Suriah yang dulu pernah saya wawancarai! Di awal konflik Suriah, saya pernah posting wawancara dengannya dengan identitas disamarkan karena faktor keamanan. Wawancara itu saya publish di beberapa web dan fb, dan dishare sangat luas.. dan akibatnya you know lah, saya kan udah sering curhat di sini, hiks. Kali ini dia cerita lagi panjang lebar soal perkembangan Timteng. Dan… saya baru tau dia sebenarnya sudah bergelar profesor! Nanti kapan-kapan kalau ada waktu saya tuliskan isi perbincangan kami.

Setelah itu, acara pun dimulai. Wow, nggak nyesel sama sekali saya datang. Benar-benar inspiring! Secara bergantian beberapa saksi sejarah menceritakan kenangan mereka soal KAA 1955. Pembawa acara, Kang Asep Hambali, founder Komunitas Historia Indonesia, jadi moderator. Dia berkali-kali mengucapkan kalimat-kalimat yang bikin saya tercenung. Misalnya:

Siapa yang punya lagu Indonesia Raya di HP-nya?

Waduh, iya ya.. Kirana punya banyak koleksi lagu Barat di hp-nya, tapi ga ada lagu nasional satupun, hwaaa… Reza, saya tidak yakin, dia hafal Pancasila dan lagu Indonesia Raya. Aduh, ibu macam apa aku ini, hiks..hiks.. Ayo, perbaiki diri!

Btw, luar biasa, ada dua peserta, anak muda, yang punya lagu itu di HP-nya, lalu diperdengarkan dan tepuk tangan membahana haru di ruangan bersejarah itu. Kata kang Asep, dia udah keliling Indonesia bicara di depan anak-anak muda, selalu mengajukan pertanyaan itu, dia jarang sekali menemukan ada anak muda yang menyimpan lagu Indonesia Raya di hp mereka.

Apakah dengan merayakan 17 Agustusan dengan panjat pinang dan makan krupuk, kita jadi kenal sejarah dan para pahlawan kita?! Tidak! Mengapa kita tidak membuat lomba “kostum mirip pahlawan”, atau “menyanyikan lagu nasional”, “membaca teks proklamasi” ?

Hey, ini ide sangat menarik. Di acara hiburan, tampil grup musiknya Adew Habtsa yang memusikalisasi pidato-pidato Bung Karno dan Ali Sastroamijoyo (Perdana Menteri Indonesia penggagas KAA). Seorang dari mereka membacakan kutipan teks pidato BK dan AS dengan suara menggelegar, menirukan gaya BK dan AS, mantap abis deh! Nah, bayangkan kalau anak-anak kita dilatih baca teks proklamasi atau kutipan pidato BK sehebat ini. Mantaaaap!

Apa akibatnya kalau kita lupa sejarah bangsa? Bayangkan kalau Bapak-Ibu tiba-tiba amnesia. Lupa anak, keluarga, rumah, kerjaan..lupa segala. Akibatnya, Bapak-Ibu pasti akan nurut saja pada instruksi dari saya!

Hwaaa..benar juga! Tak heran kalau Kundera pernah berkata “Perjuangan Manusia Melawan Kekuasaan Adalah Perjuangan Melawan Lupa” Dia juga pernah menulis begini:

Bung Karno dan Bung Hatta baru dinobatkan jadi Pahlawan Nasional tahun 2012. Bangsa macam apa kita ini?!!!

kang Asep dan Sukmawati Sukarnoputri

kang Asep dan Sukmawati Sukarnoputri

Di sesi berikutnya, sejarawan JJ Rizal berorasi tentang Perdana Menteri RI pada 1955, Ali Sastroamijoyo, arsitek utama Konperensi Asia Afrika 1955. Dia menjelaskan dengan rinci pemikiran-pemikiran Ali Sastro yang akhirnya bermuara pada gagasan menggelar KAA 1955. Luar biasa sekali pemikiran beliau, saya baru tersadarkan, mudah-mudahan bisa saya tuliskan lain waktu. Intinya sih: pemikiran Bung Karno & pak Ali adalah “internasionalisme” dan “marhaenisme”, dan itulah ruh utama KAA 1955. Dan hasil perenungan saya sekilas, “internasionalisme KAA” adalah antitesis dari globalisasi… (ehm, ini kayaknya agak berat, nanti aja ditulis untuk blog Kajian Timur Tengah ya).

JJ Rizal juga mempertanyakan, mengapa yang disebut-sebut orang Indonesia cuma Sukarno, padahal pemikiran Ali sangat klop dengan Sukarno, dan bahkan Ali-lah pelaksana berbagai pemikiran/idealisme Sukarno. Sampai hari ini Ali Sastroamijoyo belum dinobatkan jadi pahlawan nasional.

Sayang saya harus segera pulang, padahal ingin juga menyaksikan orasi JJ Rizal sampai akhir dan dialog setelahnya. Di luar gedung MKAA, orang-orang yang berfoto-foto lebih banyak lagi daripada siang tadi. Di kereta, dalam perjalanan pulang, saya merancang janji, akan lebih banyak mengajak anak-anak saya mempelajari sejarah bangsa ini.

Taliban dan Berpikir Sistemik

Kajian Timur Tengah

taliban-flag1Taliban dengan darah dingin membantai 132 anak-anak sekolah di Pakistan. Menarik mengamati tanggapan publik atas kasus ini. Sebagian mengecam keras, mengapa Islam dan Allah dijadikan alasan untuk membunuh anak-anak. Sebagian lagi, terutama media-media takfiri (dan simpatisannya) yang selama ini memang dikenal sebagai pendukung Taliban (termasuk petinggi partai you-know-who yang pernah menulis puisi memuja Osama Bin Laden), tentu saja bungkam atau berupaya menjustifikasi (dan mengalihkan isu dengan memblow-up penyanderaan di Sidney yang dilakukan oleh penjahat buronan pemerintah Iran -dan diberi suaka oleh Australia.) Lalu bagaimana dengan ribuan warga Pakistan yang sejak 2004 dibantai bak tikus olehdrone (pesawat tanpa awak) AS? Lalu, bagaimana dengan tewasnya anak-anak muda di Paniai, Papua, baru-baru ini? Mengapa tidak banyak komentar dari bangsa ini? (Untuk pembantaian di Pakistan, presiden kita dengan sigap menulis komen di facebooknya).

Saya ingin mengajak Anda untuk berpikir sistemik: holistik, memandang konflik dalam sebuah peta besar; tidak fokus pada…

View original post 1,312 more words