Prie GS

menjual-diri-prie-gs

sumber foto: akun twitter Prie GS

Saya pertama kali mengenal namanya sekitar tahun 2003 atau 2004. Saat itu saya masih bekerja sebagai jurnalis di Iran Broadcasting, Teheran. Seorang karyawati asal Malaysia hobi sekali membaca tulisan-tulisan Prie GS (di media online) dan menyimpannya di folder khusus. Saya membacanya sekilas, tapi waktu itu saya masih belum punya ketertarikan pada tulisan-tulisan motivatif, pengembangan karakter, dan sejenisnya.

Di Facebook, sejak sekitar setahun terakhir, saya follow akun beliau, tapi juga masih belum terlalu tertarik. Sampai akhirnya, dua bulan yang lalu, terbuka kesempatan untuk mengikuti pelatihan Next Level Public Speaking Clinic bersama Prie GS dan Prasetya M. Brata. Waktu tepat ketika saya memang merasa perlu menimba ilmu di bidang ini. Salah satu syarat ikut pelatihan adalah membaca buku Prie GS, “Menjual Diri”.

Saya pun membeli dan membacanya, dan merasa wow banget. Di buku itu dijelaskan bahwa untuk  menjadi pembicara (speaker) diperlukan intelektualitas, kecerdasan emosional, dan spiritualitas. Sekilas terlihat klise. Tapi cara Prie menjelaskan 3 unsur itu, benar-benar lain dari yang lain, karena dia hadir sepenuhnya dalam buku itu, menceritakan hal-hal yang dialaminya selama ini, sehingga pembaca (saya) berkali-kali tersentak dan berpikir, “Benar juga ya?” Ini benar-benar a must read book, menurut saya.

Continue reading

Mindful Ramadan (4): Kritis

pray for turkey

Pray for Turkey from Paris

Turki dibom, Bangladesh dibom, Irak dibom. Di bulan Ramadan.  Suriah sudah lima tahun terakhir ini jadi korban bom di berbagai penjuru negerinya. Sialnya, pelakunya muslim yang mengaku sedang berjihad (ISIS atau kelompok-kelompok jihad dengan berbagai nama lain). Sebagian Muslim (atau pembela Muslim) berapologi dengan menyatakan, “ISIS bukan Islam!” [atau sekalian tambahkan: ISIS itu buatan AS-Israel!]. Tapi, coba kritis sedikit, kan yang melakukannya tetap orang Islam? Yang jadi anggota ISIS (dan kelompok-kelompok jihad lainnya, yang hobinya juga sama, main penggal dan main bom sana-sini) juga orang Islam, tho?

Saya tidak akan membahas lebih lanjut karena sudah pernah menuliskannya (baca: Ketika ISIS Masuk ke Kamar Kita)  dan karena fokus tulisan ini bukan itu. Fokus saya ada pada kata KRITIS.

Ya, “hilangnya daya kritis” adalah kalimat yang terlintas dalam pikiran saya saat melihat polah para jihadis di Timteng (dan para pendukungnya di Indonesia). Sepertinya, sulit sekali buat mereka menganalisis secara kritis, apa yang sedang terjadi di dunia ini (baca: Dunia Kita-1, Dunia Kita-2, Dunia Kita-3).

Mengapa ada sebagian umat Muslim yang sulit berpikir kritis, padahal mereka dikenal salih, rajin ngaji, bahkan sebagian hafal Quran? Saya baru saja membaca tausiah Gus Mus, yang ditulis oleh seorang Facebooker:

KH Ahmad Mustofa Bisri pernah bercerita tentang strategi setan menjauhkan umat manusia dari ridha Allah. Setiap perintah Allah kepada hambaNya, setan selalu punya sedikitnya dua cara menggoda agar perintah itu tidak terlaksanakan. Pertama, setan menggoda agar perintah tersebut dilaksanakan kurang dari semestinya. Kedua, setan menggoda agar perintah itu dilaksanakan berlebihan dari semestinya.

Continue reading

Mindful Ramadan (3): Sabar?

langit

bukan iklan Li** lho 🙂

Kata sabar saya kasih tanda tanya, karena memang kata yang satu ini terkadang terasa ambigu. Ketika kita diam saja saat orang menghina atau mengatakan hal-hal yang bohong tentang diri kita, apa itu sabar? Ada seorang ada akhwat (dulu waktu SMP statusnya malah sahabat dekat saya), ia tak pernah membela saya (atau minimalnya menghibur) ketika saya dibully orang2 (dan orang2 itu adalah teman sekelompoknya si akhwat ini). Tapi ketika saya menulis klarifikasi atas kebohongan temen sekelompoknya dia itu, dengan fasih dia sodorkan kata-kata, “Nabi aja dulu dihina sabar, ga membalas.” Maksut loooo???

Padahal ya, demi menjaga pertemanan dengannya, saya selalu menahan diri untuk tidak membalas komen-komennya yang nyelekit itu; dan ini semakin membuat saya kesal: mengapa saya selalu saja berusaha menjaga perasaan teman, sementara si teman tak merasa perlu memikirkan perasaan saya? Rugi banget ya gue?!

Tapi, meski saya ‘rugi’, di saat yang sama saya juga beruntung karena melalui FB saya jadi kenal banyak orang hebat. Seorang bapak motivator terkenal (saya beruntung beliau bersedia jadi friend FB saya), memberi komen singkat di salah satu postingan saya, “if you get serious, you get stupid”.

Continue reading

Epistemic Community & Homoseksualitas

scientistBanyak yang menentang pendapat bahwa homoseksual adalah penyimpangan” dengan menyodorkan berbagai jurnal ilmiah yang menyebut “homoseksual adalah genetik/bawaan”. Ketika ada kasus-kasus yang ditangani civil society membuktikan bahwa ada yang semula gay, akhirnya ‘sembuh’, malah dimintai jurnal ilmiah. Seolah tanpa jurnal ilmiah, tak ada kebenaran. Kalaupun ada di jurnal, mungkin dipertanyakan: itu jurnalnya terindex dimana dulu?

Tesis S2 saya dulu membahas fenomena ini: hegemoni epistemic community. Ini saya copas sebagiannya (kalau dianggap agak ‘berat’, abaikan saja, nanti saya jelaskan dengan bahasa yang simpel):

Dengan membandingkan pemikiran Adler & P.Haas dengan E. Haas, peneliti menyimpulkan bahwa hegemoni memang terjadi dalam proses koordinasi kebijakan internasional. Negara (dalam hal ini negara dominan, seperti AS) melakukan hegemoni dengan cara menerima pengetahuan tertentu yang dipromosikan oleh epistemic community lalu mendesakkan pengetahuan itu kepada negara-negara lain untuk menjadi pengetahuan konsensual. Namun, bukan berarti epistemic community tidak ikut andil dalam hegemoni ini (seperti yang dikatakan Adler dan P. Haas), karena selain epistemic community selalu berupaya memonopoli akses pada posisi pengambilan keputusan di negara dominan, mereka juga akan berupaya memonopoli akses pada posisi pengambilan keputusan di negara-negara yang kurang dominan. Ketika para pengambil keputusan dari berbagai negara telah memiliki framing, definisi state interest, dan standar yang kurang lebih sama, maka penetapan kebijakan atas sebuah isu akan menjadi relatif mudah.

Jadi intinya begini, kalau ada sekumpulan ahli (=epistemic community) yang punya akses besar ke PBB, mengajukan kesimpulan tertentu, misalnya: homoseksual itu masalah genetik, maka kesimpulan itulah yang akan dipakai PBB untuk memutuskan sesuatu tindakan.

Continue reading

[Parenting] Bunda Elly Risman dan LGBT

loveDi grup-grup WA dan FB dari kemarin beredar link video 30 menit Bunda Elly Risman. Saya sudah nonton dan merinding banget. Padahal isi pembicaraan bunda Elly sudah berkali-kali saya dengar (dan saya sampaikan ulang, kalau sesekali diminta ngisi kajian parenting). Tapi, kali ini seiring dengan isu LGBT akhir-akhir ini, Bu Elly terlihat emosional, suaranya bergetar, dan berkali-kali matanya berkaca-kaca.

Intinya, berbagai bentuk penyimpangan perilaku anak (mulai dari yang sederhana: bohong, lelet, malas… sampai ke yang parah: selfie telanjang, kecanduan pornografi, hingga seks bebas dan same-sex attraction/gay/lesbi,dll) berakar dari kesalahan pola asuh orang tua.

Kesalahannya seperti apa sih? Bisa liat sendiri di video. Di video bagian awal bu Elly menyebut kesalahan komunikasi, “cara bicara ortu yg korup” –> itu maksudnya 13 gaya komunikasi yang salah. Jadi logikanya: cara komunikasi kita yang salah akan berefek buruk pada kepribadian anak (misal, jadi penakut, alay, gampang dipengaruhi orang, tidak tegas memegang prinsip –> nah, ini erat kaitannya dengan berbagai penyimpangan perilaku seks, mereka mau-mau saja dibujuk/diajak untuk coba-coba, akhirnya kecanduan).

Cara-cara komunikasi yang salah itu tidak dijelaskan detil oleh bu Elly di video tersebut, karena waktu yang singkat, hanya 30 menit.

Saya pernah ikut seminar bunda Elly dan ikut pelatihannya bunda Rani Razak Noeman terkait kesalahan komunikasi ini. Ini saya copas rangkumannya. Karena awalnya saya nulisnya di grup WA, harap maklum banyak sekali pakai singkatan, saya ga sempet ngedit ulang. Teorinya dari seminar&pelatihan Ibu Elly Risman&Ibu Rani Razak Noeman; tetapi penguraian ulang dengan kalimat saya sendiri.

Ada 13 gaya bicara yg harus DIHINDARI

1.Memerintah 2.mengancam 3. Menceramahi 4.menginterogasi 5. Melabeli 6. Membandingkan 7.menghakimi 8.menyalahkan 9.mendiagnosis 10. Menyindir 11.memberi solusi 12.menyuap 13.membohongi

Selama ini, pengakuan dari para teman-teman peserta pelatihan (termasuk saya sendiri), dengan mengubah cara bicara, dll, manfaatnya terasa: respon anak positif, lebih nurut, masalah yang ada bisa teratasi. Sehingga kita lebih tenang dalam menghadapi anak dan ga banyak energi keluar utk ngomel. Syaratnya konsisten dan sabar, insyaAllah akan ada respon positif dari anak.

  1. Memerintah. Knp kok kita ga boleh memerintah anak (apalagi disertai bentakan)? Krn, anak jd pasif, ga mandiri, ga ada inisiatif/kreatif, dan ibu jg capek nyuruh2 terus.

Kalo kita ingin anak berbuat sesuatu, ajak, dan terangkan alasannya. ‘Nak, yuk sholat, mama temani’, ‘nak, yuk bereskan mainanmu, biar rmh rapi’. Insya Allah, lama2 akan trbiasa dan atas inisiatif sendiri anak akan melakukan hal2 itu.

Kebiasaan nyuruh2 bikin anak pasif. Misal nilai matematika jelek, jgn disuruh2 belajar atau les. Tapi, ajak bicara/diskusi, usahakan sampai anak menemukan sendiri apa sebab nilainya jelek, dan dia sendiri yg bilang ‘aku ingin les!’ jadi anak ada rasa tanggung jwb, dia les bukan krn ‘disuruh ibu’, tp krn dia merasa perlu les.

  1. Mengancam

Para ibu paling ahli mengancam: “kalo gak makan, mama tinggal! Kalo nakal, mama kurung di kamar mandi!” Akibatnya, anak nurut karena takut, bukan karena kesadaran. Anak jadi penakut, mau saja diajak2 hal negatif sama teman2nya karena takut ancaman.

Ada yang bilang, sah-sah saja mengancam anak, toh Allah di Quran jg mngancam dg siksa yg pedih! Jwbnya: ancaman Allah itu kan hukum utk org yg baligh (sdh ada taklif). Utk anak2, kita sampaikan wajah Jamal (indah) Allah dulu.. Nak, sholat..supaya kita disayang Allah.. Nak, Allah itu baik, sudah kasih ini.. itu .. yuk kita berterimakasih.. caranya dg sholat.. Mnrt pnelitian, otak kiri dan kanan anak tersambung syaraf2nya pada usia9 th, dan saat itu dia bisa mnghubungkan sebab-akibat yg abstrak (“ghaib”). Jd saat itulah idealnya kita kenalkan “hukuman” Allah, bhw manusia2 yg tidak patuh akan mendapat siksa, masuk neraka. InsyaAllah dg proses ini, anak beribadah dg landasan cinta dan syukur, bukan semata2 takut pd neraka. Amin.

Continue reading

Bagaimana Cara AS Mendirikan Al Qaida/ISIS?

Kajian Timur Tengah

Ini copas status saya di FB tgl 18 Nov (yang dg segera di-report oleh takfiri, sehingga status tsb dihapus FB dan saya diblokir, tidak bisa posting di FB selama beberapa hari). Saya tambahi beberapa info baru.

====

Mungkin ada yang bertanya-tanya, gimana cara AS mendirikan Al Qaeda, ISIS, dll.? Sedemikian begonyakah orang Muslim sampai nggak nyadar kalo dikerjain? Tentu saja, caranya enggak blak-blakan dong. Sangat tersistematis (emangnya AS itu bego, apa?). AS tidak langsung hadir di lapangan, tetapi pakai tangan “ustadz-ustadz” dan aliran dananya pun kadang lewat negara-negara kroninya (seperti diakui oleh Hillary Clinton, CIA bekerja sama dengan Pakistan dan Arab Saudi). Makanya ada status FB orang Indonesia yang saat ini sedang jihad di Suriah, dia bilang, “Senjata mujahidin itu memang dari Amerika; malah bagus kan, canggih! [halooo…???] tapi bukan gratisan, melainkan sumbangan dari Arab Saudi dll.” (browsing aja, itu status dicopas pkspiyungan).

Poin penting pertama: berpikirlah kritis, jangan…

View original post 495 more words

Mengenang Al Nakba

Kajian Timur Tengah

Nakba Day, atau Al Yaum Al Nakba, atau HariMalapetaka adalah hari peringatan didirikannya Israel dari sudut pandang bangsa Palestina. Proklamasi pendirian Israel tanggal 14 Mei 1948 bagi orang-orang Zionis merupakan perwujudan dari ‘cita-cita bersejarah kaum Yahudi’. Namun bagi bangsa Palestina, hari itu adalah hari malapetaka, yang menjadi tonggak dari pengusiran ratusan ribu orang Palestina. Pengusiran itu terus berlanjut hingga hari ini, 65 tahun kemudian. Kini diperkirakan lima juta orang Palestina hidup terusir, tersebar ke berbagai wilayah; atau jadi pengungsi namun masih di wilayah Palestina. Banyak di antara mereka masih memegang kunci dan sertifikat rumah-rumah mereka yang kini sudah dihancurkan, atau ditempati orang Israel.

536271_220531904715801_1283003541_n

Kronologi Al Nakba

Kronologi tragedi Al Nakba sangatlah panjang dan luas dimensinya, namun dalam buku ini penulis membatasi penulisan kronologi  pada gelombang kedatangan imigran Yahudi Zionis, pengusiran bangsa Palestina dari tanah air mereka, serta upaya bangsa Palestina sendiri sejak awal dalam memperjuangkan kemerdekaan. (Bahkan, menariknya…

View original post 1,195 more words