Jalan-Jalan ke Palembang

Sebenarnya ini cerita lama, Juni tahun lalu. Tapi karena berbagai kesibukan, saya tidak sempat menuliskannya. Jadi serasa punya utang deh, sama seorang blogger yang baik hati mau menemani saya jalan-jalan keliling Palembang. Namanya Yayan, seorang travel blogger terkenal (omnduut.com). Kalau baca blognya Yayan, dia sering cerita menemani turis asing karena dia gabung di coachsurfing. Juga menemani teman-temannya sesama travel blogger. Jadi, emang sangat tepat meminta bantuan Yayan nganterin jalan-jalan keliling Palembang.

Sebab utama perjalanan ini adalah undangan untuk mengisi seminar di IAIN Palembang. Sampai di airport, dijemput sama Yayan (panitia seminar sudah menawarkan untuk menjemput sih, tapi saya tolak). Pake motor, hihihi, siap-siap punggung pegel deh. Karena Yayan sudah kasih tau bakal jemput pake motor, saya bawa ransel, bukan koper.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Museum Al Quran Raksasa yang berlokasi di Jalan M Amin Fauzi, Soak Bujang, RT 03, RW 01, Kelurahan Gandus, Kecamatan Gandus, Palembang. Sampai di lokasi, whoaaaa.. takjub banget liat ayat-ayat Al Quran dipahat di lembaran kayu berukuran 177cm x140cm x2,5 cm. Kayunya adalah kayu tembesu yang banyak tumbuh di Sumsel.

Penggagas pembuatan kaligrafi Al Quran Raksasa adalah tokoh Palembang bernama H. Sofwatillah Mohzaib. Ia sendiri pandai memahat kaligrafi di atas kayu, namun dalam pembuatan Al Quran Raksasa ini ia dibantu oleh tim pemahat dan menghabiskan waktu selama 7 tahun.

Rasanya sungguh luar biasa, masuk ke ruangan yang berisi lembaran-lembaran kayu bertuliskan ayat-ayat Quran, sambil membaca beberapa ayat di antaranya, semoga dapat berkahnya.

Continue reading

Mencicipi Kopi Khas Jawa Barat, Java Preanger

Kemarin saya mengikuti sebuah seminar yang diadakan di sebuah hotel di Jalan Pelajar Pejuang. Dari stasiun Bandung, naik angkot hijau muda menuju Gede Bage, dan diturunkan di belokan jalan Martanegara (karena rute angkot tsb memang demikian).

Nah, saat saya mau nanya-nanya, hotelnya ada dimana, terlihatlah kafe Gen Coffee. Lokasinya di Jln Pelajar Pejuang tapi tepat di belokan jalan Martanegara itu (tepatnya, Jl Pelajar Pejuang no 109-111A)

Saya udah lama dengar nama kopi Java Preanger itu, tapi belum pernah merasakan, belinya juga ga tau dimana. Jadi, karena penasaran, saya pun masuk ke kafe itu. Kafenya kecil saja, hanya ada 1 meja bundar dengan beberapa kursi. Ada meja-meja yang di atasnya ditaruh toples-toples berisi biji-biji kopi. Lalu ada mesin pemanggang biji kopi (roaster). Disediakan juga kopi gratis untuk minum di tempat, boleh pilih jenis yang mana. Sayang waktu itu saya lagi puasa, jadi ga nyicipin.

Bapak pemilik kafe sangat ramah, namanya Pak Dede Gustaman. Beliau dengan ramah menjelaskan koleksi kopinya satu persatu, dibuka toplesnya dan menyuruh saya mencium wanginya. Karena saya bilang saya tidak terlalu suka kopi yang terasa banget asamnya, Pak Dede menyarankan untuk memilih kopi jenis  Cattura Yellow. Harganya @100gr Rp65.000. Saya minta 50 gram aja.

Continue reading

Persian Kebab di Bintaro

Beberapa waktu yang lalu, kami sekeluarga ke Jakarta untuk beberapa keperluan. Di perjalanan, kami sempatkan mampir ke Lotte Mart Bintaro, untuk mengejar sesuatu spesial, yaitu Persian Kebab. Yang menginfokan soal kebab ini, teman fesbuk saya. Lama memendam penasaran, akhirnya hari itu sampai juga deh…

Pemilik toko kebab ini orang Iran asli, menikah dengan orang Indonesia. Namanya Sayid Mehdi. Saya sempat WA-an sama dia, pake bahasa Persia (dan ini bikin dia antusias banget), dapet nomernya dari teman saya itu. Sayangnya dia lagi ga di toko. Tapi dia menyuruh karyawatinya untuk memberi kami oleh-oleh berupa douh (minuman khas Iran terbuat dari yoghurt) dan nun/nan (roti tipis khas Iran, mirip tortila).

Continue reading

Taman-Taman Asri di Bandung

Pada masa kepemimpinan kang Emil, taman-taman di kota Bandung dibenahi sehingga semakin nyaman dikunjungi. Saya dan Reza beberapa hari yang lalu berjalan-jalan menikmati beberapa taman ini, antara lain taman Cibeunying, taman Pustaka Bunga, dan taman Lansia (tiga taman ini berdekatan, kalau naik angkot turun di Jalan Citarum).

Taman Lansia yang paling menyenangkan, ada kursi dan meja yang nyaman untuk ngetik (serta ada wifi gratis).

Setelah itu kami pergi ke perpustakaan di Lapangan Gasibu (tak jauh dari taman Lansia). Perpustakaan ini juga nyaman, ada meja dan colokan listrik kalau ibu-ibu mau mengetik sambil menunggui anak membaca buku.

Berikut ini beberapa foto-fotonya.

Bakat Anak

kendengTeman saya yang sedang berkunjung ke Iran, di FB memposting fotonya bersama hafiz Quran asal Iran, Sayid Husain Tabatabai. Saya dulu menulis buku tentang masa kecil sang hafiz, judul bukunya “Doktor Cilik Hafal dan Paham Al Quran”.

Hal ini membuat saya teringat sesuatu. Begini, dulu saya sempat benar-benar ga betah tinggal di Iran (sering disangka pengungsi Afghan –konon wajah saya mirip orang Afghan, duit cekak melulu, kemana-mana jauh, rumah kontrakan ga nyaman sama sekali, dll). Namun, ketika si Akang menawarkan pulang saja, saya malah ga mau. Sebabnya, (ini sulit dipercaya, karena saya bukan jenis akhwat relijies 😀 ) karena saya ingin Kirana jadi hafizah Quran.

Saat itu hafiz cilik bernama Sayid Husain Tabatabai sedang hit banget, terkenal, dan bikin banyak ibu-ibu klepek-klepek, pingin anaknya kayak beliau, termasuk saya. Jadi, saya bertahan, untuk bisa menyekolahkan Rana di sekolah hafalan Quran di sana. Eh, alhamdulillah, setelah itu saya dapat kerjaan jadi jurnalis di IRIB. *rejeki anak soleha* Langsung segalanya berubah jadi nyaman, dari sisi keuangan, dari sisi rasa percaya diri (dulu saya ga pede banget jadi ibu RT doang, tapi sekarang malah males kerja full time), dan bakat menulis saya tersalurkan maksimal. Dan yang lebih menyenangkan, ternyata sekolah hafalan Quran itu tak jauh dari rumah kami.

Tapi, setelah pulang ke Indonesia, situasi ga kondusif lagi. Semakin lama, semangat menghafal Quran Rana semakin kendor, dan akhirnya berhenti. Saya sejujurnya tidak sadar bahwa jauh di lubuk hati terdalam ini amat mengganggu saya. Rasanya kecewa banget, sudah sedemikian ‘berkorban’ kok ga ada hasilnya.

Saya baru sadar akhir-akhir ini saja.

Continue reading

Prie GS

menjual-diri-prie-gs

sumber foto: akun twitter Prie GS

Saya pertama kali mengenal namanya sekitar tahun 2003 atau 2004. Saat itu saya masih bekerja sebagai jurnalis di Iran Broadcasting, Teheran. Seorang karyawati asal Malaysia hobi sekali membaca tulisan-tulisan Prie GS (di media online) dan menyimpannya di folder khusus. Saya membacanya sekilas, tapi waktu itu saya masih belum punya ketertarikan pada tulisan-tulisan motivatif, pengembangan karakter, dan sejenisnya.

Di Facebook, sejak sekitar setahun terakhir, saya follow akun beliau, tapi juga masih belum terlalu tertarik. Sampai akhirnya, dua bulan yang lalu, terbuka kesempatan untuk mengikuti pelatihan Next Level Public Speaking Clinic bersama Prie GS dan Prasetya M. Brata. Waktu tepat ketika saya memang merasa perlu menimba ilmu di bidang ini. Salah satu syarat ikut pelatihan adalah membaca buku Prie GS, “Menjual Diri”.

Saya pun membeli dan membacanya, dan merasa wow banget. Di buku itu dijelaskan bahwa untuk  menjadi pembicara (speaker) diperlukan intelektualitas, kecerdasan emosional, dan spiritualitas. Sekilas terlihat klise. Tapi cara Prie menjelaskan 3 unsur itu, benar-benar lain dari yang lain, karena dia hadir sepenuhnya dalam buku itu, menceritakan hal-hal yang dialaminya selama ini, sehingga pembaca (saya) berkali-kali tersentak dan berpikir, “Benar juga ya?” Ini benar-benar a must read book, menurut saya.

Continue reading

[Video] Jangan Biarkan Anak-Anak Teradikalisasi

cover3aPada November 2014, wartawan BBC, Mark Lowen, menemui seorang remaja usia 13 tahun yang sedang dalam masa persiapan bergabung dengan ISIS di Turki selatan. Dia ingin dipanggil sebagai “Abu Hattab”. Ia bergabung dengan kelompok jihad Syam al-Islam. Dia dididik hal ihwal syariah dan belajar menggunakan senjata, dan dengan bangga menunjukkan gambar ia membidik dengan senapan mesin.

Sekarang ia menghabiskan hari-harinya dengan selalu terhubung secara online, menonton video jihad dan chatting di Facebook dengan para petarung ISIS. Dalam beberapa pekan, katanya, dia akan pergi ke kubu ISIS di Raqqa di Suriah untuk menjadi seorang prajurit jihad belia.

Menurut laporan Human Rights Watch para prajurit bocah itu digunakan sebagai pelaku bom bunuh diri dan penembak jitu. [1]

Jurnalis independen, Vanessa Beeley, pada September 2016 mengunjungi korban bom bunuh diri di kawasan Al Qaa, Suriah. Si korban bernama Jean Houri. Pada 27 Juni 2016, terjadi aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh 4 orang. Jean berlari untuk membantu seorang korban akibat ledakan si pengebom ke-3, yang membuat kaki kirinya terluka. Tapi kemudian, si pengebom yang ke-4 meledakkan dirinya, sehingga kaki kanan Jean pun hancur. Para pengebom bunuh diri itu masih remaja. Mereka terlihat dalam pengaruh obat bius, salah satunya bahkan sudah dihujani lebih dari 50 peluru [oleh aparat], tapi mampu terus berjalan dan mampu meledakkan dirinya. [2]

Continue reading