Kami kan sudah bayar?! (a.k.a Cerita dari Kopdar Bandung)

Tak terasa, hampir setahun sudah berlalu sejak ‘keisengan’ saya menulis email di milis tentang Jamiatul Quran. Juga, berarti hampir setahun berlalu sejak Rumah Qurani dan Rumah Pohonku terbentuk. Kemarin ketika pulkam, akhirnya saya bertemu juga dengan team Rumah Qurani (RQ) dan kami rapat selama berjam-jam (sekaligus kopdar ama bbrp temen dari Multiply). Isi rapat sebenarnya hanya evaluasi, apa yang telah dilakukan team RQ yang benar-benar jungkir balik di lapangan (kalau saya selama ini kan cuma duduk di depan komputer dan memberi saran sedikit-sedikit). Ada banyak poin yang dibicarakan, tapi yang paling menarik, ternyata sulit sekali menerapkan sistem pengajaran Quran ala Jamiatul Quran-Iran secara total di Indonesia karena perbedaan kultur.

Pengajaran Quran ala Jamiatul Quran (tempat Kirana sekolah saat ini) adalah mengajarkan satu ayat (bukan satu surat loh) dengan cara komprehensif, sehingga anak memahami makna ayat itu dan bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai tujuan itu, si ibu harus ikut duduk di kelas bersama sang anak. Tapi, metode ini di Indonesia ternyata sama sekali tidak bisa diterapkan. Ketika team Rumah Qurani mengadakan rapat dengan orang tua murid dari murid2 TK Al Quran (TKA) Pesantren Babussalam, Dago Atas, Bandung, yang menyediakan diri untuk dijadikan pilot project, ide tentang keikutsertaan ibu di kelas (yang durasinya cuma 1 jam, tiga kali seminggu) ditolak mentah-mentah, dengan alasan, “Kami kan sudah bayar?! Buat apa bayar kalo kami juga yang harus repot-repot ikut sekolah?! (Ada juga yang memberi usul “Kalo pembantu kami aja yang ikut menemani anak di kelas bagaimana?” –à???)

Akibatnya, karena ketidakhadiran orangtua, untuk mengajarkan satu kitab, yang terdiri dari 18 ayat (sekali lagi, bukan 18 surat!), butuh waktu enam bulan (sementara di Iran, cuma 1,5 bulan maksimal)! Mengapa? Karena anak-anak di rumah akan kembali tenggelam dalam kesehariannya, tanpa ada interaksi soal ayat2 itu dengan orangtuanya. Misalnya, pengajaran ayat “wa sulhu khair” (berdamai itu baik). Si Ibu yang tidak tahu apa-apa tentang ayat ini mungkin akan mendamaikan anak yang bertengkar dgn caranya sendiri, atau malah sekedar memarahi anak. Padahal idealnya, si ibu harus membawakan ayat ini ketika anak bertengkar, “Sayang, bukankah Allah berfirman wa sulhu khair? Kamu ingin disayang Allah bukan?..bla..bla…”

Kondisi ini benar-benar membuat saya tercenung. Begitu sulitnyakah meluangkan waktu satu jam sehari, tiga kali sepekan, untuk menemani anak di kelasnya? Satu jam yang biasanya terbuang sia-sia untuk menonton sinetron atau ngobrol sana-sini yang nggak jelas dengan tetangga? Bukankah itu satu jam yang bisa jadi akan mengubah hidup anak dan bahkan bangsa ini?!

Ini baru satu masalah. Masalah lain adalah pengadaan guru. Irma, guru produk RQ yang ‘asli’ (yang dari awal terlibat dalam proses pematangan metode dan paling menguasai cara pengajaran metode ini) terpaksa meninggalkan team karena harus bekerja mencari nafkah. Sebelum pergi, Irma melatih guru pengganti, yaitu guru TKA Babussalam sendiri. Namun karena minimnya gaji yang diberikan Babussalam (untuk ongkos angkot pp pun tak cukup), si guru pun mengundurkan diri. Guru ketiga pun muncul, tapi ternyata kemampuannya kurang bagus sehingga out-put dari anak-anak kelas pilot project kurang bagus. Akhirnya, kini ada guru keempat yang entah akan bertahan sampai kapan.

Kendala lain adalah masih belum dicetaknya buku pegangan anak, orangtua, dan guru yang gara2 biaya cetak di Indonesia yang benar2 muahaaal!!! Sepertinya, semua bermuara kepada dana. Sementara ini ada ide (dan sudah mulai jalan) untuk membuat VCD pengajaran Quran untuk anak, yang diprediksikan akan menghasilkan dana cukup besar untuk menghasilkan biaya operasional RQ. Mudah2an saja berhasil.

Sempat ada usul untuk profit oriented, misalnya dengan menjadikan RQ sebuah lembaga ‘mahal’ (meniru taktik bisnis sekolah2 unggulan di Indonesia, makin mahal dan elit, malah makin laku kan, siapa bilang Indonesia itu miskin?!). Tapi itu segera terbantah oleh idealisme kami sendiri yang sejak awal memang tidak ingin metode RQ menjadi metode eksklusif yang hanya dinikmati oleh anak2 dari keluarga berduit. Kami justru ingin metode ini bisa dipakai oleh anak-anak dari TKA-TKA di desa-desa terpencil, atau di sekolah-sekolah terbuka untuk anak jalanan.

Hmmm… jadi ingat nasehat Ustad Mukhtar Adam, pemimpin PP Babusalam, ketika Fani dkk, pertama kali mempresentasikan rencana pembentukan RQ kepada beliau: “Jalan yang kalian tempuh ini sangat berat…kalau tidak kuat mental, lebih baik mundur dari sekarang.” Tapi, apa gunanya hidup bila hanya dilalui dengan mencari kenyamanan pribadi dan tidak melakukan kontribusi apapun untuk memperbaiki dunia, iya kan? Jadi, terus SEMANGAT!!!

NB; saking semangatnya, meski badan udah cuapekkkk…tetap semangat untuk kopdar ronde kedua bareng Winda, Yani, Setia, dan Olivia (dan mas Surya) di Ciwalk. Mas Surya (temen sekantornya Winda) sengaja diseret ikutan kopdar, biar si Akang gak grogi dikelilingin cewe2 cantik, hihihi… Foto2 lengkap kopdar ronde kedua bisa lihat di sini

Ket. foto:

Foto 1: si Akang, Fani, dan Yekti keukeuh rapat; sementara Mas Ni’mal dan Mas Alifa (foto2) kabur cari makan siang

Foto 3: Kata Teh Rina, Teh Dewi, Rahma, dan Dini: “Pusiiiing, mendingan makan asinan Bogor atau mojok ama Kirana, ya nggak?

Foto 4: mau say good bye, mejeng dulu…

Foto 5: kopdar ronde kedua di Ciwalk