[Parenting] Penyebab Anak Sulit Belajar

Hm, sudah berapa hari saya berhasil bertahan tak blogwalking? Seminggu kayaknya. Menyusul kesadaran atas penyebab leletnya otak saya akhir-akhir ini, saya membatasi diri blogwalking. Sebenarnya, saya masih memberi toleransi pada diri sendiri: boleh 1 jam sehari. Tapi, sekarang, toleransi itu saya geser: seminggu sekali. Itupun, saya berlama-lama membaca satu jurnal, menelannya pelan-pelan, menikmatinya, bukan sekedar baca scanning lalu loncat ke tulisan lain. Mudah-mudahan usaha ini membuat otak saya agak mendingan.


Kenapa saya kuatir dengan kondisi otak? Karena, akhir-akhir ini saya cuma mampu mencerna buku-buku yg ringan, padahal, dalam waktu dekat (kalau lulus tes masuk S2) saya harus mencerna lagi buku-buku serius (dan saya sudah mencoba membaca buku2 semacam itu..wow..paragraf pertama aja langsung pusing).


Anyway, bicara soal otak.. saya kemarin mendapatkan ilmu dari sebuah pelatihan komunikasi (dengan) anak. Ternyata, di otak itu ada yg disebut ‘sistem lymbik’ yang berfungsi menyimpan perasaan. Sistem limbik ini bagaikan pintu masuk sebelum informasi masuk ke dalam bagian otak ‘korteks serebri’, tempat bersemayamnya kecerdasan.


Seorang anak yang lelet, gak paham-paham saat belajar, nilainya jeblok melulu sangat mungkin bukan karena dia tidak cerdas, namun karena suasana hatinya saat menerima informasi (ilmu) sedang tidak nyaman. Misalnya nih, anak bangun bagi, udah diomelin, “Cepetan bangun! Dari tadi mama udah bangunin, ga bangun-bangun?! Emang kamu gak mau sekolah ya?! Mau jadi apa kalo gak mau sekolah? Dasar lelet!”


Wow, bayangin perasaan anak. Pagi-pagi udah kena serangan fajar. Keterburu-buruan di pagi hari, omelan dan kepanikan ibu, semua itu akan membuat perasaan anak tak nyaman. Akibatnya, saat menerima informasi ilmu, informasi itu akan nempel di sistem lymbik saja, dan tertahan di sana, tidak berlanjut ke korteks serebri.


Cara terbaik adalah bersikap lemah lembut, terhadap anak lelet sekalipun (oiya, kata bu psikolog, anak lelet itu pasti ada sebabnya, mungkin dia memang tak menyukai sekolah, atau karena dia memang ingin ‘bertahan lelet’…saking sering dikatain lelet, dia bilang dalam hati, “ya emang gue lelet, ibu mau apa?!”. Jadi, labelling (mencap) anak seharusnya dihindari. Saat anak lelet, jangan sebut dia lelet; tapi saat dia suatu saat melakukan sesuatu dgn baik, langsung dipuji, hal ini akan memberinya semangat untuk melakukan hal2 yg baik: bikin PR tepat waktu, semangat ke sekolah, dll). Buat hati anak sangat nyaman sebelum pergi sekolah, insya Allah, kecerdasan mereka akan semakin prima.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s