Tehran Hari Ini :(

Hari ini, suasana duka dan sendu merebak. Channel satu yang biasa kami setel sejak pagi, menampilkan pemandu acara pagi “Subh-be-khair Iran” (Selamat Pagi Iran) yang berbicara dengan suara serak, lalu akhirnya menangis terisak-isak. Di channel enam, seorang penyiar perempuan yang dengan suara serak –dan akhirnya hanya sanggup mengucapkan dua-tiga kalimat saja—memandu acara duka cita yang menampilkan profil kolega kami yang tewas dalam kecelakaan pesawat kemarin. Sebagian besar masih begitu muda dan berwajah tampan-innocent.

Membuka MP dan YM, ada beberapa message bernada khawatir, “Bagaimana kabarmu di Tehran?” Hiks… Kami baik-baik saja. Tapi ada 40 kolega kami, (repoter, kameramen, pengambil suara, dll dari IRIB), puluhan wartawan dan fotografer dari berbagai kantor berita di Iran, serta beberapa personil militer dan warga sipil, tewas. (Total korban 116 orang, versi Tehran Times). Seorang di antara mereka adalah wajah yang sangat kami kenal, bernama Agha Khairkhah, karena dia sering menyapa kami dengan ramah di pagi hari, lewat acara “Subh-be-khair Iran”. Kematian, seringkali menyapa tanpa pertanda.

Kantor-kantor dan sekolah pun diliburkan dua hari. Bukan karena musibah ini, tapi karena polusi udara Tehran yang melampaui ambang batas. Beberapa urusan terpaksa tertunda, tapi setidaknya, perhatian pemerintah soal polusi dan kesehatan warga sedikit membuat saya terhibur. Kalau tidak ada pengumuman bahwa polusi di atas ambang batas, siapa yang tahu dan peduli? Apalagi, hawa juga terlihat biasa-biasa saja dan langit tetap biru. Kalau dibandingkan dengan udara Jakarta, masih lebih nyaman udara di Tehran.

Well, inilah episode kehidupan. Hari ini, saya masih hidup, bahagia, dan berada ribuan mil dari kampung halaman. Entah esok, entah lusa.

foto dari sini