Ngefans

love-sand

image from google

Dulu, saya ngefans banget sama Aa Gym. Waktu kuliah S1, saya sempat rutin datang ke taklimnya. Bertahun-tahun kemudian, muncul “skandal”, si Aa diam-diam kawin lagi. Se-Indonesia heboh deh. Saya juga ikut heboh, “berantem” di sebuah milis (saya di pihak penentang poligami si Aa, bukan anti poligami sebagai “hukum” tapi praktiknya). Yang menarik, si Akang tetap membeli VCD ceramahnya saat kami liburan di Indonesia (waktu itu kami masih kerja di Iran). Yang penting isi ceramahnya seger, Nyunda pisan, lumayan buat mengobati rindu Indonesia, peduli amat soal poligaminya, demikian pendapat si Akang.

Beberapa waktu yll saya sempat uring-uringan karena Pak Anies Baswedan diberhentikan jadi menteri. Soalnya, saya kan (dulu) ngefans banget sama pak Anies. Si Akang yang lagi di luar kota menyempatkan nelpon 45 mnt cuma buat ceramahin, kalau ngefans tu ga sih gitu-gitu amat kali… dan banyak lagi komennya ttg politik dan konstelasi politik Indonesia. Sesuatu yang sebenarnya saya juga tahu dan paham, cuma.. ya gitu deh.
Saya dulu juga ngefans pada om Mario Teguh yang sejak kemarin dihebohkan oleh kasus masa lalunya (ada orang mengaku sebagai anaknya, entah benar/tidak, bukan itu topik tulisan ini).
 
 

Meski sudah lama sekali kami tidak nonton siarannya (sejak pindah dari Metro TV, entah kemana), tapi jejak kebaikan yang ditularkannya masih ada dalam keluarga kami. Misalnya, si Akang gampang minta maaf kepada saya meskipun saya yang salah. Hahaha. Aneh memang. Tapi ini resep dari MT : kalau berantem sama istri, suami sebaiknya minta maaf, meski yang salah si istri. Dipastikan si istri akan “meleleh” dan sebenarnya dia juga sadar kok kalo dia yang salah. Yang diinginkan istri itu adalah disayang dan diperlakukan sebagai sosok yang penting, lalu ia akan membalasnya dengan sikap yang jauh lebih baik. [Dulu, kami sama-sama keras kepala, jadi kalo berantem bisa diem-dieman berhari-hari].
Tentu saja wallahu a’lam prakteknya di rumah orang, bisa jadi si istri malah ga tau diri dan ngelunjak. Kalau di rumah tangga kami, yang terjadi adalah kebaikan. Ngambek saya [saya sadar sepenuhnya bahwa saya yg salah, tapi saya juga yang ngambek duluan ketika berantem dan kalah argumen] langsung hilang saat si Akang minta maaf 😀 😀
Atau, saat si Akang diledek teman-temannya karena sering disapa “Oh, suaminya bu Dina ya?”, si Akang malah tertawa mengutip MT, “Lho kan kata MT, suami yang sukses itu adalah yang berhasil mendorong istrinya jadi sukses?” (amiiin :D)
Dia juga banyak menasehati Kirana soal perbaikan kualitas diri dengan menggunakan idiom-idiomnya MT, misalnya, “rezeki Allah datang saat kita melayakkan diri untuk menerimanya”, atau “kalau mau jodoh yang kualitas tinggi, kamu juga harus meninggikan kualitas dirimu”, dll.
Selain MT, kami juga mempelajari pemikiran-pemikiran motivator lain, juga pakar parenting dan psikolog. Sebenarnya, tepatnya, saya yang ngefans duluan pada mereka, lalu si Akang ikut baca bukunya (atau mendampingi saya ikut seminarnya) dan kami berdiskusi bersama. So suit banget dah *teeeet…pencitraan detected* 😀
Pagi ini, kami mendiskusikan kasus MT. Saya mengkhawatirkan jutaan anak-anak muda yang ngefans pada MT, apakah mereka kemudian akan mempersetankan semua kata-kata baiknya?
Kesimpulan kami, kita perlu belajar untuk tidak berharap terlalu banyak pada manusia biasa. Sepanjang seorang manusia itu masih manusia biasa [bukan manusia yang dijamin kesuciannya oleh Allah], ya hadapi dia sebagai manusia biasa. Ambil yang baik, manfatkan untuk kebaikan diri sendiri. Misalnya, kan banyak di antara ucapan MT yang berasal dari ayat Quran, hadis, atau perkataan Sayyidina Ali, meski dia ga sebut sumber. MT mampu mengartikulasikan ulang dengan bahasa kekinian sehingga bisa diterima banyak orang. Bagaimana/siapa pun MT, tidak akan menghapus kemuliaan kata-kata yang pernah disampaikannya ketika sumber asalnya juga mulia.
Saya jadi teringat pertengkaran saya dengan si Akang (astaga!). Waktu itu saya mengkritik si Akang, “Papa kemarin ngomong X tapi dirinya sendiri ga mempraktekkan, ngomong doang nih!” Dia menjawab, “X-nya benar nggak? Bermanfaat nggak buat diri Mama? Kalau ya, lakukan, bukan demi siapapun, tapi demi diri sendiri! Mengapa untuk melakukan sesuatu kebaikan harus bergantung pada orang lain!?”
Jadi, mari belajar untuk mengambil “apa”-nya, bukan “siapa”-nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s