Cinta Itu Sebab

love1Mumpung masih mood nulis, saya tuliskan satu lagi. Soal cinta.

Suatu hari,  si Akang diminta menghadap ke seseorang, ada orderan proyek untuknya. Setelah berdiskusi panjang lebar, sebagai penutup, si Akang berkata, “Baik pak, saya diskusikan dulu dengan istri saya, nanti saya sampaikan keputusannya.”

Si Bapak itu seperti tersengat, “Buat apa, kok diskusi sama istri segala?!”

“Bapak menawari saya proyek ini, artinya Bapak menilai saya kompeten. Nah, saya bisa kompeten tentu berkat dukungan istri saya…”

Dia terdiam, lalu menjawab, “Oh ya, tentu saja. Ok, silahkan.”

Tentu saja saya terharu mendengar si Akang bercerita tentang kejadian ini kepada saya via telpon. Tapi tidak saya tampakkan. Soalnya percuma saja. Dia bercerita bukan demi romantis-romantisan. Biasa saja. Jadi ya saya sampaikan pendapat saya, yang seperti biasa, sangat impulsif dan tak saya pikir panjang. Tapi mungkin justru pendapat-pendapat model begitu yang ditunggunya. Buktinya, dia kemudian menjelaskan argumennya, dan seperti biasa, saya jawab, “Ya udah, kalo gitu, terserah Papa aja.”

Tentu saja saya tidak selalu ‘pasrah’ begitu. Sering juga saya ngotot, kalau saya benar-benar yakin dengan pendapat saya. Dan si Akang juga cool saja menghadapinya, kadang dia turuti, kadang tidak, kadang dibuat kesepakatan bersama; yang penting argumennya kuat.

Kami bicara sering dengan nada tinggi, seolah berantem. Saya orang Padang, sepertinya memang biasa begitu. Tapi si Akang yang Sunda, seolah sudah tertulari gaya bicara saya, jadi ga kalah set. Anak-anak yang mendengar hanya geleng-geleng kepala, sudah hafal adat ortunya. Setidaknya ada yang mereka pelajari: cara mempertahankan pendapat, cara berargumen. Meskipun, mudah-mudahan mereka meniru Papanya, yang cenderung lebih cool dan lebih sabar; bukan saya.

Satu hal yang saya garis bawahi dari proses ini: si Akang sangat paham bahwa saya sangat butuh dihargai. Saya paling benci dianggap bodoh. Kalau saya disuruh memilih, saya akan pilih hidup sederhana dengan suami yang menghargai otak saya, daripada hidup dengan suami kaya yang menganggap saya bodoh dan meremehkan intelektualitas saya. Dan dia memberikan penghargaan itu dengan amat baik. Antara lain, dia membiarkan saya ikut seminar ini-itu dan kuliah sampai S3. Padahal saya bukan perempuan karir, lulus S3 pun saya tidak tahu akan bekerja jadi apa/dimana. Saya cuma suka belajar.

Kata seorang coach neurosemantic yang pernah saya ikuti trainingnya, cinta itu memahami, bukan minta dipahami. Kalau kamu paham suami/istrimu, pasti kamu bisa membuatnya berperilaku seperti yang kamu inginkan. Kalau kamu paham anakmu, pasti kamu bisa membuatnya melakukan hal-hal yang kamu harapkan.

Jadi, omong kosong itu kata-kata, “Saya tuh kesal sama suami, dia gak pernah mau memahami saya!” Atau, “Aku itu bersikap begini karena dia yang ga mau paham keadaanku!”

Kalau kamu cinta sama suami/istrimu, kamu akan paham dia sepaham-pahamnya, sehingga kamu tau cara membuatnya melakukan apa yang kamu dambakan.

Well, saya termasuk yang beruntung dalam hal ini. Maksud saya, suami saya yang sangat paham akan diri saya; lebih paham daripada saya memahami diri saya sendiri. Agaknya ini berkat doa ibu saya.

Ketika saya tanya, kok dia bisa begitu? Jawabnya, karena sejak awal menikah, dia sudah tau, adalah tanggung jawab suami untuk menyempurnakan istrinya. Jadi, apapun kekurangan istri, dia terima dengan ikhlas, sambil terus berusaha (dan berdoa) memperbaiki perilaku istrinya. Nah, saat saya menyadari hal ini, saya pun menjadi semakin terpacu untuk memperbaiki diri, berusaha menjauhi hal-hal yang tidak dia sukai dan berusaha menyenangkan hatinya, lebih sabar,  mau menerima kekurangannya, dst. Ya iyalah, masak maunya yang ‘lebih’ saja, tapi tak mau bersabar pada ‘kurang’-nya. Siapapun di dunia ini, termasuk kita sendiri, pasti punya kekurangan dan kelebihan.

Ada kata-kata mutiara dari sang coach: cinta itu tidak butuh komitmen, tapi justru cinta yang menjadi sebab munculnya komitmen. Kalau memang cinta, kalian pasti berkomitmen untuk menjadi suami/istri yang baik. Cinta itu sebab.

Jadi, jika situasi rumah tangga sedang runyam, sepertinya solusi awalnya adalah membangkitkan rasa cinta yang dulu pernah ada. Ingat-ingat lagi, mengapa dulu mau menikah dengannya. Bayangkan, apa jadinya bila ia tak ada di sisimu hari ini. Lalu, berkomitmenlah: karena aku cinta dia, aku akan memahaminya sepenuh jiwaku.

Fokuskan perhatian kepada suami/istri, jalin kembali hubungan emosional dengannya. Awalnya mungkin terasa sulit, tapi insyaAllah, gayung akan bersambut, hubungan emosional itu akan bisa tumbuh kembali.

Ok, saya akhiri dengan mengutip bait lagu dari Ebiet:

kalian boleh tebak
cara kami memilih
putik-putik asmara
ho ho ho ho ho ho ho

Sesungguhnya sangat mudah,
sesungguhnya sangat sederhana
Kami saling memberi,
kami saling mengerti

Kata kuncinya: saling memberi, saling mengerti; bukan menuntut untuk diberi, menuntut untuk dimengerti.

Semoga bermanfaat, buat saya, dan buat pembaca. Amin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s