Belajar dari Poligaminya Anis

Saya barusan baca di Detik.com soal cuitan Fahri Hamzah yang menceritakan panjang lebar proses pernikahan kedua Anis Matta. Meski saya bukan simpatisan PKS, Anis, atau Fahri (dan sejujurnya sangat sinis pada mereka dalam berbagai kasus politik, karena saya pengamat politik Timteng), dalam hati saya mengucap subhanallah

Ada beberapa poin yang menurut saya luar biasa:

  1. Istri pertama dilibatkan dalam proses pernikahan. Tidak seperti yang banyak terjadi: suami-suami sembunyi-sembunyi pacaran dengan perempuan lain (dan tentu saja, pastilah banyak kebohongan yang dilakukan), lalu diam-diam kawin lagi, lalu setelah ketahuan, ribut, berantem, KDRT, dst.
  2. Istri pertama dan istri kedua diperlakukan adil: ditaruh di rumah yang sama, dan artinya tentu saja (kemungkinan besar lho ya, kan saya ga liat sendiri) dapat fasilitas yang sama. Tidak seperti yang banyak terjadi: suami-suami belum bisa mencukupi kebutuhan istri pertama dan anak-anaknya, sudah gatel mau kawin lagi. Akhirnya, mereka terlantar, hak-haknya tak terpenuhi.
  3. Istri pertama terlihat ikhlas dan baik-baik saja. Jauh sebelum baca cerita Fahri Hamzah di Detik.com ini, saya sudah dapat cerita dari teman saya, teman saya ini dapat langsung dari ibu Ana (istri pertama Anis), dengan nyantainya bu Ana bilang, “kan udah ada si bulbul…” saat ada yang nanya, gimana kok bu Ana bisa sangat aktif berdakwah padahal anaknya banyak banget. Ternyata, dia malah seneng karena ada bantuan dari si bule (istri kedua yang asli Hungaria itu) untuk ngurusin rumah tangga. Ada lagi cerita saksi mata yang melihat dua istri ini ketawa-ketawa bareng; semua terlihat baik-baik saja.
  4. Anis dengan terbuka menginformasikan bahwa dirinya punya istri dua di profile keanggotaan DPR. Jadi, ga main kucing-kucingan kayak sebagian orang. Ga jaim kayak sebagian orang, di depan sok iye, membela kaum tertindas, di belakang main perempuan. Anis memperlihatkan cara berpoligami yang gentelmen.

Mungkin ada yang membantah, “Mana ada perempuan yang mau dimadu?!”  atau “Itu sih politiknya si Anis aja, karena mau nyapres, dia bikin pencitraan baru supaya rakyat ga ngeributin masalah poligaminya dia!”

Untuk bantahan pertama, saya jawab:  jangan salah, banyak juga kok poligami yang berhasil (minim konflik). Dan yang saya lihat, poligami yang berhasil ya seperti yang dilakukan Anis Matta ini, melibatkan istri pertama di dalam prosesnya. Enggak main kucing-kucingan, enggak berkhianat. Dalam proses ini, istri pertama tidak disakiti. Kata suami saya, duluuu…, saat mengomentari poligaminya Aa Gym, bilang begini, “Poligaminya sih sah. Tapi, yang dosa adalah menyakiti hati istri pertama.” [waktu itu kan, ada berita-berita di balik layar bahwa Teh Ninih tau belakangan, dan sangat sakit hati, meski di depan umum kayak baik-baik aja]

Untuk bantahan kedua… no comment deh. Kalau urusan politik, beda lagi ya analisisnya. Di sini, fokus saya pada poligaminya aja kok. Saya sedang prihatin mendapati kasus-kasus poligami yang menyakitkan: pengkhianatan, kebohongan, KDRT pada istri pertama, dll. Jadi, saya pikir, kasus Anis Matta ini perlu dijadikan ‘pelajaran’ buat mereka yang memang sudah berniat poligami. Ingat ya, menyakiti hati istri itu hukumannya sangat besar. Ada hadisnya, tapi saya lupa teks lengkapnya. Sebelum istri pertama mengikhlaskan rasa sakit hatinya, para suami-suami zalim itu ga akan masuk surga, yakin deh.

Dan inilah yang perlu diketahui pula oleh istri-istri yang terzalimi: daripada kalian memelihara rasa sakit hati yang akan menghancurkan diri kalian sendiri (sementara suami brengsek kalian sedang bersenang-senang dengan perempuan lain), lebih baik cari cara untuk menyembuhkan sakit hati itu. Serahkan suami kalian itu kepada Allah. Allah tidak tidur. Kejahatan sebesar biji zarah sekalipun, pasti akan dibalas-Nya. Apalagi kejahatan besar: menyakiti amanah Allah (istri-anak itu kan amanah Allah untuk para suami). Jadi daripada kalian gila karena sakit hati, lebih baik sembuhkan diri sendiri. Bisa dengan baca Quran, tahajud, menemui psikolog, atau dengan terapi emotional freedom.

Advertisements

2 thoughts on “Belajar dari Poligaminya Anis

  1. Benar sekali mbak, sebaiknya istri2 yang merasa kecewa akan kesetiaan suami yang ternyata …..kawin lagi sebaiknya lebih baik memikirkan diri sendiri, cintailah diri dan jangan korbankan diri untuk hal yang banyak membuang energi, optimalkan potensi diri, apalagi kalau sudah punya anak. Pusatkan perhatian lebih pada anak2. Menurut saya suami yang mengecewakan istri itu berarti dia membuat celah untuk mengecewakan dirinya sendiri. Siapa menanam maka diapun akan menuai.

  2. Assalamualaikum mbak 🙂
    Saya baru nemu blog ini dan lgsg baca2 tulisan mbak hari ini 🙂
    Dari bbrp tulisan mbak, saya cukup tertarik buat komen di tulisan yg ini…
    Tulisan mbak ini kan ttg poligaminya anis…
    Nah kalo poligami ini (jgn sampe) terjadi di kehidupan mbak sendiri bagaimana? Apakah mbak dpt mengikhlaskannya?

    Terimakasih mbak, sblmnya saya seorg mahasiswi smt 3 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s