[Parenting] Bersikap Adil Pada Anak

lemantun
Sebenarnya awal mulanya ini film bu Tejo yang “dahsyat” itu. Tapi tulisan ini bukan tentang film itu. Saya tidak berani nulis soal film ini karena para seleb+pemikir di fesbuk sudah banyak yang unjuk pemikiran, pro kontra. Saya menikmati sajalah adu argumen mereka. Yang pasti, saya nonton 3x dan selalu terkikik-kikik sendiri sambil merasa bersyukur karena paham bahasa Jawa, jadi bisa lebih dapet “feel” dari dialog-dialog di film itu.
 
Kirana juga nonton, lalu kami sempat diskusi panjang lebar sama Kirana (mendiskusikan isi tulisan para pengamat). Komen Kirana: justru itulah hebatnya film ini, bisa “menempel” kuat di benak publik dan memicu diskusi publik yang cukup luas.
 
Lalu suatu hari, Kirana bilang gini, “Mama, Papa, you guys should watch Lemantun! Kalian berdua kan punya ortu yang sudah tua-tua. Aku aja sampai nangis nontonnya!”
 
Jadi, singkatnya: “gara-gara” nonton Bu Tejo, Kirana jadi nonton film-film pendek lainnya, lalu ketemu film berjudul Lemantun (=lemari, bhs Jawa). Saya pun nonton, dan terharu banget. Lebih terharu lagi, saat baca komen-komennya, banyak yang curhat: merasa senasib dengan tokoh Tri, paling repot mengurusi ortu, tapi malah dianggap “tidak ada” oleh saudara-saudaranya.

Saya jadi ingat pada kisah seorang pasien dari seorang psikolog (ibu Yuli Suliswidiastuti, ada di buku beliau “Menggapai Hidup Bahagia”). Si pasien ini sakit kanker stadium lanjut. Saat diterapi dengan DEPTH (semacam EFT), “keluar”-lah keresahan terdalamnya, yang sangat mungkin menjadi akar dari sakitnya itu: si pasien ini memendam luka batin karena sepanjang hidupnya, ibunya selalu membanding-bandingkannya dengan kakaknya. Padahal si pasien sudah berbuat banyak hal, berprestasi akademik, berkarir, kasih hadiah mobil, dll. Tapi, tetap saja, si kakak yang dipuji-puji oleh ibu.
 
Salah satu penonton di film Lemantun menulis (setelah curhat betapa dia yang sudah susah payah mengurus ortu tapi yang dipuji-puji tetap saudara-saudara yang lain): “Aku akan berbuat adil pada anak-anakku!”
 
Ya, berbuat adil ke anak itu penting banget. Untungnya saya sudah membaca soal ini sejak lama, jadi ketika Reza (anak kedua) lahir, saya berusaha tetap mencurahkan perhatian ke Kirana (kadang jalan-jalan berdua saja), supaya dia tidak merasa tersisih. Kalau cium anak, cium dua-duanya. Kalau memuji, puji dua-duanya. Kalau kasih hadiah, kasih dua-duanya. Kalau kasih tugas kerjaan domestik (membersihkan rumah, cuci piring, dll), bagi dengan adil. Ga ada ceritanya, mentang-mentang Reza laki-laki lalu dia kerja lebih sedikit.
 
Guru parenting saya yang lain, Bu Rani Noe’man (menulis buku “Amazing Parenting”) juga mengajarkan, salah satu “pantangan” dalam berkomunikasi dengan anak adalah “membanding-bandingkan”. Kalimat semacam ini, “Belajar yang rajin, kayak Kakak!” atau “Kamu ini males banget sih, beda banget sama Kakak!” wajib dihindari.
 
Nah, PR buat saya, mengapa Kirana sampai nangis menonton Lemantun ya? Semoga bukan karena ‘relate’ ya.., yaitu merasa dibanding-bandingkan oleh saya. Hiks. Ini perlu didiskusikan dari hati ke hati.
 
 
===
Cerita foto:
Lemantun (lemari) ini saya beli di masa awal lockdown Covid. Tokonya besar, tapi sangat sepi, tak ada satu pun pembeli selain saya. Orang toko sedemikian happy saya membeli lemari ini, sampai dia berkali-kali bilang “terima kasih”. Harga lemarinya pun sudah didiskon besar-besaran, mungkin saking sepinya pembeli.
 
Mengapa saya beli lemari padahal ekonomi lagi seret? Pertama, karena WFH, saya banyak waktu buat beres-beres, dan merasa butuh lemari. Kedua, saya ikut saran dari seorang ekonom, bahwa untuk mencegah resesi, masyarakat perlu membelanjakan uangnya, biar ekonomi tetap berputar. Kalau sampai resesi, kan yang kena dampak kita semua.
 
(Tentu, belanjanya sesuai kemampuan dan kebutuhan; bisa juga, “belanja” diganti dengan “sedekah”, jadi yang berbelanja adalah mereka yang kurang mampu.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s