Catatan Ahad Pagi #71: Klepon Batu

[ditulis: 11 Agustus 2012]

Sejak Reza lulus TK (yang mana TK-nya juga saya sendiri yang mendirikan dan saya yang mengonsep kurikulumnya), dia memilih “sekolah di rumah sama Ummi” (Reza sekarang lagi demen manggil saya Ummi, setelah sebelumnya gonta-ganti: bunda, mama, mami).  Dia terinspirasi sama Lukman, temennya, yang juga homeschooling.

Saya sebenarnya agak ragu.  Yah, banyak deh alasannya, kepanjangan kalau dibahas di sini. Tapi secara umum saya suka dengan konsep homeschooling itu sendiri . Jadi, saya ambil posisi moderat saja. Toh Reza masih 6 tahun. Bisa saja, bila tahun depan dia memilih masuk SD (atau saya yang tidak sanggup jadi gurunya Reza), saya akan berusaha mencari SD yang baik untuknya.

Jadilah, sejak dua bulan terakhir, saya melakukan berbagai kegiatan belajar di rumah bersama Reza. Pelajaran favorit Reza adalah..hohoho.. cooking day! Parahnya, saya tidak menyukai acara memasak. Tapi demi Reza, ya saya lakukan saja. Melalui kegiatan memasak, kita bisa mengenalkan banyak hal kepada anak-anak, mulai dari matematika (hitungan berat bahan, misalnya), sampai ke biologi (misalnya, bagaimana tepung dihasilkan) atau kimia (contoh, bagaimana efek ragi terhadap tepung).

Sayangnya, cooking day terakhir menjadi bad day,  hiks.. Setelah bikin donat dari terigu (yang alhamdulillah sukses), kemarin itu saya ingin mengenalkan masakan dari tepung beras. Setelah browsing, saya nemu resep klepon dari tepung beras. Sungguh, ini resep dari tabloid terkenal, dengan mencantumkan nama chef-nya segala. Masak sih, resepnya bisa gagal, ya kan?

Dengan penuh keyakinan, saya berdua Reza mengolah bahan-bahan. Bagian terberat adalah menyediakan kelapa parut. Karena perlu kelapa parut yang putih, kan ga bisa beli di warung. Jadi saya untuk pertama kalinya dalam hidup, beli sebutir kelapa  utuh yang udah dikupas batoknya.

Lalu, saya beli parutan kelapa seharga Rp3500 (tampangnya menyedihkan, kata penjualnya  ‘ini mah buat sekali pake bu’. Saya tetap beli karena yakin emang mau sekali ini aja marut kelapa). Saya memarutnya dengan penuh perjuangan, sampai tangan saya tergores beberapa kali, hiks.

Setelah waktu berbuka tiba…tralaaa… klepon pun siap disantap. Oh lala.. ternyata keraaass!! Hwaaa… sedihnya… Lalu saya browsing lagi, mencari penyebab kenapa kok si klepon ini bisa keras. Ternyata di resep-resep lain, klepon itu dibuat dari tepung ketan atau campuran tepung beras dan tepung ketan. Huh, kok resep dari tabloid terkenal itu bisa salah ya???

Tentu saja, saya tetap menyisakan kemungkinan, siapa tau saya yang salah… meski saya merasa sudah mengikuti apa yang tertulis di resep dengan baik. Coba, ibu-ibu yang pinter masak, menganalisis resep berikut ini. Saya tidak pakai cairan daun suji, tapi diganti pakai air+pewarna makanan warna hijau.

BAHAN:
•    300 gr tepung beras
•    250 ml air daun suji (dari 15 lembar daun suji, 5 lembar daun pandan, dan 300 ml air)
•    1 sendok teh air kapur sirih
•    100 gr gula merah
•    1/2 butir kelapa setengah tua, parut memanjang
•    1/2 sendok teh garam
CARA MEMBUAT:
1.    Kukus kelapa dan garam selama 15 menit, angkat dan sisihkan.
2.    Aduk tepung beras, air daun suji, air kapur sirih, dan ¼ sendok teh garam. Uleni adonan hingga kalis dan tidak lengket di tangan. Ambil sedikit adonan, isi dengan irisan gula merah, bulatkan kembali.
3.    Rebus 1 liter air sampai mendidih, masukkan bulatan adonan (klepon), masak hingga terapung dan matang. Angkat dan tiriskan.
4.    Gulingkan klepon di atas kelapa kukus hingga rata. Sajikan.

Anyway, ini jadi pengalaman pahit deh.  Lain kali, jangan percaya sama satu resep, banding-bandingkan dulu dengan resep yang lain.

Untungnya, Reza tidak terlalu kecewa (dia sih asyik  banget membulat-bulatkan adonan tepung dan mengisinya dengan gula merah). Melihat semangat Reza, Ummi juga tetap akan bersemangat meneruskan program cooking day deh. Next, kita bikin kue lebaran ya, biar Reza senang mencetak adonan dalam berbagai bentuk 🙂

*siap-siap browsing resep dengan lebih waspada*

Advertisements

One thought on “Catatan Ahad Pagi #71: Klepon Batu

  1. Pingback: Handwriting untuk Anak « My daily life…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s